Maaf

Maaf
Bab 32


__ADS_3

"Ini Kiara yang akan mendampingi pak Rey meeting nanti" jelas Wulan.


"Hah jadi ini yang namanya Pak Rey, huh gimana mau kerja sama orangnya judes dingin begitu". batin Kiara.


"Apa kamu sudah siap ? saya tidak mau denger alasan apa pun itu dari mulut kamu" pak Rey bertanya pada Kiara dengan suara yang tegas.


"Sa. . saya si. . siap" jawab Kiara gugup.


"Ketika kita akan menghadapi musuh, kita harus bener - bener siap, tidak boleh terlihat gugup karena musuh akan dengan mudah mencari kelemahan kita".


"Mungkin ia gugup karena ini pertama kalinya ia di percaya untuk ikut meeting, apalagi dia baru kerja sepuluh harian" bela Wulan.


"Ketika kita berangkat dari rumah, dengan niatan untuk bekerja, maka sampai tempat kerja kita harus siap dalam kondisi apa pun karena kita akan menemukan berbagai kendala dalam memecahkan sebuah pekerjaan". ujar pak Rey tegas.


"Huh kenapa orang ini malah ceramah, bikin aku tambah down saja" batin Kiara. "Katanya baik, baik dari mananya dingin begitu" gerutu batin Kiara.


"Jadwal meeting tinggal setengah jam lagi, kamu pastikan dia benar - benar siap". ujar pak Rey pada Wulan.


"Baik pak".


Pak Rey pun berlalu dari ruangan Wulan. Sementara Kiara semakin gugup dengan sikap dingin pak Rey.


"Kamu gak usah tegang begitu, santai saja" ujar Wulan.


"Ahh bagaimana tidak gugup sikap pak Rey saja seperti itu, belum lagi sikap Klien" keluh Kiara.


"Pak Rey memang orangnya seperti itu tapi aslinya baik kok, kenapa dia bicara seperti itu karena ia tak mau di pandang lemah oleh para kliennya".


"Manusia aneh" celetuk Kiara.


"Husshh nanti orangnya denger" tegur Wulan. "Katanya mau ada yang di tanyain, mana coba aku lihat ?" sambung Wulan.


Kiara mendengarkan setiap penjelasan Wulan dengan baik, ia tak ingin membuat ke salahan nantinya yang akan membuat pak Rey semakin marah padanya.


"Ayo kita ke ruang Meeting sebelum klien datang" ajak Wulan.


Kiara mengekor di belakang Wulan, di tangannya penuh berkas - berkas yang nanti akan di presentasikan, ada rasa gugup saat melangkah masuk ke ruangan meeting, namun Kiara segera menepis semua rasa itu.


"Bagaimana kamu sudah siap ?" tanya pak Rey pada Kiara.


"Saya siap pak !!".


"Bagus !!".


Pak Rey menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Kiara saat meeting berlangsung, pak Rey menjelaskan sedetail mungkin, sehingga Kiara dengan cepat langsung paham dengan apa yang di maksud pak Rey tersebut.

__ADS_1


"Kalau bicaranya seperti ini sih enak buat kerja sama" batin Kiara.


Pak Rey melirik jam di tangannya, waktu sudah pukul empat lewat, artinya kliennya sudah telat selama lima belas menit.


"Mungkin terjebak macet ini kan jam - jam pulang kerja" batin pak Rey.


Mereka sudah menunggu hampir setengah jam namun klien yang mereka tunggu belum juga menampakan dirinya.


"Bagaimana kita bisa percaya jika mereka punya kinerja yang baik, untuk meeting saja mereka telat bahkan tanpa kabar, ini adalah contoh yang tidak baik" ujar pak Rey.


"Apa perlu saya menghubunginya ?". tanya Wulan.


"Boleh".


Wulan segera menghubungi nomor kliennya, satu panggilan tak di jawabnya, panggilan ke dua kali pun tak ada jawaban, hingga panggilan ke lima kali masih tetap tak ada jawaban dari klien tersebut.


"Saya sudah mencoba menghubunginya sebanyak lima kali namun tetap tak ada jawaban" ujar Wulan.


"Jika sampai besok tak ada kejelasan lebih baik kerjasama ini kita batalkan saja !" Seru Pak Rey, terlihat ia seperti sedang menahan amarah. "Kalian boleh pulang" sambungnya dengan nada dinginnya.


Kiara dan Wulan keluar dari ruangan meeting, mereka bertujuan untuk langsung pulang apa lagi kondisi cuaca saat itu terlihat mendung menandakan jika hujan akan segera turun.


"Kamu pulang naik apa ?" tanya Wulan.


"Sepertinya naik angkutan Umum saja, kalau jalan kaki takut hujan di jalan".


"Aku tinggal di jalan perintis"


"Bareng aku aja yuk, kebetulan satu arah" ajak Wulan.


"Hmmmm. . ." Kiara baru mengenal Wulan jadi ada rasa sungkan ketika harus pulang bersama.


"Di larang nolak, bentar lagi juga akan hujan".


Akhirnya Kiara setuju pulang bareng Wulan, mereka pun langsung menuju tempat parkiran, namun saat Wulan akan menyalakan motornya tiba - tiba ponselnya berdering.


"Siapa pagi ini" gerutu Wulan seraya merogoh ponselnya yang berada di dalam tasnya. "Ini kan nomer klien yang tadi" gumam Wulan.


"Angkat, kali aja penting" ujar Kiara.


"Hallo" sapa Wulan.


Kiara tak bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan Wulan dengan kliennya itu, namun dari ekspresi Wulan biasa di lihat kalau mereka sedang berbicara yang serius.


"Baiklah pak, saya akan sampaikan langsung ke Reynaldi sekarang juga" sambungan telepon pun terputus.

__ADS_1


"Kia, kamu tunggu sebentar di sini aku harus menemui pak Rey dulu" ujar Wulan.


"Baiklah".


Kiara menunggu selama lima belas menit hingga Wulan kembali dan mereka langsung melanjutkan perjalan pulang mereka.


Sementara di tempat lain, Tristan sedang mengaduh kesakitan di sebuah klinik akibat luka sayatan di tangan dan kakinya yang ke seleo akibat mempertahankan tasnya yang akan di copet.


"Bagaimana kondisi mu ?" Tanya pak Handoko selalu atasan Tristan.


"Sudah lebih baik pak, maafkan atas keteledoran saya sehingga rencana kita hari ini harus gagal" ujar Tristan dengan raut wajah yang penuh penyesalan. ia menyadari jika dirinya sangat ceroboh sehingga ia menjadi incaran para copet sialan.


"Sudahlah, semoga Mereka mau memahami kondisi ini". ujar pak Handoko.


Luka Tristan sudah di balut perban dan kakinya juga tak terlalu parah sehingga Tristan di perbolehkan langsung pulang tanpa rawat inap.


*****


"Wahhh tumben biasanya aku yang duluan datang tapi sekarang aku yang paling terakhir, apa hari ini aku kesiangan" Ujar Kiara saat memasuki ruangan kerjanya melihat semua teman - temannya sudah pada ngumpul.


"Bagaimana hasilnya ?" tanya mereka kompak.


"Hasil ?" Kening Kaira menyerengit kebingungan.


"Iya hasil kemaren kamu Meeting" ujar Lulu.


"Berhasilkan, jadi nanti siang kita makan - makan kan" sahut Rizal.


"Huhh aku kira apaan" ujar Kiara seraya menghela napas lega. "Jadi kalian datang lebih awal karena hal itu ?". tanya Kiara.


"Hasilnya bagaimana, aku sangat yakin jika kamu berhasil" ujar Mira.


"Aku gak tahu berhasil atau tidaknya. . ".


"Kenapa bisa begitu emangnya hasil meeting kemaren apa ?" Lulu memotong pembicaraan Kiara.


"Meetingnya tidak jadi".


"Kok bisa ?!" ujar mereka kompak.


"Ya mana aku tahu, Klien nya saja tidak datang". jelas Kiara seraya mengangkat bahunya.


"Yahhh gak jadi makan - makannya dong" ujar Dimas lesu.


"Oh iya ternyata pak Rey itu orangnya dingin yah, udah kaya es batu" ujar Kiara.

__ADS_1


"Bukan dingin tapi cool, pokoknya idaman banget" ujar Lulu yang memang mengagumi sosok pak Rey.


"Kiara kamu di suruh menghadap ke ruangan pak Rey" Tiba - tiba saja Wulan datang tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat mereka terkejut dengan ke datangan Wulan.


__ADS_2