
"Mas Ayolah ajak Kia buat bertemu,aku ingin kita bertiga duduk bareng membicarakan hal ini" rengek Rani pada Tristan yang kini statusnya masih sah suaminya.
"Aku takut bagaimana jika orang tua mu malah berbuat yang tidak - tidak dengan Kia".
"Aku janji tak akan melibatkan orang tua ku dalam masalah ini".
"Beri waktu aku untuk memikirkan hal ini".
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Rani lewat telepon Tristan langsung melemparkan ponselnya ke tempat tidur, dia bener - bener frustasi. lagi dan lagi Rani meminta bertemu Kia.
Tristan meraih sebuah botol minuman meneguknya. minuman itulah yang membuat Tristan merasa tenang.
Ketika sedang asik minum tiba - tiba pintu apartemennya di ketuk, entah siapa yang datang karena Tristan tak punya janji dengan siapa pun.
"Apa itu kia yang datang ?" gumam Tristan.
Dengan setengah berlari Tristan segera membukakan pintu. saat pintu terbuka tercium bau alkhohol yang menyengat, karena Tristan telah meminum satu setengah botol.
"Kia, aku yakin kamu pasti datang" ucap Tristan saat pintu terbuka.
"Oh jadi ini kelakukan kamu, wanita itu benar - benar telah merusak kamu" teriak seseorang yang geram melihat tingkah laku Tristan.
"Syuuuuttt, jangan berisik" ucap Tristan, ia kini benar - benar berada di dalam pengaruh alkhohol.
Seorang pria langsung menyeret Tristan ke dalam apartemennya secara kasar, lalu membawanya ke kamar mandi dan mengguyurkan air ke tubuhnya.
"Aghhhhhhh . . " teriak Tristan saat air itu mengenai tubuhnya.
"Kamu benar - benar sudah rusak !" geram orang tersebut dengan terus menguyurkan air ke tubuh Tristan.
Sedangkan seorang wanita sibuk membereskan botol minuman tersebut, wanita itu sampai melongo saat melihat deretan botol kosong di dalam tong sampah.
"Aku yakin wanita itu bukan wanita baik - baik".
Setelah semua rapih, wanita itu langsung menuju kamar mandi.
"Kita harus segera bertemu dengan perempuan itu" ujar wanita tersebut.
"Kita bicarakan nanti saja, sekarang ambilkan baju ganti buat Tristan" titah pria tersebut.
Tubuh Tristan di baringkan di atas tempat tidurnya, kesadarannya perlahan - lahan mulai setabil.
"Bapak dan Ibu sedang apa di sini ?" Tristan yang sampai terkejut ketika melihat kedua orang tuanya sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Oh jadi ini ajaran perempuan pilihan kamu itu, mengajarkan kamu minum - minum begituan, biar apa hah ? biar di bilang orang hebat ?" Ibunya Tristan bener - bener marah dan juga kecewa terhadap putra nya.
"Ibu ini bisa Tristan jelaskan".
"Apa yang akan kamu jelaskan hah, perempuan itu baik begitu" Ibunya Tristan tak lagi bisa membendung emosinya.
"Tristan lebih baik tinggalkan perempuan itu !!" seru pak Musa.
"Tidak pak, aku sangat mencintainya".
"Cinta itu akan hilang dengan cara kamu pergi jauh !".
"Salah ku apa Bu, Pak ? kenapa kalian seperti enggan melihat ku bahagia ? Apa sih definisi bahagia menurut kalian, uang harta ?" kali ini suara Tristan lebih tinggi dari pada pak Musa.
"Bukan begitu nak" sahut ibunya Tristan melemah.
"Lalu apa ?".
"Lihat saja, baru kamu kenal perempuan tersebut kamu sudah berani meminum minuman tersebut, padahal sejak dulu kamu tak pernah menyentuh hal seperti itu" jelas Ibunya Tristan.
"Bu ini bukan Ajaran Kia . . .".
"Jangan pernah sebut nama perempuan itu di hadapan kami lagi !!" Teriak pak Musa memotong pembicaraan Tristan.
suasana ruangan itu menjadi tegang, ibunya Tristan tertunduk lesu ada sebuah rasa kecewa melihat perubahan pada sang anak.
"Nak kenapa kamu berubah ?" tanya Ibunya Tristan melemah, berusaha menahan cairan bening agar tak lolos begitu saja.
"Tristan tak berubah bu" lirih Tristan, kemudian Tristan bangkit dari tempat duduk nya dan kini bersimpuh di hadapan sang ibu. "Tristan hanya melakukan apa yang membuat hati Tristan bahagia, Tristan cape bu jika harus terus berpura - pura mencintai Rani, Tristan juga cape jika harus terus berpura - pura bahagia, apa Tristan salah jika Tristan melakukan apa yang membuat Tristan bahagia ? apa memang Tristan tidak boleh bahagia ? Maaf jika perbuatan Tristan telah membuat kalian kecewa" Tristan mengeluarkan unek - unek yang selama ini mengganjal di hatinya, cairan bening pun tak lagi mampu di tahannya.
Melihat Tristan menangis sang ibu langsung memeluknya mereka berpelukan seraya menangis.
Hancur itulah yang di rasakan ibunya Tristan, mendapati sebuah kenyataan ternyata sang anak tak begitu bahagia dalam pernikahannya, namun apa boleh buat ini sudah terjadi dan harus terus berjalan demi kehidupan yang layak.
"Nak, mungkin ini takdir mu, maka berusaha lah berdamai dengan takdir mu" lirih sang ibu.
"Sekarang kamu itu pulang bersama kita dan minta maaf lah pada Rani dan juga kedua orang tuanya" sahut pak Musa.
"Tristan tak bisa ikut kalian apa lagi minggu depan Tristan akan mendapat tugas ke luar kota, namun Tristan janji setelah pulang dari luar kota Tristan akan menyelesaikan semuanya" jelas Tristan.
Pak Musa dan Istrinya tak bisa memaksa karena ini menyangkut soal kerjaan. hari semakin larut, akhirnya Tristan dan kedua orang tuanya memilih untuk beristirahat.
****
__ADS_1
Waktu Kiara tidak banyak lagi, ia pun sudah mengambil sebuah keputusan walaupun resikonya berat ia harus mampu menghadapinya.
Di rogoh ponsel dari dalam saku celananya, lalu ia menghubungi nomor seseorang.
"Apa kamu hari ini sibuk, aku ingin mengajak mu untuk bertemu di cafe Oliv, letaknya tak jauh dari kantor suami mu".
"Boleh, tapi mungkin aku datang siang karena jarak yang ku tempuh sangatlah jauh".
"Baiklah".
"Oke, aku siap - siap dulu yah, nanti jika sudah dekat aku hubungi kamu lagi"
Setelah panggilan berakhir, Kiara menghubungi seseorang lagi.
"Aku sudah keputusan nya".
"Apa itu ?".
"Aku akan nemenuinya di kafe oliv dan aku juga sudah menghubunginya, dia menyambut antusias ajakan ku" jelas Kiara.
"Kapan kalian janjian ?
"Jam nya tidak pasti, sekarang dia sedang bersiap - siap tahu sendiri kamu dari sana ke sini jaraknya jauh sekali".
"Kenapa tidak sore atau malam saja, aku tidak bisa mendampingi mu".
"Aku bisa sendiri, aku tak mau melibatkan orang lain dalam masalah ini, aku takut jika kamu ada di sana membuat Tristan semakin marah pada mu".
"Kamu yakin ?".
"Aku yakin, aku janji jika ada sesuatu aku akan menghubungi mu".
"Baiklah".
Di lemparnya ponsel ke tempat, ia pun ikut berbaring di tempat tidurnya.
"Kia bersiaplah, semua orang akan mengetahuinya" gumam Kiara seraya menatap ke langit - langit kamarnya.
"Cantik cantik kok pelakor".
"Dasar pelakor".
"Usir saja dari sini"
__ADS_1
"Arak keliling kampung biar tahu rasa".