
"Rani kenapa kamu nekat menemui Kiara ?" tanya Tristan setelah kepergian Kiara dari ruangan tersebut.
"Kenapa kamu sulit sekali percaya pada ku, begitu buruk kah aku di mata mu, yang mengajak ke sini duluan adalah Kiara" suara Rani tak kalah dari suara Tristan.
Tristan mengacak - ngacak rambutnya, ia juga menghela nafas nya secara kasar, kejadian ini sangat di luar dugaannya.
"Mana mungkin Kiara memiliki nomor kamu, pasti kamu kan ?" tuduh Tristan.
"Percuma aku jelaskan panjang lebar pada mu mas, ujung - ujungnya kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan" Rani merasa kesal karena suaminya selalu mempunyai pemikiran buruk tentangnya.
Rani berlalu meninggalkan ruangan, ia merasa muak jika terus - terusan berada di dekat sang suami, ia ingin menengkan terlebih dahulu pikirannya sehingga ia mampu berpikir langkah apa yang harus di ambilnya.
saat keluar cafe ia melihat Kiara sedang berada di parkiran sehingga muncul sebuah ide untuk mempermalukan Kiara di depan Umum.
"Lihat perempuan yang menggunakan motor metic warna merah hitam dan helm warna biru, dia adalah pelakor, dia berpacaran dengan suami saya, bahkan perempuan itu menggunakan ilmu pelet untuk membuat suami ku tunduk padanya !!" Seru Rani dengan suara sangat lantang dan mengundang perhatian para pengunjung cafe tersebut.
Para pengendara dan juga pengunjung cafe menatap Kiara dengan sinis, ada juga beberapa orang yang mencemoohnya, dan untung saja Kiara menggunkan helm sehingga wajah Kiara tak terlihat jelas.
"Rani, kamu keterlaluan !!" Seru Tristan marah, ia bener - bener murka dengan tindakan Rani yang seperti anak abg.
"Lihat semuanya itu suami ku, bahkan dia tega membentak di depan Umum, padahal aku adalah istri sahnya" ujar Rani seraya menunjuk Tristan.
"Bawa rukyiah aja suaminya" seru seorang ibu - ibu.
"Kalau aku sudah ku ceraikan, dia kira ganteng kali".
"Sekarang bisa loh kasus perselingkuhan di proses hukum asal bukti dan saksinya jelas".
Banyak lagi seruan ibu -ibu yang lainnya, saat semua mata terfokus pada Tristan, Kiara menggunakan ke sempatan tersebut untuk pergi dari sana.
"Untung sudah pake helm jadi mereka tidak bisa melihat ku dengan jelas" batin Kiara.
"Ayo pulang" ajak Tristan pada Rani.
"Aku bisa pulang sendiri" ketus Rani.
__ADS_1
Tristan tak peduli dengan Rani, ia pun memutuskan untuk kembali ke kantor karena masih banyak kerjaan yang harus segera di selesaikan, karena beberapa hari lagi Tristan akan tugas ke luar kota.
Kiara melajukan motornya, ia tak ingin langsung pulang ke rumah, matanya yang masih sembab akan membuat sang Mama khawatir dengan kondisinya.
Kiara membelokan motornya ke sebuah taman yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya, tempat ini sering Kiara kunjungi ketika diri sedang banyak masalah.
duduk di bawah pohon rindang yang menghadap ke arah danau membuat pikiran Kiara tenang, rumput yang hijau dan air danau yang tenang sangat memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.
Kiara melempar sebuah batu kecil ke dalam danau berharap semua masalah yang di hadapinya ikut pergi bersama batu tersebut.
Sementara Rani pulang dengan perasaan yang begitu kesal, ia benar - benar tak menyangka dengan ke polosan yang Kiara tampilkan.
"Hampir saja aku ketipu dengan kepolosan mu" gumam Rani.
Saat Kiara mengaku jika ia adalah pacar dari Tristan, Rani awal syok, namun ada rasa sedikit lega ternyata sosok perempuan yang di cintai suaminya adalah perempuan baik - baik, Rani semakin yakin jika dirinya siap untuk di madu, namun semua itu berubah ketika Tristan datang, Rani melihat Kiara seolah - olah sedang menunjukan jika ia mampu menggeser posisinya sebagai istri Tristan, bahkan Kiara hanya terdiam saat sang suami terus - terusan memuji nya tanpa memikirkan perasaan Rani, seketika pikiran Rani tentang Kiara berubah, yang lebih menyakitkan lagi saat Tristan mengatakan jika Kiara mampu menjadi ibu yang baik untuk Alea, Rani bener - bener murka saat itu juga.
Selama perjalanan pulang Rani terus mengumpat tentang Kiara, bahkan kini di hati Rani terdapat dendam yang membara.
"Ahhhhhhhh" Teriak Rani panik lalu menekan rem sekencang mungkin.
Karena saking kesalnya Rani tak konsentrasi dalam mengendara, hampir saja ia menabrak seorang anak kecil yang sedang menyebrang.
"Kemana orang tuanya anak sekecil ini di biarkan menyebrang sendirian" gerutu Rani, kemudian ia menepikan mobilnya untuk melihat kondisi anak kecil tersebut.
"Adek tidak apa - apa ?" tanya Rani pada anak kecil tersebut.
Karena syok anak kecil tersebut menangis, Rani celingak - celinguk untuk mencari keberadaan orang tua anak tersebut.
"Mama, Papa kamu mana ?" tanya Rani lagi, namun anak kecil itu terus menangis, malah tangisan nya semakin kencang saat Rani akan memegang tangannya.
"Hei. . kamu apakan anak saya ?!" seorang perempuan datang menghampiri Rani.
"Ibu, orang tua anak ini ?".
"Iya, emang kenapa, kamu apakan anak saya sampai memangis seperti ini ?".
__ADS_1
"Harusnya ibu lebih hati - hati lagi menjaga anak ibu, jangan biarkan anak ibu menyebrang sendirian ini jalanan umum, bagaimana jika anak ibu tertabrak".
"Diam kamu anak kecil, jangan sok ajarkan saya !!" seru perempuan tersebut. "Nak kenapa kamu menangis ?" tanya perempuan ibu pada anaknya.
"Tadi aku mau di tabrak" jawab si anak seraya terisak.
"Apa ?!!?" perempuan itu setengah terkejut. "dia yang menabrak kamu nak ?" si anak pun langsung menganggukan kepalanya.
"Kurang ajar kamu ya, Ternyata kamu menabrak anak ku, akan ku laporkan pada polisi !!" seru ibu - ibu tersebut.
"Saya tidak menabraknya, tapi hampir saja, harusnya saya marah kenapa ibu membiarkan anaknya menyebrang sendiri".
"Sama saja, begini saja beri kami uang jika masalah ini ingin cepat selesai".
Rani terkejut sampai matanya melotot, kenapa ujung - ujungnya Rani harus mengelurkan uang.
"Kalau tidak saya akan teriak !" ancam ibu tersebut.
Karena tak ingin berlama - lama di sana Rani langsung mengeluarkan uang warna merah dari sakunya kemudian memberikannya pada si ibu tersebut sebanyak tiga lembar saja.
"Mungkin segini cukup untuk bawa anak ibu ke dokter" ujar Rani.
*****
"Dengan mbak Kiara ?" seseorang membuyarkan lamunan Kiara.
"Siapa kamu ?" tanya Kiara bingung sekaligus takut, seseorang tersebut menggunakan masker, kecamata dan juga topi serba hitam, membuat Kiara tak bisa melihat dengan jelas seseorang tersebut.
"Boleh bicara sebentar ?" tanya seseorang tersebut. namun Kiara tak langsung menjawab, di pikiran nya masih banyak pertanyaan tentang siapa seseorang tersebut.
"Saya hanya ingin menyampaikan ini" seseorang tersebut menyodorkan sebuah koper kecil.
"Apa ini ?" tanya Kiara yang masih dalam kebingungan. "Jangan - jangan dia orang jahat, dan di dalam koper ini isinya bom yang sebentar lagi akan meledak" batin Kiara.
"Buka saja, dan mbak akan tahu. tenang saja isinya bukan bom kok" seseorang tersebut sepertinya mengerti isi pikiran Kiara, atau memang orang tersebut bisa membaca pikiran orang, entahlah.
__ADS_1
Mata Kiara langsung membeliak tatkala melihat isi koper kecil tersebut, bahkan seluruh tubuhnya menjadi gemetar saat melihat isi koper kecil tersebut