
Waktu terus berputar, tak terasa sudah hampir satu bulan Rani berada di apartemen milik Tristan, berharap rumah tangganya akan membaik setelah mereka kembali tinggal bersama, namun kenyataan tak sesuai harapan.
Pagi buta Tristan sudah berangkat bekerja dan akan pulang pada larut malam, sabtu minggu Tristan akan tetap keluar dengan sebuah alasan pekerjaan, nyatanya ia sedang menghindar dari Rani.
Sampai detik ini, Tristan belum sempat mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan karena kesibukannya bekerja.
"Ini masih jam dua, siapa yang datang" Batin Rani saat ada yang mengetuk pintu apartemennya.
"Mama, Papa" ujar Rani yang terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya dan dari mana mereka tahu tempat tinggal Tristan.
Kedua orang tua Rani langsung masuk, walaupun Rani belum mempersilahkan mereka masuk.
"Di mana cucu Mama ?".
"Alea sedang keluar bersama pengasuhnya" jawab Rani.
"Kenapa kamu tidak pulang - pulang ?" tanya sang Mama.
"Mah ini tempat tinggal keluarga kecil ku, lalu aku harus pulang ke mana ?!".
"Apa dia memperlakukan mu dengan baik, apa dia berubah setelah kamu tinggal di sini ?" tanya sang Papa, namun Rani diam tak menjawab.
"Kenapa kamu diam ? Papa rasa Tristan tetap kukuh ingin bercerai dari mu, benar kan ?" tanya sang Papa lagi.
"Nak kami datang ke sini untuk menjemput mu pulang, jujur Mama sangat tak rela jika Tristan memperlakukan mu tidak baik".
"Mama tahu apa tentang ini semua, kami bahagia kok" jawab Rani.
"Rani kami ini kedua orang tua mu, kami yang merawat mu sejak kecil, jadi kami sangat tahu bagaimana diri mu jika sedang bahagia atau sedang bersedih" ujar sang Mama.
"Nak kamu berhak bahagia" sahut sang Papa.
Rani terdiam, ia sangat mencintai Tristan, namun hidup bersama Tristan tidak membuatnya bahagia seutuhnya, kadang Rani menangis melihat sikap Tristan yang semakin dingin padanya.
__ADS_1
"Nak kali ini dengerin kata Mama dan Papa, sebaiknya kamu cerai saja dengan Tristan, Mama sangat yakin jika nanti kamu akan mendapat lelaki yang menghargai kamu sebagai istri" ujar sang Mama.
Rani terus merenung, sementara sang Mama sibuk membereskan semua pakaian milik Rani dan juga Alea, sang Mama akan memaksa Rani untuk ikut pulang bersamanya.
Tak lama Alea datang bersama pengasuhnya, pak Erik pun langsung memerintahkan pengasuh Alea untuk mengemasi barang + barangnya karena mereka akan kembali ke kampung.
Sepanjang perjalanan pulang Rani terus termenung, bahkan sesekali ia meneteskan air matanya, kondisi rumah tangganya benar - benar berada di ujung tanduk.
Rani, Mamanya dan Papanya berada dalam satu mobil dengan menggunakan mobil pak Erik sementara Alea dan pengasuhnya menaiki mobil milik Rani yang di supiri oleh orang suruhan pak Erik.
*****
"Pak saya boleh minta izin cuti tiga hari ? ada urusan keluarga yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu" jelas Tristan ketika menghadap di ruangan pak Handoko.
"Seperti kamu sudah punya keluarga saja" ledek pak Handoko. "Rabu, kamis dan jumat kamu boleh cuti, besok selasa ada tugas yang harus kamu selesaikan terlebih dahulu" lanjut pak Handoko.
"Baik pak, Terima kasih pak".
Tristan seperti mendapat angin segar, ia sudah tak sabar ingin membawa Rani pulang ke kampungnya dan mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan.
"Loh kok sepi, kemana mereka" ujar Tristan saat mendapati aparetemennya kosong, biasanya ketika dirinya pulang Rani akan menyambutnya walaupun Trisran pulang tengah malam sekali pun.
Tristan melangkah menuju kamarnya, namun Rani tak ada di sana, kamar tersebut terlihat sangat rapi.
"Kemana Rani, jika ia pergi pasti memberi kasar" gumam Tristan.
Di rogoh sakunya mencari ponsel miliknya, tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Rani, membuat Tristan semakin kebingungan.
Segera ia menekan nomor Rani namun nomor Rani tak bisa di hubungi.
"Ahhh kenapa tidak bisa di hubungi" gerutu Tristan kesal.
Ia terus memperhatikan ponselnya berharap ada pesan atau panggilan dari Rani, namun sampai satu jam ponselnya tak berdering sekali pun, bodohnya Tristan ia tak mempunyai nomor pengasuh Alea.
__ADS_1
Waktu semakin larut, hawa dingin pun menusuk hingga ke tulang - tulang, akhirnya Tristan tertidur di ruang depan dengan posisi masih memegang ponselnya.
Tristan mengerjapkan matanya ketika sinar mata hari masuk memalui celah jendela, ia baru sadar ternyata ia tertidur di ruang depan ketika ia menunggu Rani pulang.
Saat melangkah ke dalam kamar berharap Rani sudah ada di sana, nyatanya kamar nya kosong tak ada sosok istrinya di sana, Tristan menuju kamar Alea berharap Rani berada di sana namun kamar itu pun kosong.
"Kemana mereka ?" gumam Tristan bingung.
Tristan kembali menghubungi Rani, namun nomornya tetap tak bisa di hubungi, membuat Tristan semakin cemas dengan keberadaan Anak dan Istrinya.
"Apa mereka pulang, tapi kenapa tidak memberitahu aku" gumam Tristan, lalu ia menuju lemari yang menyimpan baju Rani, saat di buka lemari itu telah kosong, berarti dugaannya benar jika Rani sudah pulang.
Tristan tak lagi memikirkan Rani, karena ia sudah yakin jika Rani telah kembali ke kampungnya, sehingga ia bisa fokus mengerjakan kerjaannya.
Tristan menyelesaikan tugas nya lebih cepat dari waktu yang sudah di tentukan, sehingga ia di izinkan pulang lebih awal dari yang lain, kesempatan itu Tristan gunakan untuk bersiap - siap untuk pulang ke kampung halamannya.
Malam yang sunyi, rintik hujan menemani sepanjang perjalanan pulang Tristan ke kampung halamannya, ia tak peduli dengan hujan yang turun semakin deras dan gelapnya jalanan nembus hutan, tujuannya hanya satu ingin cepat menyelesaikan urusannya bersama Rani.
Kedatangan Tristan di sambut bahagia oleh sang ibu, bahkan ia langsung memasak kesukaan sang putra, tak lupa sang ibu juga membuatkan minuman hangat untuk Tristan.
setelah makan malam sang ibu membiarakan Tristan beristirahat, baru besok pagi mereka akan membicarakan masalahnya dengan Rani.
"Kenapa Ibu dan bapak belum berangkat ke ladang ?" tanya Tristan heran karena sudah siang begini kedua orang tuanya masih duduk santai di rumah.
"Ladang yang mana ? kita sudah tak memilikinya lagi" ketus pak Musa.
"Bapak suka becanda aja".
"Orang tua Rani telah mengambil alih semua ladang milik kita" Lirih sang Ibu.
"Kurang ajar !!" Seru Tristan marah.
"Kamu yang kurang ajar, kenapa kamu tetap memilih menceraikan Rani. gara - gara kamu bapak dan Ibu mu kehilangan pekerjaan dan juga warisan dari nenek mu !" seru pak Musa marah.
__ADS_1
"Mereka bilang, jika kita ingin mendapatkan ladang itu kembali, maka kita harus menebusnya sebanyak lima milyar" sahut sang Ibu.