
Kiara tiba di tempat tujuan, untung saja teman - temanya sudah tiba duluan dan memberi tahu letak mereka di mana lewat grup chat.
Kiara berjalan melewati meja demi meja, keadaan cafe tersebut sangatlah ramai selain karena sedang viral mungkin karena ini malam minggu, Kiara juga sangat tabjuk dengan suasana cafe tersebut yang menurutnya yang sangat kekinian.
"Kiara" Mira melambaikan tangan.
"Jadi aku yang telat nih" ujar Kiara saat bergabung dengan teman - temannya.
"Tidak telat kok, hanya saja waktu terasa lambat sekali berputarnya" ujar Lulu.
"Kan ada istilah malam minggu malam yang panjang" sahut Rizal.
"Panjang bagi jomblo" sahut Dimas.
Mereka sangat menikmati suasana malam ini, canda tawa mengalir begitu saja, mereka sangat menikmati moment tersebut, Kiara merasa beruntung mendapat teman seperti Mira, Lulu, Rizal dan Dimas.
"Kiara, kamu di sini juga ?!" tegur seseorang yang suaranya sangat tak asing di telinga, Kiara dan teman - temannya kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu kenal dia ?" bisik Mira pada Kiara.
Dunia ini terasa begitu sempit menurut Kiara, dia telah mencoba pergi jauh dari kehidupan sebelumnya namun nyatanya di tempat yang baru dia kembali lagi di pertemukan dengan orang yang ingin ia hindari.
"Aku gak nyangka kita akan bertemu lagi di sini, sejauh apa pun kamu mencoba pergi pasti kita di pertemukan lagi mungkin itu bisa di katakan bahwa kita berjodoh" ujar pria tersebut dengan bangganya.
Entah kenapa Kiara juga mempunyai pikiran yang sama dengan pria tersebut, sejauh apa pun ia menghindari orang tersebut namun selalu saja ada kesempatan mereka untuk bertemu, dengan segera Kiara menepis pikiran tersebut.
"Ini hanya sebuah kebetulan saja, jangan terbawa perasaan Kiara, ingat dia sudah punya anak dan Istri jangan kau hancurkan kebahagiaannya". batin Kiara.
"Dia merupakan Klien yang kemaren meeting bersama dengan pak Rey" jawab Kiara. tak mungkin juga ia memperkenalkan Tristan sebagai mantan ke kasihnya.
"Nama ku Tristan dan aku juga pacarnya Kiara" ujar Tristan memperkenalkan dirinya.
Teman - teman Kiara menatap Kiara, seolah - olah mereka meminta penjelasan tentang yang di bicarakan oleh Tristan.
"Aku dan Kiara sedang ada m
masalah, jadi ya begitu, dia sedang marah pada ku" lagi - lagi Tristan membuat pengakuan yang membuat Kiara semakin kesal.
"Sudah Mas, jangan ganggu aku lagi, biarkan aku menikmati kebersamaan ku bersama teman - teman ku" ujar Kiara tak tahan dengan sikap Tristan. "Dan satu lagi di antara kita sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi, ingat itu !!" seru Kiara.
"Ya sudah aku pergi dulu, nanti kita bicara lagi jika kondisi mu sudah tenang" ujar Tristan, dan berlalu meninggalkan meja Kiara dan teman - temannya.
Kiara bernafas lega karena Tristan telah pergi, namun ia juga menjadi merasa tak enak karena acara mereka menjadi sedikit terganggu akibat kedatangan Tristan.
"Maaf" ucap Kiara Lirih.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sedang menghindari dia" tebak Mira.
"Ya begitulah, dia hanya masa lalu".
Untung saja teman - teman Kiara mengerti dan tak terlalu kepo dengan masa lalu Kiara, hingga akhirnya mereka menikmati kebersamaan mereka dan melupakan kejadian tadi.
"Kiara terima kasih buat Traktirannya" ujar Lulu.
Waktu sudah larut malam, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing - masing.
"Kamu pulang naik apa ?" tanya Dimas.
"Aku pulang pake taksi online atau ojek online" jawab Kiara.
"Aku antar saja ya, ini sudah larut malam juga pasti nanti kamu akan kesusahan mendapatkan taksi atau ojek online".
"Tidak usah dim, makasih".
"Ayolah, kali ini saja, lagian jalan rumah kita satu arah kok".
"Kiara akan pulang bareng saya" ujar Tristan yang tiba - tiba sudah berada di antara Dimas dan Kiara.
Lagi dan lagi Tristan datang, Kiara menggeleng pelan pertanda ia menolak permintaan Tristan.
"Tunggu !!" teriak Kiara saat Dimas baru mau melangkahkan kakinya. "Aku pulang bareng kamu saja Dim" lanjut Kiara.
"Tapi Kia . ." Dimas merasa tak enak pada Tristan, apa lagi setelah mereka tahu jika Tristan itu adalah kekasih Kiara.
"Ayo jalan !" Kiara menarik tangan Dimas yang masih mematung.
"Kia tunggu" teriak Tristan.
"Tristan bagaimana ?" Dimas sangat takut jika nanti dirinya di bilang telah membawa kabur pacar orang.
"Dia bisa pulang sendiri, lagian aku dan dia tidak punya hubungan apa pun" jawab Kiara seraya berjalan tergesa - gesa.
"Tapi tadi dia bilang".
"Jangan percaya omong kosong dia".
Akhirnya mereka tiba di parkiran tempat Dimas memarkirkan mobil miliknya, lalu Dimas membukakan pintu untuk Kiara.
Dari kejauhan Tristan melihat Kiara dan Dimas, hatinya mendidih panas terbakar api cemburu.
"Secepat itukah kamu melupakan ku dan mendapat pengganti ku" gumam Tristan.
__ADS_1
Ingin sekali ia mengejar mereka namun ia takut jika Kiara akan semakin marah padanya, Kini Tristan harus bermain cantik agar Kiara bisa kembali luluh padanya.
"Aku harus ikutin mereka, dengan begitu aku tahu di mana tempat tinggal Kiara" gumam Tristan.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang walaupun jalanan cukup lengang, namun ada hal yang membuat ia merasa aneh, mobil yang di belakangnya tak mau menyalipnya walaupun sudah berkali - kali Dimas memberi jalan.
"Aneh" gerutu Dimas.
"Kenapa Dim ?" tanya Kiara.
"Sepertinya mobil itu sengaja mengikuti kita, sudah ku beri jalan untuk mendahului tetep saja dia berada di belakang kita" jelas Dimas.
"Jangan - jangan itu mobil yang di gunakan Mas Tristan !" Seru Kiara seraya memperhatikan mobil yang ada di belakangnya.
"Dim nanti berhenti di minimakret yang ada di depan saja yah" pinta Kiara.
"Ada yang mau di beli ?".
"Aku turun di sana saja, lagian tempat tinggal ku tak jauh dari sana" ujar Kiara.
"Baiklah".
Tak lama akhirnya mereka tiba di Minimarket tersebut, Dimas menepikan mobilnya dan Kiara turun.
"Terima kasih ya Dim".
"Sama - sama".
Benar saja mobil yang tadi berada di belakang mereka pun ikut menepi, tak salah lagi itu pasti Tristan, Kiara menyebrang jalan dan masuk ke sebuah minimarket.
Sementara Tristan terus mengawasi kegiatan Kiara dari dalam mobil yang di sewanya. tak berselang lama Kiara keluar dengan menenteng sebuah kantong keresek lalu berjalan masuk ke sebuah gang kecil yang minim pencahayaan.
Tristan turun dari mobilnya, berniat mengikuti Kiara, ia menyebrang jalan dan masuk ke dalam gang tersebut.
"Jalannya serem banget" gumam Tristan.
Tristan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, penglihatannya tak begitu jelas karena minimnya cahaya.
"Kemana Kiara, cepat sekali jalannya" gumam Tristan.
Tristan terus berjalan menembus gelapnya gang tersebut, hingga ia berpapasan dengan seorang bapak - bapak.
"Maaf pak boleh numpang tanya ?" bapak - bapak tersebut menganggukan kepalanya. "Bapak lihat tidak seorang wanita berjalan di sini, ia menenteng sebuah plastik ?".
"Ini gang menuju pemakaman umum, mana mungkin ada perempuan tengah malam ke sini" jawab Bapak - bapak tersebut. "Mungkin yang bapak lihat itu penampakan, karena di sini sering sekali ada penampakan seorang perempuan yang sering berjalan" jelas bapak - bapak tersebut.
__ADS_1