
Bulu kunduk Tristan merinding seketika setelah mendengarkan penjelasan dari bapak - bapak tersebut, lalu ia menyoroti area sekitar dengan senter ponselnya yang tepat langsung mengarah ke sebuah makam, membuat Tristan langsung berlari.
"Jangan - jangan bapak - bapak itu juga" gumam Tristan.
Tristan berhenti tepat di depan minimarket, mengingat - ngingat ketika Kiara masuk dan keluar lalu berjalan ke arah gang tersebut.
"Aku tidak salah lihat, tadi itu memang Kiara" gumam Tristan memastikan penglihatannya tadi tidak salah.
Karena waktu sudah malam juga akhirnya Tristan memutuskan untuk kembali saja ke hotel tempat ia menginap, mungkin besok ia akan kembali untuk mencari tempat tinggal Kiara di sekitar minimarket tersebut.
Sementara Kiara baru saja tiba langsung mengunci pintu dan sebelum masuk Kiara memastikan terlebih dahulu jika Tristan tidak mengikutinya.
Kiara sudah curiga Tristan akan mengikutinya sehingga ia merencanakan sesuatu agar Tristan tak lagi mengikutinya.
Setelah Kiara keluar dari dalam minimarket, Kiara langsung berjalan menuju gang yang berada di samping minimarket tersebut, namun Kiara tak bener - bener masuk ke dalam, dia mengumpet di balik sebuah tiang listrik, untung saja jalanan itu minim cahaya sehingga tubuh Kiara nyaris tak terlihat, setelah Tristan lewat dan masuk lebih dalam lagi buru - buru Kiara berlari dan meninggalkan tempat tersebut.
Sebenarnya Kiara juga tidak tahu jika itu gang pemakaman karena dia belum mengetahui persis daerah sana, apa lagi tempat itu lumayan jauh dari tempat tinggal Kiara. untung saja tadi Kiara bertemu tukang ojek sehingga dengan mudah ia langsung kabur tanpa Tristan ketahui.
*****
Hari ini Tristan sudah kembali dari luar kota, ke datangannya kali ini langsung di sambut bahagia oleh Alea yang sudah merindukan sang Ayah.
Pelukan erat dan senyum bahagia Alea mampu menghapus rasa lelah dan letih yang Tristan rasakan.
"Yahh halan - halan" celoteh Alea.
"Tapi jangan sekarang yah, hari ini Ayah baru pulang kerja, bagaimana kalau besok saja".
"Holeeeee . ." Alea teriak kegirangan.
"Ayah mandi dulu yahh" Tristan menurunkan Alea dari gendongannya, kemudian ia berlalu menuju kamarnya.
"Mas kamu sudah pulang" Rani terkejut dengan kehadiran Tristan di hadapannya. Rani yang sedang termenung bahkan sama sekali tak menyadari ke datangan suaminya.
__ADS_1
"Aku kira kalian sudah kembali ke Desa" ujar Tristan.
"Sudah ku bilang, aku akan tinggal di sini agar bisa terus mendampingi mu" ujar Rani.
"Rani apa kamu sadar bahwa aku telah menalak mu, kita hanya tinggal menunggu jadwal sidang saja".
"Apa kamu bener - bener akan menceraikan ku demi wanita itu ?" tanya Rani lirih berusaha menahan tangisnya.
"Untuk apa kita bertahan jika tidak ada cinta di dalamnya, aku tak ingin terus - terusan menyakiti mu, kamu berhak untuk bahagia" ujar Tristan seraya berlalu menuju kamar mandi, ini bukan saatnya untuk membicarakan hal seperti itu, apa lagi sekarang dia baru saja pulang.
"Kenapa Mas Yoga masih tetap seperti itu, padahal aku sudah memberikan air yang sudah di bacakan doa oleh ustad Zaki, hebat sekali ilmu yang di pakai Kiara" batin Rani.
****
Masih pagi sekali Tristan sudah berangkat ke kantor, bahkan ia memilih untuk sarapan di kantor, ia ingin menghindari Rani, selain menghindar dari Rani ada hal lain yang membuat Tristan berangkat lebih pagi.
Sementara Rani di kamarnya sedang bersiap - siap untuk pergi, ada hal yang akan di lakukan olehnya untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Aku titip Alea ya" ujar Rani saat akan pergi.
Tiba di tempat tujuan Rani langsung menepikan mobilnya tepat di depan pagar sebuah rumah yang sederhana dan terlihat ada seorang wanita yang hampir seusia Mamanya sedang asik menyiram tanaman.
"Permisi" ujar Rani ramah.
Perempuan yang sedang menyiram tanaman itu menghentikan kegiatannya dan berjalan menghampiri Rani yang berdiri tepat di depan pagar.
"Apa Kiaranya ada ?" tanya Rani.
"Kiara sudah tak tinggal di sini lagi" jawab perempuan itu "Kenapa kamu mencari anak saya ?" tanya perempuan Tersebut yang ternyata Mama Mona.
"Jadi Tante ibunya Kiara ?". Mona pun menganggukan kepalanya. "Boleh kita bicara sebentar ?".
"Boleh".
__ADS_1
Rani sengaja mendatangi rumah Kiara, ia ingin memberi tahu ibunya jika Kiara berpacaran dengan suami orang, jika sudah melibatkan orang tua pasti Kiara tak akan berani mendekati Tristan dan begitu pun sebaliknya pikir Rani.
Mona mempersilahkan Rani duduk di kursi yang berada di depan rumahnya, tak lupa Mona juga memerintahkan Limah untuk membawakan minuman untuk tamunya.
"Mau bicara apa ya ?" tanya Mona penasaran.
"Hmmm maaf jika pembicaraan ku nanti membuat Ibu terkejut" ujar Rani.
"Bicara saja".
"Jadi gini bu, bahwa anak ibu Kiara telah berpacaran dengan suami saya" jelas Rani.
Mona mengerutkan dahinya kini ia tahu bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah Rani istri Tristan.
"Kamu Rani, istrinya Tristan ?".
"Ibu tahu jika anak ibu berpacaran dengan suami orang ?" Rani sangat terkejut sampai membeliakkan matanya, "Ibu mendukung anak ibu berpacaran dengan suami orang ?". lanjut Rani yang masih dalam keadaan terkejut.
"Awalnya saya tidak tahu, bahkan saya juga tidak merestui hubungan mereka, tapi Tristan tak patah semangat untuk menyakinkan saya bahwa dia benar - benar mencintai Kiara, Namun setelah kejadian Kiara tahu bawa Tristan sudah punya Istri dan anak dari mulai saat itu ia telah mengakhiri hubungannya dengan Tristan, Kiara bukan pelakor ia juga korban penipuan Tristan" jelas Mona, lalu menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Ya memang aku akui Tristan berhasil membuat Kiara bangkit dari keterpurukan setelah di tinggal almarhum ayahnya, namun kini Tristan juga lah yang menghancurkan mentalnya kembali. jika sejak awal Kiara tahu Tristan sudah mempunyai keluarga, mana mungkin Kiara mau dengan Tristan" lanjut Mona.
"Kiara sudah memutuskan Tristan, namun Tristan yang terus mengejar Kiara, bahkan untuk menghindari Tristan Kiara rela keluar dari kerjaannya dan meninggalkan kota kelahirannya, Kini Kiara tinggal bersama Om dan Tantenya di luar kota" jelas Mona.
"Jadi jangan sesekali kamu sebut Kiara sebagai pelakor, karena dia bukan pelakor, dia hanya korban kebohongan Tristan" pungkas Mona.
Rani terdiam mendengar penjelasan dari Mona, niatnya untuk menghasut orang tua Rani namun keadaannya berbeda jauh dari yang ia pikirkan sebelumnya.
"Kiara tidak salah, lalu siapa yang salah ?, Tak mungkin tamu akan masuk jika tuan rumahnya tak membukakan pintunya" batin Rani.
"Bu saya permisi dulu, terima kasih atas penjelasanya" ujar Rani.
"Menurut saya, lelaki seperti Tristan tak pantas di jadikan suami" ujar Mona ketika Rani sudah berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Dua yang tak mudah di maafkan dalam berumah tangga, yang pertama adalah kekerasan dalam rumah tangga dan yang ke dua itu adalah perselingkuhan.