
"Kenapa sih kalau di kota selalu saja macet, macet dan macet" gerutu Rani seraya memukul setir mobilnya.
Ponselnya berdering ternyata pesan masuk dari Kiara.
{Ran, jika nanti telah tiba di cafe, langsung masuk saja ke ruang vip no 3, kamu tinggal tanya ruangan tersebut pada pelayan dan bilang sudah punya janji dengan Kiara } isi pesan yang Kiara kirim untuk Rani.
"Tuh kan Kiara pasti sudah datang, kasian dia pasti menunggu lama" gumam Rani.
{Oke, Maaf Kiara sepertinya aku akan terlambat datang karena jalanan macet sekali}.
{Santai saja, wajar jalanan macet karena sebentar lagi waktu jam makan siang}.
"Tahu begini mending tadi aku naik motor saja". gerutu Kiara.
Setelah berjibaku dengan kemacetan akhirnya Rani sampai di tempat tujuannya, Rani langsung masuk ke dalam cafe tersebut.
"Mbak ruangan vip 3 dimana ya, saja sudah ada janji dengan Kiara ?" tanya Rani pada seorang pelayan.
"Mari ikut saya" jawab pelayan tersebut. Kiara mengekor di belakang. "Ini tempatnya, Mbak Kiara sudah ada di dalam" sambung Pelayan.
"Terima kasih" ucap Rani.
Rani masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung di sambut ramah oleh Kiara.
"Maaf aku telat".
"Tidak kok" jawab Kiara. "Sebaiknya kamu pesan dulu makanan dan minuman, aku yakin kamu pasti lapar setelah perjalanan jauh, setelah itu baru kita ngobrol - ngobrol" sambung Kiara.
"Kami juga makan dong".
"Aku sudah, maaf tidak menunggu kamu terlebih dahulu".
"Oh seperti itu, tidak masalah karena tadi aku kejebak macet hingga datang telat".
Rani memesan makanan, kebetulan perutnya sudah keroncongan sejak tadi, saking laparnya dia lupa menawari Kiara makan.
Kiara hanya menghela nafasnya melihat Rani makan seperti orang kelaparan, Kiara pun membiarkan Rani makan tanpa mengajaknya berbicara.
__ADS_1
"Maaf, lupa menawari kamu makan" ucap Rani saat suapan terakhir.
"Tidak apa - apa, kan sudah ku bilang jika aku sudah makan" jawab Kiara.
"Hmm, , aku merasa senang sekali saat kamu mengajak bertemu di sini, bahkan jika kamu tidak keberatan aku mau minta tolong sama kamu".
"Minta tolong apa ?".
"Nyari Kia wanita idaman suami ku" jawab Rani.
Dada Kiara bergemuruh, bahkan ia menjadi salah tingkah saat mendengar jawaban dari Rani. "Ran ini aku Kia, perempuan idaman suami mu" batin Kiara.
"Emang apa yang kamu tahu tentang perempuan itu ?".
"Aku hanya tahu namanya dan alamat rumahnya".
"Orangnya ?" namun Rani langsung menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu ingin sekali menemui perempuan itu, apa kamu akan menghajarnya dan meneriakinya sebagai pelakor ?".
"Aku tak akan melakukan hal tersebut, aku hanya ingin berbicara dari hati ke hati sebagai perempuan". bisa di lihat tak ada rasa marah atau benci di wajah Rani saat menyebut nama perempuan idaman suaminya, hanya ada sebuah gurat kekecewaan yang terlihat di wajah Rani.
"Kadang cinta itu tidak bisa di paksakan, namun karena nafsu manusia itu besar maka akan melakukan apa pun demi cintanya" ucap Rani.
"Ran, a. .a .aku. . ." Kiara tak bisa melanjutkan kata - katanya, cairan bening pun tak mampu di bendungnya lagi.
"Kiara kamu kenapa ?" seketika Rani terkejut melihat Kiara yang menangis secara tiba - tiba. "Jika ada masalah ceritalah, aku siap untuk mendengarkan mu, karena menurutku dengan sedikit bercerita akan membuat kita merasa lega" sambung Rani.
"Ya Allah beri aku kekuatan untuk mengatakan semua ini, aku tak ingin terus - terusan menyakiti hati sesama perempuan" batin Kiara.
Rani sangat perhatian pada Kiara yang sedang menangis, tak ragu Rani membelai punggung serta kepala Kiara agar Kiara berhenti menangis, namun hal itu membuat Kiara semakin sakit. betapa teganya Tristan menyakiti Rani yang mempunyai hati begitu baik.
Sementara di tempat lain seorang nenek sedang bersusah payah meneangkan sang cucu yang terus - terusan merengek mencari ibunya.
"Neng Alea tidak mau makan dan juga tidak mau minum susu, katanya mau makan dan minum susu jika ada Mamanya" jelas pengasuh Alea.
"Bentar saya hubungi dulu Rani".
Mamanya Rani kembali dengan wajah yang lesu karena nomor Rani tak bisa di hubungi.
__ADS_1
"Nomor Rani tidak akitf" jelas Mamanya Rani. ia berjalan menuju kamar sang cucu. "Cucu Oma yang paling cantik harus makan yah, kalau tidak makan nanti sakit" bujuk Mamanya Rani, namun Alea langsung menggelengkan kepalanya. "Alea cantik maunya apa ?".
"Mama, aku mau sama Mama" jawab Alea dengan suara khas anak kecil.
"Mamanya kan lagi pergi dulu katanya mau beli sesuatu buat Alea, Mama mau memberi kejutan katanya buat Alea".
"Oma serius ?" Alea yang tadinya cemberut kini terlihat sangat senang sekali saat mendengar Mamanya akan memberi kejutan.
"Tapi Alea harus makan dulu".
"Alea mau makan Oma" ujar Alea dengan penuh semangat.
Mamanya Rina langsung memerintahkan pada pengasuh Alea untuk mengambil nasi dan juga susu untuk Alea.
Ia bangkit dan meninggalkan kamar sang cucu, lalu ia menghubungi seseorang.
"Pa, Rani pergi lagi, katanya sih mau bisnis sama temen - temennya".
"Papa sudah tahu kok, tenang saja tak perlu khawatir serahkan semuanya sama papa".
"Maksud Papa apa ?".
"Nanti Papa jelaskan di rumah saja"
"Baiklah, hari ini Alea kembali merengek tidak mau makan mau sama Rani makan nya, tapi setelah di bujuk dengan dalih jika Rani pergi mencari sesuatu untuk memberi kejutan baru dia mau makan, Mama bingung Rani tak bisa di hubungi, bagaimana jika Rani nanti pulang tak bawa apa - apa, bisa - bisa Alea ngambek lagi".
"Itu masalah gampang, serahkan saja sama Papa pasti semuanya beres" jelas pak Erik. " Sudah dulu ya, Papa masih banyak kerjaan". panggilan pun terputus, Mama Rani kembali ke kamar sang cucu, hatinya merasa lega saat melihat sang cucu sedang makan dengan lahap.
"Rani. . di mana kamu, Mama tidak yakin jika kamu sedang berbisnis" Gumam sang Mama pelan.
Dia Merasa ada yang aneh pada diri sang anak setelah kalimat cerai yang di katakan Tristan. ya awalnya Rani terlihat sangat murung bahkan mogok makan, tapi sekarng Rani tak terlihat murung lagi, bahkan kini Rani sering keluar dan seolah tak peduli dengan Alea, membuat sang Mama merasa sangat kasian kepada sang cucu yang seperti anak yang kurang kasih sayang orang tuanya.
****
Tangisan Kiara mulai berkurang, Ia berusaha untuk kuat, ia ingin kembali hidup normal tanpa permasalahan yang sangat rumit, apa lagi waktu yang Kiara punya tidaklah banyak.
"Ran, nama ku Kiara Sahila, aku bekerja di kantor yang sama dengan suami mu, teman - teman di kantor lebih sering memanggil ku dengan nama Kia, jadi Kia yang di maksud oleh kamu adalah aku".
__ADS_1