
Rani berusaha tegar dengan keputusan yang di ambilnya, walaupun hati kecilnya masih mencintai Tristan, namun ia tak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa jika ia masih berharap bisa kembali dengan Tristan.
"Mah, Ayah Mana ?" tanya Alea.
"Ayah kan kerja nak" inilah yang di takut kan oleh Rani yaitu ketika sang buah hati bertanya tentang keberadaan sang Ayah.
"Kita ke rumah ayah lagi yuk, Alea lebih senang tinggal di sana dari pada di sini" ujar Alea dengan pembicaraan khas anak kecil.
"Ini kan sudah malam, lebih baik Alea bobo yah". Rani mencoba mengalihkan perhatian Alea.
"Alea mau sama Ayah".
"Ayah kan kerja, kalau Alea mau sama Ayah, Alea harus nurut sama Mama, sekarang Alea bobo dulu yah".
"Besok kalau Alea bangun Ayah ada ?".
"Mama gak janji, tempat kerja Ayah kan jauh".
"Ya udah besok kita ke rumah Ayah saja".
"Insya Allah ya nak, yux bobo dulu, mau gak Mama dongengin"
"Mau Mah".
Rani menahan air matanya dengan sekuat tenaga, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan sang anak.
"Mah, Alea bobo sama Mama yah".
"Iya sayang".
Rani mulai membacakan dongeng pengantar tidur untuk Alea, tak butuh waktu lama akhirnya Alea tertidur dengan pulas dalam pelukannya.
"Nak, Maafkan Mama yang tak bisa mempertahankan Ayah mu, tapi Mama janji Mama akan jadi Ayah yang baik untuk mu" lirih Rani, ia tak kuasa lagi membendung air matanya.
"Mas apa kamu tak pernah memikirkan nasib anak mu jika kita berpisah, aku harus jawab apa nanti jika Alea bertanya kenapa kita tidak tinggal bareng lagi" batin Rani.
Rani tidur bersama Alea, di tengah malam Rani terbangun karena ponselnya berdering, untung saja Alea tidur pulas jadi suara ponselnya tak membangunkan Alea.
"Kurang kerjaan saja jam segini ngirim sebuah video". gerutu Rani kesal.
***
__ADS_1
Wulan kembali mencoba menghubungi Kiara namun nomornya tetap saja tidak aktif. "Kamu di mana, jangan bikin kita panik dong" batin Wulan.
"Bapak dan Ibu bisa kembali besok untuk menghadap manager hotel ini, semoga dia memberi izin untuk melihat rekman cctv tersebut" saran dari salah satu resepsionis.
"Ada apa ini ?" suara bariton tersebut membuat semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara.
Para resepsionis langsung menundukan kepalanya memberi hormat kepada seseorang yang baru saja datang.
"Apakah ada masalah dengan pelayanan hotel ini ?" tanya seseorang tersebut.
Lalu salah satu resepsionis menceritakan permintaan pak Rey dan Wulan kepada seseorang tersebut yang ternyata merupakan pemilik hotel tersebut.
"Ayo pak Rey dan Bu Wulan ikut saya" ajak seseorang tersebut.
Seseorang tersebut ternyata adalah pak Dilan seorang pengusaha muda yang sedang naik daun, setelah mengetahui Kiara hilang, pak Dilan langsung memerintahkan penjagaan ketat di luar.
Pak Dilan, pak Rey, Wulan dan seorang yang berjaga cctv tersebut menuju ruangan cctv, tak lupa penjaga juga menanyakan posisi terakhir Kiara.
petugas cctv mencari ruangan tempat acara pesta, namun karena itu ruangan privasi jadi di dalamnya tak ada camera cctv.
"Kita perhatikan saja setiap pintu yang terhubung dengan ruangan tersebut" titah pak Dilan.
Mereka memperhatikan setiap detik remakan cctv namun mereka terkejut saat melihat rekaman dari pintu belakang ruangan tersebut, terlihat seorang laki - laki membopong tubuh seorang perempuan yang terkulai lemas.
Namun sayang pria yang menggendong Kiara tak terlihat jelas karena posisinya yang menunduk.
"Siapa dia" gumam pak Rey.
Mereka terus memperhatikan rekaman tersebut sampai Kiara dan lelaki tersebut memasuki sebuah kamar.
Pak Dilan langsung menghubungi salah satu resepsionis agar mencarikan kunci cadangan kamar tersebut, setelah kunci di dapat pak Rey dan yang lainnya menuju kamar tersebut.
Wulan mengetuk pintu secara perlahan namun tak ada sahutan dari penghuni kamar, Karena tak ada jawaban akhirnya Pak Dilan membuka pintu itu secara paksa dengan kunci cadangan.
Saat pintu terbuka, langsung memperlihatkan Kiara yang tertidur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Wulan langsung berlari menuju tempat Kiara terbaring.
Namun yang membuat mereka heran kemana lelaki tadi yang membawa Kiara, di dalam kamar tersebut hanya ada Kiara yang masih tertidur.
Sementara Mama mona terbangun dari tidurnya, ia mengalami mimpi buruk. "Untung hanya mimpi" gumam Mona seraya mengatur nafasnya yang ngos - ngosan, namun entah kenapa tiba - tiba perasaannya menjadi tidak enak, untuk menenangkannya Mona menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
"Loh kok ibu belum tidur" tegur bi Limah yang kebetulan juga sedang berada di dapur.
__ADS_1
"Saya haus bi, loh kok bibi juga belum tidur juga".
"Hmm Bibi terbangun karena mimpi buruk" jawab Bi Limah.
"Mimpi apa bi ?" tanya Mona penasaran karena pasalnya dirinya juga mengalami mimpi buruk.
"Bibi mimpi denger suara neng Kiara minta tolong" jawab Bi Limah.
"Bibi seriusan mimpi seperti itu ?" Mona memastikan kembali mimpi bi Limah.
"Iya bener bu".
"Hmmm sebenarnya saya juga mimpi buruk bi, saya mimpi jika Kiara teriak - teriak memanggil nama saya dan meminta tolong" jelas Mona.
"Ya Allah kenapa mimpi kita bisa sama" ujar bi Limah.
"Aku jadi khawatir dengan kondisi Kiara, mau menghubunginya tapi takut jika malah mengganggu tidurnya, pasti dia juga akan khawatir jika saya menghubunginya malam - malam begini".
"Lebih baik kita shalat saja bu, kita berdoa semoga neng Kiara baik - baik saja dalam lindungan sang pemilik alam". ajak bi Limah.
"Semoga hati ku bisa lebih tenang".
Mona dan bi Limah melakukan shalat malam, mereka berdoa untuk keselamatan Kiara dan agar Kiara selalu mendapat perlindungan Allah.
Setelah melakukan shalat malam, Mona kembali ke kamarnya, namun hatinya masih gelisah, ia merasa mimpinya itu adalah sebuah pertanda apa lagi mimpi dirinya dan bi Limah hampir sama persis.
"Lebih baik aku menghubunginya saja, agar hati ini bisa tenang" batin Mona.
Di ambilnya ponsel yang berada di atas nakes , lalu menekan nomor Kiara beberapa saat terdengar suara operator yang berbicara jika nomor Kiara tidak bisa di hubungi, Mona mencoba menghubungi lagi namun tetap sama nomornya tak bisa di hubungi.
"Kamu di mana nak, jangan buat Mama khawatir begini" batin Mona.
Waktu telah menunjukan dini hari namun mona masih tak bisa memejamkan matanya, pikiranya masih berkelana tentang keadaan sang putri tercinta.
***
"Kemana pria itu ?" tanya pak Rey.
Semua sudut kamar hotel itu di geledah oleh pak Rey dan pak Dilan, namun mereka tak menemukan orang yang di carinya, sementara Wulan berusaha mencoba untuk membangunkan Kiara.
"Sepertinya di dalam kamar mandi ada orang, ada suara gemercik air" ujar pak Dilan saat menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.
__ADS_1
Saat pintu akan di buka oleh pak Rey, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya dan menampakan sosok seorang pria yang tak asing bagi pak Rey.