
Detik berganti menjadi menit. Menit berlalu berganti menjadi jam. Waktu yang singkat seperti mimpi. tugas manusia hanya memberi warna di setiap waktunya.
Pagi yang cerah, sinar matahari telah menunjukan kuasanya, Kiara telah bersiap - siap, hari ini adalah hari pertamanya dia bekerja di tempat baru.
Hari pertama bekerja Kiara sudah mendapat banyak kerjaan, untung saja ada Mira yang membantu Kiara mengerjakan kerjaannya, walaupun mereka baru kenal tapi mereka sangat kompak dalam bekerja.
"Ayo istirahat dulu" ajak Mira.
Kiara langsung bangkit dari tempat duduknya mengikuti Mira ke kantin, perutnya yang sudah keroncongan membuat Kiara langsung memesan sepiring nasi dan soto.
"Terima kasih sudah membantu" ucap Kiara.
"Sama - sama".
Kiara yang mempunyai sikap yang ramah membuat ia dengan mudah akrab dengan rekan - rekan kerjanya, banyak dari mereka yang menyukai sikap ramah Kiara.
Teman yang asik, membuat kerjaan yang sulit pun terasa menjadi sangatlah mudah, hingga tak terasa Kiara sudah bekerja di kantor tersebut selama satu minggu, kinerja yang bagus membuat nama Kiara mulai di kenal di kantor tersebut.
"Om, tante, sepertinya Kiara akan memilih buat cari tempat tinggal sendiri saja, dari sini ke tempat kerja kan lumayan jauh, kadang Kiara harus berangkat lebih pagi agar tak telat" keluh Kiara.
"Tapi . . " sang Paman merasa ragu untuk mengizinkan keponakannya tinggal sendirian, karena bagaimana pun sekarang Kiara menjadi tanggung jawabnya.
"Kiara bisa jaga diri baik - baik kok".
"Hmm baiklah, tapi apa orang tua mu mengizinkan ?" tanya sang tante.
"Kalau Mama sih terserah Kiara saja".
Sesuai rencananya, sepulang kerja Kiara akan mencari kosan yang tempatnya tak jauh dari tempat kerjanya. Kiara akan di temani oleh Mira.
Sebuah apartemet semi kos - kosan yang Kiara pilih, harganya masih terjangkau dan tempatnya pula hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kerjanya.
"Semoga kamu betah yah tinggal di sini" ujar Mira.
"Amin, nanti kalau libur kamu main lah sekali - kali ke sini atau mau nginep juga boleh".
"Okee".
Kiara belum mempunyai kendaraan sehingga ketika akan berpergian ia menggunakan taksi online atau ojek online, namun hal itu tak membuat Kiara mengeluh.
Setalah membereskan barang - barangnya Kiara langsung menghubungi sang Mama untuk memberi tahu jika kini ia sudah tak tinggal lagi dengan om dan tantenya.
__ADS_1
"Hallo Mam, aku sangat rindu" ucap Kiara.
"Mama juga rindu nak, bagaimana kabar mu nak ?".
"Aku baik - baik saja, oh iya Mam aku baru saja pindah ke tempat yang baru yang lebih dekat dengan kantor". jelas Kiara penuh antusias.
"Apa tempatnya aman nak ?".
"Insya allah aman Mam, penjagaanya juga bagus".
"Alhamdulilah, bagaimana kerjaan kamu nak".
"Alhamdulilah juga di tempat kerja rekan - rekan kerja ku baik semua, jadi jika ada yang tak ku mengerti mereka dengan suka rela akan membantu".
Kiara dan sang Mama bertukar cerita, bercerita bagaimana rasanya tak tinggal bersama, hingga tak terasa waktu telah larut.
"Ini sudah malam nak, tidur lah besok kamu harus bekerja".
"Iya Mam".
Telepon pun terputus, Kiara langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, berharap hari esok akan lebih indah dari hari ini.
****
"Saya ?!".
"Iya kamu, ini berkas - berkas yang harus kamu pelajari, meeting akan di adakan jam empat sore jadi kamu masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya". Wulan meletakan berkas - berkas tersebut di meja kerja milik Kiara dan setelah itu dia berlalu meninggalkan ruangan tempat Kiara bekerja. "Jika ada yang tidak bisa di mengerti bisa langsung datang ke ruangan saya" sambung Wulan.
"Wahh kamu hebat Kia sudah di percaya buat dampingi meeting pak Rey" ujar Rizal rekan kerja Kiara.
"Iya betul, Tapi pak Rey memang begitu setiap ada anak baru pasti akan di ajak meeting untuk melihat kemampuannya, dulu kita juga seperti itu" sahut Mira.
"Tapi Kiara terlalu cepat, dulu aku harus nunggu dua bulan dulu" sahut Dimas
"Aku malah baru seminggu bekerja di sini sudah di ajak Meeting gara - gara mbak Mira sakit" sahut Luna.
"Sudah - sudah, sekarang kita harus dukung Kiara agar sukses, karena kalau dia sukes kalian tahu dong pak Rey akan ngasih apa" ujar Mira.
"Kia nanti kalau sukses traktir kita makan yah" ujar Rizal.
"Kita makan - makan" sahut Dimas.
__ADS_1
Kiara hanya tersenyum melihat tingkah dari para rekan kerjanya, ia sangat senang karena semua mendukungnya namun di sisi lain Kiara sangat takut jika ia akan gagal dan membuat malu atasannya.
"Gak usah tegang gitu Kia, pak Rey baik kok" goda Mira yang melihat ketegangan di wajah Kiara.
Pekerjaan Kiara hari ini di kerjakan oleh rekan - rekan yang lainnya, sedangkan Kiara terus mempelajari setiap berkas untuk meeting nanti.
Jam istirahat tiba, Ketika teman - temannya mengajak ke kantin, tapi Kiara menolaknya karena ia harus menemui Wulan, Karena ada beberapa berkas yang tidak di pahaminya, namun sayang Wulan telah ke kantin terlebih dahulu.
"Kamu nyari siapa ?!" tegur seorang pria.
"Nyari Mbak Wulan" jawab Kiara ramah.
"Wulan sedang keluar !, ada apa kamu cari Wulan ?". tanya Pria itu dingin.
"Saya cuma mau tanya tentang berkas yang tadi pagi ia serahkan kepada saya" dalam hati Kiara ada rasa kesel berhadapan dengan pria dingin seperti ini.
"Mana saya lihat".
"Tidak perlu pak, nanti saja saya kembali lagi" ujar Kiara lalu pamit pada pria dingin tersebut.
"Serasa abis keluar dari frizer" gumam Kiara.
Karena tak jadi bertemu Wulan, Kiara pun langsung ke kantin menemui teman - temannya yang terlebih dahulu ke sana.
"Cepet amat ?" tanya Lulu.
"Mbak Wulannya gak ada lagi keluar katanya, malah ketemu orang dingin, gak ada ramah - ramahnya pula lagi".
"Siapa emang ?" tanya Rizal penasaran.
"Gak tahu, sepertinya aku baru lihat orang itu" jawab Kiara.
Tak terasa waktu meeting tinggal setengah jam lagi, Kini Kiara di panggil Wulan untuk datang ke ruangannya.
"Bagaimana udah siap ?" tanya Wulan.
"Hmmm aku takut gagal" jawab Kiara gugup.
"Dasar wanita lemah, belum perang sudah menyerah" tiba - tiba seorang pria masuk ke ruangan Wulan.
Ingin rasanya Kiara menjawab pernyataan pria tersebut, namun baru mau mengucap Wulan telah memberi kode untuk tidak bicara apa pun.
__ADS_1
"Kalau bukan Mbak Wulan yang melarang sudah ku ajak adu mulut juga nih orang" Gerutu Kiara dalam Hatinya. "Siapa sih dia, ikut campur saja urusan orang" batin Kiara bener - bener kesal.