
Kiara menghela nafasnya kasar, ia tak habis pikir dengan cara berpikir Tristan, kenapa dia mempunyai pemikiran yang sangat pendek sekali. Kiara bingung dengan cara apa lagi ia menjelaskan bahwa hubungan mereka itu salah dan tak bisa di lanjutkan.
Kiara merasa banyak perubahan dari diri Tristan, Kiara mengenal sosok Tristan yang tegas dan juga penuh tanggung jawab, namun sekarang itu tak terlihat di diri Tristan, yang di lihat Kiara kini Tristan adalah sosok seorang pria egois yang mementingkan kebahagiaanya sendiri.
"Sudahlah aku sudah bosan membicarakan hal ini terus, keputusan ku sudah bulat tidak akan kembali pada mu lagi !" seru Kiara. "Kerjaan ku masih banyak, aku harus segera kembali ke kantor" sambung Kiara.
Percuma bicara baik - baik pada Tristan yang e egois, membuat Kiara semakin muak dan membenci Tristan, Kiara berlalu meninggalkan Tristan di kafe tersebut, kiara terus berjalan hingga trotoar jalan ia hendak mencari taksi atau pun angkutan umum yang melewati kantornya.
"Kiara tunggu !!" seru Tristan yang berlari mengejar Kiara, namun sayang Tristan telat karena Kiara sudah masuk ke dalam sebuah taksi.
"Kiara jika kamu tak turun aku akan bunuh diri !" ancam Tristan.
Teriakan Tristan terdengar jelas oleh Kiara karena mobil yang di tumpangi Kiara belum bergerak karena jalanan yang macet.
Kiara masih terdiam di dalam mobil, ia merasa itu hanya sebuah ancaman saja, tak mungkin Tristan akan benar - benar melakukan hal bodoh tersebut.
"Mbak itu masnya lari ke tengah jalan, sepertinya dia mau bunuh diri" ujar sang sopir taksi membuat Kiara terkejut.
Kiara menoleh ke belakang, benar saja Tristan sudah ada di tengah - tengah jalan sedang merentangkan tangannya di hadapan sebuah mobil truk yang membuat suasana jalanan semakin macet saja.
"Heh !! Minggir kamu, sudah bosan hidup, lihat jalanan semakin macet gara - gara kelakuan kamu" ujar supir Truk yang kesal dengan aksi Tristan.
"Tabrak saja saya pak, biar perempuan yang saya cintai puas melihat saya mati" teriak Tristan.
"Dasar bodoh !! di kira aku mau menabrak kamu, nanti bisa - bisa aku masuk penjara lagi" ujar sopir truk seraya tertawa, cepetan minggir jangan menganggu waktu orang bekerja" sambung sang sopir.
Sementara Kiara masih terus memperhatikan aksi Tristan dari dalam mobil yang ia tumpangi, ia tersenyum kecut setiap mendengar teriakan Tristan.
"Mbak lebih baik mas nya di bujuk supaya mau ke pinggir lihat jalanan jadi macet kacau balau begini" ujar sang sopir taksi.
Mobil yang Kiara tumpangi kini telah terparkir di pinggir jalan, Kiara meminta untuk berhenti sebentar karena ingin memantau aksi Tristan
__ADS_1
Apa yang di katakan sopir taksi memang ada benarnya, lihat saja supir truk itu sudah sangat emosi melihat tingkah Tristan dan suara klakon mobil terus terdengar silih berganti.
"Pak tunggu sebentar ya" ujar Kiara, seraya keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan menghampiri Tristan.
"Minggir Kamu, jangan bikin malu !!" ketus Kiara lalu menyeret tangan Tristan kepinggir jalan.
"Kalau punya masalah itu di bicarakan baik - baik, cowok kok ngancamnya bunuh diri gak kebalik tuh" ledek supir Truk.
"Mas jangan buat aku malu !! di kira aku akan simpati melihat tingkah kamu seperti itu, yang ada aku semakin muak melihat tingkah kamu, aku turun karena kasian pada supir Truk itu dia sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya malah kamu ganggu perjalanannya dengan aksi konyol mu" Kiara mengeluarkan semua kekesalannya pada Tristan.
Tristan terduduk lemas di trotoar jalan, pikirannya kacau, kenapa Kiara tak mau kembali padanya padahal sudah berbagai macam cara ia lakukan untuk membuat Kiara kembali, namun semuanya ternyata sia - sia.
"Kembali lah pak Hartono menunggu mu dan aku juga harus segera kembali ke kantor" ujar Kiara dan berlalu meninggalkan Tristan sendirian.
Kiara di kantornya langsung di sambut oleh teman - temannya yang sudah menunggu sejak tadi, bahkan mereka sempat heran karena Wulan dan Pak Rey sudah kembali namun Kiara belum juga menunjukan batang hidungnya.
"Akhirnya datang juga, kenapa kamu tida bareng Mbak Wulan dan pak Rey ?" tanya Lulu.
"Bagaimana ?" tanya Rizal.
"berhasil doang" jawab Kiara bangga.
"Wahh selamat, sudah ku duga ini pasti terjadi".
"Besok makan - makan".
"Bagaimana kalau nanti saja pulang kerja, lagian nanti malam minggu jadi sekalian kita nongkrong bareng" usul Dimas.
Usulan Dimas di setujui oleh semuanya, mereka akan nongkrong di sebuah cafe dengan nuansa kekinian yang sedang viral saat ini, mereka janjin di sana jam tujuh malam.
"Kia di panggil pak Rey" tiba - tiba Wulan datang.
__ADS_1
"Baik mbak".
Kiara langsung menuju ruangan pak Rey, ia merasa perasaannya menjadi tidak enak sepertinya akan terjadi sesuatu.
"Silahkan duduk !".
Kiara duduk menghadap pak Rey, wajahnya terlihat sangat serius membuat Kiara menjadi tegang.
"Jika kalian punya masalah selesaikanlah, dan ingat jangan pernah membawa permasalahan pribadi ke dalam pekerjaan, perlihatkanlah jika kita adalah pekerja yang profesional" ujar pak Rey membuat Kiara sedikit tersentak, ucapan pak Rey telah menyindirnya secara halus.
"Maaf atas kejadian tadi, saya janji tidak akan mengulanginya lagi" Kiara tak bisa berbicara banyak, sungguh ia sangat malu dengan aksi Tristan yang meminta izin pada pak Rey untuk berbicara dengannya, apa lagi di sini Kiara merupakan Karyawan baru.
"Saya tak menyalahkan mu, hanya saja meminta mu untuk bekerja secara profesional saja" ujar pak Rey.
"Baik pak".
Sebelum Kiara keluar dari ruangan pak Rey, Kiara menerima ucapan selamat atas kerja samanya selama meeting yang membuatnya merasa sangat puas dengan cara Kiara menjelaskan tentang kinerja perusahaannya, tak lupa juga pak Rey memberikan sebuah amplop coklat sebagai bonus karena Kiara telah berhasil.
"Terima kasih pak, tapi apa saya pantas menerima semua ini ?".
"Ambil lah ini adalah hak mu" pak Rey menyodorkan amplop coklat dan dengan ragu Kiara menerimanya.
Kiara kembali ke ruanganya dengan membawa amplop tersebut, sebelum kembali ke ruanganya Kiara terlebih dahulu ia menghampiri meja Wulan.
"Terima kasih atas semuanya, karena berkat bantuan Mbak aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik" ujar Kiara.
"Sama - sama, kita sebagai sesama karyawan di sini harus bisa kerja sama saling bantu membantu agar perusaahan ini terus maju" jawab Wulan.
Jam setengah tujuh, Kiara sudah bersiap untuk pergi ke cafe bersama teman - temanya, Kiara memilih untuk menggunakan taksi online karena ia juga belum terlalu hapal jalanan di kota ini. sebelum berangkat Kiara telah mengirim pesan di sebuah grup chat memberi tahu jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju lokasi.
"Kiara kamu di sini juga ?!" tegur seseorang yang suaranya sangat tak asing di telinga Kiara.
__ADS_1