
"Nak maafkan ayah" ucap Tristan lirih, ia memeluk sang anak dengan berurai air matanya.
Bagaimana nasib sang anak jika dirinya dan Rani berpisah, apakah dirinya masih di izinkan untuk menemui Alea ?. Tristan memeluk Alea seraya memikirakan jalan mana yang harus ia tempuh. tak lama terdengar suara pintu terbuka ternyata Rani datang, dengan cepat Tristan langsung menghapus air matanya.
"Kamu menangis mas ?" Rani melihat genangan air mata di pelupuk mata Tristan. "Apa kamu ada masalah ?" Rani mendekat ke arah suaminya.
"Aku baik - baik saja, hanya saja dengan melepas rindu dengan Alea" ujar Tristan.
"Mas menurut ku apa kata Papa ada benarnya kamu tinggal di sini saja, biar kita selalu bersama" ujar Rani.
"Aku sedang tak ingin membahas itu dulu" ujar Tristan. ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.
"Kamu mau ke mana ?" tanya Rani.
"Aku mau nganter Ibu dan Bapak pulang" jawab Tristan.
"Semakin ke sini sikap mu semakin dingin" gumam Rani dalam hatinya.
Rani merupakan anak tunggal, sejak kecil ia sudah bergelimang harta, kehidupan nya yang bergelimang harta membuat Rani hanya sedikit memiliki teman karena mereka selalu minder jika berteman dengannya.
Rani merasa sangat bahagia saat mendapat kabar jika kedua orang tuanya berencana untuk menjodohkan nya dengan Tristan, karena ternyata Rani sudah mencintai Tristan sebelum adanya perjodohan ini.
Sikap dingin Tristan membuat Rani sadar jika Tristan menerimanya hanya karena sebuah paksaan, namun Rani selalu bertekad jika suatu saat nanti Tristan akan mencintainya. hal itu di rasakan Rani ketika sedang hamil Alea, apalagi ketika melahirkan Alea Tristan dua puluh empat jam selalu berada di samping Rani, dari kejadian tersebut Rani yakin jika Tristan sudah menerimanya.
Tristan mengantar kedua orang tuanya pulang, rumah orang tua Tristan dan Rani tak begitu jauh, hanya beda desa saja.
"Nak, kenapa kamu tidak membawa Rani saja ke kota, atau jangan - jangan kamu menyembunyikan status kamu di kota" ujar ibunya Tristan.
"Nak, keluarga Rani sudah banyak membantu keluarga kita, jangan kecewakan mereka, karena jika mereka marah hancur sudah kehidupan kita" sambung Bapaknya Tristan.
__ADS_1
"Pak, bu apa menurut kalian kebahagiaan itu bersumber dari harta ?. Pak, Bu jujur Tristan sakit hati jika keluarga Rani selalu mengungkit kebaikan mereka, apa lagi ketika Ibu dan Bapak di perlakukan layaknya kacung oleh mereka" ujar Tristan.
"Ini bukan soal harta Tri, tapi ini soal balas budi !!" ujar bapak Tristan.
"Nak sudahlah jangan terus berdebat tentang masalah ini !!" sambung Ibu Tristan.
"percuma aku bicara sama Ibu dan Bapak, kalian hanya memikirkan kebahagiaan kalian sendiri tanpa mau tau kebahagiaan anaknya" Tristan berlalu menuju kamarnya.
"Dasar anak durhaka !!" seru Bapak Tristan.
Di dalam kamar di tatapnya pemandangan kolam dari jendela, pikirannya berkelana saat dirinya merasakan kebahagiaan bersama Kiara, perempuan yang ia cintai.
"Apa aku bisa memiliki mu kia, sepertinya hidup ku akan hancur jika kamu benar - benar meninggalkan ku" gumam Tristan pelan tanpa di sadari ternyata sang Ibu sudah ada di sampingnya.
"Siapa Kia ?!" tanya sang Ibu.
"Jawab pertanyaan Ibu nak, siapa Kia ?".
Tristan terdiam, memikirkan jawaban untuk pertanyaan sang Ibu antara harus jujur atau berbohong. "Ahhhh bodoh kamu Tristan !! kenapa tadi pintu kamar tidak langsung di kunci" Tristan merutuki kebodihannya sendiri.
"Nak, ayo jujur sama Ibu, apa kamu benar mempunyai perempuan lain di kota ?" Sang Ibu kembali bertanya.
"Kia adalah temen kantor ku bu, tadi aku sedang berpikir bagaimana kerjaan ku di sana apa Kia mampu mengatasi semuanya karena dia termasuk orang baru di kantor" jelas Tristan, ia tak mungkin berkata jujur siapa Kia sebenarnya karena sang Ibu pasti akan marah dan juga sedih jika tahu mantu kesayangan meren di duakan.
"Ibu hanya nitip pesan, jangan terlalu dekat dengan perempuan, ingat kamu juga punya anak perempuan bagaimana jika anak mu kelak di permainkan perasaanya oleh seorang pria" nasihat sang Ibu.
Setelah puas menenangkan diri di rumahnya, Tristan kini kembali ke rumah sang mertua, ke datangannya langsung di sambut hangat oleh sang istri dan juga putri tercintanya.
"Ayah . . . "Alea berlari menyambut Tristan.
__ADS_1
"Anak ayah jangan lari - lari" Tristan menggendong Alea. lalu masuk ke dalam rumah beiringan dengan Rani. jika di lihat mereka memang seperti keluarga yang harmonis namun itu semua hanyalah sebuah sandiwara.
"Mas ayo kita makan dulu, Mama dan Papa sudah nunggu di ruang tamu" ujar Rani, Tristan tak langsung mengiakan ajak kan Rani, ia terus berjalan menuju arah kamar.
"Kasian Alea belum makan dari tadi karena nunggu kamu pulang" bisik Rani, ia paham jika Tristan pasti menolak.
Mendengar pernyataan Rani, Tristan menghentikan langkahnya lalu menatap sang anak yang ada di gendongannya.
"Anak cantik ayah belum makan ?" tanya Tristan dan Alea pun menggelengkan kepalanya.
"Hmm, gimana kalau Alea makannya Ayah suapin, kita makannya di taman saja sambil liat ikan di kolam" usul Tristan, Alea mun mengangguk girang.
"Kamu basa makanan Alea ke taman belakang, aku dan Alea nunggu di sana" titah Tristan.
"Terima kasih nak sudah mau ngertiin kondisi Ayah, maafkan ayah belum bisa jadi ayah yang baik untuk kamu. walaupun kamu lahir dari wanita yang tidak ayah cintai tapi ayah sangat mencintai juga menyayangi kamu nak" ucap Tristan dalam hatinya seraya berjalan menuju taman belakang.
...🥀...
Ke esokan harinya Tristan sudah bangun sejak pagi, bahkan dia sudah mengemasi pakaiannya tanpa sepengetahuan Rani. Setelah shalat subuh Tristan keluar dari rumah seraya menenteng tas yang berisi pakaiannya.
"Bapak mau ke mana ? ini masih pagi sekali, nyonya dan tuan saja belum bangun" ujar satpam yang berjaga di rumah orang tua Rani.
"Aku harus ke kota, di kantor sudah menumpuk kerjaan, istri saya juga tahu jika saya pergi" jelas Tristan, kemudian satpam pun membukakan pintu gerbang dan Tristan langsung pergi dengan motor kesayangannya.
Pergi secara diam - diam adalah cara terbaik agar terhindar adu mulut, apalagi Papanya Rani pasti tidak akan mengizinkan dirinya pergi ke kota. ia juga terpaksa melakukan ini semua demi memperjuangkan cintanya, ia bertekad akan menemui Kiara dan menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Kia aku tahu kamu sangat mencintai ku, apalagi aku adalah cinta pertama untuk mu jadi aku yakin jika kamu akan kembali pada ku" gumam Tristan dalam hatinya.
Jalanan yang gelap gulita, kiri kanan hutan belantara ia terobos demi bertemu pujaan hati, ia abaikan rasa takut bertemu dengan begal dan sejenisnya. rasa dingin pun tak ia rasakan, rasa rindu pada Kiara telah membakarnya dan membuat dirinya selalu terasa hangat.
__ADS_1