Maaf

Maaf
Bab 11


__ADS_3

"Berani pulang juga kamu setelah pergi tanpa pamit" ujar Papanya Rani saat Tristan sudah berada di hadapanya.


"Alea main di kamar dulu sama mbaknya, nanti ayah nyusul" ucap Tristan. ia tak ingin sang anak melihat kemarahan kakeknya, ia juga tak akan melibatkan Alea dalam permasalahnnya.


"Sudahlah Pa, mas Tristan baru saja pulang" bela Rani.


Tristan duduk menghadap mertuanya dan Rani ikut duduk di samping sang suami, Seketika suasana menjadi hening tak ada yang memulai pembicaraan, sedangkan Tristan masih menyusun kata - kata agar tak membuat keluarga Rani kecewa.


"Mas katanya mau bicara, kok malah diam sih !" tegur Rani.


"Hah. . ! hmmm jadi . ." Tiba - tiba kata - kata yang telah tersusun rapih sulit untuk di ungkapkan, ada keraguan di dalam hatinya.


"Cepat kalau mau bicara, aku sibuk !!" ketus Papanya Rani.


"Hmmm . . sebelumnya aku minta maaf belum bisa jadi menantu yang baik, suami yang baik dan juga ayah yang baik" ucap Tristan seraya tertunduk, ia tak punya keberanian untuk menatap sang mertua.


"Cepatlah bicara ke intinya saja !!"pinta Papanya Rani.


"Dengan penuh kesadaran dan atas ke inginan saya sendiri, saya ingin menceraikan Rani" ucap Tristan.


deg


Rani seperti mendapatkan petir di siang bolong, begitu pun kedua orang tua Rani mereka sangat terkejut dengan ucapan Tristan.


"Jangan main - main kamu !" seru Papanya Rani.


"Mas kamu bicara apa sih ?" Kini Rani bersuara.


"Rani, aku tak mampu melanjutkan rumah tangga kita".


Deg


Tanpa komando air mata langsung mengalir di pipi Rani, sakit, kecewa, hancur entah apa pagi untuk menggambarkan perasaan Rani saat ini, di saat dirinya bersusah payah membangun rumah tangga namun di saat itulah dengan sekejap Rumah tangganya hancur dengan perceraian yang di inginkan Tristan.


"Enak sekali bicara mu wahai anak muda" sindir Mamanya Rani.


"Ma, Pa, maaf jika keputusan ku ini membuat Mama dan Papa kecewa" ucap Tristan seraya menunduk.


plak


plak


Dua tamparan mendarat di pipi Tristan, tak ada perlawanan ia membiarkan Papanya Rani melakukan semuanya.


"Dasar laki gak tahu diri, sudah di tolong di baikin sekarang begini balasannya !!"Seru Papanya Rani.

__ADS_1


"Pa, Ma, Tristan minta maaf !" Tristan meringis menahan sakit.


"Keluar dari rumah ini !!" usir Papanya Rani.


Tanpa mau mendengarkan penjelasan Tristan, Papanya Rani langsung menyeret Tristan keluar dengan sangat kasar.


"Pergi kamu dari rumah ini !!" seru Papanya Rani.


"Pa, Tristan minta maaf".


"Pergi. . !!!".


"Ayah. . " ketika Papanya Rani akan menendang Tristan tiba - tiba Alea datang.


"Opa jangan sakiti Ayah" Alea langsung memeluk sang Ayah.


"Sus ajak Alea ke kamar" ujar Papanya Alea.


"Baik, pak" jawab pengasuh Alea, ia merasa tak enak karena sudah membawa Alea keluar dari kamar. "Sayang, main di kamar lagi yuk" namun Alea menolak ajakan dari sang pengasuh.


"Sayang, ikut mbak ke kamar, nanti Ayah nyusul" bujuk Tristan, ia tak ingin sang anak terlibat apalagi mendengar pertengkaran mereka.


Tanpa penolakan lagi Alea langsung menuruti perintah sang ayah. setelah Alea tak ada, Papanya Rani kembali menyerang Tristan dengan pukulan dan juga tendangan.


"Pak tolong usir orang ini !!" perintah Papanya Rani pada Satpam di rumahnya. kini Tristan sudah babak belur, di sudut bibirnya telah mengalir darah segar akibat pukulan.


"Terima kasih pak" ucap Tristan ketika ia sudah sampai di pintu gerbang, kemudian seorang satpam datang dengan membawa motor miliknya.


"Bapak baik - baik saja kan, apa perlu saya antarkan pulang" salah satu satpam merasa iba melihat kondisi Tristan.


"Aku baik - baik saja" jawab Tristan seraya menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Tristan dengan sekuat tenaga melajukan kuda besinya menuju rumah orang tuanya, ia akan menceritakan semuanya.


"Nak kamu kenapa ?" ibu Tristan syok melihat kondisi sang anak yang telah babak belur.


"Kita bicara di dalam saja bu".


Tristan duduk di ruang tamu, lalu sang ibu pergi ke dapur mengambil obat untuk memberikan dan juga mengobati luka Tristan.


"Kamu habis berantem dengan siapa ?" tanya sang ibu.


"Nanti kita bicara jika bapak sudah ada di rumah" ucap Tristan.


Bapaknya Tristan sedang pergi ke ladang mengontrol hasil panen, hal itu membuat Tristan menunda bercerita pada sang ibu, Seraya menunggu bapaknya pulang ia memilih tiduran di kamarnya, memulihkan kembali tubuhnya setelah babak belur di hajar mertua.

__ADS_1


***


"Tristan . . . Tristan. . " teriak Pak Musa.


"Tristan sedang istirahat, dia babak belur sepertinya dia habis di hajar orang" jelas sang istri.


"Dia di hajar oleh pak Erik !" Seru pak Musa. ia berusaha mengontrol emosinya.


"Maksud bapak apa ?".


"Tristan menceraikan Rani !!".


"Kata siapa ?" Ibunya Tristan tidak percaya jika sang anak melakukan hal tersebut.


"Tadi anak buah pak Erik datang ke kebun lalu mereka menyita seluruh hasil panen kita" pak Musa tak lagi bisa menahan emosinya, ia kemudian berlari menuju kamar Tristan. "Dasar anak tak tahu diri" pak Musa tanpa rasa kasian langsung menghajar Tristan walaupun sang anak sedang dalam keadaan terlelap tidur.


Tristan terbangun dan meringis kesakitan, Ia terkejut saat melihat bapaknya sudah berdiri di pinggir ranjang dengan sorot mata yang penuh dengan amarah.


"Puas kamu melakukan ini semua pada kami" saat akan kembali mendaratkan pukulan dengan sigap sang istri mencegahnya.


"Kita bicara baik - baik, jangan seperti ini" pinta Istri pak Musa.


Tristan dan kedua orang tuanya duduk di ruang tamu, sorot mata pak Musa begitu tajam pada Tristan, menandakan pak Musa sedang marah besar pada Tristan.


"Nak, apa betul kamu menceraikan Rani ??" Tanya Ibu Tristan memulai pembicaraan.


"Ibu tahu dari mana ?" tanya Tristan balik.


"Jawab saja, jangan malah balik tanya !!" Seru pak Musa.


"Pak, bu, apa Tristan salah jika Tristan ingin hidup bahagia dengan wanita yang Tristan cintai".


Plak


Plak


Dua tamparan mendarat mulus di pipi Tristan, Rasa nyeri pun tak ia rasakan karena kebahagiaan telah menantinya.


"Jadi kamu sudah punya wanita lain ?" tanya sang ibu seraya berurai air mata.


"Bu, sejak awal aku tak mau menikah dengan Rani, tapi kalian selalu memaksa dengan berbagai bujuk rayu, hingga aku menerimanya karena kalian, aku mencoba menerima takdir ini, tapi setelah melihat perlakuan mereka pada kalian aku berpikir bagaimana aku memperlakukan baik anak mereka jika mereka saja memperlakukan buruk kedua orang tua ku".


"Dasar tida tahu diri !!" lagi - lagi pak Musa ingin mendaratkan pukulan pada Tristan dan untungnya sang istri langsung sigap mencegahnya.


"Jadi benar Alasan kamu menceraikan Rani karena ada wanita lain ?" tanya Sang Ibu.

__ADS_1


...🍿🍿🍿🍿🍿...


Untuk beberapa minggu kedepan mungkin akan jarang update karena Author akan sibuk memprsiapkan hari raya, setelah hari raya ada beberapa keluarga Auhtor juga akan mengadakan pesta, jadi mohon sabar menunggu πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2