
Pov. Author
Kiara dan sang Mama sudah siap berangkat menuju bandara, hari ini mereka berencana akan berkunjung ke rumah pamannya yang berada di beda provinsi.
"Ini sudah kamu bawa semua ?" tanya Mona pada Kiara.
"Sepertinya sudah" Kiara kembali memastikan barang bawaannya tak ada yang tertinggal sedangkan Mona mengunci rumah mereka.
"Sepertinya mobilnya sudah datang" Seru Mona.
Kiara berjalan ke arah gerbang rumahnya, ia ingin memastikan bahwa itu mobil yang di pesan lewat aplikasi oleh dirinya.
"Kok mobilnya bagus sekali" gumam Kiara saat melihat mobil yang berhenti tepat di pintu gerbang rumahnya.
"Apa ini benar Rumah Kiara Shalia ?" tanya sang sopir sangat sopan.
"Iya betul" jawab Kiara. "Pak boleh minta tolong sekalian angkatin barang bawaan saya" punta Kiara dengan sopan.
Namun Si sopir malah mengerutkan dahinya, ia menunjukan sikap keterkejutannya dan juga kebingungan dengan ucapan Kiara tadi.
"Hmmmm. . " Si sopir bingung bau berbicara apa.
"Saya janji akan melebihi ongkosnya" Kiara menegeri maksud Sang Supir yang tidak langsung mengiakan permintaannya.
"Saya bukan supir taksi online" jelas sang sopir. "Saya ke sini hanya ingin bertemu dengan seseorang bernama Kiara Sahila" sambung sang sopir.
"Saya Kiara Sahila" Jawab Kiara yang masih dalam keadaan bingung.
"Ya saya sudah tahu, jadi saya mendapat amanat untuk membawa anda kehadapan bos saya" jelas sang sopir menjelaskan ke datangannya kerumah Kiara.
"Untuk apa ?" sejujurnya Kiara sangat syok dan terkejut dengan pengakuan sopir tersebut, entah kenapa setelah sang sopir berbicara seperti itu tiba - tiba perasaan Kiara tidak enak.
"Untuk itu saya tidak tahu" jawab sang sopir jujur, karena niat awalnya hanya mengantrakan. "Beliau hanya bicara tolong jemput dan bawa anda kesana" sambung sang sopir.
"Maaf bukan saya menolak ajakan bos besar anda, tapi saya harus segera pergi ke bandara satu jam lagi saya harus take off" jelas Kiara sopan, walau dalam hatinya di selimuti rasa penasaran, bahkan Kiara waspad jika mereka adalah komplotan para penjahat.
Si supir langsung meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang, sedangkan Kiara menghampiri sebuah mobil yang berhenti tepat di belakang mobil yang tadi.
"Mbak Kiara ya ?" tanya si sopir dengan ramah.
__ADS_1
"Iya, bapak Jenal ?" tanya Kiara dan sang sopir pun langsung menganggukan kepalanya. "Pak boleh minta tolong sekalian angkatin koper di dalam rumah" pinta Kiara dengan sopan.
"Baik Mbak" jawab sopir seraya keluar dari dalam mobilnya kemudian mengikuti Kiara dari belakang.
"Maaf pak, bisa geserkan mobilnya" pinta Kiara pada sopir yang pertama.
"Kata bos saya ini penting" ujar sang sopir.
"Maaf mungkin lain waktu aku dan ibu ku harus segera pergi" ujar Kiara sopan.
Setelah barang bawaannya sudah masuk ke mobil, Kiara dan sang Mama langsung pergi menuju Bandara ia tak memperdulikan lagi sopir tadi.
"Nak yang di dalam mobil tadi siapa ?" tanya sang Mama membuka obrolan mereka dalam mobil.
"Oh itu, lagi nyari alamat" jawab Kiara berbohong, ia tak ingin sang Mama menjadi khawatir tentang keadaan saat ini.
Selama perjalanan menuju Bandara tak ada pembicaraan lagi, Kiara dan sang Mama hanyut dalam pikiran masing - masing. setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya Kiara dan Mamanya tiba di bandara, setelah cek in mereka pun menunggu waktu pemberangkatan.
Sudah setengah jam lebih Kiara menunggu namun belum ada tanda - tanda keberangkatan, hingga akhirnya terdengar suara pengumuman jika pesawat yang akan di tumpangi Kiara dan Mamanya pengalami ke terlambatan.
"Mba Kiara" tegur seseorang saat Kiara dan Sang Mama ingin pencari tempat makan.
"Siapa dia sebenarnya, kenapa ada di sini, apa dia suruhan Mas Tristan".Gumam Kiara dalam hatinya.
"Bisa kita bicara sebentar di sana ?" Orang tersebut menunjuk sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari tempat Kiara berdiri.
"Bapak ngikutin saya ?" tanya Kiara penasaran.
"Kamu kenal dengan Bapak ini nak ?" tanya sang Mama.
Kiara menjadi serba bingung, menyetujui ajakan seseorang tersebut atau menolaknya, namun ia juga harus menjelaskan tentang seseorang tersebut pada sang Mama.
"Sebentar saja, 5 menit" seseorang tersebut memohon pada Kiara.
Sejujurnya Kiara sangat penasaran dengan orang tersebut, siapa bos dari seseorang tersebut, namun jika ia mengikuti kemauan seseorang tersebut lalu bagaimana dengan Mamanya, iya tak ingin Mamanya terlibat, apalagi Kiara juga belum mengetahui apa yang akan di bicarakan bos seseorang tersebut.
"Kia kok kamu malah bengong sih" tegur sang Mama.
"Hmmm. . " Kiara mencoba mencari alasan yang menurut dirinya benar.
__ADS_1
"Sebentar saja!" seseorang tersebut memohon dengan raut wajah yang mengiba.
"Kia kamu ada masalah dengan orang ini ?" tanya sang Mama yang mulai penasaran,tak biasanya Kiara seperti ini.
"Hmmm tidak bu" jawab Kiara cepat.
"Iya kami memang tidak ada masalah, bos ku hanya ingin berbicara dengannya hanya sebentar saja" jelas orang tersebut.
"Bos ?!" Mona terlihat kebingungan, masalah apa sebenarnya yang sedang di hadapi sang anak.
"Nak . ." lirih Mona, ia begitu mengkhawatirkan Kiara.
"Mam Kiara baik - baik saja" ujar Kiara Seraya tersenyum.
"Bagaimana mbak ?" tanya seseorang tersebut.
Setelah berpikir akhirnya Kiara bersedia untuk mengikuti kemauan orang tersebut, namun Kiara telah menyiapkan sesuatu jika terjadi hal yang tak di inginkan.
Kiara dan Mona berjalan mengikuti seseorang tersebut menuju sebuah cafe yang letaknya berada di bandara, seseorang tersebut berhenti di sebuah meja yang terdapat seseorang yang telah menunggu di sana.
"Di lihat dari bentuk tubuhnya sepertinya itu bukan Mas Tristan" gumam Kiara dalam hatinya.
Seseorang tadi mempersilahkan Kiara dan Mama nya untuk duduk dan kemudian ia berlalu meninggalkan mereka semua.
"Pasti kamu kebingungan kenapa kamu saya panggil ke sini" ujar seseorang yang duduk tersebut.
Kiara tak langsung menjawab, ia terus memperhatikan lelaki tersebut, ia bener - bener tak mengenalnya bahkan ia belum pernah bertemu dengan orang tersebut.
"Kamu tak perlu tahu siapa saya, niat saya hanya ingin bertanya apa hubungan kamu dengan Tristan ?" tanya orang tersebut to the point.
Deg
Kiara merasa seperti buronan, entah kenapa pertanyaan seperti itu sangat di hindari oleh Kiara. sejujurnya ia ingin sekali melupakan Tristan bahkan ia tak ingin di sangkut pautkan lagi dengan Tristan.
Mona dan Kiara saling pandang, mereka sama - sama memiliki pemikiran yang sama tentang orang yang berada di hadapannya.
"Saya bukan siapa - siapa beliau" jawab Kiara mencoba tenang.
"Saya tahu semua tentang anda, anda cukup jawab ada hubungan apa anda dengan Tristan ?!" seseorang tersebut terlihat sangat tegas bisa terlihat dari raut wajah dan juga cara bicaranya.
__ADS_1