Maaf

Maaf
Bab 17


__ADS_3

"Oh itu kan pak Tristan" ucap keduanya kompak.


"Kalian mengenalnya ?".


Keudua wanita itu menganggukan kepalanya dengan kompak, mengisyaratkan jika keduanya mengenali sosok Tristan.


"Pak Tristan seperti sudah pulang mbak". ujar salah satu dari wanita tersebut.


"Iya saya sudah tahu kok tadi saya melihatnya" ucap Rani seraya tersenyum ramah. "Saya cuma mau tanya apa di antara kalian tahu siapa pacarnya Tristan ?" tanya Rani, ada rasa sakit di hatinya saat bertanya seperti itu.


"Yang saya dengar menurut orang - orang katanya pak Tristan baru saja di putuskan oleh pacarnya" jelas perempuan tersebut.


"Kenapa putus ?" tanya Rani penasaran namun sejujurnya dia sedang berusaha menyapkan mental untuk mendengar siapa wanita idaman Tristan di kota.


"Gak tahu".


"Padahal mereka itu pasangan yang serasi, mereka sudah berpacaran kurang lebih setahun, kita jarang dengar mereka berantem, tapi sekarang beredar gosip hubungan mereka kanda dan juga di perkuat oleh bukti yang kini mereka jarang bersama, biasanya mereka berangkat dan pulang bareng".


Mendengar penjelasan kedua perempuan tersebut hati Rani semakin hancur namun demi mengetahui wanita tersebut Rani berusaha seolah - olah dirinya baik - baik saja.


hal yang sangat menyakitkan ternyata mereka telah berhubungan selama setahun berarti itu di mulai sejak Tristan datang ke kota.


"Boleh tahu siapa nama pacarnya Tristan ?" tanya Rani.


"Namanya Kia".


"Apa kalian memiliki fotonya ?" tanya Rani lagi. kedua perempuan itu kompak menggelengkan kepalanya, Rani mengembuskan nafasnya kasar. dia belum puas dengan informasi yang di dapatnya.


"Kalian tahu alamat rumahnya".


Salah satu dari ke dua wanita tersebut lalu menuliskan alamat rumah Kia, agar tak lupa Rani menulis alamat rumah Kia di ponselny.


"Terim kasih atas infonya" ucap Rani dan berlalu menuju mobilnya di sebrang jalan.


"Bagaimana nak ?" tanya Ibu mertuanya yang sudah tak sabar.


Rani menjelasakan secar detail apa yang di katakan kedua perempuan tersebut pada mertuanya, mendengar menjelasan sang menantu pak Musa langsung mengepalkan tangannya, menandakan bahwa dirinya sedang marah.


"Kita menuju rumah perempuan itu saja" ucap Rani.

__ADS_1


"Apa kamu yakin ?" tanya Ibu mertuanya.


"Aku yakin, ibu dan bapak tenang saja aku baik - baik saja kok" Rani berusaha tegar di hadapan kedua mertuanya.


"Seperti apa sih wanita itu, sampai - sampai Tristan tergila - gila" gerutu Ibu Mertua Rani.


"Kita lihat saja nanti" sahut pak Musa.


Empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Kia, namun rumah itu terlibat sangat sepi.


"Gerbangnya di kunci, sepertinya tidak ada orang" ujar Ibunya Tristan.


"Kita tanya orang saya" usul pak Musa.


"Itu sepertinya ada orang di sana" ujar Rani seraya menunjuk rumah yang berada di samping rumah Kia.


Rani dan ibu mertuanya menuju rumah tersebut sedangkan pak Musa menunggu di depan rumah Kia.


maaf permisi, tumpang tanya, di rumah sebelah ada orangnya tidak ?" tanya ibunya Tristan.


"Kia dan Mama nya sedang pergi keluar kota, entah kapan pulangnya saya tidak tahu" jawab tetangga Kia.


"Terima kasih bu".


"Kita pulang saja" ujar Rani.


"Lebih baik kita temui Tristan saja" saran Ibu Mertuanya.


Akhirnya Rani menuruti keinginan mertuanya, Rani melajukan mobilnya menuju apartemen tempat tinggal Tristan, untung Rani masih ingat alamat tempat tinggal sang suami.


"Ibu, bapak di sini ?" Tristan terkejut ternyata yang datang adalah kedua orang tuanya. "Ayo masuk" ajak Tristan.


"Bentar" ucap Ibunya Tristan.


"Kenapa Bu ?".


"Asalamualaikum Mas" Rani baru tiba, ia datang terakhir karena harus memarkir kendaraannya terlebih dahulu sedangan mertuanya jalan terlebih dahulu, sebelumnya Rani telah memberi tahu kamar Tristan.


"Rani" Tristan terkejut dengan ke datangan Rani. "Kamu di sini juga ?" tanya Tristan.

__ADS_1


"Ibu datang ke sini dengan Rani" jelas sang ibu.


"Untuk apa bu ?" tanya Tristan.


"Untuk apa kamu tanya, Rani itu istri kamu" geram sekali ibunya Tristan. dia langsung menarik lengan Rani mengajaknya masuk ke kamar Tristan.


"Mas salah ku apa, bagaimana dengan nasib Alea, bagaimana jika bertanya tentang Ayahnya ?, Mas kenapa kamu tega menceraikan aku, padahal kita tidak pernah bertengkar" ucap Rani lirih seraya terisak.


Melihat Rani menangis, membuat lidah Tristan terasa keluh, Ada rasa kasihan melihat Rani seperti orang yang ke hilangan arah.


Tak bisa di pungkiri Jika Tristan tahu Rani memiliki rasa cinta dan sayang yang besar untuknya namun rasa itu tak mampu membuat Tristan sedikit pun tersentuh hatinya.


"Ran sudahlah jangan seperti ini, mungkin jodoh kita cuma sampai di sini" ucap Tristan.


"Apa kamu tidak memikirkan Alea, atau kamu tidak menyayangi Alea" Rani tak dapat membendung rasa sedihnya.


"Aku menyayangi Alea, walaupun. kita tak lagi bersama aku akan tetap menyayangi Alea seperti biasanya dan aku juga akan memberi nafkah untuk Alea" jelas Tristan.


"Alea tidak butuh semua itu, Alea hanya mengingkan kedua orang tua yang utuh".


Pak Musa dan Istrinya hanya diam seribu bahasa, mereka memberikan kesempatan pada Tristan dan juga Rani untuk berbicara dari hati ke hati.


"Alea anak pintar, dia pasti paham apa yang terjadi dengan orang tuanya". Tristan masih tetap pada pendiriannya untuk berpisah dari Rani.


"Aku tahu, kamu meninggalkan ku dan Alea hanya demi perempuan yang sudah setahun kamu pacari kan ?". Rani menatap tajam pada Tristan, terlihat jika sedang menahan amarahnya.


Tristan terdiam, dia tak begitu terkejut mendengar penuturan Rani, karena dia yakin jika kedua orang tuanya telah memberi tahu Rani. namun yang jadi pertanyaan Tristan dari mana Rani tahu jika dirinya sudah berhubungan setahun dengan Kiara.


"Nak tinggalakan saja wanita itu, belum tentu wanita itu lebih baik dari Rani, apalagi kamu tidak tahu bibit bebet dan bobotnya" sahut sang Ibu.


"Yang di katakan Ibu kamu ada benarnya Tristan lebih baik kamu kembali pada Rani, bapak yakin jika Rani akan memaafkan mu" pak Musa kini ikut bersuara.


"Mas sebutkan satu kesalahan ku saja, agar aku bisa memperbaikinya" pinta Rani.


Tristan menghela nafasnya secara kasar, kemudian mengacak - ngacak rambutnya, kenapa semuanya tak berjalan sesuai ke inginannya.


"Rani, sejujurnya kamu tak memiliki ke kesalahan sedikit pun, kamu baik bahkan sangat baik menurut ku, aku tahu seberapa besar cinta dan sayang kamu untuk ku, tapi akulah lelaki yang penuh kesalahan bahkan bisa di bilang tak tahu diri, sudah mendapatkan perempuan sebaik kamu tapi malah mencari perempuan lain, jahatkan aku" jelas Tristan seraya tersenyum getir ke arah Rani.


"Aku melakukan semua ini karena aku punya Alasan, yang pertama kita menikah karena sebuh perjodohan, aku menerima nya dengan ikhlas berharap aku bisa membalas rasa cinta dan sayang mu namun ternyata aku tak mampu membalasnya , yang lebih jahatnya lagi aku malah menemukan sebuah kebahagiaan pada perempuan yang membuat ku nyaman saat berada di sampingnya". sambung Tristan

__ADS_1


penjelasan ini akan melukai perasaan Rani namun bagi Tristan sekarang tak ada lagi yang harus di tutupi semua harus tahu kenapa dirinya melakukan semua itu.


"Mas Aku rela di Madu" ucap Rani lirik.


__ADS_2