
"Apa lima Milyar ?" Mata Tristan membulat sempurna saat mendengar nominal yang di inginkan keluarga Rani. "Mereka ingin memeras kita ! Tristan akan datang kerumah orang tua Rani untuk membicarakan ini !".
"Mereka sudah menutup pintu komunikasi, kemaren ibu dan bapak ke sana, tapi mereka tak memberi kita izin masuk bahkan bicara pun mereka lewat anak buahnya, saat ibu ingin menemui Alea mereka juga tidak mengijinkan" lirih sang Ibu.
"Biar Tristan yang berbicara" ujar Tristan seraya berlalu.
Apa yang di lakukan orang tua Rani sudah keterlaluan, sudah melewati batasnya, Tristan tak bisa tinggal diam melihat ke dua orang tuanya di perlakukan seperti itu, selama ini Tristam diam bukan karena takut tapi masih menghargai ke dua orang tua Rani sebagai mertuanya.
"Mau ke mana ?" tanya sang Mama saat melihat Tristan sudah rapih dan siap untuk pergi.
"Aku akan ke rumah mereka dan akan mengambil lagi yang sudah menjadi hak kita" ujar Tristan seraya berlalu.
"Kamu jangan macam - macam Tristan !!" seru pak Musa.
"Tristan tidak akan berbuat hal yang aneh - aneh, tenang saja".Tristan berlalu menggunkan kuda besinya menuju kerumah kedua orang tua Rani.
Tiba di depan gerbang rumah kedu orang tua Rani, Tristan sudah di hadang ke dua security yang berjaga di sana.
"Mulai sekarang bapak tidak di izinkan masuk lagi ke dalam" ujar salah satu security.
"Saya juga tak sudi untuk masuk ke dalam" ketus Tristan, "Panggilkan majikan kalian, bilang aku datang" titah Tristan.
"Mau apa lagi kamu datang ke sini hah, Rani sudah tak peduli dengan kamu, bahkan Rani sudah mengutus pengacaranya agar mengurus perceraian kalian !!" tiba - tiba pak Erik datang, kedua security yang menghadang Tristan pun mundur menjauh.
Deg
Tristan terkejut bukan main dengan penuturan dari pak Erik yang setatusnya masih mertuanya. bukanya Rani tak mau bercerai dengannya ? ahh pasti ini akal - akalan pak Erik saja atau jangan - jangan Rani di ancam oleh Papanya agar mau menceraikan Tristan, itulah pikiran Tristan.
"Kamu kaget jika anak saya mau cerai dengan mu, kamu kira anak saya apa, dia juga punya perasaan. anak saya cantik dengan mudah mendapatkan pengganti kamu bahkan lebih dari kamu" ketus pak Erik.
"Aku datang ke sini bukan soal tentang Rani, tapi aku ke sini ingin mengambil hak orang tua ku yang kau ambil" ujar Tristan tegas, sudah hilang hormat Tristan pada mertuanya.
__ADS_1
"Coba katakan sekali lagi, rayanya aku gak bisa denger dengan jelas deh" ledek pak Erik seraya tertawa.
"Kembalikan hak orang tua ku, mereka tidak ada hubungannya dengan perpisahan ku dengan Rani !" seru Tristan.
"Bayar lima milyar dulu, baru akan aku balikan" ujar pak Erik.
"Aku tak akan membayar mu, katanya orang kaya di kampung ini, tapi kok orang kaya masih sempat - sempatnya mengambil hak milik orang lain, apa anda dan keluarga anda ke kurangan uang sehingga tega mengambil hak orang lain" ledek Tristan.
"Apa kamu bilang" Rahang pak Erik mengeras, bahkan pipinya memerah memahan emosi, ia sangat tak terima dengan apa yang di katakan Tristan.
"Pak sudah tahan emosi Papa, Rani takut sakit jantung Papa akan kumat" Rani datang secara tiba - tiba.
"Rani" lirih Tristan.
"Mas lebih baik kamu pergi saja dari sini, untuk soal ladang biar nanti aku yang bicara dengan Papa" ujar Rani.
"Ran, kenapa . . ".
"Bukan begitu Ran".
"Lalu bagaimana ? Mas yang telah menyerahkan ku pada ke dua orang tua ku, sekarang sudah ku urus perceraian kita, aku tahu kamu sibuk hingga tak ada waktu untuk mengurus hal ini, semoga perceraian kita berjalan cepat hingga kamu bisa secepatnya menikahi perempuan itu" jelas Rani.
"Ran bukannya kamu. . " bukan kah ini yang Tristan tunggu - tunggu tapi kenapa tiba - tiba dada Tristan merasa sesak ketika mengetahui Rani telah mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik, yang menuruti setiap permintaan suami".
Tristan bener - bener tercengang dengan sikap Rani yang berubah seratus delapan puluh derajat, tak ada gurat kesedihan di wajah Rani.
"Secepat itu kamu berubah" batin Tristan.
"Cepat pergi dari sini sebelum Papa ku marah - marah lagi, aku janji akan mengembalikan yang memang hak kalian" ujar Rani.
__ADS_1
"Ran . . " lirih Tristan yang masih tak percaya dengan perubahan Rani yang terlalu cepat.
"Apa lagi Mas ?".
"Apa keputusan mu itu sudah di pikirkan lagi secara matang - matang, jangan ambil ke putusan ketika suasana hati sedang kacau".
Rani tertawa kecil mendengar nasihat yang di berikan Tristan, kenapa Tristan bisa berbicara seperti itu. Rani merasa semakin aneh pada Tristan yang seperti enggan cerai dengannya.
"Sudahlah Mas, malu di lihat tetangga" ujar Rani berharap Tristan segera pergi.
"Aku ingin kita bicara dari hati ke hati" ujar Tristan seperti memohon.
"Nanti jika aku sedang tak sibuk" jawab Rani, ia memilih pergi meninggalkan Tristan
"Ran tunggu, sepertinya kita perlu bicara sekarang" teriak Tristan, namun di abaikan Rani.
Akhirnya Tristan kembali dengan perasaan yang tak menentu, pikirannya menjadi kalut saat mengetahui Rani sudah mendaftarkan gugatan cerai. bukan kah ini bagus jadi Tristan tak perlu cape - cape lagi mengurusnya.
Sementara Rani langsung menuju kamarnya, di sana ia menumpahkan seluruh air matanya, ini adalah keputusan yang berat untuk Rani karena bagaimana pun Rani sangat mencintai Tristan, namun apalah daya, kedua orang tuanya terus mendesaknya sehingga ia tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang Mama dan Papa.
"Sudahlah nak, laki - laki macam itu tak pantas kamu tangisi seperti ini" sang Mama datang lalu duduk di samping Rani yang sedang meringkuk di atas tempat tidurnya.
"Mam, Rani sudah menuruti ke inginan kalian, sekarang turuti ke inginan Rani" Rani bangun dan duduk menyender di tempat tidur.
"Apa keinginan mu ?" tiba - tiba sang Papa datang.
"Kembalikan ladang orang tua Mas Yoga, Rani mohon" ujar Rani memohon. "Jujur jika Rani sudah resmi bercerai, keluarga kita dan keluarga mas Yoga tak boleh ada hubungan apa pun lagi, anggap saja kita tak pernah mengenal mereka, aku pun tak akan membiarkan mereka mengambil Alea" ujar Rani berapi - api.
"Nanti Mama dan Papa pikirkan lagi nak" ujar sang Papa.
"Mama dan Papa boleh keluar, Rani ingin beristirahat" ujar Rani seraya kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah orang tuanya keluar dari kamar, Rani kembali menangis, jika tidak ingat Alea rasanya Rani ingin mati saja, hidup saja percuma karena Tristan tak lagi mencintainya.