Maaf

Maaf
Bab 40


__ADS_3

Hari ini Kiara menghadap ruangan pak Rey, perasaannya tak menentu, Kiara takut jika pak Rey benar - benar mengikuti keinginan Adelia.


"Kiara, atas nama Adelia saya minta maaf atas kejadian kemarin" ujar apk Rey.


"Saya juga minta maaf, tapi jujur pak saya memang tak sengaja menumpahkan kopi panas ke tangan Adelia" Kiara berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya memang kamu tak salah, saya udah melihat rekaman cctv tersebut" jelas pak Rey membuat Kiara sedikit lega.


"Lalu kenapa saya di panggil keruangan bapak ?".


"Saya hanya ingin memberi tahu jika pak Handoko akan mengadakan pesta Anniversary pernikahannya, beliau mengundang kita untuk datang ke sana".jelas pak Rey


"Kita berdua ?".


"Tidak, bertiga dengan Wulan".


"Hmm. . kalau saya tidak ikut bagaimana ?".


"Saya harap kita bertiga bisa berangkat ke sana, ini soal bisnis yang sedang kit jalani".


"Baiklah pak".


Kiara kembali ke ruangannya, ia fokus mengerjakan kerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.


"Rasanya malas untuk datang, pasti nanti di sana bertemu dengan Mas Tristan, tapi jika tidak datang rasanya tak enak pada pak Rey dan juga pak Handoko karena bagaimana pun pak Handoko sudah banyak membantu ku dulu" batin Kiara.


Sementara hari ini adalah hari terakhir Tristan cuti, yang artinya nanti sore ia harus kembali ke kota untuk bekerja. namun permasalahan yang di hadapinya belum menemukan titik terangnya.


"Pak, bu, sekarang kalian sudah tidak bisa bekerja lagi, bagaimana kalau kalian ikut saja ke kota, kita buka usaha di sana" ujar Tristan menyampaikan keinginannya untuk memboyong kedua orang tuanya ke kota.


"Lalu dengan ladang itu bagaimana ?".


"Bu, jika memang itu rezeki kita suatu saat akan kembali lagi ke kita".


"Itu harta peninggalan nenek kamu !!" seru pak Musa.


"Iya Tristan tahu, jujur tapi Tristan tak punya uang sebanyak itu untuk menebusnya".


"Ini semua gara - gara kamu yang ingin bercerai dari Rani !". tuding pak Musa.

__ADS_1


"Ahh apa aku dan Rani benar - benar akan berpisah". batin Tristan, ada perasaan tak rela jika harus berpisah dengan Rani.


Tristan terus - terusan menepis semua rasa sakit kala mengingat jika Rani benar - bener telah mengajukan gugatan cerainya, iya menganggap semua ini hanya karena terkejut, harusnya dirinya bahagia bukan malah bimbang seperti ini, bukannya ia pulang kampung untuk menyelesaikan masalahnya dan Rani.


"Tristan mau bertemu Alea dulu, nanti sore Tristan harus kembali lagi ke kota".


Baru saja Tristan memegang gagang pintu, tiba - tiba pintunya di gedor dengan kasar membuat Tristan terkejut dan mundur beberapa langkah.


"Siapa kalian ?" tanya Tristan ketika melihat dua orang pria dengan tubuh kekar sedanf berdiri di depan pintu.


"Saya datang ke sini hanya ingin memberi tahu, pak Erik akan mengembalikan setengah dari dalang kalian, tapi dengan persyaratan" jelas salah satu pria berbadan kekar tersebut.


"Apa setengahnya pakai syarat pula" gerutu Tristan tak Terima.


"Syarat yang pertama pak Musa di larang menjual hasil ladangnya ke pak Erik, yang ke dua keluarga pak Musa di larang menemui dan menggangu Rina, dan yang terakhir kalian semua termasuk Tristan di larang keras untuk bertemu dengan Alea apa lagi tanpa izin Rani dan juga kedua orang tuanya" jelas seseorang tersebut.


"Alea anak ku, tak ada yang berhak melarang aku untuk bertemu dengan anak ku, ingat itu !!" Tristan meradang mendengar syarat yang terakhir.


"Itu sudah menjadi keputusan Rani dan kedua orang tuanya". pungkas seseorang tesebut. "Semua sudah jelaskan, kita pami pergi dulu".


Tristan, pak Musa dan sang Ibu saling pandang memandang, mereka hanyut dalam pikiran mereka masing - masih tentang persyaratan yang di ajukan tadi.


Setengah jam yang Tristan tempuh untuk menuju kediaman orang tua Rani sepertinya lama sekali, Tristan tak habis pikir dengan pola pikir Rani yang ingin memisahkan dirinya dengan buah hatinya Alea.


"Pak, bilang pada Rani aku menunggu di sini, ada hal penting yang harus di bicarakan" titah Tristan pada security yang menjaga rumah orang tua Rani.


"Non Rani sedang keluar" jawab security.


"Keluar sendirian ?".


"Tidak dia pergi berdua dengan pak Alex pengacara keluarga ini".


Mendengar penjelasan dari security Trisran mendadak panas hatinya mengetahui Rani pergi berdua dengan Alex, namun di sisi lain Tristan juga merasakan hatinya berdenyut perih karena Rani pergi dengan seorang pengacara karena pasti Rani sedang mengurus perceraiannya.


"Rani kenapa kamu berubah secepat ini, aku tahu kamu pasti di tekan oleh kedua orang tua mu kan, kenapa kamu diam saja, kenapa kamu tidak berjuang" batin Tristan.


"Alea ada ?" tanya Tristan.


"Sedang pergi dengan pak Erik dan istrinya".

__ADS_1


Tristan merogoh ponsel yang ada di saku celana, mencoba menghubungi Rani, namun tak bisa karena nomor Tristan sudah di blokir oleh Rani.


"Pak boleh tolong hubungi Rani, saya ingin bicara sebentar penting" pinta Tristan. security tersebut terdiam, ia bingung harus menuruti ke inginan Tristan atau menolaknya. "Saya mohon pak" lanjut Tristan.


"Baiklah".


Security tersebut langsung menghubungi Rani, tak banyak yang di bicarakannya hanya menyampaikan ke inginan Tristan bertemu dengan Rani.


"Kata Non Rani, bapak bisa datang ke cafe mawar jika ingin bertemu".


Tristan langsung tancap gas menuju cafe mawar, memacu kendaraanya dengan cepat berharap segera tiba di cafe tersebut.


Pikirannya bercabang, kenapa Rani berada di cafe berdua dengan Alex, atau mereka punya hubungan sekarang, tak mungkin Rani secepat itu move on darinya.Tristan terus mencoba berpikir positif agar dirinya tak salah dalam mengambil tindakan.


"Itu Rani tapi kenapa sendirian, ke mana Alex bukannya tadi dia pergi bersama Alex, Ahh itu tidak penting, yang terpenting aku dan Rani bisa bicara berdua" batin Tristan.


"Silahkan duduk Mas" ujar Rani saat menyambut kedatangan Tristan.


"Kamu sendiri ?" tanya Tristan penasaran.


"Ya seperti yang kamu lihat sendiri".


"Bukannya tadi kamu. . ".


"Dia sudah pergi karena masih banyak kerjaan yang dia harus kerjakan" Rani memotong pembicaraan Tristan. "Kamu mau bicara apa, bukannya orang tua ku sudah mengembalikan hak keluarga mu" sambung Rani.


"Hmmm, tapi kenapa harus ada syarat aku dan keluarga ku di larang bertemu Alea ?".


"Itu hak ku, karena Alea anak ku".


"Aku juga Ayahnya".


"Aku yang lebih berhak atas Alea !!" seru Rani.


Tristan terdiam, ini kali pertamanya Rani berbicara tegas dengan suara meninggi, Tristan benar - benar terkejut dengan perubahan Rani.


"Aku sudah menuruti keinginan mu Mas, jadi aku harap kamu menuruti keinginan ku". lanjut Rani.


"Kenapa kamu mengajukan cerai secepat ini, Kenapa kamu tidak membicarakan semuanya terlebih dahulu, kenapa kamu mengambil ke putusan sebesar ini sendirian".

__ADS_1


__ADS_2