
"Gugun cinta, kamu di mana? Keluar yuk, aku bosan nih di rumah," ajak Gesna dengan suara dilembut-lembutkan supaya terdengar manja.
Guntur langsung menjeda PS-nya begitu mendengar Gesna berceloteh tanpa mengucapkan 'Halo' lebih dahulu, begitu dia mengangkat telepon.
"Sumpah mati! Gue jijik dengarnya!"
Gelegar tawa renyah Gesna meledak. Gaya bicara Gesna yang dipoles-poles itu terendus sebagai rayuan ulung yang pasti ada rencana busuk terselip. Dia hafal sekali bagaimana Gesna sejak SMP. Hafal mati.
Gesna mana mungkin bersikap manis dan hanya akan menjelma bersikap manja kepadanya jika ada mau. Jadi, kalau gaya bicara Gesna sudah berubah aneh, tentu Guntur butuh konsentrasi, jika tidak, Guntur bisa terjebak.
"Udahlah, Ge. Bilang aja, lo pengin ke mana?" tebak Guntur tepat sasaran dan memusatkan perhatian.
Gesna terkekeh nyaring di seberang telepon, sangat nggak cocok sama gaya bicaranya barusan. Guntur bisa membayangkan senyum kemenangan terbit di wajah sahabat yang super menyebalkan itu.
"Kayak biasa. Pahamlah," jawab Gesna santai seolah Guntur sudah mengerti akan keinginan dia.
"Malas!" potong Guntur sembari menyandarkan punggung panjangnya di sofa.
Tawa Gesna kembali lepas. Tawa tiga senti yang membuat pendengarnya juga pengin tertawa. Tawa membahana yang sangat khas milik seorang Gesna. "Ayolah, Cinta. Temenin para bidadari ini. Kalau nanti selendang gue dicuri, gimana? Bisa-bisa gue nggak bisa balik lagi ke kahyangan," rayu Gesna dengan suara halus kembali.
"Lo pikir lo NawangWulan?! Jaka Tarub aja mikir ratusan juta abad kalau mau nyuri selendang lo, apalagi manusia biasa," hujat Guntur sambil memutar bola mata.
Namun, Gesna tidak sakit hati akan balasan Guntur. Cewek itu masih saja tertawa lepas, seperti tahu meski dihujat, setiap permintaannya tidak akan ditolak Guntur. Seakan dukun sakti, Gesna tahu kalau dia akan tetap mengalah sama cewek itu. Kenyataannya, memang sih. Mereka itu selalu kompak tolong menolong dan dia tidak akan keberatan jika diminta tebengan, diminta mentraktir, atau dipaksa ini itu oleh Gesna.
"Jadi intinya ajalah. Lo ... nggak mau temenin, nih?" pancing Gesna dengan suara yang terdengar misterius.
Nah, sehafal mati itu Guntur. Kalau sudah seperti ini, mana mungkin dia bisa berkelit? Tanpa Gesna bilang, dia tahu kalau cewek itu sedang mengancam. Gesna bisa begitu mudah mengeksekusi kemauan karena tahu kelemahan Guntur. Bocah itu akan muncul tiba-tiba ke rumahnya yang hanya beda blok dan mengadu kepada Mamah, ibu Guntur. Kalau Mamah sudah bertitah, Guntur bisa apa?
"Dmn you*!" balas Guntur menyerah kalah.
"Oke, 'kan? Gugun memang terbaik!" ujar Gesna menirukan BoboiBoy, tokoh kartun kesukaan Guntur yang masih sering mereka tonton bersama. "Mandi sana lo, gue tahu lo pasti busuk, belum mandi. Care 'kan gue? Udah, udah nggak usah sungkan. Love me too," tambah Gesna terkekeh-kekeh panjang dan langsung mematikan telepon tanpa basa-basi.
Guntur berdecak dan menaruh stik PS. Sialan memang anak sebiji itu. Mentang-mentang semua rahasia Guntur dipegang sama Gesna, mentang-mentang mereka dekat dan keluarganya sangat menyayangi cewek itu, Gesna bisa sesuka hati mengatur dia.
Mau tak mau, dia beranjak untuk mandi. Belum beberapa menit Guntur bangkit, ponselnya berbunyi lagi. Sebuah pesan masuk dari 'Amazing Gesna'.
Amazing Gesna: Baby, berangkat sendiri ya. Gue dijemput Naraya soalnya. Kalau sampai kabarin di meja mana.
__ADS_1
Seandainya tadi bukan Gesna yang mengajak, pasti akan Guntur tolak. Seandainya Gesna bukan sahabatnya, pasti Guntur akan punya beribu alasan untuk tidak berangkat. Seandainya Guntur lupa kalau Gesna selalu ada untuk dia, tentu Guntur tidak akan mengambil risiko besar yaitu membohongi orang tua.
***
Bunyi musik yang mengentak-entak dengan lampu berkedip-kedip menyambut Guntur. Dia mengambil meja di pojok dan memberi tahu Gesna melalui pesan. Beberapa minggu belakangan, hampir sama seperti ini, Guntur selalu bersedia menjadi pengawal Gesna. Bahkan sebelum cewek itu datang, dia dengan baik hati akan memilih meja dan melihat kondisi sekeliling.
Guntur melengos sambil melirik jam tangan. Sebenarnya, dia kehabisan cara untuk menasehati Gesna akan hobi aneh yang satu ini, tapi dia juga tidak mungkin membocorkan rahasia Gesna ke siapa pun termasuk keluarganya.
Orang tua mana yang akan kasih izin anaknya dugem? Nggak ada. Jadi setiap ajakan ajojing Gesna yang sulit ditolak itu, Guntur bakal mengarang cerita kalau dia ada acara sekolah atau main ke rumah Gesna. Mamah dan Papah yang tahu kedekatan Guntur dan keluarga Gesna akan percaya saja. Toh, Gustav, abangnya Gesna, sudah mereka kenal sedari kecil. Mereka mengira Guntur akan bermain bersama Gustav dan Gesna di rumah Gesna. Padahal ... dugem, temani cewek jadi-jadian itu mencari keramaian di dunia fana.
"Hidup ini perlu dirayain, Gugun sayang."
Cuma itu jawaban Gesna kalau ditanya kenapa jadi suka dugem. Entah Gesnanya masih sadar atau sudah tipsy. Segala nasehat Guntur hanya dibalas senyuman atau tertawaan saja. Lama-lama Guntur capek, masih mending kalau nasehatnya itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan, berarti sempat masuk. Nah, ini, membal. Masuk ke kuping kiri Gesna, memantul, lalu balik kembali.
"Halo, sayang. Udah lama nunggu akyu?" sapa Gesna dengan keramahan dibuat-buat.
Cewek yang dia tunggu datang bersama sahabatnya yang sama-sama berambut pendek. Semenjak di SMA, Guntur tahu kalau Gesna mulai dekat dengan Naraya dan Asri. Mereka bertiga satu geng.
Guntur mengabaikan sapaan itu. "Ngapain sih ke sini hari biasa? Gila ya, lo. Besok masih Rabu dan kita kudu sekolah."
Naraya mulai duduk di kursi tinggi, di hadapan Guntur. Cewek itu menatap lurus ke arah dengan muka datar. "Gue yang ajak. Lo jangan marahin Gege."
"Nape lo, Nay? Suntuk?" Guntur mengamati Naraya. Meski bersama di kepengurusan OSIS, dia belum bisa mengerti pembawaan Naraya yang cenderung dingin dan kadang jutek tanpa sebab. Tanpa menjawab, Naraya hanya mengangkat bahu cuek.
Atas saran Gesna, dipanggillah beberapa teman-teman basket mereka untuk merapat ke tempat itu. Saat malam menuju pusatnya, tebakan Gesna semakin mendekati kebenaran. Sebab Naraya makin lama makin dalam kondisi senggol mutilasi. Sekali disenggol, langsung kayak mau mutilasi orang. Untuk itulah Guntur langsung mengajak Gesna ke dance floor setelah teman-teman yang lain datang.
"Kenapa teman lo?" tanyanya.
"Tauk," sahut Gesna pendek. Mungkin karena tahu bagaimana karakter Naraya, cewek itu tak mau ambil pusing lantas bergoyang mengikuti ketukan. Tidak lama ia mendengar Gesna terkekeh melihatnya senam Sajojo. Dengan tidak mau kalah, Gesna bergerak dengan gaya lain, membuat gerakan senam Maumare di sana. Geraknya membuat banyak atensi orang teralih dari ke cewek itu.
Merasa tersaingi, Guntur tidak terima. Dia bergoyang penguin, menaruh dua tangan di samping badan dan berputar-putar kaku. Perhatian orang kembali teralih ke Guntur.
Gesna mendengkus, kemudian berjoget Gery Dance. Lagi-lagi, perhatian orang kembali ke Gesna.
"Memang lo nggak pernah mau kalah dari gue," ejek Guntur menggetok kepala Gesna.
Gelak Gesna mengudara bersama kerasnya musik. Keringat tampak di dahi yang ditutupi poni di atas alis. Guntur selalu tidak mengerti kenapa Gesna tampak lebih bahagia bila berada di kelab malam.
Dia mengusap keringat Gesna lantas merangkul bahu cewek itu. Guntur ingin mencoba lagi sesuatu yang tidak pernah berhasil. "Ge, kayaknya gue suka deh sama Nay. Gimana menurut lo?" bisik Guntur di telinga Gesna.
__ADS_1
Cewek itu mengernyit, menatap mukanya sebentar saja. Lalu, badan yang sempat berhenti itu lantas bergerak lagi. "Gimana apanya, nih? Ya ... pedekate lah," jawab Gesna.
Begitu saja, tidak ada tanggapan lebih dari Gesna. Setelah itu, tawa-tawa milik Gesna seperti biasa terlepas lagi. Sampai waktu menunjukkan dini hari dan cewek itu sudah menelungkupkan kepala di meja dalam keadaan setengah sadar.
"Balik yuk," ajak Guntur menaruh lengan Gesna di bahunya dan mulai memapah cewek itu berjalan. Pukul setengah tiga pagi, musik sudah mengalun lembut dan para pengunjung beranjak pulang.
"Lo kenapa deh, Ge? Yang suntuk Nay, kenapa lo yang mabok?" cecar Guntur. Dia selalu tidak suka kalau Gesna mabuk. Di belakang mereka, teman-teman yang lain saja masih bisa berdiri tegak. Begitu pun Naraya.
"Berisik!" Gesna tertatih mengangkat badan.
"Berat bangke lo, Kebo!"
"Nggak ikhlas lo, Badak? Ya udah, gue jalan sendiri," ujar Gesna melangkah terhuyung, melepaskan diri dari bantuan Guntur.
Guntur mengeram dan bergegas menangkap lengan Gesna kembali. Bukan perihal dia tidak ikhlas, tapi khawatir. Gesna tidak akan mengerti apa yang Guntur rasa. Kalau dibilang juga tidak akan sampai ke otak cewek itu malah akan menjadi ejekan.
Tidakkah Gesna mengerti kalau ia tidak ingin ada apa-apa dengannya? Tidakkah Gesna sadari bahwa ia selalu menginginkan cewek itu baik-baik saja? Juaranya manusia tidak peka memang layak dianugerahkan ke Gesna Vinanda.
Dari sekian banyak rahasia Guntur yang diketahui Gesna, ada satu rahasia yang sampai kapan pun tidak akan Gesna sadari.
Tentang perasaannya.
Bertahun-tahun bersama, Guntur pikir perasaan Gesna bisa berubah. Sayang, orang yang selalu di sisi Guntur ini seperti sudah mati rasa. Nyatanya, ketika tadi dia iseng membisikkan sesuatu tentang Naraya, reaksi Gesna biasa saja.
Dahulu, Guntur pernah berpikir Gesna menyukainya. Ketika Gesna dengan tegas bilang tidak setuju saat Guntur akan menembak seseorang teman dekat mereka di SMP. Guntur pikir Gesna memiliki perasaan yang sama.
Ternyata, Gesna adalah orang yang benar-benar tulus menghargai arti persahabatan. Ketidaksukaan Gesna akan pengakuan dia akhirnya disadari Guntur bahwa cewek itu tidak mau ada yang berubah dari persahabatan yang ada, bukan karena menyayanginya sebagai cewek menyayangi cowok.
Namun, Guntur tidak bisa. Sebenarnya Guntur menyayangi Gesna sebagai cewek, sudah sejak lama.
***
Hai, salam kenal di dunia Gesna. Cerita ini adalah cerita remaja. Namun, jika kamu melihat dan membaca sesuatu yang tidak pantas dilakukan remaja baik-baik, ya memang, aku akan membahas hal tersebut.
So, don't jugde too early. 🥳
Dan seperti biasa aku punya playlist di Spotify untuk cerita ini.
Linknya: bit.ly/matahariapiplaylist
__ADS_1
(ketik saja di google)