
Adit memperhatikan sekeliling. Ada yang aneh dengan acara yang didatanginya bersama Seno, sang papa. Pria itu memaksa dia memakai setelan jas berwarna biru navy yang dipesan khusus untuk mereka berdua. Acara ini mungkin cukup penting bagi papanya. Namun, tidak ada teman-teman kerja Seno yang Adit kenal ataupun bawahan papanya yang pernah dilihat Adit.
Papa Adit adalah pilot senior yang bekerja di maskapai penerbangan Internasional. Hal itu juga yang membuat Seno jarang pulang. Seno sudah membawa Adit ke Indonesia hampir dua tahun yang lalu, tetapi tidak kunjung menepati janji untuk mempertemukannya kepada keluarga mama.
Mata Adit menyapu orang-orang yang datang. Semua tamu wajib melewati pintu deteksi logam dan barang-barang yang dibawa juga harus diperiksa memakai x-ray security scanner persis seperti protokoler di bandara. Tetapi Adit melihat ada orang-orang berjas lengkap dengan kacamata hitam dan earphone tergantung, berjaga di beberapa titik.
Dia tidak mengenali sang tuan rumah yang namanya terpampang di depan. Dari pangkat yang tertulis, orang itu adalah mantan jenderal berbintang empat.
Merasa haus, Adit berjalan menuju meja yang menyajikan banyak minuman. Dia mengambil satu gelas bertangkai lalu berjalan ke pojok. Mengamati tamu-tamu yang semakin ramai memenuhi ruangan yang dipersiapkan pada hotel bintang lima ini.
"Adit? Ngapain lo di sini?"
Adit menoleh. Dari sebuah pintu kecil yang menjadi akses rahasia, tampak seorang cewek bergaun biru. Matanya menatap Adit dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik. Ciri khas tatapan seorang Naraya.
"Gue?" Adit mengedikkan bahu sambil menggeleng. "Nggak tahu juga. Gue diajak bokap."
Meski mengernyit, Naraya akhirnya mengangguk. Cewek itu ikut meraih sebuah gelas dan meneguk isinya sedikit. "Mata lo biasa aja ngelihatin gue," tegur Naraya tanpa menoleh. Cewek itu menegur dengan tetap menatap ke arah depan, menuju keramaian orang-orang.
Adit tersenyum. Cukup terasah juga insting si Naraya ini. "Jangan ge-er, gue cuma kaget aja lihat lo pakai gaun."
Naraya berdengkus sambil menaikkan senyuman di sebelah bibir. "Kalau bukan karena acara ini, gue juga nggak bakal pakai gaun."
"Ini acara apa, sih?"
Sembari memainkan gelas bertangkai yang sudah kosong dengan sebelah tangan terlipat, Naraya melirik ke arahnya. "Lo nggak tahu ini acara apa?"
Adit menggeleng.
"Ngapain datang kalau nggak tahu? Pakai jas segala lagi."
Giliran Adit yang berdengkus sekarang. "Kalau bukan dipaksa bokap, gue juga nggak bakal datang. Bagusan juga gue ngapelin Gesna."
Mendengar nama temannya disebutkan, Naraya mulai menyeringai. "Lo ada maksud apa ngedekatin Gesna?"
"Maksud? Kenapa lo tanya maksud?"
Naraya mengawangkan alis sebentar. "Kayak yang pernah gue bilang, orang kayak lo nggak mungkin tiba-tiba nongol, maksa masuk ke kehidupan orang, kalau nggak ada maksud dan tujuan."
Kalimat itu pelan, diucapkan dengan santai tetapi langsung mengena ke sasaran. Adit sampai refleks menoleh dan tidak bisa mengontrol keterkejutannya beberapa saat.
"Komposisi otak lo mayoritas negatif kayaknya," balas Adit meringis.
Disindir seperti itu, Naraya hanya bergumam cuek. Cewek itu menaruh gelas kosong di meja terdekat dan berlalu melewatinya. Sempat berhenti sebentar untuk menarik senyum datar juga berkata, "Orang kayak kami nggak suka ganggu orang lain, tapi jangan coba-coba untuk mengganggu."
Adit memandang kepergian Naraya dengan banyak tanda tanya. Sama seperti Gesna, cewek itu juga tidak takut kepadanya. Dia berdecap geli. Sekalinya orang-orang takut, untuk bertemu dia saja tidak berani. Namun, ketika menemukan orang-orang yang kebal, mereka bahkan berani memperingatkan Adit. Seperti yang dilakukan Naraya dan Gesna.
Perhatian Adit mulai mengarah kepada kehadiran orang-orang penting, dan pejabat-pejabat negara yang sosoknya sering ada di televisi. Mereka mendekat kepada seseorang berperawakan tua dan tegap yang sedang berdiri, dan menyalaminya. Mungkin orang tua itu tuan rumah, pikir Adit. Dia lalu berusaha mengingat nama belakang sang jenderal yang dibaca tadi, seperti pernah dibaca sebelumnya.
"Selamat siang tamu hadirin yang terhormat. Selamat datang pada acara ulang tahun pernikahan emas Jendral Purnawirawan Pravda Manggala Hardiyanto," sapa pembawa acara yang mengenakan kebaya hijau dengan kain batik berwarna kecokelatan. Pembawa acara itu diketahui Adit sering mengisi acara kuis di televisi.
Adit masih menonton acara itu dengan saksama. MC mulai membacakan riwayat hidup sang jenderal. Bagaimana bertemu dengan istri, kapan mereka menikah dan membumbuinya sedikit dengan beberapa kisah roman.
"Hadirin dan tamu undangan. Inilah Bapak Jendral Pravda Manggala Hardiyanto beserta Ibu Athena Gandawisastra. Mereka memiliki 3 orang anak dan 6 orang cucu."
Jenderal itu berdiri sambil menggandeng tangan istrinya. Kedua tersenyum hangat kepada para tamu yang sudah bertepuk tangan.
"Di acara ini juga hadir seluruh anak dan cucu beliau." MC mulai memanggil satu per satu anak sang jenderal. "Anak pertama, kami persilakan dengan hormat. Bapak Mayjend Davendra Natta Hardiyanto beserta Ibu Astri Wisnu Wardhana."
__ADS_1
Adit kemudian paham mengapa acara ini mendapat pengawalan ketat. Banyak perwira dan petinggi militer yang ada di dalam gedung ini. MC juga memperkenalkan empat orang anak sang mayor jenderal. Kesemuanya adalah laki-laki. Dua di antaranya juga perwira aktif di tubuh TNI. Yang terkecil mungkin masih sekolah dan seumuran Gesna.
Tepuk tangan kembali hadir memenuhi ruangan. Adit bisa melihat Naraya berdiri di belakang panggung, tetapi tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
"Adit, dari mana aja? Papa sampai cari keliling ruangan," tutur Seno gusar dan membawanya ke dekat panggung.
"Ini acara apa, Pa?" Adit menatap mata Seno. "Papa tahu kan Adit nggak suka ikut-ikut acara kayak gini?"
Seno menghela napas sesaat. Memperhatikan MC yang mulai mengenalkan anak kedua sang jenderal. "Baik, berikutnya adalah anak kedua dari Bapak Jendral Pravda, yaitu Bapak Satria Adhitama Hardiyanto beserta istri Ibu Hagia Sofia. Memiliki seorang anak bernama Naraya Alisha Hardiyanto."
Adit ikut menoleh ke arah panggung. Pantas Naraya ada di sini. Acara ini adalah acara kakeknya.
Dia kemudian mengerjap paham. Pantas juga nyali cewek itu besar. Cewek itu pasti sadar sekali siapa-siapa saja yang ada di belakangnya.
Naraya tidak maju ke panggung, melainkan mendekati MC dan berbisik. MC itu terlihat terkejut lantas sedikit membungkuk kemudian meralat ucapan. "Baik, mohon maaf. Bapak Satria memiliki dua orang anak. Yang pertama Almarhumah Neira Ardini Hardiyanto dan yang kedua Naraya Alisha Hardiyanto."
"Kamu ingat janji Papa, kan?" bisik Seno menatapnya.
Adit memperhatikan bagaimana Seno menarik napas begitu dalam.
"Sekarang saatnya." Seno menepuk pelan bahu Adit.
Adit masih berusaha memahami maksud perkataan Seno ketika nama sang mama disebutkan.
"Anak ketiga dari Bapak Jendral Pravda adalah Almarhumah Ibu Adhisty Dahayu Hardiyanto. Beliau sudah berpulang sekitar 10 tahun yang lalu."
Mata Adit mulai melebar, memandang Seno tidak percaya. Dia tidak tahu kalau nama belakang mamanya adalah Hardiyanto. Nama Mrs. Hadinata lebih sering dipakai sang mama. Para tetangga juga memanggil dengan nama itu.
"Namun pada kesempatan kali ini, suami dan anaknya juga hadir di tengah kita." MC tersenyum sejenak. "Sebagai kado ulang tahun dan sebagai bagian dari keluarga Hardiyanto. Kami minta ke atas panggung, Bapak Sena Arya Hadinata. Beserta anak satu-satunya ... Aditya Kesuma Hadinata."
Muka sang jenderal tampak terkejut. Saat Seno naik dan menyalami saja, papanya malah dipeluk erat.
Seno melambai ke Adit, memintanya untuk naik ke panggung.
Selama ini, berkali-kali tampil, Adit tidak pernah merasa demam panggung. Namun, langkahnya sangat berat sekarang. Seperti diganduli ribuan batu. Jadi ... ini keluarga mama? Keluarga yang dijanjikan Seno untuk dikenalkan sebagai iming-iming kembali ke Indonesia?
"Buruan naik. Kayak pengantin deh lo," desis Naraya yang berada di pinggir panggung. Mata cewek itu masih tajam, tetapi Adit dapat mengenali segaris senyum simpul di bibirnya.
Adit naik dan menyalami sang jenderal. Tangannya sangat dingin. Dipandanginya jenderal yang gagah itu. Pria ini kakeknya?
Sang jenderal memeluk Adit. "Eyang. Panggil saya Eyang, dan ini Eyang Putri."
Wanita di samping jenderal juga merengkuh Adit dengan penuh rindu. Matanya sampai berkaca-kaca. "Cucu Yangti akhirnya datang. Yangti pikir kamu sudah sangat betah di Auckland. Nggak mau balik lagi ke Indonesia."
Adit tersenyum kaku tanpa suara. Begitu pun saat diperkenalkan kepada sepupu-sepupunya. Saat akan bersalaman dengan Naraya, cewek itu menolak.
"Naya udah kenal, Om," ujar Naraya ke Seno. "Dia Kepala Suku di sekolah."
Seno menoleh ke Adit dengan tatapan menilai. "Kalian satu sekolah?"
Adit mengangguk. "Dia ketua geng di sekolah," sahutnya menunjuk Naraya.
"Wah, fitnah lo," desis Naraya melotot.
Sikap itu hanya sebentar saja karena Naraya langsung berubah dalam sekejap saat dihampiri sepupu yang lain.
"Naya udah kenal dengan Adit?" tanya Bima, cucu tertua Pravda yang juga mengikuti jejak sang Eyang berkiprah di militer.
Naraya mengangguk. "Satu sekolah sama Adit."
__ADS_1
"Naya... Kok ngomongnya gitu?" Seorang wanita juga mendekat. Wanita yang tadi dikenalkan sebagai mama Naraya. "Adit ini lebih tua dari kamu. Apa kabar, Adit? Sibuk kayaknya nggak pernah main ke rumah."
Adit dapat melihat Naraya berusaha menyembunyikan rotasi mata.
"Mam aja nggak di Jakarta," gumam Naraya. "Lagi pula mana Naya tahu kalau Adit ini anaknya Tante Adis."
"Kamu panggilnya Mas Adit," tegur Sofia. Adit tersenyum menang sebab Naraya terlihat sangat tersiksa dan berusaha menahan protes.
Sofia lalu mengobrol dengan Seno juga Bima, sedangkan Naraya mulai menyingkir keluar dari lingkaran pelan-pelan.
"Ingat, panggil gue pakai Mas. Mas Adit," tegur Adit menjajari langkah Naraya. Cewek itu kembali mengambil posisi di pinggir ruangan.
Naraya hanya melengos dan menoleh dengan tatapan mengejek. "Jadi ... lo Adit yang dulu dorong gue ke kumpulan burung, 'kan?"
"Lo Naya yang melihat burung kiwi aja takut?" balas Adit. Otaknya mulai mengingat sepupu yang hampir sebaya dengan dia. Dulu pernah datang saat liburan.
"Bukan takut, tapi dia aneh. Nggak bisa terbang." Cewek itu berdengkus ketika Adit tertawa. "Lo kan udah lama pindah sekolah, kenapa baru nongol sekarang ke keluarga?"
Adit menarik napas sebentar, melihat ke keramaian. Para bapak sudah bernyanyi-nyanyi diiringi musik. "Bokap jarang pulang. Gue juga nggak tahu keluarga nyokap."
Dia menoleh ke Naraya. "Pantes lo nyolotan orangnya. Sekeliling lo tank baja semua."
Naraya terkekeh lepas. Tawa yang tidak pernah Adit lihat langsung kecuali sedang bersama Gesna. "Asal aja lo nuduh. Apa sih falsafah hidup lo?" balas Naraya tidak mau kalah. "Ada mereka atau nggak ada mereka, darah gue sih memang darah spartan."
"Ya, kalau nggak ada Eyang. Mana ada aliran spartan di darah lo."
Naraya berdecap. "Udah bisa manggil Eyang, nih?"
Bibir cewek itu kembali tertawa. "Kalau Mas Bima, Mas Banu dan Mas Juna tahu lo patahin gigi orang. Jangan harap lo bisa panggil Eyang dengan gampang."
"Oh, ya? Kenapa?"
"Nanti juga lo tahu." Naraya mengedikkan bahu santai. "Kalau di depan Eyang, kita jangan ngomong pakai lo-gue."
"Eyang galak, ya?" tanyanya. "Kalau Eyang galak. Kenapa lo tetap nyolot di sekolah?"
"Beda. Cucu tercantik kayak gue punya dispensasi." Naraya tersimpul penuh makna. "Gimana? Enak tinggal di NZ? Kenapa lo baru balik waktu SMA, sih?"
"Ngapain gue di Indonesia yang nggak ada siapa-siapa? Gue pindah ke Jakarta karena Aunty Sabrina pindah ke US. Nikah sama orang sana. Awalnya, gue mau ikut ke US, tapi bokap malah ajak ke sini. Katanya mau kenalin gue ke keluarga Mama." Adit mengantongi kedua tangan di saku celana. "Dan ... ternyata lo keluarga gue."
Naraya melipat kedua tangan, tampak memperhatikan para pengisi acara. "Bokap lo kemarin-kemarin ke rumah datangin Bonyok. Tapi, nggak ada lo. Ya, mana gue tahu kalau Adit yang dimaksud Om Seno itu ya lo. Nama Adit banyak, sih."
"Bukannya Bonyok lo di Abu Dhabi?"
"Iya, tapi untuk acara ini mereka pasti pulanglah." Naraya kemudian terlihat berpikir sambil melirik ke arahnya. "Eh, lo kan keren main gitarnya. Sono main. Tunjukin ke Eyang."
Cewek itu kemudian mendorong punggung Adit ke arah panggung musik dan meminta MC untuk memanggil Adit.
"Ternyata sekalinya lo udah nggak jaim. Lo sama barbarnya kayak Gesna, ya?"
"Sori ya, gue nggak jaim," potong Naraya.
Adit tertawa sambil mengedikkan dagu ke Naraya. "Ini apa? Beda banget sama waktu lo pertama kali ngomong sama gue."
"Itu namanya waspada, Mas!" Cewek itu kembali mendorong Adit agar menaiki panggung saat MC memanggil namanya. "Kalau Gesna tahu lo sepupu gue, dia pasti kaget," tambah Naraya antusias.
Langkah Adit terhenti. "Naya, jangan kasih tahu Gesna kalau kita sepupuan."
"Kenapa?" Kedua Alis Naraya terangkat sempurna.
__ADS_1
Adit menggeleng. "Lebih baik nggak ada yang tahu kalau kita sepupuan."