
Tidak perlu penjelasan ekstra, Adit dapat menangkap senyum malu-malu yang Gesna suguhkan. Entahlah. Perubahan Gesna tadi semakin membuat Adit percaya kalau perasaan orang memang tidak bisa ditebak. Harapan yang dia pikir hanya angan-angan, makin terarah ke kenyataan.
Malam ini, Gesna mengucapkan 'terima kasih' dan 'hati-hati'. Bagi sebagian orang itu tidak istimewa, tapi untuk Adit yang terbiasa menghadapi sikap ngegasnya Gesna, diucapkan 'terima kasih' itu seperti memenangkan jackpot di mesin permainan Timezone.
Langka.
Dia sampai membuka kaca dan berteriak gembira di tengah mobil-mobil yang masih padat pada pukul sebelas malam. Biar saja orang bilang dia gila. Gesna memang berhasil membuatnya gila. Ini saja, muka Adit tidak berhenti tersenyum. Ya ampun, kampungan sekali dia.
Jadi seperti ini rasanya gayung bersambut?
Dari awal mendekati Gesna, dia tahu kalau cewek itu akan menolak dia. Dari pesan yang tidak pernah dibalas dan cara bicara yang tidak ada manis-manisnya, sudah menunjukkan kalau cewek itu tidak welcome dengan Adit. Memang kemudian Adit berharap Gesna bisa melihat kesungguhannya, dan ketika batu yang ditetesi air itu mulai retak, Adit merasa kerja kerasnya mulai memperlihatkan hasil. Adit yakin, Gesna mulai terbiasa dan mulai membuka diri akan kehadiran dia. Meski belum hasil sempurna, meski belum sesuai dengan keinginan, setidaknya ada pergerakan. Pergerakan menandakan reaksi.
Dalam hidup, Adit tahu kalau segala sesuatu tidak bisa didapat dengan mudah. Jika mau nilai bagus, ya belajar. Mau sehat, berarti harus berolahraga. Mau lancar bermain gitar, tentu saja dia mesti berlatih. Begitu juga untuk mendapatkan hati Gesna, Adit percaya dia bisa jika berusaha keras.
Dia berseru lagi sambil mengepalkan tangan. Seolah telah mendapat piala kedua pada hari yang sama. Gila, dia beruntung sekali. Apalagi perjumpaannya ditutup dengan sebuah senyum manis nan tulus dari Gesna. Lengkap sudah indah hari ini.
Macet di hadapan bukan konflik berarti, celana basah karena tertumpah minuman bukan masalah, digunjingkan orang juga tidak ada artinya, Adit bahkan melupakan ketidakterimaan karena Gesna cukup peduli dengan Guntur perkara udang.
Senyum itu masih terkembang saat Adit sampai ke rumah. Sekuat ini efek Gesna untuk dirinya. Dia lalu mengabari Gesna kalau sudah sampai di rumah.
Mr. A: Aku udah di rumah
Gesna tidak membaca pesan, mungkin sudah tidur.
Mr. A: Udah tidur?
Mr. A: Good nite, sweetheart. 🤗
Adit sendiri belum mengantuk. Lelah ada, tetapi mata masih mencelang. Gesna itu seperti dopamin, sedikit saja perubahannya mampu membuat Adit senang, bahagia bahkan euforia. Bernyanyi-nyanyi kecil sambil membuka sepatu, Adit mulai berpikir untuk mengabadikan hari ini.
Ya, diabadikan. Bisa jadi jika dia tidur nanti ketika terbangun mendapati semua hanya mimpi. Adit mengangguk, dia harus mandi, mengganti baju dan memperbaiki penampilan tidak peduli semalam apa, saat ini. Dia ingin merekam sebuah lagu untuk Gesna.
Menit-menit berikutnya, setelah mandi, Adit sibuk menyusun ruangan agar lebih estetis. Lampu meja diletakkan di sebelah sofa kecil, menyusun buku-buku yang terkapar asal agar lebih rapi, menyusul bantal sofa dan membersihkan meja yang berantakan. Setelah dirasanya cukup, Adit mulai menilik semua dari balik layar ponsel yang sudah dipasang pada tripod. Seusai memastikan letak stan mik juga tempat duduknya terlihat sempurna, Adit mulai meraih gitar dan duduk di sofa.
Dawai gitar dipetik. Adit memilih lagu Bruno Mars. Dia ingin Gesna tahu kalau dia akan selalu mendukung cewek itu apa pun kondisinya. Gesna hanya perlu memutar lagu tersebut ketika merasa butuh. Adit ingin Gesna tahu kalau apa yang ditulis Lambe School hanyalah sampah karena Gesna akan tetap spesial dengan caranya sendiri.
"When I see your face. There's not a thing that I would change 'cause you're amazing. Just the way you are."
Biarlah mereka bergunjing apa pun tentang dia dan Gesna, toh yang menjalani mereka berdua. Yang tahu bagaimana Gesna tentu adalah Adit. Adit malah tidak keberatan mereka bilang kalau seleranya rendah. Mereka saja yang tidak bisa melihat bagaimana sisi lucu, unik dan khasnya seorang Gesna.
Memang kulit Gesna cokelat cenderung kusam karena sering terbakar matahari, tetapi senyum cewek itu lebih cerah dari semua bintang di tata surya. Siapa saja yang ada di dekat Gesna pasti akan selalu tertawa, Gesna punya banyak kalimat tak terprediksi. Permainan basket Gesna itu keren, gambarnya juga bagus. Ah, mereka terlalu dangkal jika menilai kecantikan hanya dari penampilan. Cukuplah dia yang tahu, orang lain tidak perlu tahu sebanyak itu. Hanya menambah-nambah saingan saja nanti.
"And when you smile. The whole world stops and stares for a while. 'Cause girl you're amazing. Just the way you are."
__ADS_1
Pukul empat pagi, semua baru selesai. Termasuk mengedit dokumen mentahnya agar layak dikirim dan dinikmati. Adit melemaskan badan. Video itu akan dikirimnya besok ke Gesna.
Setelah mematikan semua lampu dan menyalakan sebuah lampu tidur, Adit tersenyum sekali lagi kemudian beranjak ke alam mimpi.
***
Ponsel yang bergetar-getar tanpa henti, membuat Adit terpaksa membuka mata. Dilihatnya siapa penelepon itu, dan bibir Adit tersenyum kembali untuk pagi ini.
"Pagi, sayang," sapanya dengan suara serak dan mata yang masih berat.
"Gue di rumah lo, dari tadi."
Adit memicing, mencoba melihat jam. Astaga, pukul dua belas siang. Ini bukan pagi lagi. "Sebentar, sebentar."
Setelah melompat dengan cepat, Adit bergegas mencuci muka. Dia menoleh sesaat ketika melewati ruang televisi, benar saja, dari jendela lantai dua terlihat skuter Gesna terparkir di bawah. Adit menuruni tangga dengan terburu-buru sampai tidak habis pikir mengapa dia bisa bangun sesiang ini. Beruntunglah sekarang hari Minggu.
Dia tidak sempat memikirkan dari mana Gesna tahu alamat rumahnya atau ada keperluan apa hingga Gesna datang ke sini. Kegembiraan Adit telah terkumpul dengan sempurna kala dia membuka pintu dan menemukan sang pacar sudah duduk di teras rumah.
"Lama nunggunya? Maaf, aku kesiangan. Udah lapar? Mau makan di mana?" tanya Adit berondongan.
Gesna masih diam dan menatap taman yang hanya berisi rerumputan. Sepertinya sang pacar sedang merajuk karena dibuat menunggu.
"Kalau nggak keberatan, aku mandi sebentar, ya?" Adit menggaruk kepala kikuk. "Maaf, Non. Aku benar-benar baru bangun soalnya. Masuk dulu, yuk."
Uluran tangan Adit yang tidak ditanggapi, membuat Adit kembali tersenyum. Begini rupanya kalau Gesna sedang mengambek.
"Buka," suruh Gesna.
Adit membuka kotak hitam tersebut. Seperti perkiraan, ini sebuah gitar. Gitar ini bukan gitar biasa. Adit menelan ludah ketika melihat tipe yang tertulis.
"Kalau lo mau macarin gue cuma demi gitar beginian. Sori, itu terlalu murah. Gue memang nggak hidup mewah, tapi jangan lo pikir gue nggak bisa beli gitar itu untuk dilempar ke depan muka lo!"
Adit gelagapan. Matanya membelalak, ngantuknya hilang dalam sekejap. Ini pasti ada yang salah. Semua tidak seperti yang Gesna pikir. "Non, dengar dulu," pintanya berusaha menahan lengan Gesna.
Cewek itu mengibas keras dan menendang kakinya dengan kekuatan penuh. "Lo dengar, ya. Gue bukan mainan. Lo itu setàn! Ambil gitar itu! Anggap aja gue bayar utang dari semua yang pernah lo bayarin."
Baju yang kemarin Adit pinjamkan juga dilempar Gesna ke arahnya.
"Sekalian, gue balikin ini baju. Mulai sekarang, lo nggak usah kebanyakan sandiwara. Nggak usah sok suka dan sok sayang sama gue!" tunjuk cewek itu dengan mata menyalang.
Adit berusaha menggapai tangan Gesna lagi, tetapi cewek itu sudah naik ke atas skuter. "Non, dengar dulu penjelasan aku," harap Adit sambil menahan setang skuter.
Matahari yang tepat di atas kepala membuat suasana semakin panas. Skuter tersebut digeber Gesna sekuat mungkin. Cewek itu juga mendorong dadanya dengan kasar.
"Dan di antara kita nggak ada hubungan apa-apa. Gue bukan pacar lo. Lo catat itu!"
__ADS_1
Skuter Gesna maju hingga Adit terpaksa harus melepas tangannya jika tidak ingin terseret. Dia masih berusaha mengejar Gesna tanpa alas kaki. Cewek itu memperdalam gas, membuat Adit tertinggal jauh. Yang bisa Adit lakukan hanya meneriakkan nama Gesna berkali-kali sebelum akhirnya menyadari kalau harapan yang dia pupuk semalam kembali hancur oleh satu perkara bodoh.
Berusaha berpikir cepat dengan otak yang mendadak buntu, Adit memutuskan kembali ke rumah. Menaruh asal gitar dan kaus yang dilempar tadi, Adit hanya menyikat gigi lalu meraih jaket secepat dia bisa. Tujuannya adalah basecamp.
Adit sudah tidak tahu bagaimana panjangnya jalan yang dia salip hingga mencapai tempat itu hanya dalam waktu sepuluh menit lantas berlari kesetanan ke lantai dua tanpa membuka sepatu dan berseru kepada Bara.
"Bar, ikut gue! Cepetan," paksa Adit mengabaikan pandangan heran dari Miko dan Bara. Dia meraih jaket Bara yang tersampir di sofa dan melempar ke arah cowok itu.
Bara terlihat bingung. Gitar ditangannya bahkan dilepas Adit. Menandakan sedang berlangsung hal yang sangat serius. "Ada apaan?"
Adit berbalik dan berjalan cepat keluar kamar. Raut mukanya tidak main-main. "Buruan, ikut gue! Penting! Pakai satu motor aja."
Paham ada situasi yang sangat mendadak, Bara mengejar dengan cepat dan melompat ke boncengan Adit. "Siap di boncengan, Bosque. Dibawa ke KUA juga Adek siap," candanya berusaha mencairkan suasana.
Bukannya tertawa, Adit malah menekan gas dengan kuat. Membuat Bara terpaksa diam dan menatap serius jalanan.
Dalam setengah jam, mereka memasuki perumahan dan berhenti di sebuah rumah tanpa pagar. Adit memarkirkan kendaraan asal-asalan.
Masih tanpa suara, Bara mengikuti. Penasaran yang mendera masih ditahannya. Dia tahu Adit lebih ahli bertindak daripada menjelaskan sesuatu. Dan setelah pintu rumah itu terbuka, Bara tahu penyebab kemarahan Adit.
Cewek yang membuka pintu terkejut bukan kepalang melihat kedatangan mereka dan berusaha menutup pintu kembali. Namun, Adit lebih dahulu menahan.
"Non, dengar dulu. Mungkin kamu nggak percaya sama aku. Ini aku bawa Bara buat jelasin semuanya."
Adit berusaha membujuk Gesna. Tangannya mendorong pintu agar terbuka. Di balik pintu, Gesna juga melakukan perlawanan yang sama.
Bara dapat meraba apa yang sedang terjadi di antara sepasang kekasih ini. Dia langsung urun rembuk. "Ges, gue bisa jelasinnya. Kasih gue waktu buat jelasin. Oke?"
Usaha mendorong pintu dari dua kubu masih berlangsung. Gesna seperti tidak memberi kesempatan mereka untuk menjelaskan.
"Taruhan itu nggak ada, Gesna. Memang awalnya gue ngajakin Adit taruhan tapi bukan buat benar-benar dapatin gitar. Gue cuma pengin Adit sadar dan ngakuin perasaannya sama lo." Bara masih menjelaskan dari balik lempengan kayu meranti. "Dan setelah Adit ngakuin perasaannya, taruhan itu batal sendiri. Nggak ada niatan kami nukar lo sama barang, Gesna."
Entah kekuatan apa yang dikeluarkan Gesna hingga cewek itu mampu menutup pintu kembali dan menguncinya. Adit berulang kali berdengkus kasar. Tangan yang masih memukul-mukul pintu kayu menandakan sekali kalau dia naik pitam. "Non, tolong buka."
Gedoran yang Adit layangkan berulang-ulang ke pintu malang tersebut, tiada hasil. Hingga buku tangannya memerah, pintu tak kunjung dibuka. Adit mengerang murka, bersandar di pintu sambil menjambak rambut.
Bara hanya bisa diam, mengamati bagaimana sang Kepala Suku terbakar amarah sendiri. Duduk di bangku teras, Bara mengeluarkan rokok dan coba mencari jalan keluar. Dia bahkan menarik Adit agar ikut duduk. "Duduk dulu, kita tunggu aja di sini. Siapa tahu dia berubah pikiran. Gue beliin minuman sebentar."
"Bar," panggil Adit sambil menggeleng. "Nggak usah. Sori, jadi ngerepotin. Lo balik aja, pakai motor gue."
"Lo gimana?" Bara menoleh sangsi.
Adit melepas helm yang sedari tadi masih dipakai, berusaha memadamkan kemarahan tanpa sasaran. "Gue di sini aja."
Memperhatikan wajah kuyu yang tampak jelas, Bara lantas mengangguk. Mungkin mereka berdua perlu waktu untuk berbicara lebih pribadi. Tanpa kehadiran dia pastinya. "Ya udah, gue balik. Kabarin aja kalau perlu gue jemput. Jangan emosi, Dit."
__ADS_1
Menarik napas sedalam mungkin untuk meredakan sesak, Adit mengangguk. Dia tidak marah kepada Gesna. Tidak juga marah kepada Bara. Dia marah dan emosi kepada diri sendiri, kepada kebodohannya, kepada naluri penakluk yang sesumbar. Akibat semua itu, apa yang diinginkan akhirnya lepas sebelum sempat digenggam.
Adit mendesah keras, kembali menarik rambut sendiri. Ternyata semua keindahan memang ditakdirkan hanya sebagai mimpi.