
"Lo ngapain?" Adit memandang Naraya yang tak berkutik. "Anak OSIS kok ngajarin orang cabut."
Naraya menelan ludah, melirik ke arah Asri yang tidak memberi tahu dia ada Adit di sana. Yang dilirik, hanya semakin menunduk. "Bantuin teman. Gege lagi perlu bantuan," tukasnya datar dan berjalan membelah ilalang.
"Gesna itu dengkulnya lagi sakit, lompat setinggi itu bakal makin sakit nanti." Adit memperhatikan gerak Naraya dengan kedua tangan di kantong celana.
Cewek itu berdengkus kecil, melewati Adit untuk merapat ke Asri. "Bokapnya Guntur meninggal, Gesna perlu datang ke sana secepatnya. Lo juga bakal gitu kalau di posisi gue."
Benar saja, setelah istirahat, kabar tersebut diumumkan ke kelas-kelas. Adit, Bara dan Miko juga orang-orang yang mengenal Guntur ikut melayat.
Di depan rumah Guntur sudah terpasang tarup dan juga bendera kuning. Adit bersama teman-temannya memilih duduk di luar karena pelayat berdesakkan di ruang tamu.
Di sebelah Adit, ada beberapa orang berpeci yang sedang berdiskusi. Menanyakan kapan waktu jenazah disalatkan dan dimakamkan. Dalam diam, Adit mendengarkan secara saksama.
"Ko, bukannya Guntur itu Kristen?" bisik Adit kepada Miko. Dia heran mengapa orang-orang itu sibuk membicarakan salat jenazah.
Miko yang masih menyapa beberapa siswa yang dikenal lantas menjawab, "Bokapnya Guntur kan Islam."
Adit memutar bangku plastik yang didudukinya. "Serius lo?"
Bara yang mendengar dua orang itu juga ikut nimbrung. "Iya, kok bisa? Beda agama?"
"Ya, bisa aja sih. Nyatanya mereka bisa? Kan nyokapnya Guntur itu Kristen Advent, mirip-mirip juga kayak Islam," jelas Miko yang mengetahui semua ini dari Riko.
Bara yang juga beragama Kristen lalu mengerutkan alis. "Oh, Guntur ini Adventist?"
Miko mengangguk sambil memperhatikan kembali keadaan di dalam rumah. "Kuy, masuk. Udah nggak ramai lagi."
Saat mereka berdiri, mereka tidak jadi masuk. Pelayat sedang membawa jenazah di dalam keranda, dan akan dibawa ke masjid terdekat. Di situlah, Adit melihat Gesna. Cewek itu terus berdampingan dengan Pelangi sementara Guntur selalu memapah sang ibu.
Dan benar kata Miko, dia juga melihat adiknya Guntur masuk ke masjid bersama Gesna. Setelah salat, mereka juga berjalan menuju pemakaman umum yang berada di belakang kompleks. Semua itu tidak lepas dari pengamatan Adit.
Adit kemudian memahami bahwa Pelangi memeluk Islam seperti sang papa, sedangkan Guntur mengikuti kepercayaan sang mama. Dari jauh, Adit dapat melihat kesedihan yang teramat dalam di wajah Gesna. Raut itu benar-benar murung. Sesekali Gesna mengusap punggung Pelangi, membisikkan kata-kata yang mungkin menguatkan.
Pantas kalau Naraya membantu Gesna untuk cabut sekolah. Kehadiran cewek itu dibutuhkan dalam keluarga Guntur. Sepertinya adik Guntur itu hanya dekat dengan Gesna. Dari tadi, menangis terus di pelukan Gesna.
Selama pemakaman, ibu Guntur berulang kali pingsan dalam pelukan Guntur dan cowok itu terlihat berusaha keras untuk tegar.
Adit hanya diam melihat semua itu. Dia tidak begitu ingat bagaimana saat mamanya meninggal. Semua terasa samar-samar karena dia masih sangat kecil. Kalau tidak salah, baru masuk elementary school. Yang Adit ingat, sudah tidak ada lagi orang yang mengusap kepalanya sambil menyanyikan Twinkle Twinkle Little Star. Tidak ada lagi yang memanggilnya dengan panggilan My Sun. Tidak ada yang tidur memeluknya lagi atau mendatanginya kala bermimpi buruk.
Pemakaman berlangsung lancar, jenazah dikebumikan setelah salat Asar. Matahari yang mulai turun menyisakan senja yang sangat menyedihkan untuk keluarga Guntur.
__ADS_1
Adit paham. Tidak ada anak yang tidak sedih ditinggal orang tua. Oleh karena itu, dia memilih bungkam. Tidak bertanya-tanya lebih lanjut penyebab kematian papa Guntur. Dia hanya mendengar selentingan kalau meninggalnya karena penyakit jantung.
Setelah pemakaman, pelayat mulai sepi. Di halaman rumah Guntur hanya tersisa beberapa belas murid, teman-teman Guntur. Adit melihat Riko, Ilham dan Adrian membantu menyusuni bangku-bangku plastik, sedangkan Gesna duduk berdua bersama Guntur di depan pagar.
Dia bangkit, ikut membantu. Begitu juga Miko dan Bara. Bagaimanapun Guntur bagian dari penghuni basecamp. Mereka menganggap itu sebagai sesama saudara.
"Gimana hati, Bang? Aman?" ledek Bara berbisik ketika cowok itu sadar kalau Adit selalu mencuri pandang ke arah Gesna.
"Shhh..." Adit melirik Bara dengan garang, takut ada yang mendengar.
Bukannya diam, Bara malah cengar-cengir menyebalkan. Tangan cowok itu mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sesuatu ke Adit. "Ini gitar yang lo balikin ke dia, 'kan? Jadi kado tuh buat Guntur," tutur Bara menaik-turunkan alis untuk menggoda.
Adit pikir hanya dia yang tahu tentang itu. Dia lupa kalau Bara dan Miko juga tahu mengenai gitar tersebut. Gitar yang dia kembalikan ke Gesna, diberikan cewek itu kepada Guntur sebagai kado.
Kado.
Kado yang ditambahkan gambar juga ucapan. Kado yang dipakai untuk menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Kado yang dulu pernah diberikan kepadanya dengan cara dilempar. Beda sekali perlakuan Gesna kepada mereka berdua.
Adit meringis sambil mengembalikan ponsel Bara, mengedikkan bahu seolah tak peduli. Gesna masih berbicara pelan bersama Guntur dan cowok itu hanya mengangguk-angguk pelan. Entah membicarakan apa. Hanya saja, yang Adit tidak suka, cewek itu beberapa kali mengusap keringat di dahi Guntur. Berusaha untuk biasa saja, Adit kembali duduk dan mengeluarkan rokok.
"Bagi rokok." Bara duduk di samping, mengambil sebatang dari kotak yang disodorkan Adit. "Ngemeng-ngemeng, selama pacaran, lo udah pernah diusapin keringat gitu belum?"
"Mingkem lo, Bar," desis Adit membuang pandangan ke arah lain. Dia ingin berpamitan dengan Guntur, tetapi Guntur sedang bersama Gesna. Kalau cewek itu membuang muka, tentu beberapa murid yang masih di sana akan menyadari kejanggalan dia dan Gesna.
Dari jauh, Adit melihat kedatangan Naraya dan beberapa anak OSIS. Jas almamater khusus itu hanya dimiliki oleh anak OSIS. Semua memakainya kecuali Naraya. Dia juga melihat Joceline di sana. Perhatian Adit mulai kembali terpusat kepada Gesna dan Guntur. Dia penasaran bagaimana mereka bertiga tetap tenang setelah disebut-sebut Lambe School.
Gesna berdiri, melangkah ke depan Guntur, merebut botol yang diberikan Joceline dan membantingnya dengan keras ke aspal. Semua yang ada terhenyak. Adit sampai menaikkan kedua alis.
"Lo tuh ngapain aja sih selama jadi ceweknya Gugun? Sampai nggak tahu apa yang harusnya boleh dan nggak boleh dimakan dia?! Dulu, lo kasih udang. Sekarang, lo kasih teh pula! Cerdas banget sih jadi orang!" bentak Gesna sambil menunjuk muka Joceline.
"Gege..." Riko, Ilham dan Adrian langsung berusaha menarik Gesna, menghalangi cewek itu dan Joceline.
"G-gue enggak tahu kalau Guntur enggak boleh minum teh," cicit Joceline terkaget-kaget. Tidak mengira kalau Gesna bisa semarah itu.
"Terus apa yang lo tahu?! Petantang-petenteng pakai almet OSIS sok kecakepan?!" sembur Gesna dengan mata menyalang. Bukan Gesna namanya jika kalah. Meski dihalangi badan-badan besar, Gesna masih berusaha maju. "Udah datang telat, pakai senyum-senyum kayak enggak ada dosa lagi!"
Naraya yang mengenal keduanya juga berusaha menengahi. Tangan cewek itu menarik lengan Gesna, tetapi Gesna semakin berang. "Ge, kami tadi harus rapat mendadak."
Adit memutuskan untuk pergi. Dia mengisap lalu melempar rokok, memijak api sampai habis. Dia tidak perlu menontoni cinta segitiga ini. Seandainya Guntur menoleh, Adit ingin bisa berpamitan sambil melambai dari jauh saja.
"Nay, ini bukan sekre OSIS. Enggak usah pidato sama gue. Pinggir! Biar gue kasih pelajaran dulu dia," sentak Gesna mengibaskan tangan untuk menyingkirkan semua orang yang menghalangi. "Pacar macam apa lo? Waktu bokap pacar lo dimakamin malah nggak ada?! Guntur itu butuh lo! Lo harusnya ada di samp—"
"Gege, udah." Guntur bangkit dan meraih Gesna ke dalam pelukan. Mereka berpelukan erat. Tangan Guntur juga membelai-belai kepala Gesna, menenangkan kesedihan dan emosi yang berkobar. "Tenang, Ge. Tenang."
__ADS_1
Adit membatu di tempat ketika mendengar raungan Gesna lolos dalam dekapan Guntur. Tangis yang sedari tadi tidak ada di muka cewek itu akhirnya lepas. Tangis yang tidak pernah Adit lihat. Adit tidak melihat Gesna menangis saat bertengkar atau bercerita tentang keluarganya. Adit tidak melihat Gesna menangis ketika jatuh atau kecelakaan.
"Papah kita, Gun. Papah kita pergi," gumam Gesna terisak-isak, bersarang di dada Guntur.
"Papah kita," desis Bara ke telinga Adit. "Papah. Kita," ulang Bara menekankan dua kata itu sambil berkedip-kedip.
Adit merasa tenggorokannya kering. Apalagi melihat Guntur juga ikut menitikan air mata. Mereka berdua yang sedari tadi tegar akhirnya menangis, berpelukan.
"Iya, Ge. Papah kita pergi. Kita harus kuat."
Adit langsung meninjak kaki Bara agar tidak tertawa. Pasalnya, cowok di samping dia menonton semua kejadian sambil terus berkomentar. "Dit, lo ingat aja. Gue orang nomor satu yang mendukung lo, waktu sadar, lo suka sama dia. Pakai acara nantang-nantangin lo segala biar lo gerak. Tapi, gue enggak setuju juga lihat lo kayak gini sekarang."
Bara menaikkan sebelah alis waktu Adit menoleh, tidak peduli apakah kalimat itu akan terdengar menyakitkan. Bagi Bara, fakta harus dijunjung. "Kalau Guntur enggak suka lo buat sedih Gesna. Gesna enggak suka lihat Guntur sedih. Gitu juga gue, gue enggak suka lihat lo sedih atau disakiti orang."
Adit mengembalikan pandangan ke depan. Melihat bagaimana Guntur mengabaikan pacarnya yang sudah memucat dan masih memeluk Gesna untuk menenangkan cewek itu. Dia memang menyadari, bagaimana erat pertalian mereka berdua.
"Lo masih ingat yang gue bilang di kantin, waktu itu?" tambah Bara sambil berdengkus. Adit menggeleng, terlalu banyak yang pernah dikatakan Bara. Seakan paham, Bara mengulangi kata-katanya. "Gue tahu lo suka sama Gesna, tapi menurut gue, Gesna itu sukanya sama Guntur. See? Told you."
Tepat setelah Bara mengatakan itu, Joceline luruh ke aspal. Jatuh pingsan tanpa sempat dihalangi oleh siapa pun, dan yang menangkap duluan adalah Naraya bukan Guntur.
"Dan menurut yang gue lihat hari ini, Guntur juga punya perasaan yang sama. Cinta boleh, begò jangan." Bara bangkit, menepuk pelan bahu Adit. Merasa tidak perlu berpamitan langsung, Adit dan Bara memilih pergi dengan menitip salam melalui Miko.
"Ingat kata Kang Parkir, Dit. Mundur, mundur!" seru Bara dari atas motor yang melaju di sampingnya. Cowok itu lantas mengklakson karena akan berpisah arah.
Adit menekan gas semakin dalam. Sedari tadi, otaknya menyetujui semua asumsi Bara, tetapi hatinya berontak. Tidak terima kalau apa yang dilihat memang kenyataan.
Adit mengeram keras, meluapkan kekesalan. Dia selama ini menutup mata, berusaha pura-pura buta padahal melihat bagaimana dekatnya interaksi Gesna dan Guntur. Bagaimana Guntur memeluk Gesna di pinggir lapangan basket, bagaimana Guntur mendadak jutek saat tahu dia ada di rumah Gesna. Oh, iya. Mengapa Adit bisa terlewat apa penyebab Gesna sangat kusut, siang itu? Bukankah itu tanggal jadiannya Guntur dengan Joceline? Tanggal jadian mereka kan sama, dan Gesna murung hari itu pasti karena tahu Guntur jadian dengan Joceline.
Dia terlalu bodoh, berusaha terlalu keras tapi melupakan sesuatu. Lupa kalau orang yang sedang jatuh cinta dengan orang lain tidak akan bisa dibikin berpaling. Lupa kalau tidak memiliki pacar belum tentu tidak sedang menyayangi seseorang. Bukankah di awal, Gesna sudah bilang kalau cewek itu tidak menyukai dia?
Masuk di akal mengapa Gesna tidak ingin murid-murid tahu dia ada hubungan dengan cewek itu. Karena Gesna menyukai Guntur. Kalau bukan Adit yang memberi tahu, mungkin Guntur juga tidak tahu hubungan istimewa antara Gesna dan Adit.
Ketika hati orang sudah tertutup, berjuta usaha juga akan sia-sia. Setitik kesalahan saja menjadi petaka mahahebat. Padahal dia tidak benar-benar taruhan dan Gesna tahu itu.
Adit mengumpat sekuatnya di antara raungan mesin motor. Dia sudah berbuat apa pun. Berusaha menjelaskan dengan baik-baik, sudah. Berusaha mengadang dan memaksa Gesna juga sudah. Berusaha selalu ada sesuai permintaan Gesna untuk menemani cewek itu makan juga sudah, walaupun sedang bertengkar. Dia tetap saja tidak dianggap. Semua sms, semua pesan, semua teleponnya diabaikan juga diblokir. Bahkan Adit juga berusaha mengirim kode dari setiap lagu-lagu yang diunggah. Hasilnya apa? Nihil, kosong, tidak ada apa-apa.
Motor Adit meliuk-liuk, memotong semua kendaraan di jalan. Semua terlalu memusingkan. Dia kemudikan motor secepat mungkin ke arah luar kota, tidak tahu mau ke mana. Lantas motor itu berhenti beberapa jam kemudian di Bukit Rahasia.
Matahari sudah turun, menyisakan pendar-pendar jingga yang beberapa saat lagi akan gelap total. Adit terduduk di tanah sambil menatap lampu-lampu kekuningan.
Sebuah pesan masuk, tautan musik dari Bara, dan langsung diputar Adit. Didengarkannya lagu itu sembari membiarkan angin dingin menusuk-nusuk tubuh. Bara benar. Sahabat mungkin akan berkata pahit, tetapi tujuannya demi kebaikan. Seperti obat yang diberikan kepada pesakitan.
Adit lalu menekan nomor Bara. "Bar, lo benar."
__ADS_1
Dia terdiam sesaat sambil kembali menatap langit yang sudah menggelap dengan sempurna. "Gue ... mundur."