Matahari Api

Matahari Api
Kepastian Yang Menyakitkan


__ADS_3


Guntur tidak tahu harus bereaksi apa saat kembali ke tenda dan menemukan sepiring udang di hadapan. Pilihan lainnya adalah ikan lele dan itu tersaji di depan Joceline. Berusaha berpikir tenang, Guntur menarik napas. "Kok udang? Tadi kan pesan ayam."


"Habis ayamnya," jawab Joceline yang berada di seberang. "Kenapa? Nggak suka, ya?"


Guntur mengangguk. "Aku nggak makan udang."


Raut Joceline berubah. Cewek itu terlihat berkecil hati. "Aku nggak tahu," sesalnya berusaha menukar piring. "Mau ikan lele aja?"


Meja itu lantas diselimuti kekakuan dikarenakan Guntur juga menggeleng, menolak ikan lele. Dia tidak makan udang juga ikan lele sampai kapan pun. Ini bukan karena Guntur tidak menghormati pilihan Joceline. Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang tidak paham.


Tiba-tiba, sebuah tangan menarik piring udang yang ada dan menukar dengan sepotong ayam goreng.


"Pas banget," sela Gesna sambil menyengir ke arah Guntur. "Gue tiba-tiba pengin udang, Gun. Barter dah, ya. Lo kan baik hati lagi rajin menabung."


Senyum tanpa dosa Gesna masih saja terlukis meski sudah meninggalkan mereka. Guntur memandangi ayam itu dengan perasaan yang mendadak ramai. Dia tersenyum, dan ketika Guntur mengangkat kepala, pandangannya bertemu dengan tatapan kecewa Joceline.


"Ya, udah. Yuk, makan," ajak Guntur mulai meraih ayam dari Gesna. 


Sekian lama bersahabat dengan Gesna, dia tahu kalau kejadian tersebut hanyalah alasan cewek itu untuk membantunya. Gesna masih Gesna yang lama, masih orang yang kadang mengesalkan, merepotkan tetapi juga setia kawan. Gesna akan menjadi orang yang ada di depan kalau sahabat-sahabatnya diganggu. 


Ayam tadi menjadi ayam terenak di dunia yang pernah dimakan Guntur, meskipun rasanya masih kalah sama buatan Mamah. Memang sih ini bukan tentang rasa ayamnya, melainkan tentang perhatian yang masih tersisa.


Guntur tersimpul lagi. Walaupun perasaan yang ada tidak pernah bisa diutarakan, setidaknya persahabatan mereka akan tetap baik-baik saja hingga kapan pun dan itu sudah cukup. Guntur tidak mau meminta lebih. Diperhatikan dan diejek-ejek sebagai sahabat, itu sudah cukup. Direpotkan dan dipaksa-paksa oleh seorang Gesna juga itu sudah cukup. 


Seperti hari ini, Gesna tiba-tiba menyantroni kamarnya pagi-pagi hanya untuk meminta ditemani ke toko alat musik. 


"Gun, Gugun bangun." 


Pintu kamar Guntur diketok-ketok. Guntur yang masih menggeliat hanya menyahut malas.


"Woy, pemalas amat lo jam segini masih rebahan?!" Gesna melangkah masuk ke kamar, duduk di samping tempat tidur. Cewek itu sudah mandi, memakai pakaian pergi. 


Guntur membalikkan badan, melihat tamunya. "Kapan lagi hari Minggu nggak latihan kalau bukan karena habis pensi?" gumamnya sambil menutup mata kembali. Ya, latihan basket hari ini ditiadakan sebab lapangan di sekolah masih dipenuhi peralatan-peralatan dan panggung yang kemungkinan baru akan dibereskan seharian ini.


Cewek itu berdecak sambil menarik kaki Guntur yang menyembul dari balik selimut. "Gun, temanin gue, yuk. Buruan mandi, penting banget!"


"Ke mana?"


"Buruan, ah! Bawa mobil, ya. Gue mau beli gitar." Gesna lalu menyebutkan tipe gitar yang hendak dibeli. Yamaha Silent SLG200S.


"Buat apa lo, sih? Kan kata lo tinggal cari cowok main gitar yang bisa nyanyiin lo? Nah, sekarang kan udah ada cowoknya." Guntur meraih bantal dan menutup telinga agar Gesna tidak semakin bising. Dia masih mengantuk. Tadi malam setelah makan, mereka kembali lagi ke sekolah untuk menyaksikan pertunjukan Fiersa Besari dan berakhir pukul dua belas malam. Guntur sampai ke rumah pukul satu dini hari.


"Nggak usah banyak tanya! Mau temenin apa enggak?!" Gesna yang sudah merenggut bantal mulai berkacak pinggang, menandakan cewek itu benar-benar tidak main-main. "Mandi nggak lo, sekarang?! Atau gue siram air?!"


Terpaksa bangun, Guntur bersungut-sungut. Dia bahkan berulang kali menguap sepanjang jalan yang untungnya tidak ramai, membiarkan Gesna bertanya dan menjawab sendiri. 


"Toko yang ini atau yang itu ya, Gun? Kelihatannya sama, tapi enggak, ding. Yang ini kayaknya bakal lebih murah," komentar Gesna sambil menarik tangannya masuk ke sebuah toko musik. Cewek itu menyebutkan tipe yang dimaksud dan keluar kembali setelah gitar tersebut tidak ada. Ada sekitar empat atau lima toko yang mereka datangi sebelum menemukan gitar yang dicari-cari.

__ADS_1


"Buat siapa, Ge? Harus banget tipe itu?" sungut Guntur yang tidak habis pikir dengan energi cewek dalam berbelanja. Hari Minggu libur latihan itu harusnya dipakai untuk hibernasi. Sepertinya Gesna lupa kalau cewek itu titisan kerbau.


"Harus," balas Gesna singkat sambil memperhatikan harga. Tak lama cewek itu menggerundel pelan karena uangnya kurang dan menghubungi Gustav dengan segera. "Bang, gue perlu uang. Urgent! Buat ganti gitar orang yang gue rusakin."


Seperti mendengar ceramah singkat, Gesna memutar bola mata. "Nanti aja Bang kultumnya, gue lagi mau bayar-bayaran ini. Bisa transfer tiga juta?"


"Lo ngerusakin gitar siapa?" tanya Guntur yang menguping.


Gesna yang sudah menutup panggilan lantas menggeleng. "Enggak, kok. Sebenarnya bukan buat ganti."


"Terus buat siapa? Buat lo? Kayaknya di rumah masih ada gitar nganggur." Guntur menjadi tidak habis pikir. Gesna sampai berbohong hanya untuk bisa membeli gitar tersebut. Apa gitar ini untuk Adit? Sesayang apa Gesna hingga membelikan gitar semahal itu?


"Nanti gue ceritain." Gesna hanya mengibaskan tangan, meminta Guntur untuk tidak banyak bertanya. Setelah pemberitahuan transfer masuk ke ponsel, cewek itu lantas segera membayar gitar tersebut. Kotak hitam berlekuk itu Gesna sandang di bahu kanan dan ditidurkan di bagasi mobil Guntur. 


Sepanjang perjalanan pulang, Gesna hanya menutup mata. Tiada ada niat menceritakan apa pun kepada Guntur.


"Ge," panggil Guntur sambil menatap jalanan. "Kemarin, lo langsung balik apa nonton Fiersa?"


"Balik," gumam Gesna membuka mata. "Kenapa?"


Guntur tidak meneruskan cerita. Kemarin, ada kata-kata dari Fiersa yang langsung melekat di benak Guntur sehabis menyanyikan lagu Garis Terdepan. Guntur seperti tertohok, seperti tertembak, seperti tertikam. 


"Bang Adit tahu lo digosipin Lambe School, Ge?" Guntur melirik sedikit ke samping. Gesna menarik napas panjang, bergumam mengiakan. "Bagus, deh. Biar akun-akun kayak gitu musnah. Postingannya nggak berbobot."


Gesna hanya mendesah pelan, terlihat gelisah. Badan Gesna berputar dan duduk menghadap ke arah Guntur. Sepertinya ada yang sedari tadi menguasai pikiran cewek itu. "Lo balik jam berapa, tadi malam?"


"Jam dua belas lewatlah, habis-habis acara kelar." Guntur bersama Naraya dan yang lain harus tetap memastikan semua sebelum meninggalkan lokasi, termasuk mengecek apakah ada panitia lapangan yang menginap dan apakah tukang jaga malam sudah datang.


Gesna hanya menggeleng lemas dan tidak acuh, tapi dari tatapan cewek itu seperti menanti kelanjutan ceritanya. 


"Kan dia habis nyanyi Garis Terdepan, terus dia bilang sama semua. Katanya, kalau kita memang sayang sama seseorang, lebih baik ngomong. Karena dalam hidup, lebih baik kepastian yang menyakitkan daripada ketidakpastian yang manis. Ketidakpastian yang manis ujung-ujungnya bakal sakit juga," papar Guntur sambil tersenyum tipis, teringat bagaimana terpelatuknya dia saat itu. "Langsung deh, tuh. Teriak semua satu lapangan."


"Fiersa ngomong gitu?" tanya Gesna memastikan kembali.


"Iya, gue ingat banget kata-katanya."


Cewek itu terlihat menekur dan mengulangi kalimat tersebut. "Lebih baik kepastian yang menyakitkan daripada ketidakpastian yang manis."


"Lebih baik kepastian yang menyakitkan daripada ketidakpastian yang manis," ujar Gesna lagi sambil mengembalikan posisi badan seperti semula. Cewek itu mengulangi beberapa kali sampai membuat Guntur bingung sendiri.


***


Kalimat Fiersa yang diucapkan Guntur dan dia ulangi tentu masih terus Gesna ingat. Memberi kekuatan kepadanya untuk datang dan melempar gitar hebat itu ke depan Adit. Hampir saja dia tertipu, hampir saja dia dibohongi oleh ketidakpastian yang manis. 


Seandainya tadi malam dia malas mengangkat telepon Ilham, mungkin sampai sekarang dia masih menjadi perempuan dungu yang mulai percaya kalau di dunia ini benar-benar ada yang sayang kepadanya sebagai perempuan. Bukan sebagai saudara ataupun sebagai sahabat.


Luar biasa sekali, Adit. Luar biasa. Gesna lupa untuk bertepuk keras-keras di depan muka cowok itu. Bisa-bisanya mengangkat dan menyanjung dia dengan sebegitu tinggi hingga terbang lantas dijatuhkan amblas ke dasar bumi. Gesna memaki hati yang terlalu lemah ketika mendapat perlakuan manis. Gesna memaki instingnya yang maju mundur ketika menerima perlakuan baik. Bodoh memang tidak lihat tempat dan tidak lihat orang, sih.


Memeluk kedua kaki, Gesna mulai meringkuk di tempat tidur. Dia yang tidak bisa tidur semalaman mulai lelah. Dibiarkannya Adit menggedor-gedor pintu dan memanggil-manggil berulang kali. Mati saja dia.

__ADS_1


Gesna percaya Ilham. Tentu saja Gesna lebih percaya kepada Ilham. Gesna lebih percaya kepada sahabat-sahabat yang susah senang bersama daripada orang baru nan asing yang tiba-tiba bersikap manis dengan tidak logis.


Semua yang diceritakan Ilham terdengar masuk akal. Kata Ilham, dia pernah dengar Adit tertawa-tawa bersama Bara sambil berkata kalau Gesna butuh Pangeran. Tidak hanya itu. Yang paling menjawab semua pertanyaan mengapa Adit tiba-tiba datang ke rumahnya adalah taruhan. Taruhan yang didengar Ilham setelah cowok itu membukakan pintu mobil sementara Riko dan Guntur memapah tubuh Gesna yang sedang mabuk. 


Gesna coba mencocokkan waktu. Memang benar, Adit mulai aneh semenjak hari itu. Cowok itu gencar sekali mendekati, meneleponnya, mengirimi pesan, mengajak jalan hingga datang ke rumah.


Ilham juga berkali-kali bersumpah membawa nama Tuhan kalau semua yang didengar dan dikatakannya itu benar. Sayang, saat itu, yang mendengar hanya Ilham sendiri sehingga Ilham memilih diam dan mengamati sikap Adit ke Gesna. 


Mencoba meredakan dada yang terasa mau pecah, Gesna melenguh. Jangan-jangan Adit sengaja memberi bunga di depan semua orang supaya jadi sorotan? Supaya jadi gosip hangat satu sekolah? Supaya bisa mendulang massa? Lantas dengan cepat, cowok itu pasti memutuskan dia. Membuatnya malu dengan mengatakan ke semua orang kalau pacaran mereka hanyalah hasil taruhan. 


Gesna semakin meringkuk. Untung dia tahu lebih cepat. Sebelum dibikin malu untuk kedua kali di depan semua murid sekolah. Tidak bisa dibayangkan jika dia sudah membangga-banggakan hubungan dengan Adit, ternyata cowok itu hanya mempermainkan perasaannya. Bajìngan memang tidak punya hati! Merasa sok ganteng sehingga berpikir kalau semua cewek akan lemah di hadapannya. Orang ganteng sekalipun tidak boleh sok ganteng. Wajah kan anugerah Tuhan, nanti kalau Tuhan marah, wajah itu bisa dibikinnya rusak dalam waktu dekat. Kalau wajah sudah rusak, rata serata tanah, mau dibilang ganteng dari mana?


Pintu rumah terdengar dibuka, sepertinya Gustav sudah pulang. Syukurlah abangnya tidak lihat drama satu babak tadi karena motor Adit sudah pergi. Kalau tidak, itu namanya Adit sedang menyerahkan diri. Sebab secuek-cueknya dan sesibuk-sibuknya Gustav, cowok itu akan tetap menjadi saudara yang bisa diandalkan.


"Ge..." panggil Gustav dari balik pintu. "Udah makan?"


Gesna menoleh ke arah pintu yang sudah dibuka. Dia menggeleng, lupa kalau belum makan. Makanan menjadi tidak penting ketika keinginan menghajar kepala orang lebih berkobar-kobar. 


"Gue bawa piza tuh di bawah." Gustav mengedik sebentar lalu berjalan ke kamar yang ada di sebelah kamar Gesna.


Gesna berdecak. Kenapa tidak sekalian dibawa ke atas saja pizanya, lalu mereka makan di ruang tengah lantai dua? Berusaha menyingkirkan rasa malas yang menggelayut dan emosi yang masih belum diselesaikan, Gesna turun ke bawah menuju meja makan.


Tak lama, tubuh Gesna membeku. Langkahnya sontak berkompromi untuk berbalik. Sialan. Harusnya Gesna tahu mengapa Gustav menyuruh ke bawah. Harusnya dia ingat kalau Adit memiliki nomor Gustav dan mereka pasti berkomunikasi. 


"Non." Adit menangkap tangannya dengan segera. "Dengarin aku, please. Kalau kamu nggak percaya, ayo cari di rumah. Gitar itu nggak ada."


"Lo pikir gue tolòl? Ya, lebih dulu lo amanin lah. Disimpan Bara atau disimpan di kamar Bang Miko." Gesna mendorong tubuh Adit dan melepas pegangan di tangannya. "Jangan berani-beranian lo nyentuh gue atau bakal gue teriakin lo rampok!"


Cowok itu mengadang langkah Gesna yang hendak naik ke tangga. "Sumpah Demi Tuhan, Non. Ayo, kita cari ke rumah Bara, ke kamar Miko. Enggak ada, Non. Aku memang salah karena mengiakan tapi taruhan itu enggak benar-benar jadi," jelas Adit dengan menatap pasrah.


"Nggak usah bawa-bawa Tuhan untuk kelakuan yang kayak setan. Pinggir!" usir Gesna, tetapi cowok itu masih menghalangi jalan. Kepala Gesna sudah berdenyut keras, kelaparan bercampur emosi yang membuncah.


"Bisa pinggir nggak sih lo! Lagian ngapain lo masih di sini?! Minggat sana!" semburnya sambil berlacak pinggang. Mata Gesna mencari barang di sekitar yang bisa dilempar ke Adit. Yang ada cuma sofa, kursi makan dan piza. Semuanya mustahil untuk dilempar, apalagi piza. 


"Tunggu apa lagi?! Cabut lo, cabut!"


"Gege! Lo nggak perlu teriak-teriak, ini bukan hutan!" Gustav yang berdiri di pembatas lantai dua melongokan kepala ke arah bawah. "Adit udah cerita ke gue. Lo dengarin penjelasan dia dululah. Jangan pakai emosi kenapa? Ngegas melulu lo, gue mau kerjain tugas, nih."


Mata Gesna memicing, mengetahui kalah langkah. Adit sudah mendekati Gustav lebih cepat dari perkiraan. Licik sekali cowok ini. 


"Nggak usah dijelas-jelasin, gue punya kuping," tandasnya cepat dengan menaikkan telunjuk, menunjuk ke arah pintu rumah. "Balik lo sana."


"Kamu maafin aku, 'kan?" desis Adit dengan muka penuh harap yang entah palsu, entah setting-an.


Gesna mengembangkan senyum sebelah, menatap Adit dengan pandangan mencemooh. "Kalau semua selesai dengan minta maaf, Timur Tengah udah damai dari dulu. Minggat lo! Empet gue lihatnya."


Setelah menyingkirkan Adit dari hadapan, kaki Gesna secepatnya melangkah naik. Mulai hari ini, sepertinya dia harus waspada setiap saat termasuk di rumah sendiri.


🌺🌺🌺

__ADS_1



Siapa sih yang jahat banget?


__ADS_2