
Sebuah kantong plastik tergenggam Adit ketika dia kembali masuk. Dia baru membeli salep pengurang rasa nyeri yang biasa digunakan para atlet, dan beberapa kebutuhan lain untuk berjaga-jaga. Harusnya di dalam tas Gesna, yang seperti itu selalu ada sebagai pencegahan.
Posisi Gesna masih sama dengan saat dia pamit pergi, menghadap sandaran sofa.
"Non," panggilnya. "Bagian mana yang pegal?"
Gesna tidak membalik, tidak merespon apa pun. Dia berjalan menuju belakang sofa untuk mengintip. Mata Gesna tertutup. Ternyata cewek itu tertidur.
Adit menghela napas pelan, berjalan kembali ke arah depan untuk duduk. Ada kedip sinar di depan muka Gesna yang menyurutkan langkah Adit ke sofa. Dia malah mendekati Gesna, meraih ponsel yang mengeluarkan kedip merah sebagai notifikasi.
Gesna: Gugun cinta, jangan marah dulu. Gue tadi udah mau kasih tahu ke lo. Eh, tiba-tiba dia nongol.
Gesna: Beneran, gue nggak maksud mau bohong. π
Gesna: Piss, Gun. Piss.βοΈ
Gesna: Baca! Balas secepatnya! Kalo nggak, gue aduin Mamah.
Pesan itu dikirimkan lima belas menit yang lalu dan kini, Adit melihat Guntur mengetik balasan untuk Gesna.
Boboiboy Halilintar: Kayaknya gue mesti balikin kata-kata lo yang tadi, deh.
Boboiboy Halilintar: Pacar lo marah ya sama kelakuan gue, tadi? π
Boboiboy Halilintar: Bilang sama Bang Adit, gue tahu memosisikan diri sebagai sahabat, kok. π
Boboiboy Halilintar: Selamat ya, Gege sayang. Akhirnya ada cowok yang mau sama lo. Wkwkwkwkwk.
Adit akhirnya paham siapa Mamah yang dimaksud Gesna. Mamah adalah ibunya Guntur. Sedekat itu persahabatan keduanya.
Membaca deretan pesan itu juga apa yang mereka berdua lakukan di sekolah, membuat Adit mengambil kesimpulan kalau Gesna dan Guntur baru berbaikan. Memang terakhir dia melihat Guntur mengantar ayam buatan Mamah ke rumah ini, sikap cowok itu seperti tidak bersahabat.
Dia tidak tahu Gesna dan Guntur bertengkar karena apa, dan dia hingga kini tidak mengerti bagaimana proses berbaikan antar sahabat yang berlainan jenis terlihat sudah seperti orang berpacaran.
Tangan Adit tergerak untuk membalas, sebab namanya disebut di sana. Dia berusaha untuk mengabaikan kata 'cinta' dan 'sayang' yang tertulis menyakitkan mata.
Gesna: Tenang, Tur. Gue paham, kok. π -Adit-
Dia lalu mengunci ponsel Gesna dan meletakkan di samping cewek itu. Sepanjang perjalanan ke miniswalayan di depan komplek, Adit berusaha berpikir jernih. Mungkin benar apa yang dibilang Gesna, dia tidak pernah memiliki sahabat perempuan. Dia tidak tahu dan tidak percaya kalau persahabatan lawan jenis itu bisa langgeng.
Adit duduk di karpet, membuka tas, mengeluarkan buku matematika yang belum selesai dikerjakan tadi. Pikirannya masih mengawang. Bisa jadi dia memang salah, dia hanya memandang sesuatu dari kacamatanya saja. Bisa jadi yang dia terlampau emosi sehingga memandang kejadian antara Gesna dan Guntur adalah hal yang besar.
Lama Adit menatap barisan rumus matematika yang tiba-tiba menjadi sulit dipahami. Kepalanya penuh dan Adit tidak bisa berpikir. Dia menutup buku dan meraih gitar Gustav yang ada di sisi sofa lain. Memetik pelan dawai sambil bersenandung lirih.
"Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu. Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Karena langkah merapuh tanpa dirimu. Karena hati tlah letih."
Adit lalu diam, memejamkan mata, meski tangan terus bergerak. Setiap orang boleh berharap bukan? Tidak salah jika dia berharap Gesna membalas perasaannya, 'kan?
Jauh di dalam hati, Adit tahu. Harapan sering kali berbeda dengan kenyataan. Untuk itu manusia perlu usaha, meraih semua harapan yang diinginkan. Dan Adit masih ingin berusaha sekuat dia bisa. Dia percaya hati manusia terbuat dari gumpalan daging yang peka. Dia percaya perasaannya akan dibalas oleh Gesna.
Dia hanya perlu menutup mata, memakai kacamata kuda agar fokus kepada tujuan saja. Tidak usah memedulikan apa pun yang menggoyahkan ketetapan hatinya.
Pintu rumah didorong dan Adit membuka mata. Dia melihat Gustav berjalan ke arah dalam.
"Wah, lo bisa finger style?" tanya Gustav takjub sambil duduk di salah satu sofa yang bisa diduduki satu orang.
"Dikit-dikit, Bang," ujar Adit sambil mengembalikan gitar ke sofa yang kosong. "Abang ada mau keluar lagi atau enggak?"
"Kenapa?" Gustav menaruh tas dan tabung panjang yang tadi tersemat di bahu ke lantai. Lingkar mata hitam kelihatan sekali di wajahnya.
"Kalau misalnya Abang nggak keluar berarti Gesna ada teman, Adit pulang aja," jelas Adit. Tangannya mulai membereskan buku matematika dan memasukkan ke dalam tas.
"Enggak, gue nggak mau keluar lagi, kok. Lo belum balik ke rumah, Dit?" Gustav tampak memperhatikan seragam Adit yang ada di balik jaket.
Adit meringis. "Iya, Bang. Tadi, Adit tungguin Gesna latihan basket sambil bikin PR sama teman-teman."
Badan Gustav bersandar dan sedikit merosot, menyandarkan segala penat di kursi empuk tersebut "Lain kali, kalau lo belum sempat pulang karena kebo ini. Ke kamar gue aja, pakai baju gue."
Kepala Adit mengangguk, segan atas kebaikan Gustav. "Nggak apa-apa, Bang. Besok Adit siapin baju ganti aja di tas. Adit pulang dulu."
"Bentar." Gustav menahan langkah Adit dengan pandangan meneliti dia. "Lo sama Gesna ini udah gimana ceritanya?"
Sekejap Adit terdiam. "Tanya Gesna aja, Bang. Nanti Adit salah ngomong lagi."
Gustav bergumam. "Kayaknya gue mulai paham, nih. Pasti Gesna ada protes, ya?"
Kepala Adit terangguk lagi.
"Biasa itu, sih. Isi hidupnya memang protes melulu. Mau didengerin, tapi nggak mau ngedengerin orang lain. Sering maksa-maksa lagi." Gustav terkekeh pelan. "Lo jadian sama dia, Dit?"
__ADS_1
Adit tidak mengangguk, dia hanya tersenyum tawar. "Dia minta dirahasiain dari semuanya, Bang."
"Gue abangnya, lo nggak perlu rahasiain dari gue."
Adit kembali pamit sembari mencangklongkan tas di bahu.
"Hati-hati, Dit," ujar Gustav mengiringi kepergiannya.
Senyum Adit terpulas di wajah. Bahkan kalimat 'Hati-hati' hanya pernah didapatkan Adit dari Gustav. Ceweknya tidak pernah berkata seperti itu. Boro-boro mengucapkan 'Hati-hati', berterima kasih saja tidak pernah.
Berusaha membesarkan hati, Adit membawa motor besarnya pergi mengelilingi kota hingga penat datang dan merasa sudah ingin pulang.
Adit melangkah masuk. Dia mencecap hampa ketika memandang kelengangan rumah.
Sama seperti Gesna, rumahnya pun tidak ada siapa-siapa. Dia tak kalah kesepian seperti cewek itu. Gesna masih memiliki Gustav di rumah, masih memiliki Meilan yang meskipun jauh tetap masih ada. Sedangkan dia?
Tidak ada siapa-siapa.
Mamanya sudah di surga. Papanya ada di udara.
Dari awal, Adit tidak ingin mundur meski mengetahui apa yang terjadi pada keluarga Gesna. Sekarang, Adit paham mengapa dia seperti ini. Hanya orang kesepian yang mampu mengerti rasanya kesepian. Dia tahu apa yang Gesna rasakan, sebab dia juga berada di titik yang tidak jauh beda. Sunyi bisa membunuh orang pelan-pelan.
Sesuai teori, seharusnya dua orang yang kesepian bisa saling mengisi. Namun, teori dan praktik jelas berbeda.
Setelah berganti baju dan duduk menekur di pinggir jendela, Adit teringat Naraya. Dia masih memiliki keluarga walaupun tidak dekat. Jarinya langsung menekan tombol panggil kepada sang sepupu.
"Di mana?" tanya Adit berbasa-basi ketika teleponnya diangkat Naraya.
"Yogya, Mas. Kenapa?"
Punggung Adit menegak. "Cepat amat lo udah sampai Yogya? Tadi siang masih sekolah, deh. Ngapain?"
"Ye, gue kan pakai pintu ke mana saja. Jangan kayak orang susah, deh." Naraya lalu mengoreksi candaannya. "Gue ada kumpul Pelatnas, besok. Memang lo pikir ngapain? Jalan-jalan?" Cewek itu berdengkus pelan.
"Kirain, jalan-jalan nggak ngajak-ngajak."
Naraya tertawa pelan di seberang. "Tumben amat lo telepon gue. Kenapa?"
"Naya," panggil Adit ragu. Naraya menggumam, menunggu lanjutan. "Gue pengin punya sahabat cewek."
Tawa Naraya kontan memekakkan telinga. "Apa? Nggak salah dengar nih gue? Kenapa? Kesambet apa lo?" seru Naraya tidak percaya.
"Biar gue tahu, gimana bersahabat sama lawan jenis."
Adit menjadi penasaran. Siapa saja sahabat Gesna yang tahu kalau mereka sudah berpacaran? "Gesna nggak cerita? Dia kan sahabat lo?"
Tawa cewek itu langsung meredup. "Sori, ye. Kata sahabat udah lama nggak ada dalam kamus hidup gue, Mas," ujar Naraya datar.
"Kenapa?" Kali ini, Adit benar-benar mau tahu. Bagaimana bisa orang yang tertawa dan kompak bersama bisa saling menuding di baliknya. Setahu Adit, Gesna juga menganggap Naraya sebagai sahabat.
Naraya berdecak. "Gue tanya kenapa dibalas tanya juga? Tinggal jawab aja apa susahnya, sih? Gue tanya sama lo bukan sama Gesna."
"Ya, begitulah," jawab Adit mengambang.
Suara Naraya terdengar mengejek. "Kagak jelas banget lo. Udah ah gue mau tidur, capek gue hari ini. Gue ingatin, lo nggak usah coba-coba punya sahabat cewek. Gue kan sepupu lo, temenan sama gue aja udah cukup."
"Idih, idih. GR amat lo kalau gue mau berteman sama lo?" balas Adit.
"Gue matiin nih, ya?!" ancam Naraya.
"Ini, ini... Jurus sakti cewek supaya menang, bisanya mengancam." Adit mulai menarik sudut bibir, kembali tersenyum untuk hari ini.
Naraya terkekeh lagi. "Bodo amatlah!"
"Eh, Naya. Tadi, gue dengar Adji cerita sama Gesna tentang lo."
"Apaan? Apaan?" Suara Naraya berubah antusias.
Adit terdiam hingga Naraya memanggil-manggil dia beberapa kali lalu berdeham sesaat sebelum mulai berbicara. "Untuk seorang cewek yang menolak cowok karena nggak suka. Kok gue menangkap reaksi yang beda, ya? Lo kayaknya gembira banget dengar nama Adji."
Naraya terperangah. "Kok lo tahu gue nolak dia?"
"Lo lupa lagi ngomong sama siapa?" balas Adit jemawa.
"Woilah, gue demen nih kalau lo mulai sombong. Pengin gue lempar granat rasanya." Cewek itu mulai mencacinya dan memaksa Adit untuk bercerita.
Adit tertawa, cukup terhibur akan balasan Naraya. "Tahu aja. Gue juga tahu kalau Adji susah move on dan gue juga tahu kalau Fiska mepetin Adji melulu."
Terdengar Naraya refleks mengumpat saat mendengar nama Fiska disebut. Dia kembali menyemburkan tawa. "Lo sama Gesna kayaknya benci banget sama Fiska."
"Sembarangan aja dia nuduh gue lesbi!" lengking Naraya gusar. Sepertinya cewek itu sudah lupa kalau tadi bilang mengantuk. "Seandainya nggak dipisahin, enak banget nyeret dia keliling kota, biar mukanya rata di aspal."
__ADS_1
Adit kembali tertawa sambil bergeleng. "Lo sama Gesna ini turunan barbar, ya? Yang satu mau nimpa pala Fiska pakai bangku, yang satu mau seret dia keliling kota. Buset sadis-sadis!"
"Kalau gue turunan barbar, lo juga kali. Kan darah kita tetanggaan. Kayak lo nggak pernah patahin gigi orang aja," sahut Naraya tidak terima. "Lagian kan udah pernah gue bilang sama lo. Kami nggak suka ganggu orang, tapi kalau orang itu ganggu kami tanggung sendiri akibatnya. Kalau dia jual, gue beli sampai stok terakhir di gudangnya."
Bibir Adit sudah terasa pegal, tertawa sedari tadi. "Hidup lo pada ini memang unpredictable, ya?"
"Cukup TV aja yang flat, hidup jangan," balas Naraya lagi.
"Lo yakin nggak suka sama Adji?" Adit mulai mengembangnya senyum lagi. "Kemarin aja lo tanya-tanya gue ada hubungan apa Gesna sama Adji? Bau-bau jealous gitu."
"Alih profesi jadi paranormal, Mas?" cela Naraya. "Yang harusnya jealous itu lo. Gesna teman cowoknya banyak, loh."
"Kayak anak Pespel bukan kebanyakan cowok aja." Adit tetap tidak mau kalah. Semenjak memilih Naraya sebagai calon ketua OSIS. Dia tahu kalau cewek itu anggota Pasuspala, organisasi pencinta alam yang sering bikin onar, tetapi program yang dipaparkan juga cara cewek itu berbicara membuat Adit yakin. Tentu dia tidak menduga kalau Naraya ternyata saudara sepupunya.
"Oh, iya, ya. Gue kadang lupa kalau mereka cowok." Naraya tertawa panjang. "Mas, lo masih nggak mau cerita nih kenapa tiba-tiba telepon gue?"
***
Gesna menggeliat. Badannya terasa pegal dan kaku. Padahal dia sudah sering latihan dan jadwal latihan menjelang turnamen sudah dirapatkan menjadi seminggu tiga kali. Namun, tetap saja kakinya pegal.
Saat dia membuka mata, ada Gustav duduk di karpet, sedang sibuk dengan gambar-gambar dalam laptop. Gesna menguap pelan.
"Udah bangun lo, kebo?" Gustav menoleh. "Mau makan nggak?"
Gesna menyandarkan kepala di sandaran sofa. Dia masih mengantuk.
"Makan dulu, yuk. Habis itu lo oles Counterpain ke badan lo yang pegal-pegal," ajak Gustav menarik tangan Gesna.
"Kok lo tahu badan gue pegal?" Gesna mengucek mata dan duduk malas-malasan dengan menyandarkan kepala di atas meja.
"Ya, gue lihat dari bungkusan lo di meja. Lagi pula kelihatan kok lo capek banget sampai nggak mandi. Apek!"
"Bungkusan? Bungkusan apa?" Kepala Gesna kembali tegak, tidak paham akan maksud Gustav.
"Bungkusan kemenyan! Ya, bungkusan belanjaan lo." Abangnya itu mementung Gesna dengan sendok dan menaruh dua buah piring berisi nasi di meja.
Gesna menggeleng sambil meraih lauk ke piringnya. "Bungkusan apaan? Gue nggak ada belanja, tuh."
"Terus? Belanjaannya terbang dan mendarat sendiri ke sini pakai drone?" Alis Gustav naik tidak yakin.
Gesna lalu ingat. Tadi, Adit permisi keluar sebentar. Apa cowok itu yang belikan? Kepalanya menoleh, mencari keberadaan Adit.
"Udah pulang," sahut Gustav menyengir. "Cari Adit kan lo?"
Sendok Gesna tertahan, tak jadi menyuap. "Kok lo tahu dia udah pulang?"
"Banyak tanya kayak Dora," ejek Gustav terkekeh. "Ya, tahulah kebo. Dia pulang karena gue sampai. Kalau gue nggak pulang, itu anak gue rasa udah bikin pos ronda di mari."
Bibir Gesna menyeringai, membuat pengakuan lugas. "Gue suruh dia temanin gue makan setiap hari."
"Sintìng!" hujat Gustav terlihat tidak terima. "Pantesan dia baru pulang waktu gue bilang kalau gue nggak bakal pergi lagi. Banyak minta amat sih lo jadi cewek?"
Gesna tidak terima dicemooh seperti itu. Sambil mengedikkan bahu, dia membela diri. "Dia yang tanya, apa yang gue minta dari dia. Ya, gue minta temenin makan setiap hari. Salah sendiri kenapa dia kasih pertanyaan itu?"
Guntur bergeleng heran, menatap Gesna tidak percaya. "Gue mesti tanya ke Mama, nih. Dia lahirin lo di rumah sakit atau di pinggir kali. Otak lo kayaknya ikut hanyut."
Gesna tergelak. "Iri bilang, Bos."
Setelah makan, Gesna kembali ke sofa untuk mengambil ponsel. Dia juga menemukan bungkusan yang Gustav maksud dan membukanya. Ada plester luka, ada obat lebam, ada salep penghilang nyeri, ada betadine, obat flu, obat demam dan peralatan P3K lain hingga hand sanitizer.
Gesna membawa semua itu ke kamar. Seusai membaluri kaki dengan salep penghilang nyeri, semua pemberian Adit ditaruhnya pada sebuah plastik berklip lalu diselipkan di pinggir tas. Dia tersenyum pelan sambil menepuk gundukan itu. Ada yang terasa hangat bukan hanya di kaki, apalagi waktu ingat ucapan sayang dari Adit.
Cowok itu sayang sama dia? Gesna menggaruk pelan kepala yang tidak gatal. Kok bisa?
Berulang kali Gesna membuka tutup aplikasi pesan. Ada keinginan mengucapkan terima kasih kepada Adit tetapi dia malu. Hingga dia menyadari kalau Guntur sudah membalas pesannya dan ada yang membaca pesan itu sebelum dia.
Astaga! Gesna memekik kecil membaca percakapan yang ada. Pesannya dibaca Adit?
Gesna kembali menggaruk belakang telinga juga kepala. Adit tidak ada komentar apa pun. Tidak pula mengiriminya pesan juga tidak menelepon.
Layar ponsel digesernya bolak-balik hingga berakhir dengan membuka Instagram. Tanpa sengaja, Gesna menekan lingkaran di pojok kiri. Sebuah video milik Miko terputar di genggamannya. Video siaran langsung itu seperti telah tayang sore tadi saat dia sedang latihan.
Tampak di layar kalau mereka bertiga akustikan secara live. Ada ratusan orang yang menonton dan mengirimkan tanda hati di sana. Tetapi bukan itu yang membuat Gesna geram. Sedari tadi dia membaca komentar-komentar yang tidak dia sukai.
Aduh, Adit. Lihat mukanya aja adem banget hidup gue kayak nggak ada masalah apa pun.
Kak Miko, kirim salam untuk Kak Adit, ya.
Adit!!! My love! ππππ
Rahim adek berkedut, Bang. π€©
__ADS_1
Dan sederet komentar lain yang kalau saja berbicara langsung di depan Gesna, akan dia toyor kepalanya.
Bukankah Adit bilang kalau dia mengerjakan PR di basecamp? Kenapa jadi live akustikan? Gesna memberengut dan melempar ponsel ke tempat tidur. Nggak perlu berterima kasih sama Adit, nggak perlu. Nggak ada fungsinya juga.