
"Jadi urusan gue," jawab Adit, "karena semakin lo jutek, gue semakin suka."
Gesna langsung mematikan ponsel. Selain karena dia enek, terlihat juga bahwa Naraya dan Asri sudah tidak bisa mengontrol tawa mereka. Bisa-bisa ketahuan Adit kalau telepon sedang diaktifkan pengeras suara.
"Mantap!" Zella tersenyum senang. "Ini baru adek gue."
Naraya terkikik. Tawa yang sedari tadi ditahan akhirnya terlepas juga. "Cie, Gege. Gue pikir cowok yang nyasar di hidup lo cuma Guntur aja. Itu pun kutukan buat dia."
Gesna hanya cemberut. Dia sudah tidak mood untuk menoyor Naraya. Buat apa sih Adit telepon dia? Bukankah sudah jelas kalau dia akan menolak semua yang berurusan dengan Adit?
"Adit itu yang mana satu?" tanya Asri. Keningnya berkerut coba mengingat.
"Dasar codot! Jadi ... lo ketawa-ketawa dari tadi nggak tahu siapa yang telepon?" Naraya berdecak kesal lalu merenggut ponsel yang dipegang Gesna. "Adit, temannya Miko. Kan mereka sering bertiga."
Naraya mencari akun Miko di Instagram Gesna lalu menunjukkan sebuah foto ke Asri dan Zella. "Nah, yang ini, Ci. Yang pakai jaket jins ini."
"Yang pegang gitar?" tanya Zella ikut penasaran, Naraya mengiakan.
"O-oh." Asri mengangguk sambil membulatkan mata. "Ini, si Kepala Suku! Tadi beneran dia yang telepon?"
Naraya tersimpul sambil melirik Gesna. "Iya, Kepala Suku. Yang kabarnya matahin gigi orang sekali pukul."
Asri mengingat mitos itu. "Iya, iya. Woah, kok bisa, Ge? Nggak nyangka gue!"
Gesna melengos dan menarik ponselnya. "Apaan, sih. Udah nggak usah dibahas. Palingan iseng doang itu."
Saat tangan Gesna akan menutup Instagram, dia memekik. "Anjr*t! Kepencet like, woy! Mau ditaruh di mana muka gue?!"
Gesna memukul-mukul kasur dan menyurukkan kepalanya ke bantal. Tertekan like adalah kesalahan fatal saat mengintip Instagram orang.
Zella menepuk bahu Gesna, coba menghibur. "Udah, nggak apa-apa. Kayak yang gue ajarin, tadi. Lo harus pegang kendali dan balikin keadaannya. Kalau dia maenin lo, lo yang harus bisa maenin dia!"
Naraya mengepalkan tangan ke udara. Seolah barisan pasukan pada zaman penjajahan. "Semangat, Ge. Gue dukung!"
Asri ikut mengepalkan tangan juga. "Caiyo! Semoga berhasil!"
Mereka lantas tertawa lagi. Menghabiskan malam dengan menonton juga mendengar Zella bercerita dan baru beranjak tidur menjelang pukul dua dini hari.
Baru saja terlelap, Gesna merasa ada guncangan di badan dan mukanya terasa dingin.
"Bangun, Ge. Latihan, woy!" seru Asri sambil memercikan air ke mukanya.
Gesna mengucek mata dan mengerang malas. "Jam berapa sekarang?"
"Setengah tujuh. Buruan! Kapten kok telat." Asri sudah segar, selesai dari mandi. Rambutnya masih terlihat basah.
Gesna beranjak duduk untuk menyatukan nyawa. Dia memperhatikan sekeliling. Naraya juga sudah bersiap-siap untuk pergi. "Lo mau ke mana, Nay?"
"Balik, jam sembilan gue ada kumpul Pespel soalnya." Naraya juga ada pertemuan organisasi pencinta alamnya. Hari Minggu pun mereka sok sibuk.
Asri membuka lemari dan mengeluarkan baju latihan untuk Gesna. "Ge, buruan mandi! Gue sama lo, ya. Jangan telat."
Gesna masih belum beranjak mandi. Dia memilih hidupkan ponsel dan memeriksa dahulu. Sebuah pesan masuk di Line.
Mr. A : Selamat pagi. Kata matahari, dia malu sama lo, soalnya senyum lo lebih manis dari dia.
Gesna melotot mengetahui pesan tersebut dari siapa. Bergidik. Dia mematikan kembali ponsel dan melempar barang itu ke tempat tidur Asri.
__ADS_1
Dia berlari, mendadak ingin mandi, ingin membasuh tubuhnya dari debu-debu gombal nista milik Adit.
Kalau Gesna berpikir dengan tidak dibalas membuat Adit mundur, ternyata ia salah besar. Seusai latihan basket, saat masih duduk di pinggir lapangan, pesan berantai masuk kembali ke Line.
Mr. A : Bola mulu yang digenggam, dek. Hati abang enggak.
Gesna mencibir.
Mr. A : Lo kalo di lapangan beda banget ya. :)
Gesna memutar kepalanya, mencari sesuatu yang mencurigakan tetapi tidak ada.
Mr. A : Soalnya kalo di lapangan gak keliatan cebol...
Gesna memaki dalam hati membaca ejekan Adit itu.
Mr. A : Hmm.. Atau lo sengaja pura-pura nggak bisa ambil buku lo kemarin dari gue ya?
Najis! Gesna meneguk air mineral sampai tandas. Pesan-pesan Adit terus masuk meski tidak dibalas.
Mr. A : Koran.. Koran.. akua.. mijon.. akua..
Mr. A : Apa coba persamaannya gue sama martabak?
Mr. A : Tau gak jawabannya?
Mr. A : Sama-sama dikacangin.
Mr. A : Zzzzz...
Gesna menutup pesan, menyelipkan ponsel di tas. Diraihnya handuk kecil untuk mengelap keringat yang banjir, lantas mencangklongkan tas di bahu, hendak pulang.
"Woy, ke mana lo semalam? Nggak angkat telepon." Guntur muncul-muncul langsung menjewernya.
"Memang ada yang mau?" ejek Guntur melirik Gesna yang sedang menyeka keringat dan berjalan ke parkiran. "Ingat hukum Fisika. Karena p \= F/A maka banyak gaya bikin banyak tekanan."
Gesna mengucek hidung. "Sori, nggak kerjaan gue ingat hukum itu. Gue tahunya hukum adat sama hukum rimba. Atau sekalinya update, ngertinya Omnibus Law."
"Kan benar, kebanyakan gaya." Guntur menaruh telapak tangan besarnya di kepala Gesna. Seolah kepala cewek itu adalah bola basket. "Eh, pulang nanti lo ke mana?"
Gesna menoleh ke Guntur. "Ya, baliklah. Semalam gue sama Nay nginep di rumah Aci."
Guntur menarik napas lega, senang mendengar Gesna tidak kelayapan ke mana-mana. Ia juga tenang mengetahui Gesna kemarin hanya berkumpul di rumah Asri. "Lo dicariin Pelangi. Gue disuruh bawa lo ke rumah. Kan lo udah janji sama dia."
Guntur menghentikan langkah dan menunggu reaksi Gesna. Cewek itu seperti tersadar dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah deh, boleh. Tapi gue balik dulu. Mandi, ganti baju."
Senyum terbit di bibir Guntur. Dia mengacak rambut Gesna dengan gemas. Jika saja gagal membawa Gesna maka Pelangi akan ngambek berhari-hari. "Ya, udah. Gue tungguin lo mandi sama ganti baju. Yuk, balik."
Mereka menuju kendaraan masing-masing dan melaju meninggalkan sekolah. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang melihat kejadian itu sedari tadi.
***
Sepagian ini Adit sudah ada di sekolah, duduk di sudut lantai tiga bangunan sekolah untuk pandangi cewek itu dari kejauhan. Gesna jutek sekali terhadapnya. Apa dia dendam karena bukunya Adit rebut? Sudut bibir Adit melengkung kecil.
Dari awal bertemu, cewek itu seperti memusuhinya. Padahal setahu Adit, Gesna mudah bersahabat dengan semua orang. Cewek itu tidak pilih-pilih teman dan gampang sekali tertawa.
Bukan tidak pernah ia mendengar tawa menggelegar itu sampai studio. Begitu pula di lapangan tadi, cewek itu terbahak-bahak saat seorang anak kelas sepuluh malah takut menerima operannya.
__ADS_1
Benar kata Miko tentang three point shoot, tembakan Gesna itu mematikan. Adit melihat sendiri bagaimana tadi Gesna berulang kali menembak bola dari jarak jauh. Cewek itu juga gigih mengadang dan mengecoh lawan.
Pantas nama itu sering didengarnya menjadi pembicaraan di kantin. Meski Gesna tidak setinggi cewek yang berdiri di paling tengah lapangan, akurasi serangan Gesna cukup baik, pertahanannya juga oke. Gesna menjadi satu dari dua orang di lapangan yang sering memasukkan bola ke ring.
Adit tidak begitu paham posisi pemain basket. Namun, dia yakin Gesna berada dalam posisi penyerang.
Jika di lapangan, cewek itu sering tersenyum. Apalagi setelah bolanya masuk. Cengiran lepas atau seruan penuh kesuksesan menggema dari bawah sana.
Panas matahari dan keringat tidak membuat senyum itu pudar, tapi senyum itu tidak ada ketika membaca setiap pesannya.
Adit menggeleng. Ia sudah salah langkah di kesempatan pertama dan harus bekerja keras di kesempatan berikutnya.
Dia lalu turun dari meja yang diduduki. Posisinya memang strategis, bisa melihat lapangan basket tetapi orang yang di bawah tidak bisa melihat dia. Ia ingin menghampiri Gesna, mencoba peluang lain.
Ketika menuruni tangga terakhir, terdengar suara. Dengan cepat Adit menempelkan diri di dinding dalam. Cerukan bawah tangga yang berisi meja-meja tidak terpakai. Dari pantulan jendela kelas, Adit melihat Gesna dan Guntur berjalan mendekat. Tangan Guntur ada di atas kepala Gesna dan tersenyum hangat ke cewek itu.
"Lo dicariin Pelangi. Gue disuruh bawa lo ke rumah. Kan lo udah janji sama dia."
Langkah mereka makin rapat ke arah Adit. Adit amankan posisi sambil tetap mempertajam pendengaran. Terdengar sebuah jawaban, "Ya udah deh, boleh. Tapi gue balik dulu. Mandi, ganti baju."
"Ya, udah. Gue tungguin lo mandi sama ganti baju. Yuk, balik."
Selama beberapa menit, Adit bahkan tidak bergerak. Takut pergerakannya menimbulkan suara. Syukurlah, mereka tidak menyadari ada Adit di balik tumpukan meja ini.
Suara mereka mulai redup, Adit mengintip lagi. Tepat saat dia melongok, terlihat Guntur mengusap kepala cewek itu dengan penuh perasaan.
Ada apa antara mereka berdua? Bersahabatkah? Atau ada perasaan lain?
Adit tidak pernah memiliki teman cewek sehingga dia tidak yakin akan mengusap kepala sahabatnya seperti tadi. Yang punya sahabat cewek itu Bara, tapi Bara juga nggak pernah mengusap seperti itu.
Adit berpikir lagi. Orang terdekatnya ya Bara dan Miko. Kalau dia sama mereka berdua, yang ada sih hujat-hujatan, nggak mungkin usap-usapan. Disangka homo nanti.
Ponsel Adit bergetar. Ia melihat pemanggilnya.
"Hmm..."
Adit hanya menggumam, menjawab panggilan Bara.
"Di mana lo? Cepat amat ngilangnya. Gue pikir tadi ke dapur."
"Memang ke dapur," jawab Adit santai.
"Dapur mana, gila? Dapur tetangga?! Gue sama Miko di dapur kali, buruan kuy sarapan." Bara yang sudah duduk bersama Miko di ruang makan masih menunggu Adit untuk sarapan bersama.
"Duluan, aja. Gue nyusul bentar lagi. Lagian jam segini bukan sarapan, pe'a. Brunch." Adit berdengkus kecil. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, berarti dua orang sahabatnya itu baru bangun dari tidur. Mereka bahkan tidak tahu kalau Adit sudah bangun dari pagi dan duduk di sudut sekolah.
"Aye, aye, Captain." Bara mematikan panggilan.
Sebelum naik ke motor yang diparkir tersembunyi dan kembali ke basecamp, Adit mengirimkan pesan kembali ke Gesna.
Mr. A : Apel, apel apa yang enak?
Mr. A : Hayo apa...
Adit tersenyum kecil menyadari kegaringannya. Biarlah, sama Gesna saja kok.
Mr. A : APELin lo... 🍎🍎🍎
__ADS_1
Mr. A : Ntar malem gue ke rumah ya.
Mr. A : Eh. Jangan gugup gitu.