
Guntur meletakkan ponsel di meja. Badannya kedinginan meski sudah berganti baju. Namun ada yang lebih dingin menyumsum yaitu kecewa.
Adit? Kenapa harus Adit? Gesna bisa meminta bantuannya dan dia akan menemani Gesna seperti biasa.
Dia rela menelepon sambil kendarai motor hanya untuk mendengar kabar yang tidak diinginkan. Kenapa Gesna mesti berbohong? Segitu tidak percayakah Gesna dengan Guntur?
Guntur tahu Gesna di Bandung dengan Adit. Kenapa Gesna bilang di sana cuma ada dia, pengasuh dan Gandhi? Apa Gesna lupa kalau Guntur pasti menghubungi Gustav jika dia tidak bisa dihubungi? Dan Guntur lebih dahulu tahu Gesna di Bandung, pergi dengan Adit dari Gustav. Bukan dari Gesna.
Sekian lama bersahabat, kenapa harus ada yang ditutup-tutupi seperti ini? Memang, Guntur suka sama Gesna, Guntur sayang sama Gesna. Namun, Guntur tahu diri. Dia tidak akan melarang hal yang disukai sahabatnya.
Apa Gesna berpikir dia akan melarang cewek itu dekat dengan Adit? Mengingat reputasi Adit yang terkenal sadis di sekolah? Guntur berdecak kesal. Jika iya, tipis sekali pemikiran Gesna.
"Ya ampun, Ge. Kita bukan ketemu kemaren sore, kali. Segini aja rupanya."
Guntur merebahkan badan panjangnya di kasur, mencoba meredakan rasa tidak terima yang meluap sampai ponsel berbunyi. Diintipnya layar, dia malas mengangkat telepon tak dikenal.
Ternyata Joceline yang menelepon. Mungkin cewek itu sudah sadar dari pingsan. "Halo. Iya, Ling?"
Suara seorang lelaki memanggil Guntur. "Ini Guntur? Saya papanya Ling-ling."
Guntur terdiam. "Iya, Om."
"Ling-ling masuk rumah sakit. Tadi pingsannya nggak kunjung sadar dan kami bawa ke sini."
Badan Guntur refleks terduduk. Apa Joceline begitu parah setelah hujan-hujanan tadi? "Ling-ling sakit, Om?"
"Bisa ke sini, Guntur? Saya di Rumah Sakit Pelita Bangsa."
Tanpa Guntur sadari, dia bergegas menuju rumah sakit yang disebutkan. Waswas sekali bagaimana Joceline bisa separah itu hanya karena kehujanan. Yang lebih menakutkan Guntur adalah kenapa Joceline mau diajak hujan-hujanan kalau tubuhnya tidak kuat? Dia harus bilang apa kepada orang tua Joceline? Matilah dia.
Guntur setengah berlari di koridor panjang rumah sakit. Melewati deretan ruang penanganan khusus juga poliklinik. Beberapa kali bertanya kepada perawat yang ada hingga bertemu dengan papa Joceline di depan bangsal rawat VIP.
"Maaf kalau saya lama. Saya mutar-mutar cari ruangannya," ujar Guntur merasa bersalah. "Ling-ling gimana, Om? Dia sakit apa?"
Pria itu mengajak Guntur duduk di bangku panjang yang ada di taman. Cukup lama pria itu hanya diam dan Guntur semakin tenggelam dengan perasaan bersalah.
Aduh, kenapa dia bisa-bisanya ajak Joceline hujan-hujanan, sih? Cewek itu kan bukan Gesna yang mau hujan geledek petir sekalipun tetap akan sehat-sehat saja. Dulu malah mereka berdua sering main basket sambil mandi hujan. Besoknya? Ya, sehat-sehat saja. Kata Mamah, asalkan bukan hujan pertama dari musim kemarau dan hujannya deras, mandi hujan tidak akan membuat sakit.
"Jadi begini," ujar papa Joceline membuka suara. Pria itu menatap taman dengan pandangan tidak terbaca dan muka berduka. "Sakitnya Ling-ling bukan salah kamu. Om panggil kamu karena mau cerita."
Guntur menghela napas lega. Syukurlah kalau begitu. Mamah bisa menangis kalau tahu dia membuat sakit anak orang, dan Papah akan menggantungnya.
"Sedari kecil, Ling-ling memiliki kelainan jantung bawaan. Denyut jantungnya tidak bisa diprediksi, terkadang lebih cepat dari biasa dan terkadang di bawah normal. Itu mengapa dia sangat saya jaga."
Papa Joceline menarik napas dalam, seakan berat sekali untuk menceritakan hal tersebut kepada Guntur.
"Beberapa bulan yang lalu, Ling-ling bersikeras ingin mengikuti pemilihan OSIS. Saya nggak kasih izin dia ikut pelantikan-pelantikan itu tapi dia memaksa. Dia berjanji akan selalu mengabari saya."
Guntur mengangguk. Seluruh calon pengurus OSIS memang wajib mengikuti Diklat gabungan yang dilaksanakan selama tiga hari dua malam di bawah kaki gunung. Namun, dia tidak tahu kalau Joceline tidak diizinkan dan memaksa ikut.
"Dari awal, saya sudah merasa aneh. Ada apa Ling-ling mau ikut OSIS? Tapi setelah tadi saya menemukan buku ini, saya jadi tahu alasannya."
Pria itu mengangkat sebuah buku berwarna kuning. Warna mencolok itu sering ada di setiap perlengkapan Joceline. Sepertinya kuning adalah warna kesukaan Joceline.
"Anak saya suka sama kamu."
Guntur terhenyak. Bukan dia nggak pernah mendengar pengakuan suka dari cewek-cewek, tapi ini beda. Yang mengatakan malah orang tuanya. Badan Guntur sudah sebeku es.
"Saya nggak minta kamu harus melakukan hal yang sama. Saya tahu, perasaan nggak bisa dipaksa. Saya cuma minta kemurah-hatian kamu untuk mau berteman dengan dia. Di luar maksud terselubungnya dalam berteman sama kamu."
Pria itu memberikan buku tersebut ke Guntur lantas kembali ke kamar Joceline. Di taman, ditemani gemericik air yang jatuh dari pancuran kecil di depannya, Guntur mulai membaca.
Tulisan Joceline kecil-kecil dan rapi. Setiap hari cewek itu melapor ke buku ini bagaimana kesehariannya. Termasuk menceritakan bagaimana jantungnya terasa sesak ketika tiba-tiba digenggam dan ditarik Guntur meninggalkan sekre OSIS. Ya, saat Naraya dan Renard berselisih paham.
Guntur menekur. Dia pikir Joceline pucat karena takut dengan Naraya. Dia tidak pernah menyangka kalau Joceline seperti itu karena sikapnya.
Dari buku ini juga, Guntur tahu kalau Joceline sudah tidak memiliki mama. Mamanya meninggal karena sakit jantung. Baik Joceline dan mamanya memiliki penyakit yang sama.
Di halaman terakhir, debar dada Guntur makin tidak terkendali. Joceline menulis kalau dia menjadi salah satu alasan cewek itu bertahan hidup.
Guntur menutup buku dengan perasaan berisik. Dia kemudian masuk ke ruang inap menggantikan papa Joceline yang akan makan di kantin. Dipandanginya cewek yang terbaring pucat dan lemas.
Joceline punya penyakit jantung?
Guntur pikir penyakit itu hanya menyerang orang dewasa dan orang tua. Bukan anak seumuran dia. Diamatinya mata sipit Joceline yang terpejam. Pasti sakit sekali jadi Joceline.
Dia melihat Gesna melambai ke Adit saja jantungnya sudah seperti terjepit. Apalagi yang benar-benar terserang penyakit tersebut?
Sosok di depannya bergerak. Guntur masih memperhatikan dalam diam.
__ADS_1
Mata Joceline mulai membuka, melihat langit-langit. Tak lama menoleh, mencoba cari tahu di mana dia, dan Joceline membelalak ketika melihatnya. Tubuh itu berusaha untuk bangun, namun ditahan Guntur.
"Jangan dipaksain, Ling. Lo baru sadar."
"Gue kenapa?" tanya Joceline heran.
"Pingsan. Habis ujan-ujanan tadi."
Joceline mengusap wajahnya. "Ini jam berapa?"
"Jam delapan." Guntur melirik jam tangan lalu kembali memandang Joceline. "Apa yang dirasa sakit, Ling?"
Joceline menggeleng. "Nggak ada, kok. Aduh, gue lama pingsannya, ya? Maaf ya jadi ngerepotin lo."
"Apa sih lo? Udah gue bilang nggak apa-apa juga."
Di matanya, Joceline adalah orang yang bersemangat. Cewek itu tidak pernah memberitahu sakitnya kepada siapa pun. Bahkan tidak menolak untuk ikut menyebarkan proposal. Meski semuanya beralasan. Seperti yang tertulis di buku yang sudah dikembalikan Guntur kepada papanya Joceline, Joceline selalu ingin bersama dia.
"Ling, lapar nggak?" tanya Guntur sambil menunjuk makanan di atas nakas. "Makan, yuk?"
Joceline menoleh ke nakas. Lalu melihat Guntur kembali. "Udah malam, Tur. Lo balik aja."
"Santai. Gue udah bilang sama orang rumah mau jenguk lo. Anak orang yang gue ajakin ujan-ujanan diopname." Guntur terkekeh. "Kenapa sih lo? Takut banget ada gue, kayak ngelihat setan aja."
Ditegur seperti itu, Joceline tergagap. Muka cewek itu memerah dan pucatnya berangsur pudar.
Seketika Guntur ingat yang tertulis di buku, Joceline bilang detak jantungnya tidak stabil jika berada di dekat dia. Masalahnya, dengan kondisi Joceline yang rentan, tentu Guntur tidak ingin dia menjadi penyebab hal-hal yang tidak diinginkan pada Joceline.
"Sori, sori. Gue cuma bercanda. Rileks, rileks." Guntur menepuk pelan lengan Joceline, seolah menenangkan cewek itu. "Jadi ... lo nggak mau makan, nih?"
Joceline menggeleng samar.
"Minum, deh." Guntur mengambilkan air minum dan membantu Joceline untuk minum.
"Terus mau apa lagi?" tanyanya setelah Joceline kembali merebah.
Mata kecil Joceline menyipit, memandang Guntur dengan ganjil. "Kayaknya gue yang mesti tanya sama lo. Lo kenapa? Kok aneh," desisnya.
"Ye... Diajakin makan minum dibilang aneh," sahut Guntur. "Gue ajakin ngerampok aja, gimana?"
Seulas senyum di bibir Joceline mulai mengembang. Guntur kalau menyeletuk suka asal, tapi lucu.
***
"Dit... Adit..." Gesna menepuk badan Adit. Cowok itu mengemam sebagai balasan. "Udah tiga puluh menit," ujarnya.
Adit mengucek-kucek mata sambil menguap. Persis seperti balita yang baru bangun. Muka bangun tidurnya cukup polos. Gesna yakin andai saja Adit memakai setelan piama, pasti nggak ada yang percaya kalau cowok itu bergelar Kepala Suku.
Adit duduk sembari memutar badan ke kiri dan kanan sebagai perenggangan. Diraihnya kotak rokok yang ada di antara dia dan Gesna. Kosong. "Lho, kok rokoknya habis?"
Gesna menyengir tanpa dosa.
"Lo isap semua? Tadi ada sepuluh batang."
"Enggak," tolak Gesna. "Enak aja gitu ngelihat angin bisa bikin rokoknya kebakar sendiri."
Gesna mengangkat tangan kanannya. Menunjukkan bagaimana bara api bekerja membakar rokok lebih cepat dengan bantuan embusan angin. "Lihat, deh. Lucu, kan? Kenapa gue tiba-tiba jadi kepengin belajar IPA?"
"Pembakaran tidak sempurna. Pelajaran kimia kelas sepuluh," sela Adit sembari mengambil rokok yang tinggal setengah di tangan Gesna. Cowok itu mengisap sekali dan mengembuskan asap ke udara. "Senyawa yang dihasilkan salah satunya adalah karbon monoksida. Gas yang nggak berbau, nggak berasa dan nggak berwarna tapi sangat toksik."
"Selain itu, juga ada nikotin dan TAR. Nikotin bersifat simultan dan memengaruhi otak. Karena nikotin, kita bisa ngerasa dengan ngerokok kita bisa rileks, konsentrasi gitulah. TAR yang seram. Dia bisa lengket di dalam paru-paru. Itu yang bikin kanker dan kawan-kawannya."
Cowok itu pasti tidak sadar kalau Gesna sampai menganga mendengar penjelasan barusan. Adit bicara kimia? Wah, itu jauh di luar dugaannya.
Adit lalu bangkit, menginjak rokok sampai mati. "Yuk, cabs."
Motor Adit kembali berjalan di suhu yang terasa membekukan. Jalanan menuju Jakarta tidak pernah sepi.
"Dit," panggil Gesna. Dia merasa mengantuk karena diam dari tadi.
Adit menggumam sambil merenggangkan kaca helm agar dapat mendengar Gesna.
"Kalau lo udah tahu rokok itu bahaya. Kenapa lo masih ngerokok?"
Adit tersenyum. "Masih mending gue ngerokok dan tahu bahayanya. Lo gimana? Lo ngerokok dan nggak tahu kandungan yang ada di dalam rokok."
"Ih, lo demen amat ngebolak-balikin ucapan?"
"Biar cepat mateng," balas Adit tertawa. "Sate kali dibolak-balik biar cepat mateng."
Bayangan sepiring sate yang disiram bumbu dan ditaburi bawang goreng langsung melintas di kepala Gesna. Cewek itu mencubit pinggang Adit. "Lo bilang-bilang sate. Gue kan jadi laper, pengin sate. Nanti kalau ketemu tukang sate, berhenti ya, Dit."
__ADS_1
"Jangankan sate, abang-abangnya juga gue beliin."
Helm Adit langsung dipukul Gesna dari belakang. "Lo kelahiran tahun berapa, sih? Gombalan lo garing banget, tahu nggak lo?" desisnya terkekeh.
"Yang penting Adek ketawa, Abang udah senang."
"Najis!" Tangan Gesna menggetok helm Adit.
"Ges," panggil Adit sembari menoleh sedikit. Gesna memajukan kepalanya untuk mendengar ucapan Adit. "Helm gue ini helm bagus, jadi lo getok kayak gitu nggak bakal ngaruh."
Gesna mendengkus tidak terima. Kenapa sih dia mesti berurusan dengan helm Adit lagi? "Iya, iya. Helm lo, helm bagus. Lo doang yang jelek dan sesat."
Gesna menunjuk sebuah gerobak yang ada di pinggir jalan. "Eh, itu tukang sate. Berhenti, Dit."
Tanpa menggubris perintahnya, Adit tetap menjalankan motor. Gesna menepuk-nepuk pundak Adit. "Dit, berhenti. Satenya udah kelewatan."
"Biarin aja. Gue kan jelek dan sesat."
Tawa Gesna terlepas hingga keluar uap-uap dari mulutnya. "Idih, ambekan lo kayak bocah. Dit, gue lapar, pengin sate." Cewek itu mulai merengek. "Gue bilang Bang Gustav nanti lo nggak ngasih gue makan."
"Udah mukul, ngejek, ngancam pula. Cepat mati kayaknya orang di dekat lo, Ges."
Gesna kembali tertawa bersama motor yang menderu. Cewek itu memukul-mukul punggung Adit dari belakang. Begitu menemukan deretan gerobak lagi, dia menarik-narik jaket Adit, memaksa Adit untuk berhenti.
Kali ini terbalik, Gesna yang menyeret Adit untuk masuk ke warung tenda di pinggir jalan. Cewek itu bahkan berkacak pinggang. "Makanya gue ngajakin lo makan. Biar nggak cepat mati."
Gesna lalu berbicara dengan tukang sate. "Mang, satenya dua ya."
"Bumbunya jadi satu atau pisah?" tanya penjual sate.
"Satuin aja. Jangan dipisah, entar kangen lagi," tandas Adit.
Gesna menyengir. Tangannya refleks naik, hendak memukul Adit lagi. Namun, dengan cepat ditangkap Adit. "Gue bilang Bang Gustav nanti kalau lo gebukin gue melulu."
Gesna berdengkus. Fokusnya menuju penjual sate yang sibuk mengipasi daging.
"Lo tahu nggak, kenapa arangnya dikipasi?" Adit menyenggol lengan Gesna setelah meneguk teh manis hangat yang tersedia.
"Bukannya daging yang dikipasi?" Tatap Gesna bingung.
"Arangnya," timpal Adit sembari menunjuk bongkahan hitam yang sudah membara.
Gesna terlihat berpikir sedikit. Adit ternyata pintar. Dia nggak mau dong kasih jawaban yang nggak masuk logika. Memalukan diri sendiri namanya. "Biar cepat panas?"
Adit mengangguk. Gesna mengembus napas lega berarti jawaban dia tadi tepat.
"Padahal, kalau mau cepat panas ngapain ya dikipasi? Coba dikata-katain aja," gumam Adit kalem.
Tidak bisa memukul karena tangannya dipegang Adit, kaki Gesna menendang kaki Adit. "Garing lo."
"Buset, Jessica! Lapar galak, nggak kenyang beringas."
Mata Gesna melotot. Dia mulai melepaskan cengkeraman Adit di lengan. "Jangan panggil gue pakai nama itu!"
Adit memamerkan gigi. Sedikit banyak, dia jadi tahu tentang Gesna. Semua itu berlangsung dalam kurun waktu puluhan jam saja. "Kenapa lo dipanggil Jessica?"
Dua piring sate datang ke meja mereka. Gesna langsung mencomot miliknya tanpa permisi. "Itu nama depan gue."
"Nama depan?" Adit menarik piring satenya, menggigit satu tusuk. "Bukannya nama lo Gesna?"
"Ada Jessica-nya di depan, tapi cuma gue pakai di absen doang."
Adit mengangguk. Setiap murid wajib memakai bet nama dan yang pernah dilihatnya nama Gesna hanyalah Gesna Vinanda. "Jadi, nama lo Jessica Gesna Vinanda?"
Alis Gesna mengawang sedikit, pertanda mengiakan. "Tapi kalau di absen gue singkat J doang. J. Gesna Vinanda. Nggak banyak yang tahu kepanjangan J-nya itu apa."
Bibir Adit menyungging. "Kenapa nggak dipakai Jessica-nya? Bagus tahu."
"Nggak, ah. Nanti semua orang takut gue taburin sianida."
Adit terkekeh-kekeh sampai tersedak. "Gue awet muda deh kalau di dekat lo."
Tidak percaya oleh ucapan Adit, bibir Gesna mencibir.
"Tapi bisa mendadak serangan jantungan juga, apalagi kalau tangan lo gerak. Nggak keprediksi soalnya. Bisa tiba-tiba banting gelas, tiba-tiba banting vas, tiba-tiba mukul."
"Kan, udah gue duga. Lo nggak mungkin bakal muji gue." Gesna memukul lengan Adit. Cukup kuat hingga teh hangat yang sedang dipegang cowok itu tertumpah ke celananya.
"Ups! Sori, nggak sengaja," dalih Gesna menyengir.
Adit menepuk-nepuk celananya yang basah. Mata Gesna melirik dari ujung sudut mata. Tumpahkan minuman, done.
__ADS_1