Matahari Api

Matahari Api
Missing Something


__ADS_3


Ketika Adit memutuskan mundur, dia sudah mempertimbangkan masak-masak semuanya. Termasuk risiko yang akan dia pikul. Semua orang sudah tahu hubungan dia dengan Gesna, meski mereka tidak tahu bagaimana berakhir hubungan itu. Adit tidak peduli dibicarakan macam-macam. Dia sudah dilingkupi mitos-mitos miring sedari dulu. Selama ini, mereka juga hanya berani membicarakannya di belakang. Namun, Adit keberatan kalau Gesna dituduh macam-macam. Seperti tuduhan berselingkuh atau kado keperàwanan. Jenius-jenius sekali murid di sekolah ini. Entah apa dasar hipotesis mereka.


Benar kata Bara, dirinya ini orang yang sulit. Sulit untuk membuka hati. Sulit untuk jatuh cinta dan sulit untuk berpaling. Sebodoh ini memang. Dia juga tidak mengerti bagaimana dia bisa jatuh cinta tanpa terencana. Dia tidak pernah terpikir untuk jatuh cinta hingga dia tahu setiap rasa nyeri yang dia terima itu akibat perasaannya.


Kalau dia tidak jatuh cinta, dia tidak mungkin emosi melihat Gesna dirangkul cowok lain. Kalau dia tidak jatuh cinta, dia tidak mungkin keberatan Gesna mengabaikannya. Adit sadar dia jatuh terlalu dalam dari yang dia sangka. Tidak mengerti apa sebabnya, tidak ada dasar yang dapat dijadikan acuan jelas, semua mengalir saja tanpa Adit bisa cegah.


Padahal dia tahu, Gesna tidak membalas. Tetapi dia tetap menyelam lebih dalam, menyakiti diri sendiri, berkali-kali. Adit memutuskan mundur karena sadar, dia lupa untuk menyayangi diri sendiri. Bagaimana bisa menyayangi orang lain jika belum menyayangi diri sendiri?


"Hati kita itu cuma satu. Masa dibiarin sakit-sakitan terus?"


Itu kalimat yang Adit dengar dari pembicaraan orang lewat di koridor. Kalimat motivasi untuk Adit mengakhiri semua yang jelas-jelas tidak bisa digapai.


Seakan mengetes keteguhan hatinya, situasi-situasi yang ada kerap membenturkan Adit dengan hal-hal yang paling menghindarinya dan ingin dihindarinya. Iya, itu semua tentang Gesna.


"Adit, kamu kemarin bilang tetangganya Gesna, 'kan?" Bu Muslicha memanggil dia ketika melewati kantor guru. Wanita tersebut menarik lengannya agar menepi. "Saya lihat beberapa hari ini mata Gesna sembab. Dia kenapa? Apa penyakitnya kambuh? Kayaknya kalau lagi main basket dia baik-baik saja."


Adit terperanjat. Dia harus jawab apa? "Saya sudah jarang ketemu Gesna, Bu. Kan sekarang sibuk bimbel." Mulutnya berdecak pelan. "Mungkin Gesna sedih karena papa Guntur meninggal."


"Lho, karena papanya Guntur?" Bu Muslicha mengernyit tidak paham. "Mereka bersaudara?"


Pertanyaan menjebak. Lain kali, Adit akan berjalan memutar lebih jauh saja daripada melewati kantor guru. Dia menggeleng. "Enggak, Bu. Mereka dekat dari lama."


"Oh, pacaran?" Ibu itu tertawa sambil mengangguk-angguk seakan paham. Anggukan yang menombak ulu hati Adit. "Ya udah, makasih ya, Dit. Eh, rencana habis lulus kamu mau ke mana?"


Bibir Adit seketika meringis, matanya menatap Bu Muslicha nanar. "Belum tahu, Bu."


"Tentuin dari sekarang, Dit. Yang lain udah berusaha mengejar passing grade kampus tujuan, lho."


Pembicaraan dengan Bu Muslicha barusan semakin memperkeruh pikiran Adit. Di mata Ibu itu saja antara Guntur dan Gesna ada hubungan istimewa. Mengapa selama ini dia berusaha tidak melihatnya? Dan tentang masa depan, astaga, kelulusan tinggal hitungan bulan dan dia tidak memikirkan ini.


Adit kembali berjalan menuju belakang ketika tidak sengaja hampir bertabrakan dengan seseorang di tikungan. Muka orang itu terlihat terkejut. Matanya agak bengkak dan kemerahan di sekitar kelopak. Binar kesukaannya redup.


Adit segera mengembalikan pandangan ke depan. Biarlah. Gesna menangis karena kehilangan orang yang dianggapnya papa. Lagi pula dia bukan siapa-siapa lagi. Tidak ada kapasitas untuk menghibur cewek itu. Hatinya sendiri saja butuh dihibur.


Di lain pihak, Gesna yang kaget hampir bertabrakan dengan Adit menjadi diam. Melirik ke arah hilangnya Adit. Cowok itu seperti sengaja tidak melihat dia, melihat mukanya saja enggan. Seperti dahulu kala mereka menjadi dua orang asing yang malas bertegur sapa di basecamp, saling membuang muka saat tidak sengaja bertatap. 


Adit kembali sesombong Firaun. Padahal Gesna tahu, Adit tidak sombong, tidak juga cool. Dia cowok paling berisik di hidupnya. Resek, berisik, suka mengatur, suka tiba-tiba datang, sering spam chat, bawel. Tak sengaja, bibir Gesna berdecap, lidahnya terasa pahit.


Gesna paham konsekuensi putus dengan Adit. Gesna paham sekali. Tetapi mengapa rasanya semakin hampa? Seperti makin banyak yang hilang dari kesehariannya. Semenjak Papah pergi, semua seperti tanpa nyawa. Piza, nasi, bakso, siomay terasa tawar dan dia tidak nafsu makan. Mamah tidak lagi mengirimi ayam dan mengingatkan makan. Pelangi kerjanya di kamar saja. Guntur sering kali termenung. Gesna lupa kapan terakhir makan tiga kali dalam sehari. Belum lagi, saat ini, tidak ada yang bisa dipaksa-paksanya untuk menemani makan. 


Rumah terasa sunyi sekali, benar-benar benda mati. Semua terasa berbeda. Ada yang lenyap entah ke mana. Padahal semua tetap sama. Gesna mengucek mata. Semalaman dia gagal tidur di kamar Pelangi, sebab yang ada mereka malah membahas kerinduan terhadap Papah dan berakhir dengan menangis berjamaah. Menangisi sesuatu yang tidak mungkin kembali, pergi dengan begitu cepat tanpa sempat bersiap.


Adit pernah bilang, everyone has their own battle. Gesna tidak tahu mengapa bisa teringat kata-kata tersebut. Mungkin dia terkesan. Benar juga, akhirnya dia membuktikan kalau setiap orang memang memiliki medan pertempurannya sendiri. Buktinya, keluarga Guntur yang dia anggap sebagai sesuatu yang sempurna, sekarang retak dengan luka yang menganga karena ditinggal Papah.


Gesna sadar dia bukan penghibur yang baik. Selama seminggu berusaha menemani Pelangi, bukannya menenangkan dia malah sering ikut menangis. Untuk itu, hari ini, Gesna bertekad tidak mau menginap di rumah Guntur dahulu. Semoga Pelangi bisa kuat, meski tanpa kedatangannya. Hari ini, dia akan latihan sekeras mungkin lantas pulang untuk tidur. 


Kepala Gesna tertunduk, kembali berjalan dengan sudut mata yang kembali perih. Toilet menjadi tujuan persinggahannya. 


"Eh, lo tahu nggak kalau Lambe School suspended?" Sebuah suara terdengar ketika Gesna ada di balik bilik. Dia mengusap tangis yang tadi meluber sambil menajamkan pendengaran.

__ADS_1


Seseorang lagi seperti memekik. "Serius lo?" Tak lama suasana kembali berisik. "Ih, beneran. Hilang itu akun. Gila sih mereka, udah diingatin sama Kepala Suku juga, masih aja. Sampai disuruh baca DM, dong."


"Lo baca juga yang bagian itu?"


"Bacalah. Gila aja kalau gue kelewatan tentang itu." Orang kedua itu tertawa. "Isi DM-nya apa, ya? Mungkin gini, 'Gue tunggu dalam waktu 1x24 jam atau akun lo bakal gue bikin suspend'."


Mereka berdua tertawa-tawa, membuat Gesna meringis. Apa iya Adit yang membekukan akun itu? "Enak kali ya, jadi teman dekatnya Kepala Suku? Untuk jadi Gesna, kayaknya enggak mungkin. Tapi mungkin nggak sih bisa jadi sahabat kayak Bara atau Miko?"


"Mimpi lo. Dia mana punya sahabat cewek. Lagian memang ada persahabatan cewek sama cowok yang murni? Gue enggak yakin. Pasti salah satunya ada yang suka."


"Kayak Guntur-Gesna maksud lo? Gesna kelihatannya suka sama Guntur."


Gesna memejamkan mata. Kenapa orang-orang ini bercerita tanpa melihat sekeliling? Apa tidak menyadari ada bilik yang terisi orang?


"Eh, lo tahu nggak kabar terbaru?" Bisik-bisik terdengar lagi. "Kabarnya waktu bokap Guntur meninggal, Guntur peluk Gesna di depan semua orang. Semua orang, termasuk Joceline."


"Sumpah lo?"


"Kayaknya Guntur deh yang suka sama Gesna," sahut suara itu antusias. "Terus, terus ... kabarnya Joceline sampai pingsan, dan Kepala Suku langsung cabut dari tempat. Gila, ya. Cinta segi empat." Suara itu berdecak-decak tidak percaya, Gesna sudah akan membuka pintu tetapi dia kembali mendengar tambahan suara.


"Tapi menurut gue, Gesna udah putus, deh. Gue tadi lihat mereka berdua papasan, sama-sama buang muka." Orang ketiga itu dipastikan menyaksikan bagaimana canggungnya dia dan Adit, tadi. Gesna mengembus napas pilu. "Terus waktu di live IG TTB kemarin, Bara kan bilang tentang move on-move on gitu sambil ngelirik Kepala Suku."


"Update banget sih lo." Mereka tertawa. "Guntur juga kayaknya putus sama Joceline, ya? Jarang kelihatan berdua lagi."


"Jocelinenya kan kabarnya dirawat di rumah sakit?" Gerombolan itu riuh lagi. Terdengar bukan hanya dua orang saja, ada lebih dari tiga orang di sana.


"Hus, hus. Udah. Hati-hati, entar kalau sampai ke kuping Kepala Suku bisa gawat. Disuruh langsung ngomong ke depan dia di kantin biru. Mau lo?"


Gesna memutar mata. Joceline itu lemah sekali, ya? Bagaimana bisa Guntur menyusahkan diri sendiri? Sudahlah sedang berduka, eh punya pacar sakit-sakitan pula. Itu membuat Guntur hari ini izin latihan karena diminta ke rumah sakit oleh papa Joceline. Cewek itu terlalu berlebihan sekali merepotkannya.


Dia segera mengganti seragam dengan kaus latihan. Latihan memang masih ada dua jam lagi, tetapi lebih enak beraktivitas memakai celana. Basecamp sudah tidak menjadi tempat nyaman menunggu jadwal latihan, sehingga Gesna memilih duduk di kantin Pespel sambil memasang earbuds.


Sekarang, Gesna sudah memiliki second account untuk memata-matai semua. Sayang, entah mengapa, akun Lambe School malah hilang. Padahal Gesna belum membaca balasan-balasan yang ada. Apa benar di-suspend seperti gosip-gosip para perempuan itu?


Dia membuka beranda Instagram cadangannya. Keingintahuan Gesna karena kabar tadi membuatnya membuka akun The Tahan Banting, menonton folder live IG yang tersimpan di bagian IGTV. The Tahan Banting live duet dengan Instagram stasiun radio anak muda, Best FM. Mereka seperti sedang ada di panggung mini. Mata Gesna mengamati band itu. Ada banyak pemain tambahan, bukan cuma Adit, Miko dan Bara. Ada kibordis, ada gitaris tambahan juga pemain biola, seorang cewek memakai gaun putih dengan mahkota rangkaian bunga-bunga, berdirinya di dekat Adit.


Unggahan terbaru mereka lima hari yang lalu dengan jumlah penonton sekitar dua ribu lima ratus. Adit tambak bahagia. Senyum cowok itu sangat lebar di sana.


"Halo, kami dari The Tahan Banting. Senang banget bisa memenuhi undangan Best FM untuk acara Indiebest." Cowok itu tersenyum kembali saat beberapa orang bertepuk tangan. "Lagu pertama, lagu penyesalan sejuta umat. The Scientist."


"Come up to meet you. Tell you I'm sorry. You don't know how lovely you are. I had to find you. Tell you I need you. Tell you I set you apart."


Apa Adit ingat kalau dia sangat menyukai Coldplay? Tenggorokan Gesna mendadak seret dan dia mengambil sebotol teh. Bibirnya ikut bernyanyi pelan. "Nobody said it was easy. Oh it's such a shame for us to part. Nobody said it was easy. No one ever said it would be so hard. I'm going back to the start."


Sampai saat ini, tidak ada yang tahu mereka telah berpisah selain anak basecamp. Yang dibicarakan di toilet hanya asumsi. Seandainya Lambe School masih ada, pasti gaya cuek Adit tadi akan jadi berita hangat. Tapi ... apa Adit akan diam saja dibicarakan seperti itu?


"Sesuai tema Indiebest kali ini, Broken Heart. Jadi kami akan membawakan beberapa lagu yang mengiris-iris hati." Adit tersenyum pelan dan datar. "Lagu kedua ini adalah lagu patah hati people +62. Dari miliknya Dewa - Pupus."


Gitar Adit berdenting dan cowok itu mulai membuka suara kembali. "Aku tak mengerti apa yang kurasa, rindu yang tak pernah begitu hebatnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kautahu, meski kau takkan pernah tahu."


Dalam diam, Gesna terus mendengar lagu yang juga sering dinyanyikan di kantin. Anak-anak di sini sering menyanyikan lagu-lagu lama yang kadang tidak pernah diketahuinya. 

__ADS_1


"Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Kau buat remuk seluruh hatiku."


Penonton yang ada mulai menggerakan tangan di udara. Ikut bernyanyi bersama Adit. Kenapa kali ini, lagu Pupus terdengar begitu sedih? Biasanya biasa saja. Adit terus bernyanyi bahkan tanpa Gesna sadari band itu berpindah lagu tanpa berhenti. Gesekan biola yang membuat beda lagu tadi dengan lagu yang lain.


"Tatap matamu bagai busur panah, yang kaulepaskan ke jantung hatiku. Meski kau simpan cintamu masih tetap napasmu wangi hiasi suasana. Saat kukecup manis bibirmu." Lagi-lagi semua yang di sana terlihat ikut bernyanyi.  "Cintaku tak harus, miliki dirimu meski perih mengiris, iris segala janji."


Bara yang ada di samping kanan Adit, ikut menjadi vokalis kedua. Kadang menimpali vokal Adit. Acara itu sendiri seperti bertema garage party bertempat di salah satu halaman berumput. Tidak banyak hiasan dan lampu. Kantornya Best FM, mungkin.


"Roman Picisan, masih miliknya Dewa. Selamat malam kaum-kaum patah hati," ujar Adit ketika menyelesaikan lagu kedua dan ketiga secara medley. Sekitar terlihat temaram, hanya lampu sorot yang menembak dari berbagai arah menuju panggung. "Lagu terakhir. Ini lagu galau terbaik menurut gue. Di mana kalau lo dengar lagu ini, lo bakal tahu dunia enggak akan berakhir hanya karena lo lagi patah hati."


Bara tergelak lepas sambil membetot bas tiba-tiba agar menimbulkan efek kejut. "Untung lo udah move on, ya, Dit?"


Adit melirik ke arah Bara saat yang lain bersorak. Cowok itu meneruskan kalimatnya. "Mungkin nggak banyak yang tahu dengan nama band ini. Sebagai informasi, itu adalah band sampingan Eross Candra, gitarisnya Sheila On 7. Alright, Jagostu - Mau Tak Mau."


Oh, ternyata ini yang dibicarakan perempuan-perempuan tadi. Gesna memusatkan perhatian kepada Adit. Jadi ... Adit sudah move on? Secara tidak langsung, Adit memberi tahu kalau antara mereka sudah tidak ada hubungan lagi, bukan?


"Apa yang harus aku lakukan. Jika ia memilih untuk tak tinggal dan semua terus berjalan. Getirnya harus tetap kutelan dan aku sakit tetap harus tetap bertahan. Karena semua terus berjalan."


Tepuk tangan terdengar meriah kembali.


"Mau tak mau kuharus melanjutkan yang tersisa meski semua telah berbeda dan tak pernah ada yang sama." Di situ, Gesna melihat Adit memejamkan mata seperti sedang meresapi lagu.


"Aku bisa memeluknya tetapi tidak hatinya. Oh, menyakitkan. Semua telah dengar, segenap hatiku merindunya, tapi hatinya telah pergi dan telah lama mati."


Gesna tertegun mendengar lagu yang tidak pernah didengar ini. Apa karena itu, Adit tidak lagi menatap wajahnya? Adit benar-benar sudah move on? Benar-benar move on?


"Mau tak mau kuharus melanjutkan yang tersisa meski semua telah berbeda dan tak pernah ada yang sama. Semoga angin berembus membawakan mimpi baru, meski kutahu takkan pernah ada yang sanggup mengganti keindahannya."


Gesna menggaruk belakang telinga. Tak lama dia mengaduh, kulit itu perih karena sering digaruk. Dia meraih bungkusan obat dan memasang plester luka di daun telinga. Padahal Adit sudah pernah mengingatkannya agar jangan terlalu sering menggaruk belakang telinga dan kepala.


Ah, Adit lagi. Nama itu menyalakan sengatan sakit yang Gesna tidak tahu mengapa bisa datang. Dia tidak tahu mengapa diabaikan terasa mengesalkan. Dia tidak tahu bagaimana menolak hal yang datang tanpa diundang. Dia tidak tahu bagaimana mengenyahkan ingatan tentang Adit yang belakangan makin sering melintas tanpa permisi. Dan dia tidak tahu mengapa mendengar Adit sudah move on terasa seperti tenggelam.


Senyum cowok itu terpulas lagi, tapi rasanya malah ada yang terimpit dan nyeri. Adit sudah lupa tentang dia dan bahagia. Gesna merutuki hatinya yang diam-diam berharap semua bisa kembali baik dan menyenangkan. Bukan seperti sekarang yang asing dan usang.


Untuk ke sekian kali, di hari ini, Gesna berlari ke toilet, hanya karena ingin menangis.


🌺🌺🌺


Kesimpulannya mudah:


Gesna pikir, Guntur suka Joceline


Joceline pikir, Guntur suka Gesna


Adit pikir, Gesna suka Guntur


Guntur pikir, Gesna suka Adit


Begitulah segi empat terjadi. 💟


__ADS_1


__ADS_2