
Adit masih tersenyum. Dia tidak keberatan dibilang besar rasa atau memiliki kepercayaan diri setinggi angkasa. Satu fakta membahagiakan datang langsung ke hadapan, kali ini. Fakta kalau Gesna menonton akustikan mereka di Instagram Miko.
Saat itu, mereka siaran langsung dari dua akun sekaligus. Akun Miko dan akun The Tahan Banting dengan memakai ponsel Miko dan ponsel dia. Setahu Adit, Gesna tidak mengikuti akun pribadinya juga akun band mereka sehingga dapat dipastikan kalau Gesna melihat dari Instagram Miko.
Komentar-komentar yang ada, baru dibaca Adit setelah selesai siaran langsung. Seperti kata Gesna tadi, dia memang banyak menemukan komentar seperti 'Rahim adek berkedut, Bang', 'Rahim adek hangat, Bang', 'Buahi aku, Bang', dan sejenis.
Jujur, dia sendiri tidak suka membaca komentar seperti itu. Cowok juga bisa risi. Para perempuan zaman sekarang memang aneh, tidak suka dilecehkan, tetapi tidak sadar kalau komentarnya melecehkan lelaki.
"Aku juga baru baca komentarnya waktu udah selesai live. Siapa juga yang kegeeran? Kan cuma tanya," jelas Adit masih tersimpul. "Sekarang, kamu makan, ya? Biar bisa istirahat."
"Kenapa memangnya kalau gue istirahat? Lo mau live IG lagi?" Cewek itu masih menyerang Adit dengan pembahasan yang sama.
"Kenapa sih dengan live IG? Kok kayaknya salah banget?"
"Ya, karena lo sok ganteng." Gesna melirik dengan pandangan tidak suka. Sorot mata cewek itu seolah muak akan kehadirannya.
Adit bergeleng sambil berusaha sabarkan hati. Piring tadi diambil kembali. "Makan, yuk. Udah mau setengah tiga."
"Nggak nafsu, lagi nggak kepengin makan ayam," tolak Gesna lagi.
"Jadi ... mau makan apa?" Adit lalu menaruh piring di meja. Memperhatikan wajah pacarnya yang meringis menahan sakit. "Apa yang sakit, Non?"
"Kuping! Kuping gue sakit dengar lo ngomong terus," sembur Gesna. Adit ini banyak tanya, bikin kesal. Stok mengesalkannya banyak sekali. Dulu belinya grosir atau gimana, sih?
Merasa Gesna tidak menginginkan perhatiannya, Adit memilih duduk di karpet. Dia bersandar di sofa yang diduduki Gesna sambil memangku gitar Gustav. Memetik pelan senar untuk mengisi keheningan antar mereka.
Ada sekitar sepuluh menit mereka tidak berbicara, sampai Gesna memanggilnya.
"Dit."
Adit menoleh, menjeda petikan di gitar.
"Gue pengin Cha-cha."
"Cha-cha?" ulang Adit heran. Dari semua jenis makanan yang ada, kenapa Gesna kepengin makan cokelat butiran kecil-kecil?
"Iya, Cha-cha yang bungkus kuning." Mata cewek itu berubah menjadi mata anak kucing yang tidak berdaya.
"Yang benar aja? Kamu belum makan nasi." Adit menggeleng, tidak mengabulkan permintaan. Gesna harus mengisi perut dengan nasi atau karbohidrat supaya bisa beristirahat dengan nyaman.
"Nanti makan. Sekarang, penginnya Cha-cha." Gesna mulai terdengar merengek. Hal yang jarang dilakukan cewek itu kepadanya. Gesna pernah sekali merengek, itu pun waktu meminta dibelikan sate ketika pulang dari Bandung.
Anggaplah hati Adit hanyalah kapas yang langsung memberat kala ditetesi air. Rengekan Gesna membuat Adit bangkit dan mengangguk. "Ya, udah. Tapi benar habis itu makan, ya?"
Gesna mengangguk dengan muka menggemaskan. Membuat Adit tidak berpikir panjang lagi, langsung menaruh gitar dan melaju pergi untuk membelikan pesanan.
Sepeninggal Adit, Gesna menghubungi Guntur. "Gun," panggil Gesna manja sambil mengaduh. "Gue kecelakaan."
Guntur terdengar berseru kaget. "Hah? Kecelakaan di mana? Lo di mana?"
"Di rumah." Gesna lalu menceritakan bagaimana dia tiba-tiba jatuh tanpa ada penyebab apa pun. Semua ceritanya hanya ditertawakan Guntur. "Ketawa aja sih lo? Dengkul gue sakit, nih! Berdarah."
"Waduh, gegar otak tuh, Ge." Cowok itu masih terkekeh berdengkih. "Otak lo kan di dengkul."
"Woy, badak! Memang teman biadab lo ini," caci Gesna tidak terima. "Jengukin gue. Bawa buah-buahan sama makanan yang banyak!"
"Gue malah curiga lo nggak kenapa-kenapa. Sakit apaan masih bisa menghujat orang sama minta makanan?"
Gesna mencibir dan berusaha membujuk. "Ih, nggak setia kawin."
__ADS_1
"Setia kawan," ralat Guntur dan mereka tertawa. "Gue lagi di rumah sakit, Ge."
Kali ini, Gesna yang balik cemas. "Kenapa lo?"
"Gue nggak apa-apa." Guntur lalu bercerita tentang Joceline. Bagaimana sakit yang diderita cewek itu mengharuskannya konsultasi sesering mungkin. "Gue lagi temanin Ling-ling."
Mata Gesna melirik dengkul. Luka dia ini pasti tidak ada apa-apa dibanding sakit yang dimiliki Joceline. "Nggak sangka gue. Anak kayak kita ada yang sakit jantung, ya, Gun?"
"Sama. Gue dulu pikir itu cuma penyakit orang tua." Guntur yang katanya sedang berada di luar ruang periksa, terdengar mengembus pelan. "Nggak tega lihatnya, Ge. Apalagi kalau muka Ling-ling udah nahan sakit gitu. Ambyar pokoknya."
Dalam diam, Gesna menggigit ujung bibir. Ada ketidakterimaan bagaimana Guntur memperhatikan Joceline. "Jadi, karena itu lo jadian sama Joceline?" tanya sambil menggenggam ujung seragam. Katakanlah saat ini Gesna memberanikan diri, sebab mereka sudah kembali seperti dahulu, bisa bebas bercerita dan memaki tanpa batasan.
"Gue juga nggak tahu," desis Guntur terdengar lemah.
Mendengar itu, Gesna hanya bisa sandarkan kepala ke sofa. Dengan penyakitnya, Joceline bisa mendapatkan atensi Guntur dengan mudah. Padahal banyak cewek yang mendekati cowok itu dan tidak ditanggapi. Mau menuduh, tapi Gesna sadar saat ini Joceline sedang sakit.
Dia diam sambil memperhatikan jam. Sudah sepuluh menit, kenapa Adit lama? Miniswalayan kan dekat dengan rumahnya.
"Ya udahlah, lo jangan lupa jaga kesehatan. Jagain orang sakit kadang bikin yang jaga malah sakit, Gun."
Guntur mengiakan nasehat Gesna dan mereka mengakhiri panggilan. Ponsel Gesna taruh di samping. Dia berusaha untuk membuka sepatu dan kaos kaki. Lantas meringis kembali, lutut ini kenapa manja sekali?
Adit masuk dari pintu rumah yang terbuka sedikit. Cowok itu memberi dua bungkus Cha-cha, sedangkan sisanya dimasukkan ke kulkas.
"Lama amat, sih?" keluh Gesna sambil membuka kemasan. Entah mengapa plastik Cha-cha menjadi susah disobek.
Pertanyaan Gesna tidak dijawab Adit. Tidak mungkin kalau dia bilang sedari tadi sudah di balik pintu, 'kan? Dia memilih menyibukkan diri menyusun Cha-cha di kulkas lalu mengambil Cha-cha di tangan Gesna untuk menyobek kemasan. "Ingat, ya. Habis Cha-cha-nya, kamu harus makan."
"Bawel!"
Tangan Gesna mulai menyuapkan butiran cokelat kesukaan. Memang yang namanya makanan gratis itu nikmat. Meskipun punya uang untuk membeli, kalau dibelikan orang rasanya beda. Dia tadi lihat Adit membeli banyak Cha-cha. Jatah Cha-cha-nya aman nih untuk seminggu. Dia menyembunyikan senyum sambil terus mengunyah.
Kalau dipikir-pikir, Adit ini loyal juga. Kan ada tuh orang kaya yang pelit, tapi Adit nggak pelit. Gesna mulai mengabsen. Waktu ke Bandung, semuanya ditanggung Adit. Makan, beli baju, sampai transportasi. Beberapa kali pesan antar juga semuanya dibayar Adit.
Gesna lalu ingat, Adit pernah bicara tentang pawang. Apa jangan-jangan dia sudah bisa memawangi Adit? Ular kali, ah. Dia terbatuk saking gelinya.
Sebuah gelas berisi air minum diulurkan Adit ke depan Gesna, tanpa menoleh. Cowok itu masih duduk di karpet tanpa suara sambil bermain ponsel.
Pasti lagi baca-baca komentar alay, tuduh Gesna dalam hati. Cewek kegatalan harusnya jangan dikasih panggung, makin sok spesial nanti.
Gesna berusaha mengintip sedikit. Benar saja, Adit membuka Instagram. Dengan segera, Gesna membuang pandangan. Memang benar, yang namanya cowok itu tetap saja suka dipuja-puja. Gaya aja sok cool padahal mau tahu juga. Yang cewek kegatalan, yang cowok sok ganteng. Cocok, sih. Jodoh mungkin.
Tangan Gesna meraup semua isi, mengunyah Cha-cha dengan rakus, menyalurkan pikiran yang menggebu-gebu. Dia pengin mencabik-cabik orang dengan taringnya.
Tindakan Gesna membuat Adit menoleh. Suara mengunyah cewek itu terdengar seperti mesin giling padi. "Lapar? Pakai nasi, Non."
Gesna berdengkus sambil membuang bungkus kosong Cha-cha ke samping sofa dan menaruh kepala di bantalan sofa. "Dit, bukain sepatu gue. Gue nggak bisa buka."
Cowok itu mengangguk dan melepas sepatu juga kaos kaki Gesna. "Kamu memang belum lapar?"
Gesna menggeleng, memperhatikan bagaimana Adit membuka sepatunya sambil menyelipkan kaos kaki di dalam sepatu. Cowok itu juga mengambil bungkus Cha-cha yang Gesna buang.
"Aku lapar, Non." Adit mengatupkan bibir, memasang muka persis seperti anak bayi.
"Terus?" Gesna menaikkan alis. Kenapa mengadu kepadanya? Memangnya dia ibu Adit? "Kalau lapar, ya makan. Masa mesti gue suapin?"
Kepala Adit mengangguk. "Boleh banget kalau kamu mau suapin aku."
Bibir Gesna terbuka asal, merasa salah berbicara. "Idih, idih. Yang sakit itu gue. Harusnya gue yang disuapin. Kenapa juga jadi lo yang minta suap?"
"Ya, udah. Kita suap-suapan," tambah Adit menyengir.
__ADS_1
"Ini nih yang namanya mimpi di siang bolong," ejek Gesna mengalihkan pandangan. Udara terasa panas, mukanya juga terasa panas.
Namun, ternyata Adit tidak main-main. Cowok itu menyendokkan nasi ayam ke depan muka. "Janjinya habis Cha-cha mau makan. Janji adalah janji. Sekarang, makan."
Gesna merengut, menggaruk telinga dan belakang kepala dengan asal setelah menerima suapan. Tangannya dipegang Adit. "Bisa luka nanti kuping sama leher kamu kalau digarukin terus," ujar Adit.
"Sipir galak!" desis Gesna sambil berusaha mengunyah.
"Enggak apa-apa, asal sipirnya hati kamu."
Tangan Gesna mengayun ke bahu Adit. Bisa-bisanya bercanda meski dijutekin sedari tadi. "Cheesy!"
Adit berselang-seling menyendokkan nasi ke dirinya sendiri lalu menyuapkan Gesna. "Kita udah kayak lagu dangdut, ya? Sepiring berdua."
Gesna terbatuk sambil memukul kembali Adit yang sedang terkekeh. "Alay!"
"Waktu kemarin kamu ketiduran dari Bandung, kan aku yang angkat kamu ke kamar. Abang bantu bukain pintu. Terus aku lihat di dinding kamar kamu ada gambar-gambar. Itu kamu yang bikin?"
Gesna menoleh, berhenti mengunyah. "Iya, tapi belum selesai."
"Kenapa belum selesai?" tanya Adit sembari menghitung berapa suapan yang berhasil masuk ke mulut Gesna.
"Belum ada ide tambahan. Gue tuh pengin bikin yang full colour gitu, tapi galau. Entar keramaian lagi kayak pasar pagi."
Adit tersenyum. Benar dugaaannya, Gesna akan antusias kalau membahas apa yang cewek itu suka. "Buat aja, nanti kalau dirasa keramaian tinggal ditimpa cat ulang."
"Siapa yang mau ngecat ulang? Gue sih malas."
"Aku." Adit mengangguk meyakinkan begitu melihat bola mata Gesna yang langsung bersinar. "Beneran."
Mata Gesna memandang langit-langit, seolah berpikir. "Entarlah, kaki gue aja masih begini," putusnya.
Piring yang sudah kosong dikembalikan Adit ke dapur. Gesna membuka ponsel untuk mengurangi bosan.
"Non, seminggu ini makan malam sama Abang atau sendiri dulu, nggak apa-apa?" tanya cowok yang sudah duduk di dekat kakinya. Adit kembali menjelaskan sebelum Gesna bertanya. "Bara sama Miko ngajakin ikut festival musik yang dibikin sekolah. Kan acaranya minggu depan? Jadi, mau latihan setiap sore."
Gesna tahu dari lama kalau sekolah memang akan ada festival. Percuma punya orang-orang dekat anak OSIS kalau berita itu dia tidak tahu. "Mau live IG setiap sore?" tanyanya santai sambil melipat tangan di dada.
"Latihan."
"Oh, live IG." Kepala Gesna naik turun seolah tebakannya benar.
"Non, serius. Ada apa sebenarnya dengan live IG? Aku nggak paham. Aku nggak ada mau sok ganteng atau apa. Kami live IG dalam rangka menghimpun massa."
"Menghimpun massa? Memangnya lo ketua BEM?" Gesna berdengkus sambil melempar asal ponsel di sofa. Dia tahu istilah itu dari Gustav yang merupakan pengurus BEM di kampus. Namun, tetap saja istilah itu tidak tepat untuk kegiatan tebar pesona Adit.
Dia mendengar Adit berdesah. "Kami memang mau latihan, nggak ada mau live IG. Kamu nggak capek marah-marah terus, Non? Cepat tua nanti."
"Siapa yang marah? Gue lagi tidur. Nih, lo lihat gue lagi rebahan."
Adite terkekeh. Sudut yang membingkai di wajah Adit itu tidak ada cool-cool-nya sama sekali. Bodoh sekali para cewek di kelas Ester.
"Tadi kata lo, janji adalah janji. Lo kan udah menyanggupi temenin gue makan setiap hari."
"Ya, makanya aku kasih tahu."
"Enggak bisa gitu, dong. Janji adalah janji," sanggah Gesna. Niatnya ingin memutarbalikan ucapan Adit.
"Atau gini, deh. Aku usahain. Kalau nggak bisa nanti aku kabarin?" tawar Adit.
"Nggak mau," tolak Gesna, meniadakan tawar menawar untuk hal itu. Memangnya Adit saja yang bisa memaksa? Dia juga bisa. Rasakan, Adit! Rasakan. Makanya jangan sok ganteng.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Mereka sepiring berdua karena covid nggak masuk ke sini ya. 😜