Matahari Api

Matahari Api
Percakapan Tangga


__ADS_3


"Jadi ... si Adji suka sama Naraya?" tanya Adit ketika mereka berdua meninggalkan kantin kelas dua belas.


Gesna menoleh kaget. "Cepat amat tahunya."


"Kelihatan dari gestur Adji waktu kamu sebut nama Naraya," tutur Adit mengantongi kedua tangan di kantong. Mereka berjalan melewati lorong yang menjembatani antar kantin di belakang bangunan sekolah.


"Tapi sayang, ditolak," ujar Gesna sambil memperhatikan lapangan basket sekilas. Mata itu seperti mencari-cari sesuatu.


"Kenapa ditolak?" Adit yang menyadari gerak Gesna langsung menatapnya.


Gesna langsung membuang pandangan dari lapangan basket dan mengedikkan bahu acuh tak acuh. "Ya, berarti Nay nggak suka sama dia. Cewek nolak cowok kan pasti karena nggak suka," balasnya sambil mempercepat langkah. Lorong sudah mulai sepi, bel masuk sudah berbunyi dari tadi.


Adit mengangguk, menyejajari Gesna dengan satu gerakan. Mereka berbelok untuk naik ke undakan tangga yang ada di kiri dan kanan gedung. Gesna memilih tangga sebelah kiri yang jarang dilewati murid karena jaraknya jauh dari kantin.


"Nggak sangka orang kayak Adji, ada yang nolak juga," gumam Adit terkekeh. "Berarti kamu terima aku karena suka sama aku, dong?"


Cewek itu melengos dan berbisik, "Jangan bahas gituan di sini. Entar didengar orang." Gesna lantas melanjutkan berbicara. "Kalau tentang Kak Adji, tadi sih udah gue bilang. Apa salahnya buka hati sama cewek lain? Asal jangan si Nenek Lampir. Enek gue lihat cewek gatal."


"Bukan hak kamu ngatur dia pacaran sama siapa, Non."


Kaki Gesna berhenti di anak tangga kedua dan dia melirik Adit dengan sudut mata garang. "Pacar orang-orang dekat gue berarti jadi teman gue juga. Masalahnya gue sih ogah berteman sama cewek kayak gitu. Udah, deh. Kenapa jadi ngomongin mereka, sih?"


"Soalnya aku sempat baca kabar tentang mereka juga di BOS. Kamu kan teman Naraya, pasti lebih tahu."


BOS yang dimaksud Adit adalah Buletin Online Sekolah, ekskul jurnalistik yang makin tenar semenjak memuat berita tentang calon-calon ketua OSIS, bulan lalu.


"Jadi, lo kepo gitu?" Kali ini, Gesna meliriknya dengan pandangan mengejek. "Suka konsumsi gosip juga, ternyata."


"Enggak, cuma mau dengar dari sisi lain orang terdekat aja. Yang namanya berita itu perlu klarifikasi."


"Bakat mau tahu lo tinggi banget kayaknya," cela Gesna dengan pandangan tidak suka.


Mereka sudah sampai di ujung lantai dua, di belakang Adit ada tangga selanjutnya yang mengarah ke lantai tiga, tempat di mana kelas dua belas berada. Namun, Adit memilih mengikuti langkah Gesna menuju kelas sebelas.


"Lo ngapa ikutin gue terus, sih? Lo nggak naik?"


"Mau antar kamu dulu sampai kelas," ujar Adit mengabaikan keterkejutan di muka Gesna.


"Enggak," tolak Gesna tegas. "Naik sana. Lo jangan kayak tadi lagi. Jangan nongol tiba-tiba di kelas gue. Gue nggak suka bikin sensasi di sekolah dan jadi obyek gosip reporter BOS."


Gesna langsung meninggalkannya, mengejar seseorang yang berjalan membelakangi mereka. Menepuk punggung Riko dengan kencang kemudian terkekeh melihat keterkejutan cowok itu. Riko sempat mendorong pelan kepala Gesna sebagai reaksi balasan, tetapi sehabis itu lengan Riko merangkul bahu Gesna dengan akrab.


Adit menonton pemandangan itu dengan bimbang. Permintaan yang dia setujui tadi siang sekelebat langsung disesali. Harusnya dia bersikeras saja agar semua orang tahu status mereka.


Bukankah status itu penting? Orang yang bilang status tidak penting adalah orang yang memanipulasi diri. Teman tentu berbeda dengan pacar. Berteman dengan berpacaran jelas berbeda dari segi mana pun.


Tadi, Gesna bilang alasan cewek menolak cowok karena tidak suka. Lantas kalau Gesna menerima dia, apakah berarti cewek itu juga suka kepadanya? Tetapi mengapa Gesna tidak memperbolehkan orang tahu hubungan mereka?


Punggung Gesna yang semakin hilang tanpa menoleh lagi membuat Adit mengambil kesimpulan. Gesna tidak mengakui dia bisa jadi karena cewek itu belum suka kepadanya.


Ada kemungkinan lain yang lewat di kepala. Gesna tadi bilang kalau pacar teman-temannya adalah teman dia juga. Apakah itu juga berarti Gesna belum mau mengenalkan Adit kepada teman-teman cewek itu karena teman-teman Gesna tidak menyukainya? Seperti Gesna tidak suka kepada Fiska?


Apakah teman-teman Gesna tidak suka kepadanya disebabkan rumor tentang Kepala Suku? Adit masih ingat serangan pertanyaan Naraya kepadanya mengenai Gesna. Jika Naraya bukan sepupu, bisa saja hingga saat ini, cewek itu masih tidak suka kepada Adit. Itu baru Naraya, belum Guntur, Riko, Ilham, Adrian, Adji dan nama-nama lain lagi yang bisa memengaruhi Gesna.


Adit melangkah naik ke lantai tiga dengan perasaan berkecamuk. Apa pun alasannya, dia tetap tidak suka seperti ini. Dengan mengetahui status, minimal sahabat-sahabat cowok Gesna bisa menjaga sikap bila bersama Gesna. Tidak boleh asal rangkul seperti itu. Gesna itu pacarnya.


Sejak kecil, Adit tidak pernah sudi membagi kepunyaannya kepada orang lain. Miliknya adalah miliknya. Mama adalah miliknya. Aunty Sabrina juga miliknya. Dua orang wanita kesayangan itu pergi tanpa bisa dia cegah. Kali ini, Adit tidak akan membiarkan miliknya diambil orang, hanya karena Gesna tidak mengakui diri kalau cewek itu adalah pacar Adit.


Ketetapan hati itu menggiring Adit berdiri di pojok tangga saat bubar sekolah. Dia sengaja menunggu Gesna yang berjalan tanpa sadar ke arahnya.


Langkah Gesna terhenti. Dia lalu melambatkan langkah. Di ujung anak tangga, sudah ada Adit yang berjalan turun. Gesna yakin Adit melihatnya, akan sangat aneh jika Gesna langsung berbalik pergi.


Dia memutar kepala kiri dan kanan. Murid-murid kelas sebelas masih penuh di depan koridor kelas. Ekor matanya melirik keberadaan Adit. Cowok itu seperti menunggu sesuatu.

__ADS_1


Gesna melewati Adit dengan santai, menekan rasa waswas yang sebenarnya datang.


"Siang ini mau makan apa?" Adit mendekatinya dan ikut menuruni tangga.


Gesna pura-pura tuli. Apa Adit lupa kalau dia tidak ingin orang lain curiga? Dan Gesna tahu siapa yang sedang ada di belakang mereka. Seorang reporter BOS.


"Non," panggil Adit.


Gesna mengirimkan sinyal dari lirikan sekilasnya, meminta Adit untuk diam. Adit mengikutinya sampai ke parkiran motor. "Kan udah gue bilang jangan ada yang tahu. Kalau lo kayak gitu sih semua juga bakal tahu," desisnya tertahan.


Mengabaikan protesnya, Adit mendekat. "Kamu bawa motor?"


"Enggak. Tadi pagi sih terbang pakai karpet," balasnya merengut. Beberapa mata menoleh ke arah mereka. Kalau peristiwa di depan kelas dan di kantin kelas dua belas bisa dianggap kebetulan, kan tidak mungkin di parkiran ini dia kebetulan juga berbicara dengan Adit. Orang-orang juga tidak sebodoh itu.


"Jadi, ini mau ke mana?" tanya Adit melihatnya naik ke skuter.


"Ke Ancol, mau ngelenong." Gesna memundurkan skuter keluar dari parkiran. Setang skuter ditahan Adit. Cowok itu seperti menunggu jawaban yang benar dari bibirnya. Dia berdecak. "Ya, pulanglah. Aneh-aneh aja pertanyaan lo."


Setelah itu, Gesna memacu skuter menuju rumah, membuka pintu dan mengempas badan ke sofa. Dia letih walaupun tidak melakukan aktivitas berat. Memangnya kalau pacaran itu seperti ini, ya?


Awal dia menerima Adit, dia pikir pacaran itu enak, punya teman dekat yang mengerti. Tapi kenapa Adit susah sekali diberi pengertian. Dia sudah bilang kalau dia tidak mau jadi perhatian orang karena gosip. Gesna suka diliput BOS, tetapi karena prestasi bukan karena gosip. Dia suka ketika namanya dan nama Renard disebut sebagai kapten basket sekolah. Dia suka saat dia dijadikan berita ketika menerima penghargaan. Sebatas itu. Cukup Naraya, Renard, Adji dan orang-orang famous OSIS saja yang kehidupan pribadinya dibahas satu sekolah. Gesna sih ogah.


Iya, sih. Dia paham Adit itu Kepala Suku. Mungkin BOS akan takut membahasnya, tapi akun Lambe School? Oh, wow. Tidak ada yang tahu siapa dalang di balik jari-jari nyinyir tersebut.


Gesna baru akan memejam ketika sebuah bayang datang. Dia menoleh, melihat Adit berjalan masuk.


"Kenapa sih kayak gitu tadi?" Adit duduk di lantai guna menatap tepat di matanya.


Gesna melengos. "Kayak gitu gimana?"


"Menghindar-menghindar kayak gitu, Non." Tanpa berkedip, mata tajam Adit menunggu jawaban.


"Loh, lo kan udah setuju. Kenapa jadi dibahas lagi?"


"Aku mau tahu," balas Adit pendek.


"Bisa dijelasin nggak kenapa?"


"Ih, apa, sih? Kan udah gue bilang nggak mau digosipin. Lo nggak tahu kan siapa yang tadi di belakang kita? Reporter BOS."


"Kamu takut digosipin? Aku nanti bilang sama ketua BOS untuk jangan pernah masukin nama kamu di rubrik gosip. Udah, kan?"


Gesna beranjak duduk, membuka ponsel dan menunjukan sebuah akun ke Adit. "Lo tahu nggak kalau sekarang ada akun Lambe School?"


Adit mengambil ponsel Gesna, memeriksa akun itu. Berbeda dengan BOS, akun Lambe School lebih seperti mengorek-ngorek urusan pribadi orang. Ada foto-foto yang diambil secara rahasia dan dibeberkan kepada umum. "Kamu takut mereka gosipin kamu? Biar aku cari tahu siapa mereka."


"Apa lo bisa mengatur setiap orang?" Gesna menarik kembali ponselnya dan bangkit menuju dapur. "Enggak, 'kan? Jadi, ikutin permintaan gue aja, deh. Anggap ini permintaan kedua gue. Bisa nggak?"


"Aku nggak janji," balas Adit keberatan. Cowok itu memperhatikan Gesna yang membuka tudung saji. "Siapa yang masak?"


"Si Mbak." Gesna meneliti hidangan yang tersaji. Empal gepuk, sayur asam dan sambal terasi. Perutnya menjadi lapar dan dia meraih piring. "Makan, yuk?"


Adit mengangguk, duduk di kursi. "Nasinya jangan banyak-banyak."


"Ye, ambil sendiri, Bang. Perasaan banget mau diambilin," cibir Gesna.


Adit kembali berdiri dan mengambil piring, mendekat ke Gesna yang sendokkan nasi. "Si Mbak ini baru atau gimana? Waktu kita balik dari Bandung, nggak ada."


"Enggak, udah lama. Dia datang setiap hari, tapi dari Senin sampai Jumat aja. Soalnya kalau Sabtu kadang kami jarang makan di rumah," jelas Gesna sambil menaruh piring di meja. Dia berjalan ke arah dispenser di sudut untuk mengisi gelas.


"Hari ini, ada PR?"


Gesna terdiam lalu menoleh dramatis. "Lo sama Guntur sama aja. Saban hari, tanyain PR melulu. Udah kayak orang tua aja. Nggak ada, PR-nya malas ketemu gue."


"Terus tanya apa? Kalau tanya bukti-bukti, itu sih Audit KPK."

__ADS_1


Bibir Gesna mulai melengkung. "Garing lo."


Dia mulai mengisi lauk pauk di piring, mengambil empal, mengambil kuah sayur asam dan sambal.


"Kenapa nggak mau makan sayur?" tanya Adit yang memperhatikan bagaimana dia mengambil kuah sayur asam.


"Nggak enak."


"Itu kuahnya kamu ambil, kalau nggak enak berarti kuahnya juga nggak enak." Tunjuk Adit dengan dagu.


"Pahit," jawab Gesna sekenanya.


"Sayum asam rasanya pasti asam, bukan pahit."


"Ih, bawel." Gesna memberengut.


"Sayur itu bagus buat kesehatan. Ada vitamin-vitamin di sayur yang nggak ada di buah atau daging."


"Aduh, ya Guntur, ya elo. Hobi ceramah soal sayur."


"Guntur terus yang kamu sebut dari tadi." Adit lalu diam, fokus kepada makanan.


Gesna berdecap, menelan nasi. Iya, juga. Kenapa hari ini dia banyak mengingat Guntur, ya? Apa kabar sahabatnya itu?


Sore ini, tim basket ada latihan intensif, persiapan menghadapi turnamen dua bulan lagi. Dia yakin kali ini Guntur akan datang latihan. Entah kenapa Gesna bisa yakin sekali.


Ini adalah kesempatan emas. Gesna ingin berbicara dengan Guntur. Menanyakan kenapa waktu itu Guntur nggak balas pesannya, kenapa Guntur berubah.


Seperti kata Adji, hubungan dia dan Guntur masih bisa disusun ulang. Setidaknya seperti itu. Iya, dia memang suka dengan Guntur. Namun dibalas atau tidak itu hak Guntur. Toh dia memilih tidak memberitahu perasaan karena ingin persahabatan mereka tetap baik hingga kapan pun.


"Guntur jadian sama anak OSIS, ya?" tanya Adit.


Gesna mengemam sambil mengunyah nasi. Kalau Guntur akhirnya jadian dengan Joceline. Itu pilihan Guntur. Walaupun Gesna merasa tersinggung karena tahu kabar itu dari Instagram, tetap saja tidak seharusnya membuat mereka renggang. Persahabatan kan dijalin atas rasa saling percaya.


Tentu Gesna tidak mau seperti Adji dan Naraya yang menjadi asing seolah tidak saling mengenal hanya karena sebuah perasaan suka tumbuh di antara persahabatan.


Benar kata Adji, dengan dia memilih merahasiakan perasaannya kepada Guntur. Seharusnya persahabatan dia dan cowok itu tidak akan terganggu. Tidak boleh ada kecanggungan atau rasa tidak enak hati, seperti mereka selama ini.


Jadi, yang harus Gesna lakukan adalah handel ulang perasaannya. Menegur kembali Guntur seolah-olah tidak ada apa-apa. Ya, itu yang harus Gesna lakukan nanti.


"Aku ada PR matematika," tutur Adit memecah lamunan Gesna. "Pelajaran matematika kamu sampai mana?"


Gesna menoleh bingung. Kenapa cowok itu bertanya pelajaran matematika dia? "Maksudnya? Apa hubungannya dengan pelajaran matem gue?"


"Biar kita belajar bareng."


Batuk menjadi refleks langsung atas tawaran itu. Belajar matematika? Mengapa tidak ceburkan saja dia ke kolam buaya?


Gesna menggeleng. "Pertama, gue nggak suka matem. Kedua, gue sore ini mau latihan basket. Bakal ada turnamen soalnya."


Sendok Adit menjeda sesaat. Cowok itu kembali terdiam. "Aku tungguin kamu latihan, ya?"


"Hah? Nggak usah, nggak usah," tolak Gesna spontan. "Bagusan habis ini lo pulang, kerjain PR matematika, cuci tangan, cuci kaki, tidur siang. Kan bagus, tuh?"


"Kenapa sekarang jadi kamu yang kayak orang tua?" dengkus Adit sambil menghabiskan nasi. "Pokoknya nanti aku jemput."


"Enggak usah macam-macam, gue nggak suka."


Adit berdiri, menaruh piring kotor di tempat cuci piring. Tangannya menepuk pelan kepala Gesna sebelum melangkah mengambil air. "Nggak apa-apa, yang penting suka sama aku aja. Aku pulang dulu ya, sayang. Mau belajar untuk masa depan kita yang cemerlang."


Gesna mengeram, menggenggam sendok kosong dengan kesal. Punggung Adit yang membelakanginya menjadi sasaran tembak bilah sendok. Kena! Rasakan! Siapa suruh bikin orang gondok?


"Kamu melempar aku?"


Adit berbalik dan memungut sendok, sedangkan Gesna siul-siul bangkit ke tempat cuci piring dengan memasang wajah tak ada dosa. Sendok tanpa tuan itu Adit antarkan ke teman-temannya yang menanti dicuci.

__ADS_1


"Sekali lagi kasar sama aku, bakal aku cium," ancam Adit sambil berlalu.


Gesna meringis, hampir saja dia lempar piring saking gemasnya. Pacar siapa sih yang menjengkelkan ini?


__ADS_2