Matahari Api

Matahari Api
Sebelah Tangan


__ADS_3


Tepuk tangan Naraya terdengar paling kencang ketika Adit selesai menyanyi. Mata cewek itu juga berbinar-binar bahagia. "Wah, jarang gue nemuin band yang bisa bawain Toxicity jernih begini."


Gesna kembali menoleh ke panggung. Di sana ada Adit, Miko dan Bara. Benar sih kata Naraya, band Adit tadi membawakan lagu metal dengan akustik dan tetap bagus. Dia kemudian melirik Riko. "Bang Miko nampil di sini?"


Riko menaruh jus alpukatnya sambil mengangguk. "Iya, gue ngajakin ke sini biar kalian nonton mereka tampil. Udah sebulanan gitu sih mereka ngisi di sini setiap Sabtu."


Yang lain mengangguk mengerti. Naraya membisikkan sesuatu ke Asri lalu mereka berdua tertawa.


"Heh, kalau lagi ngumpul ramean nggak boleh bisik-bisik berdua," komentar Riko.


Naraya lalu mencondongkan badan dan membisiki Riko. Ada hawa-hawa tidak enak yang Gesna dapat rasakan. Sepertinya ini mengenai dirinya. Gesna meraih ponsel, coba menghubungi Guntur. Cowok itu biasa ada sebagai penyelamatnya dari semua mara bahaya.


"Lo udah siap belum?" tanya Riko sambil tersenyum misterius.


Gesna meletakkan ponsel. Teleponnya tidak juga dijawab Guntur. "Ya udah, siap. Apaan?"


"Nyanyi!" Riko menunjuk panggung. "Di panggung."


Gesna terkesiap. "Huanjer!"


Riko lalu berjalan menuju belakang panggung untuk menemui MC. Gesna gelagapan. Wah, kalau disuruh ke panggung sih nggak apa-apa. Tapi kalau ada Adit, dia lebih baik tewas di tempat saja.


"Harakiri aja gue," bisiknya ke Naraya. "Ide lo ini, 'kan?"


"Kagak." Naraya bergeleng sambil tersimpul.


"Ketebak, Nay. Yang tega-tega gini sih pasti ulah lo!" Gesna mulai melotot. Kalau ide-ide mengerjai orang dengan buruk, anak-anak kantin Pespel adalah rajanya.


"Memang kenapa, sih? Biasa aja kali." Asri ikut nimbrung di pembicaraan mereka. "Atau ... lo mulai grogi dekat Kepala Suku?"


"Sok cantik aja, Ci. Jangan sok tahu!" Berulang-ulang Gesna mengumpat. Umpatan kecil yang hanya bisa didengar Naraya dan Asri. Bukannya merasa bersalah, mereka berdua semakin tergelak.


"Selamat malam, pengunjung kafe. Apa kabarnya malam minggu?" sapa Adit. "Apa ada yang lagi jatuh cinta? Kayaknya banyak nih, ya. Itu mukanya semringah semua."


Cowok itu duduk di bangku bulat sambil menerima sodoran kertas dari sang MC. Adit terdiam sesaat, tak lama bibirnya tersimpul geli. "Wah, bener kan kata gue? Banyak banget yang request lagu cinta. Ini pada mau nembak gebetannya?" tanya Adit kepada meja-meja yang diisi sepasang muda-mudi.


"Bisa banget, dia yang mau nembak, gue yang disuruh nyanyi." Adit lalu terkekeh. "Well, it's ok. Biar lebih manis, The Tahan Banting akan membawakan lagu-lagu khusus untuk kalian yang lagi naksir seseorang. Mungkin aja orangnya adalah orang yang belakangan ini habiskan waktu bersama kamu atau yang lagi ada di hadapan kamu."


Sebelum Adit memetik gitar, MC maju dan memberikan Adit selembar kertas tambahan.


"Sori, ada permintaan dari di meja itu." Adit menunjuk meja tempat Gesna dan lainnya berada. "Katanya ... yang namanya Gesna mau ikutan nyanyi bareng. Boleh. Ayo, Gesna ke sini."


Adit mulai melambai ke arahnya. Boleh jadi sinar temaram kafe sembunyikan muka Gesna yang sudah pucat sepucat mungkin. Seandainya bisa teleportasi mungkin Gesna akan menghilang sampai Antartika. Tetapi Gesna tidak bisa apa-apa, termasuk menahan dorongan dari kelima teman durjana yang membuatnya berada di depan panggung.


"Sini dong, Gesna. Jangan jauh-jauh. Siapa tahu kita cocok," goda Adit yang membuat seisi kafe berseru 'ouch' dengan kencang dan serentak. Suara Naraya dan Asri terdengar paling jelas di telinganya. Sïalan memang.


Gesna menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Ditatapnya Adit dengan muka memelas. Memang sih, Gesna suka bernyanyi-nyanyi, tapi bukan juga bernyanyi di depan umum tanpa persiapan sama sekali. Naraya memang perlu dimutilasi.


Dia menaiki panggung yang setinggi dengkul dan mendekat ke Adit. Berbisik ke cowok itu kalau dia tidak berkompeten untuk bernyanyi di depan umum. Syukurlah Adit mengerti.


"Jadi guys, atas permintaan Gesna, dia nggak mau nyanyi." Perkataan Adit barusan membuat Gesna menghela napas lega. "Tapi ... karena udah terlanjur di panggung nih. Kamu temenin saya nyanyi aja, ya?"


Tidak menunggu jawaban Gesna, cowok itu memetik gitar. "Spent 24 hours. I need more hours with you. You spent the weekend. Getting even, ooh ooh."


Adit menoleh ke dirinya ketika melantunkan lagu itu. Membuat Gesna otomatis membuang muka.


"We spent the late nights. Making things right, between us. But now it's all good baby. Roll that Backwood baby. And play me close."


Gesna melengos kecil. Kenapa sih tatapan Adit kayak gitu? Sejenis tatapan yang mengandung unsur tebar pesona. Idih, idih. Pakai acara melihat dia terus lagi. Cowok itu nggak sadar ya kalau matanya bisa keluarkan laser? Gesna kembali berdecak.


"Cause girls like you. Run around with guys like me. 'Til sundown, when I come through. I need a girl like you, yeah yeah."


Adit berdiri dan mendekat ke arahnya yang sudah sekaku patung. Aroma khas yang sedari kemarin ada di dekatnya kembali tercium, ikut serta memainkan ketukan di dada. Tangan kiri Adit terbuka, gambar jerapah yang memudar masih ada di sana. Sumpah demi apa pun, tidak pernah-pernahnya Gesna ingin diculik monster saat ini juga.


Di lain pihak, muka Gesna yang grogi sangat menghibur Adit. Mungkin cewek itu sadar, saat ini mereka jadi perhatian orang, sehingga tidak bisa dengan bebas memukul bahu atau punggung Adit.

__ADS_1


Adit tersenyum. Mengingat bagaimana kemarin malam punggungnya terasa berat dan Gesna tak kunjung menyahut saat dipanggil. Dia sampai mengemudikan motor pelan-pelan, takut Gesna terjatuh. Dan langsung menghubungi Gustav sesampainya di halaman rumah.


Cewek itu lucu, unik dan apa adanya. Nggak berusaha sok manis atau mengada-ada. Nggak malu untuk mengaku lapar dan meminta makanan.


Sepanjang perjalanan pulang, Adit merasa jantungnya sedang ada di pacuan kuda, berderap kencang. Isi perut juga seperti terputar, tidak mengerti kenapa. Hanya karena wangi apel yang tercium dari balik punggung.


Adite tersenyum dan memperhatikan Gesna yang masih diam termenung. Tangannya menjentik di depan muka Gesna agar kesadaran cewek itu kembali.


Semua terasa lepas saja bagi Adit. Dia bahkan tidak bisa kendalikan tangannya yang tiba-tiba menjulur, menyelipkan rambut Gesna ke belakang telinga. "Girls like you. Love fun, yeah me too. What I want when I come through. I need a girl like you, yeah yeah."


"Yeah yeah yeah," lantun Adit sambil membuka telapak tangan bergambar jerapah. "Yeah yeah yeah. I need a girl like you, yeah yeah."


Dia menunjuk Gesna sambil tersenyum kembali. Adit berharap Gesna tahu, makna terselubung apa yang dimaksudnya.


***


Bukan Guntur tidak mendengar panggilan di ponselnya dan pesan yang masuk terus menerus. Hanya saja, dia ingin menemani Joceline duduk di taman rumah sakit.


Ini kali kedua dia mengunjungi Joceline. Wajah cewek itu sudah tidak begitu pucat, dan senyumnya selalu terpasang. Guntur lega melihat perubahan itu.


Dalam hidup Guntur, dia selalu diajarkan untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada orang sakit. Memang bukan kewajiban tetapi itu adalah bentuk rasa kasih sayang dan empati kepada sesama manusia.


Jadi kalau harus memilih, tentu Guntur akan memilih temani Joceline daripada nongkrong di kafe.


"Hape lo bunyi terus tuh," ucap Joceline memecah keheningan. "Angkat, gih. Barang kali penting."


Guntur menghentikan dorongan di kursi roda, melihat kembali ke ponsel. Nama Gesna tertera di layarnya. Ia lalu membuat mode senyap. "Anak-anak, ngajakin kongkow."


Kursi roda Joceline menuju ke taman di tengah rumah sakit. Tempat terbuka yang dipenuhi bunga dan tanaman terawat. Ada air mancur kecil di tengah kolam. Kolamnya berbentuk lingkaran. Di sekitar situ ada tempat duduk yang sengaja dibuat untuk pengunjung. Tempat itu tenang dan nyaman, pelepas kegundahan pengunjung dan penghuni rumah sakit yang selalu berurusan dengan nyawa.


"Oh, iya. Gue lupa kalau ini malam minggu. Ya, udah. Lo cabut gih kan mau kongkow sama anak-anak." Joceline menoleh ke belakang. Guntur yang sedari tadi mendorong kursi rodanya hanya terdiam.


"Tur, lo tuh yang musti santai. Gue sakit bukan karena lo, kok. Rileks Bang, rileks," candanya, mencoba tampilkan muka tidak keberatan.


Kursi roda berhenti tak jauh dari air mancur. Mereka menatap air yang menyembur tinggi ke atas, lalu jatuh ke bawah, pecah menjadi buih.


"Ada nggak enaknya juga. Kan habis itu dia jatuh sedalam-dalamnya," balas Guntur.


"Tapi, dia berproses lagi, Tur. Kembali naik dan terbang setinggi-tingginya tanpa merasa takut. Hebat, kan?" ungkap Joceline.


Guntur bergeming. Setelah dia diberitahu Papa Joceline tentang kondisi pasien berkursi roda di depannya ini, kenapa Joceline masih saja terlihat ramah dan kuat? Cewek ini sudah kehilangan mamanya semenjak kecil. Sebab yang sama, karena jantung. Bukan tidak ada kalimat sedih yang dibaca Guntur di buku kuning, tetapi di matanya, Joceline tidak membiarkan dirinya terpuruk. Mungkin sesudah mengeluarkan kesedihan di buku, Joceline lantas bangkit dan ceria kembali. Cewek itu tidak pernah berniat melarikan diri dari masalah yang dihadapi.


"Kalau lo bisa hebat dengan menjadi Joceline. Kenapa mesti jadi air mancur?"


"Kalau gue reinkarnasi, gue mau jadi air mancur aja. Biar bisa lompat tinggi-tinggi, nggak takut jatuh dan menghibur semua orang." Joceline tertawa kecil, tidak menggubris pertanyaannya barusan.


"Kalau gitu, gue bakalan jadi tiang air mancur aja," tandas Guntur beranjak dari belakang kursi roda. Berdiri sejajar dengan Joceline.


Joceline menampilkan senyum. Ada sepasang lesung pipi kecil di ujung bibirnya. "Karena apa? Karena lo tinggi, gitu?"


"Iya kali, ya? Nggak juga sih." Guntur duduk di sebelah Joceline. Matanya memandang air mancur yang dikagumi cewek itu. "Karena tiang air mancur yang membantu air itu untuk terbang setinggi-tingginya, membantu air itu untuk bangun dan naik kembali sehabis jatuh ke bawah."


Guntur mengusap pelan kepalanya. Joceline merasa ada yang menyumbat tenggorokan. Mimpi apa dia, Tuhan? Sepertinya dia tidak bermimpi menemukan lampu Aladdin tetapi kenapa harapannya terkabul?


Dalam hidup dia yang tidak tahu akan berakhir di detik keberapa, kedatangan Guntur dua hari ini seperti mukjizat nyata. Dada Joceline terasa bergemuruh. Halilintar tidak menakutkan lagi di matanya. Guntur menjelma menjadi halilintar yang dia tunggu sepanjang hidup di langit. Terang, bergelegar dan menggetarkan dunianya. Namun, nyaman. Ia tidak lagi merasa sendirian. Ia selalu dan ingin selalu bersama seseorang di sebelahnya ini.


"Tur, nggak enak nanti sama teman-teman lo." Joceline beranikan diri menyentuh lengan Guntur. Cowok itu tersadar dari renungan. "Banyak pikiran amat, Bang?"


"Lo kayak Pelangi aja, panggil gue pakai Abang," balas Guntur.


"Pelangi?"


"Iya, adek gue. Lain kali, gue kenalin sama dia, ya?"


Joceline menarik lengkung di bibirnya lagi. Entah sudah berapa kali ia senyum dalam satu jam belakangan.


"Ya udah, gue antar ke kamar lagi, ya?" ajak Guntur kemudian.

__ADS_1


Tangan Guntur yang akan mendorong kursi roda ditahannya. "Nggak apa-apa, gue masih pengin lihat air mancur. Lo pergi aja, nanti gue bisa balik ke kamar sendiri."


Cowok itu memandangnya masygul.


"Beneran, Tur. B aja, kali. Ya udah gih, sana. Nanti kejebak macet." Ia melambai ke Guntur, mengusir secara halus sosok yang selalu diharapkan kedatangannya.


Guntur lalu mengangguk dan beranjak pergi. Joceline memandang punggung tinggi menjulang yang semakin menjauh. Jika Tuhan memang mengirimkan cowok itu sebagai penawar dari segala rasa sakitnya, maka ia akan meminta kepada Tuhan agar bahagiakan cowok itu sebagaimana Guntur membahagiakannya.


Air matanya luruh. Joceline kembali menatap air mancur sembari mengusap tangis.


Kemenangan datang bersamaan dengan kekalahan. Satu sisi, mendapati keberadaaan Guntur di kala menghadapi ketakutannya adalah sebuah kemenangan yang ditunggu-tunggu.


Tetapi, Joceline tahu, dia tidak akan bisa menang dari Gesna. Dia tahu Gesna yang menelepon Guntur berulang kali. Sering bersama Guntur saat menyebarkan proposal, membuatnya tahu bahwa nada dering Gesna berbeda dengan nada dering penelepon lain. Cewek itu spesial untuk Guntur.


Joceline sadar, dia bertepuk sebelah tangan. Nyatanya, Guntur tidak mau mengangkat telepon Gesna dan memberitahu sedang bersama dengan dia. Cowok itu juga terlihat berusaha menyembunyikan keresahan. Maka dengan kesadaran penuh, Joceline meminta Guntur untuk meninggalkannya dan cowok itu benar-benar pergi. Joceline terisak lagi. Dadanya sakit sekali.


Motor Guntur sudah sampai di depan kafe. Setelah menaruh helm, cowok itu berjalan masuk. Suasana kafe tempat janjian hari ini terlihat artistik. Banyak lampu-lampu kecil yang dililitkan ke pohon. Penerangan disetel tidak terlampau terang tapi masih dalam batas wajar. Di atas meja, ada lilin elektrik yang menambah romantis.


Langkah Guntur terhenti. Meski jauh, dia hafal sosok yang berada di panggung. Dia selalu hafal bayangan orang yang bertahun-tahun selalu bersamanya.


Di atas panggung, Gesna sedang bersama Adit. Dengan mata kepala sendiri, lagi-lagi, Guntur melihat keakraban itu. Melihat bagaimana Adit menyelipkan rambut Gesna ke belakang telinga. Melihat bagaimana salah tingkahnya Gesna di atas sana. Hatinya terbakar.


Guntur merapat ke sudut tergelap dan juga terdekat dengan meja mereka. Mencoba mencuri dengar apa pembicaraan mereka.


Gesna sudah turun dari panggung. Cewek itu melirik garang kepada Naraya dan Asri yang puas menertawainya. Bahkan setelah Gesna duduk kembali, tawa itu tetap ada.


"Udah ya, Nay, Ci. Mingkem deh," protes Gesna risi.


Naraya terbahak. "Habis, lo berdua manis banget. Cocok, kok. Nggak sia-sia kami mendukung lo."


Naraya tentu tidak sadar kalau Guntur ada di balik pohon yang ada di belakang mereka.


"Dukung siapa?" sela Riko penasaran.


"Ya... Dukung Gesna sama Adit-lah. Gimana sih lo?" tambah Asri.


"Maksudnya? Maksudnya? Kok gue nggak ngeh." Riko mendekat, meminta diperjelas.


Gesna buru-buru maju, merangkul dua cewek itu di antara kedua lengannya. "Nggak ada apa-apa. Mereka berdua ngasal ini, Ko. Jam berapa sekarang? Kok Guntur belum datang juga, ya?"


Guntur melirik jam, pukul sepuluh. Ternyata Gesna menunggunya. Dia sudah akan menampakkan diri jika saja tidak mendengar kalimat yang kembali meretakkan semua harapan dan kepercayaan.


"Gue tahu sekarang!" seru Ilham yang baru saja kembali dari toilet. Cowok itu menepuk meja antusias, membuat perhatian seisi meja menuju ke arahnya. "Pantesan gue dari tadi ngerasa kayak pernah lihat baju Gege. Ternyata, bajunya sama kayak punya Bang Adit yang gue lihat tadi sore di basecamp."


Tangan Ilham menunjuk ke sosok Adit. Baju cowok itu memang tertutup jaket.


"Kebetulan aja gambarnya sama. Gitu aja lo gede-gedein," dengkus Gesna sambil melirik ke arah panggung. Tak lama muka cewek itu pias. Sebab Adit sudah melepas jaket dan baju yang dimaksud terpampang nyata. Dari warna baju, potongan baju, dan gambar Toothless menunjukan kalau baju itu bukan baju biasa.


"Apa yang kebetulan? Sama persis gini. Couple ini sih bajunya!" seru Adrian bersemangat.


Guntur mundur selangkah. Apalagi dia melihat Adit mulai mendekat ke meja mereka. Cowok yang sudah selesai nyanyi itu berdiri tepat di belakang kursi Gesna. Menuai dehaman-dehaman berirama mengejek dari Naraya dan Asri.


Guntur melihat Adit menegur yang lain, lalu menghampiri ke Gesna dengan menepuk pelan kepala cewek itu. "Non, kayaknya dompet gue ketinggalan di rumah lo deh, tadi pagi."


Sudah tidak ada dehaman lagi sekarang, Naraya dan Asri langsung berseru lebar sambil terbatuk-batuk geli.


Guntur anggukkan kepala, mencoba paham. Gesna memang sudah menemukan pangerannya. Dia hanyalah pencinta yang bertepuk sebelah tangan. Ada atau tanpa dia, Gesna akan baik-baik saja.


Seharusnya dia tahu dan sadar kalau Gesna hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih. Seharusnya dia sudah mundur sedari dulu. Seharusnya dia tetap di rumah sakit, menemani Joceline yang diam-diam menangis jika dia pergi. Bukan datang untuk Gesna yang diam-diam membohonginya.


Guntur membalikkan badan, memutuskan untuk pergi tanpa ikut bergabung.


Karena saat ini, prioritas berbicara mana yang lebih penting. Dan Joceline lebih membutuhkannya dibanding Gesna.


***


Apa kabar tim Gesna-Guntur?

__ADS_1


🤸🤸🤸


__ADS_2