Matahari Api

Matahari Api
Dalam Gelap


__ADS_3


Hujan yang mereka pandangi semakin deras. Kaki-kakinya seperti anak panah yang menungkik hendak merobek bumi. Gemuruh sesekali terdengar dan langit berselubung gelap. Tidak ada tanda-tanda akan reda. Hujan merata di seluruh Jakarta.


Guntur yang sedari tadi gelisah, ingin sekali pulang ke rumah. Di rumah, dia akan coba menelepon Gesna kembali.


"Kayaknya bakal lama nih hujannya," gumam Naraya sembari menoleh kepada yang lain. Cewek itu beberapa kali melihat arloji, sama resahnya seperti Guntur.


"Iya, awet kayaknya." Guntur berdiri. Sia-sia kalau menunggu hujan selesai, apalagi tidak tahu kapan berakhir. Sampai rumah secepat mungkin adalah tujuannya sekarang. "Gue balik aja, deh. Nggak apa-apa ujan-ujanan. Lo gimana, Ling?"


Joceline terdiam. Mukanya terlihat bingung. Mungkin cewek itu tidak mau hujan-hujanan, tetapi terserang rasa sungkan. "Ya udah, gue ikut. Nggak apa-apa basah juga."


"Balik ya, woy," pamit Guntur kepada Renard dan Naraya yang masih duduk di restoran tersebut.


Dia bersama Joceline menuju ke parkiran motor. "Sori, ya, Ling. Gue pengin cepat pulang."


"Iya." Joceline mengangguk. "Gue juga pengin pulang."


Motor Guntur mulai jalan kembali. Dia membiarkan badannya disiram hujan dan dingin meresap ke dalam. Panas di hatinya perlu diredakan dan sudut kepercayaannya ingin diyakinkan. Guntur ingin mendengar dari Gesna langsung.


Memang ini salahnya. Kemarin, dia bingung dengan perasaannya sehingga kerap mendiamkan pesan Gesna. Apa karena itu Gesna jadi pergi dengan Adit?


Kendaraan itu terus melintas di jalan sepi. Beberapa titik jalan bahkan digenangi air. Seluruh seragam dan sepatu mereka pun basah. Tapi peduli apa? Besok kan libur.


"Thanks, ya, Tur," kata Joceline ketika motor Guntur berhenti di depan rumahnya. "Lo nggak mau mampir dulu?"


Guntur menggeleng. Joceline lalu turun. Cewek itu terlihat menggigil saat berjalan menuju pintu rumah. Mukanya pucat dan bibirnya sudah membiru.


Baru saja Guntur hendak mengingatkan Joceline, cewek itu sudah jatuh pingsan di depan pintu rumah. Guntur buru-buru memarkirkan motor dan berlari menghampiri Joceline. Dia juga mengetuk dan membunyikan bel bertubi-tubi.


Asisten rumah tangga yang membuka pintu langsung histeris melihat Joceline pingsan. "Lho, Ling-ling kenapa? Pak... Ling-ling pingsan, Pak!"


Dibantu Guntur, wanita itu berusaha memapah Joceline ke kursi tamu. Suasana terasa mencekam ketika bapak yang dimaksud datang terburu-buru dan meminta asisten tersebut menggantikan baju Joceline.


Guntur menunduk, merasa bersalah. Apalagi saat pandangan orang tua laki-laki Joceline itu menujunya.


"Kalian kehujanan?" Pria itu membuka suara.


"Iya, Om. Tadi Joceline mau ikut saya hujan-hujanan. Soalnya hujannya nggak reda-reda." Guntur kemudian menyadari kalau seragam basahnya membuat ruang tamu menjadi becek. Dia mundur ke arah pintu. "Saya permisi dulu. Maaf, jadi becek."


Pria itu mengantar Guntur ke pintu. "Pakaian kamu basah. Mau ganti baju dulu nggak? Pakai baju saya."


"Nggak usah, Om. Saya mau langsung pulang saja. Rumah saya juga di komplek sebelah." Guntur menyebutkan nama perumahannya.


Kepala pria itu mengangguk paham. "Nama kamu siapa?"


"Guntur, Om," ujarnya sekaligus berpamitan.


Sebelum melangkah menuju motor, Guntur sempatkan memeriksa ponsel dari tas. Akhirnya, ada telepon dari Gesna. Dia meraih headset dan menelepon balik. Motornya kembali berjalan menuju pulang.


"Halo, Cinta!" jawab Gesna.


Guntur menghela napas lega. "Lo ke mana, sih?! Kenapa nggak ada kabar?!" cecarnya langsung tanpa basa-basi.


"Lho, kok gue? Tadi gue telepon tiga kali ya tapi nggak jawab!"


"Gue juga telepon. Hape lo nggak aktif, Kebo." Guntur berbelok memasuki perumahan. Suara Gesna terdengar sangat ceria. Biasanya Gesna selalu mengeluh jika dipaksa ke Bandung.


"Oh, kalau itu, kemaren hape gue lowbat, nggak bawa charger cuy. Baru belinya tadi pagi di PVJ."


"Lo ke Bandung kok nggak bilang-bilang? Pakai madol lagi?!"


"Dengerin dulu ceritanya dong, Cinta. Ah, kamu mah bawel, aku nggak suka," tandas Gesna terkekeh. "Jadi gue ke Bandung karena kemarin siang ditelepon Mbak, dibilang Gandhi masuk IGD. Ya, gue lompatlah, ngebut ke Bandung."


Guntur berdecak kaget. "Kenapa nggak kabarin gue, Gege?! Jadi Gandhi gimana?"


Masih dengan suara yang penuh kebahagiaan, Gesna mulai bercerita. "Yaelah, Gugun cinta. Kan gue bilang, gue langsung lompat. Sori, bukan nggak mau kabarin. Gue nggak kepikiran. Gue beneran panik. Gandhi? Udah lumayan kok. Lagi recovery aja."


Motor Guntur melintas blok rumah Gesna dan dia melihat skuter kesayangan Gesna di sana. Kedua alis Guntur semakin bertaut. "Sekarang lo di mana? Perlu gue susulin?"


"Gue? Sekarang masih di Bandung. Nggak usah, nggak papa kok, Gun."


Ingatan Guntur kembali pada saat malam itu. Malam di mana Gesna tersenyum manis kepada Adit. Guntur refleks mengumpat pelan.


"Apa? Nggak kedengeran!"


Guntur tersadar. "Eh, nggak apa-apa. Gue lagi di jalan. Suara hujan aja itu."


"Ha? Lo lagi di jalan? Lo kehujanan? Geblek, ngapain nelepon?! Bahaya ogeb!"


Bibir Guntur langsung melengkung. Dicerca Gesna saja dia sudah senang. Ada nada khawatir yang ditangkap barusan. "Udah sampe, kok. Iya, ujan-ujanan dikit. Lo sama siapa di Bandung?" tanyanya menjebak.


"Oh, barusan nyampe. Ya udah, lo istirahat dululah. Langsung mandi, ganti baju. Gue? Gue sama Gandhi, sama Mbak, sama ..."


"Sama siapa lagi?"


"Enggak, udah kok itu aja. Sama mereka berdua aja. Ya udah, lo istirahat dulu sono. Salam buat Mamah, Papah sama Pelangi ya."


Guntur ingin sekali menyebutkan nama yang dikirimkan dalam pesan Gustav. Namun, lidahnya terlalu kaku untuk meminta Gesna bercerita tentang Adit. "Ge... Hati-hati. Salam buat Gandhi, ya."


"Iya. Siap, Bosque. Nanti salamnya gue sampein. Dadah." Cewek itu lalu mematikan panggilan.


Sejak kapan Gesna belajar membohonginya? Guntur mengembus napas pilu.


***


"Taraaa."


Gesna mengangkat tangan Adit. Sebuah senyum tampil di situ. Ponsel sudah ditaruh tetapi aura bahagia karena telepon itu terlihat masih ada. "Bagus nggak? Jerapah si leher panjang."


Adit hanya berdeham melirik hasil karya Gesna di telapak tangannya. "Kenapa jerapah? Kenapa bukan singa?"

__ADS_1


Tangan Gesna bergegas menutup pena dan mengantongi. "Karena jerapah si leher panjang."


Jawaban singkat itu tidak dimengerti Adit. Ia mengamati dan memoto hasil karya Gesna dengan ponsel.


"Eh, lo nggak dicariin orang rumah, Dit? Semalam kan nggak pulang?" tanya Gesna memperhatikan jerapah ciptaannya yang pas sekali dengan ruas-ruas jemari panjang Adit.


Adit menggeleng. Toh memang tidak ada yang mencari dia, mau pulang ataupun tidak.


"Oh, gitu. Eh, bentar, kalau gitu gue tambahin di punggung tangan lo ya." Gesna membalik tangan lalu menulis sesuatu di punggung tangannya.



Setelah membuat bintang dan bulan sabit, Gesna terkekeh. "Lo, Adit! Si anak hilang." Cewek itu menatap dia yang masih pura-pura membaca. "Baca apa sih lo? Serius bener."


Tangan Gesna mulai meraih buku yang Adit baca. Mendirikan badan buku, ingin melihat sampulnya. "Novel? Lo baca novel?" tanya Gesna dengan mata membulat ingin tertawa.


Lelah bersandiwara, Adit akhirnya menutup buku. "Nggak, ini nonfiksi, kok. Gue nggak begitu suka baca novel."


Adit balik menatap Gesna. "Lo pasti sukanya baca komik, ya?"


"Kok tahu?" Gesna menopangkan dagu, tertarik dengan pembahasan Adit. Cewek itu mungkin tidak menyadari kalau binar matanya sangat indah.


"Di jidat lo ada tulisannya." Adit menunjuk kening Gesna. "Sukanya baca yang ada gambar-gambar, gitu tulisannya."


Gesna kerucutkan bibir sambil mengusap kening. "Ketahuan banget ya? Gue memang gue pusing lihat tulisan banyak terus dempet-dempet. Capek mata gue, Dit. Buku ini tentang apa?"


Adit menaruh buku di atas meja, melirik kembali karya pena Gesna di tangan kirinya. "Tentang perempuan. Dari dulu, perempuan itu selalu termarginalkan. Dianggap nggak ada peran padahal sebenarnya ada. Buku ini mengulas banyak tentang perempuan yang tangguh dan berperan bahkan dari abad ke-10."


"Kayak Ratu Sima, Tribhuwanatunggadewi, Ratu Kalinyamat, Laksamana Keumalahayati, banyaklah. Tapi ya gitu, dulu, peran mereka dianggap lalu. Istilah kerennya: terlupakan."


Adit mengangkat kedua alis. Cowok itu membahas sejarah seperti sedang membicarakan kejadian sehari-hari dengan teman.


"Satu lagi yang sering dilupain orang. Seorang laki-laki bisa berdiri kokoh karena ada peran perempuan di belakangnya. Ya, nggak?"


Gesna menilik sampul buku tadi, lalu melirik ke Adit, kembali ke sampul buku, kemudian ke Adit.


Tadi pagi, dia masukan Adit ke kriteria berapa? Kedua! Adit adalah klasifikasi anak orang kaya.


Dan barusan, dia harus meralatnya. Adit seharusnya masuk ke kriteria murid ketiga!


Ya lord! Gesna memekik dalam hati.


Pintu kamar terbuka, pengasuh kembali ke kamar. Di belakang pengasuh, ada seorang wanita berambut pendek dengan warna cokelat muda yang ujungnya menutupi pipi. Sosok itu berkacamata hitam, menggunakan tas selempang bermerek terkenal yang biasa dipakai artis dan bunyi sepatunya mengetuk-ketuk lantai. Dari gayanya, Adit dapat menangkap pengertian bahwa orang itu adalah mama Gesna.


Wanita itu jalan ke arah mereka sambil melepas kacamata hitam. Adit baru menyadari jika bola mata wanita itu juga sewarna dengan rambutnya. Satu kata, cantik.


"Kata Mbak, kamu dari kemarin di sini. Kamu nggak sekolah, Jessica?"


Gesna hanya mengamati wanita yang baru datang dari atas ke bawah, lalu melengos. Tidak ada jawaban keluar dari mulutnya.


"Kamu sama siapa ke Bandung?"


Wanita itu menatap Adit. Dengan sadar diri, Adit langsung berdiri dan memperkenalkan diri. "Sama saya. Adit, Bu."


Wanita itu juga tersenyum pendek. Mata indahnya memperhatikan sekitar. "Berdua saja atau gimana? Guntur mana?"


Setelah tadi Adit merasa mata pena Gesna menggurat jantung, saat ini, Adit merasa mata pena itu pindah dan menancap tepat di tengah jantung. Kenapa selalu ada Guntur?


"Teman saya banyak, bukan Guntur aja," jawab Gesna singkat.


Meilan mendekat ke ranjang pasien. Menempelkan tangannya ke dahi Gandhi yang masih tertidur. Membenarkan selimut yang tersingkap kemudian berjalan kembali menuju Gesna dan Adit. "Ngopi yuk, Dit. Masih agak jetlag Tante."


Ajakan mengopi tidak pernah-pernahnya terasa seperti ajakan perang bagi Adit. Bayangkan dengan muka Gesna yang angker, bagaimana bisa ia mengiakan ajakan itu? Adit merasa berada dalam kondisi terjepit dengan seekor singa lapar di hadapan dan jurang curam yang siap menelan bangkainya di belakang.


"Take it easy, Dit. Jessica pasti ikut kalau kamu ikut. Yuk."


Wanita itu berlalu dengan anggun. Mau tidak mau,  Adit mengikutinya. Ia sengaja melambatkan jalan dan berharap mendengar langkah Gesna. Syukurlah, di belakangnya, ada langkah yang dientak-entak ke lantai.


"Sini Adit duduk di samping Tante aja. Biar Tante ala-ala sama brondong," ujar Meilan ramah sembari menaruh cangkir kopi di meja. Kehangatan sambutannya sangat mirip seperti Gustav.


Adit tersenyum. Sebelum dia sempat menuju kursi di sebelah Meilan, tangannya ditarik oleh Gesna. Tarikan Gesna memaksa badan Adit untuk duduk di samping cewek itu.


Hal itu membuat Meilan tertawa kecil. Wanita itu membaui aroma kopi sebelum mencecapnya. "Adit satu sekolah dengan Jessica?"


Adit mengangguk khidmat dan mulai menyesap caramel macchiato-nya.


"Is it a special relationship?"


Meilan bertanya ringan sambil menggenggam kuping cangkir. Tangan lentik dengan sebuah cincin bermata mengkilap terlihat berkelas saat wanita itu mengaduk ulang kopinya. Baik Gesna atau Adit tidak menjawab. Mata Meilan naik ke depan. "Am I right?"


Karena melihat Gesna tidak acuhkan dirinya juga wanita di hadapan mereka, Adit berinisiatif menjawab. "Teman kok, Tante. Kemarin kebetulan Adit datang saat Gesna mau ke Bandung. Jadi Adit anterin."


Wanita berhidung bangir itu mengangguk. Ponselnya berbunyi. Sesaat dia sibuk mengangkat panggilan, membuat Adit dapat bernapas dengan lega.


Selesai menutup telepon, Meilan kemudian berdiri, melihat sekitar. Ketika matanya bertemu dengan yang dicari, dilambaikan tangan ke udara.


Seorang pria setengah baya menghampiri meja mereka. Setelah cipika-cipiki, dia duduk di hadapan Adit.


Pria itu mungkin seumuran papa Adit. Namun, badannya masih sangat tegap dan berbentuk. Mukanya bersih dan tampan. Senyumnya ramah. Pria itu tersenyum kepadanya dan Gesna, membuat Adit balas tersenyum. "Apa kabar, Jessica? Om udah lama nggak ketemu sama kamu, ya? Kamu siapa? Oh iya, saya Ardi."


Pria itu mengenalkan diri kepada Adit. "Adit, Om," jawab Adit singkat berusaha membalas dengan sopan.


"Perasaan dulu Jessica masih kecil ya, Mei? Masih gue gendong-gendong. Eh, sekarang udah gede aja. Udah punya pacar juga." Pria itu menatap wanita di sampingnya sambil tersenyum.


Gesna masih tidak peduli. Cewek itu menganggap di sekitarnya gaib. Dari tadi hanya menyeruput es kopi dan menjilat whipped cream yang ada di ujung sedotan. Sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata.


"Ganteng lagi pacarnya. Kayak gue masih muda." Ardi tertawa kecil. Ada rasa senang ketika Adit dipuji seperti itu, tetapi demi aura Gesna yang semakin mencekam, dia merasa waspada.


"Gimana Gandhi, Mei? Duh, beneran kemarin gue hectic banget. Sori, baru nyampe Bandung hari ini. Sakit apa anak gue itu?"


Kalimat terakhir Ardi seperti memantik api di lautan bensin. Gesna membanting cangkir plastiknya sekuat tenaga ke meja. Es kopi tumpah berhamburan di sana. Cewek itu langsung bangkit meninggalkan mereka. Dengan mengempas keras-keras kursi yang diduduki sehingga jatuh terlintang.

__ADS_1


Kesadaran Adit terhenti sesaat. Wow! She's rebel! Woooooooowwww!


"Jessica!" pekik Meilan terkejut melihat anaknya hilang kendali. Es kopi Gesna juga terpercik ke baju, tas, dan mukanya. Kejadian itu juga membuat beberapa pasang mata mengarah ke meja mereka.


Adit ikut berdiri. Menundukan kepala sedikit untuk pamit dan berlari mengejar Gesna yang menjauh. Cewek itu terlihat sangat emosi dengan tangan menjambak rambut sendiri.


"Gesna." Adit menarik lengan Gesna. Tarikan tangannya diempas. Kaki Gesna terus berjalan menjauh dari kedai kopi.


"Gesna," panggil Adit lagi.


"Diam, Adit! Gue mumet!" Gesna terduduk di bangku panjang yang ada di trotoar. Wajah sendu itu tertunduk ke bumi. Seakan energinya terkuras, Gesna terlihat sangat lemah.


"I'm here." Adit juga tidak tahu. Untuk kedua kalinya tangannya refleks menarik Gesna ke dalam pelukan. "You're not alone."


Adit menarik cewek bermuka sedih itu ke parkiran motor. Memakaikan Gesna helm sebelum memakai helmnya sendiri, kemudian menjalankan motor.


Dia juga tidak tahu akan ke mana. Setidaknya pergi jauh dahulu dari hal yang membuat binar di mata indah itu redup. Adit mengarahkan motor lintasi jalan-jalan besar dan rindang. Dia belok ke mana dia mau.


Motor itu berjalan pelan. Mungkin Gesna perlu menenangkan diri sembari menikmati suasana sekitar. Adit berharap mood Gesna membaik setelah diajak memutari kota Bandung.


Ketika memasuki Jalan Cisangkuy, Adit berkeinginan mencicipi yoghurt yang sudah lama tidak disambanginya. Motor kemudian berhenti di sebuah rumah.


"Mampir dulu, yuk?" ajaknya ke Gesna. Matanya melirik ke spion dan menunggu jawaban Gesna.


Cewek itu membuka helm. "Ini di mana?"


"Yoghurt Cisangkuy, Non. Biar ademan dikit. Yuk."


Mereka lalu turun dan memasuki tempat itu. Bangunan yang dituju adalah rumah bergaya lama dengan kursi-kursi tersusun rapi di halaman. Suasana terasa sejuk.


"Lo kayaknya kenal banget sama Bandung. Pernah tinggal atau gimana?" tanya Gesna ketika dua gelas yoghurt berasa buah hadir di depan mereka.


Adit mengaduk isi gelasnya. "Enggak. Gue sering touring aja sama anak-anak ke Bandung. Kalau dari lahir sampai gede sih di NZ."


"NZ?" Gesna mencocokan sama cerita yang pernah didengarnya. "Jadi, lo beneran pindahan dari New Zealand?"


Adit hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia berdiri dan meninggalkan bangku sebentar untuk memilih kue pastri di etalase dekat kasir.


"Lo pegangnya jangan pakai tangan kiri. Nanti gambarnya pudar," sahut Gesna mengingatkan saat Adit kembali ke meja.


Adit yang memegang gelas berembun dengan tangan kiri lalu memindahkan gelas ke tangan kanan. "Ribet amat. Susah ngapa-ngapain kalau begini."


"Omong-omong, lo lama tinggal di New Zealand kok fasih bahasa Indonesia?" tanya Gesna sangsi.


"Cuma di NZ kali bukan Eropa. Lagian gue di rumah tetap bahasa Indonesia. Bokap juga panggil guru privat les bahasa waktu di sana." Adit menatap manik mata Gesna. "Tadi lo kenapa semarah itu? Nggak bagus tahu."


Gesna hanya berdengus kasar. "Masih untung nggak gue siram ke mukanya."


Adit yakin Gesna mampu melakukan itu. Cewek di hadapannya ini benar-benar tidak mempertimbangkan sesuatu dengan matang. "Gue tahu lo bisa, tapi jangan gitulah. Cuma anak kecil yang bertindak tanpa memikirkan risiko."


Gesna tertawa sadis. Tangannya meraih rokok yang ada di saku jaket Adit tanpa sempat dihentikan. Dengan gesit, Gesna menyalakan rokok dan mengembuskan asap tinggi-tinggi. "Risiko? Gue udah siap, tuh. Untuk apa yang pernah dia lakuin di dalam hidup gue. Itu belum apa-apa. Gue bisa lebih brutal dari yang orang tahu."


Hampir dua puluh empat jam bersama Gesna, tentu Adit dapat memercayai ucapan barusan.


"Lo tahu taï?" tanya Gesna santai sambil mengisap rokok yang terkepit di antara jari tengah dan telunjuk.


Adit mengangkat sebelah alis. Menunggu kelanjutan kalimat Gesna.


"Nah, orang itu, belatung taï anjing. Ibarat sampah, dia lebih sampah lagi dari sampah."


Gesna mengembus lagi asap dengan berang. "Lucu kadang hidup ini, yang kayak taï-taï gitu yang hidupnya lama. Bikin petaka di bumi. Cepat-cepat mati ajalah orang kayak dia."


Cewek itu kemudian mencomot sebuah kue pastri milik Adit. "Bagi ya."


Dengan mencoba tidak terpancing bahasa kasar yang terlontar, Adit mengaduk yoghurtnya. Benaknya berusaha mencocokan hal-hal yang diketahui tentang Gesna. Gambar-gambar Gesna, sikap Gesna, tawa Gesna, keluarga Gesna. Bahkan sepertinya Adit tahu mengapa Gesna terlihat marah dipanggil 'Jessica' oleh Gustav.


Ada sesuatu antara Gesna dan keluarganya.


Dia lalu merogoh kantong celana, mengeluarkan gelang merah yang tadi dibeli. Ditariknya tangan kanan Gesna dan pakaikan gelang itu di situ.


Gesna terlihat heran. "Lho, kok buat gue?"


"Memang buat lo." Adit mengencangkan simpul gelang. Gelang berwarna merah kemarun-marunan itu tampak cantik di tangan Gesna. "Gue nggak suka pakai gelang. Jam tangan aja kadang lupa naruhnya."


"Gue pikir, lo beli buat lo sendiri." Gesna mengamati kembali gelang dengan lempengan berwarna keemasan bergrafir sebuah tulisan. "Light. Kenapa light?" gumamnya.



"Lights will guide you home." Adit bersenandung kecil.


Bibir Gesna otomanis tertarik ke atas, tersenyum kecil. Dia tahu lagu itu kemudian menyahut. "And ignite your bones."


Mata mereka bertemu dan sama-sama melanjutkan liriknya, "And I will try to fix you."


Tawa Gesna mulai merekah. Rasanya itu tawa yang benar-benar tulus untuk Adit. Bukan karena telepon Guntur atau karena digoda dengan recehannya. Kepala kecil itu menggeleng sehingga rambut pendeknya bergoyang. "Gue nggak nyangka lo tahu Coldplay. Gue pikir lo cuma tahu Iwan Fals."


Adit tersenyum penuh arti. "Kok lo tahu gue suka Iwan Fals?"


Tawa Gesna surut. Seperti berpikir bagaimana cara lari dari pertanyaan Adit barusan.


"Nggak usah mikir banget mau ngejawab apa. Lo bukan lagi UAS, Non. Santai aja." Bibir Adit menampilkan deretan gigi dan gelak samar terdengar. "Suka ngupingin gue, ya?"


Gesna berusaha menutupi salah tingkahnya. "Wuih, pede. Kebetulan kedengeran. Kita punya kuping kali, Mas. Suara fals lo itu ya kedengeranlah."


"Kemarin panggil gue Bang, tadi panggil nama doang, sekarang panggil Mas. Nggak konsisten lo," cibir Adit sambil mengambil embun di pinggir gelas dan mengusapkan di pipi Gesna.


Gesna tidak terima. Cewek itu mengambil es batu di dalam gelas dan menangkupkannya di pipi Adit. "Suka-suka gue. Memang lo maunya dipanggil apa? Pakde, Mamang, Babu atau Oom biar kayak si tua bangka itu?"


Dingin terasa menyengat di pipi Adit. Es batu masih tertempel di pipinya. Dia berusaha menarik tangan jail Gesna. "Beb aja, gimana?"


"Beb? Bebek maksud lo?"

__ADS_1


Gesna terbahak-bahak. Bahkan meniupkan yoghurt dari sedotan ke mukanya. Untuk pelecehan yang cewek itu lakukan ke Kepala Suku hari ini, Adit resmi memaafkan. Karena dia mulai meraba gelap yang ada di hidup Gesna dan tawa itu rasanya bersinar dalam gelap.


__ADS_2