
Dirasa cukup, Adit mengembalikan gitar kepada anak yang ikut duduk di antara mereka. Anak itu memakai baju berwarna keabuan dengan leher yang sudah melebar. Rambutnya seperti rambut jagung, mungkin karena sering terpanggang matahari.
"Namanya siapa?" tanya Adit sambil menunduk, sejajarkan tinggi dengan sang pengamen.
"Iduy, Bang."
"Iduy? Nama lo, Yudi?"
Pengamen kecil yang bernama Yudi itu mengangguk.
"Tapi lo nggak suka judi, 'kan?"
Gesna langsung menyikutnya. Adit berpura-pura mengaduh sambil menggenggam kembali jemari Gesna.
"Nggaklah, Bang. Bagus Iduy nabung buat beli gitar." Yudi menggeleng pasti. Adit memberi selembar uang berwana kemerahan yang diterima Iduy dengan mata berbinar. "Ini buat Iduy semua, Bang?"
Adit mengangguk, mengiakan ketidakpercayaan barusan. Cowok itu tersenyum sambil mengusap kepala Yudi. "Suara lo bagus, Duy. Rajin-rajin latihan vokal sama gitar. Gue yakin, lo pasti bakal sukses."
"Iduy cuma punya gitar ini aja, Bang. Ini juga punya Abah."
Mata Adit menyorot dengan penuh haru. Bibirnya tersenyum kembali sembari memegang kedua bahu Yudi. "Sabar dan jangan nyerah. Jadi orang hebat itu nggak mudah."
Gesna dapat melihat Yudi mengangguk antusias. Ucapan Adit barusan memberi api semangat dan anak itu langsung tersenyum riang. Meninggalkan mereka dengan melambaikan tangan.
Adit memeriksa ponsel sekilas untuk melihat waktu. "Udah jam sepuluh. Pulang, yuk?"
Setelah Gesna mengangguk, cowok itu menggenggamnya sepanjang jalan. Menyusuri lorong temaram yang mulai lengang. Parkiran mulai sepi. Tukang parkir juga entah ke mana.
Adit sudah akan menghidupkan motor ketika menyadari satu hal. Cowok itu kembali turun, menuju ban depan dan berlutut memeriksa.
"Kenapa?" tanya Gesna ikut menunduk.
Adit hanya diam, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Tubuh itu langsung berdiri kemudian matanya menyapu keadaan sekitar secara jeli, seperti mencari sesuatu.
"Bannya robek," ujar Adit mengedikan dagu ke arah yang dimaksud. "Kalau dari sobekan, ini ada yang bikin."
Gesna menunduk, mengamati ban yang kempes. Ukuran sobekan yang besar tentu membuat siapa pun tahu kalau itu bukanlah akibat dari sebuah paku. Sobek parah itu tidak bisa ditambal.
"Jadi gimana?" Gesna mengamati Adit dari balik helm. Cowok itu melipat tangan di dada, seperti sedang berpikir.
Adit menarik napas dalam. "Ini udah malam, udah mendung juga. Kamu harus pulang. Aku orderin taksi online, ya."
Adit mengeluarkan ponsel dan memesan taksi, lalu kembali duduk di atas jok sambil tetap waspada mengamati sekitar.
"Terus lo, gimana?" tanya Gesna ikut melipat tangan.
Cowok itu membuka helm kemudian menggeleng. "Nggak apa-apa, nanti aku coba hubungin bengkel langganan. Yang penting kamu pulang dulu, nanti keburu hujan."
"Nggak apa-apa nggak ditemenin?" Gesna kembali mengamati Adit.
Cowok itu kembali menggeleng dan tersenyum kecil, mengangkat telepon untuk berbicara dengan pengemudi. Tangan Gesna kembali digenggam dan mereka berjalan sedikit menuju kendaraan yang menunggu.
Adit membuka bagasi terlebih dahulu, memastikan plat dan pengemudi. Setelah merasa sesuai dengan aplikasi, cowok itu membuka pintu dan mengantarkan Gesna masuk ke dalam.
"Pak, tolong antar pacar saya ke tujuan dengan selamat, ya," ujar Adit kepada pengemudi, disambut dengan anggukan. "Hati-hati, Pak. Jangan ngebut."
Sebelum menutup pintu, kepala Gesna diusap kembali. Bibir itu masih tersenyum. "Kalau sampai rumah nanti kabarin aku, ya. Hati-hati."
Gesna mengangguk patuh. Pintu ditutup dan dia menurunkan jendela untuk menatap lambaian tangan Adit.
Taksi berjalan meninggalkan cowok malang tadi dan rasa bersalah di hati Gesna. Dia bahkan memutar badan untuk melihat badan Adit yang semakin mengecil.
Dari jauh, terlihat Adit kembali ke motor yang terparkir. Motor dengan ban robek parah akibat ulahnya. Iya, Gesna yang merobek memakai pisau saat Adit membeli kerak telor. Gesna ingin mengerjai cowok itu.
Ponselnya bergetar.
Mr. A: Hati-hati di jalan. Jangan tidur. Atau mau aku telpon biar ada temen ngobrol?
Untuk pertama kalinya, dia tergerak membalas.
Gesna: Nggak usah, lo kan lagi urus motor.
Mr. A: Ya udah, jangan lupa kabarin. Hati-hati.
Gesna terdiam, menekuri tulisan di ponselnya. Karena tidak tahu harus menjawab apa, Gesna tidak membalas pesan Adit lagi. Dia memilih untuk menyimpan kontak Adit juga menekan tombol permintaan pertemanan di Line.
Sepanjang perjalanan Gesna hanya melamun, memandang jalanan ramai dengan tatapan kosong. Dia menarik udara banyak-banyak dan mengembuskan kembali. Niat mengerjai Adit berakhir dengan perasaan bersalah yang menyelimuti dirinya sendiri. Bahkan setelah sampai rumah dan berganti baju, rasa bersalah itu masih membuatnya gelisah.
Curi dompet? Check.
Siram air? Check.
Kempesin ban? Check.
Alih-alih marah, Adit malah menunjukan reaksi di luar prasangka Gesna. Aneh, ya? Bukannya Kepala Suku itu sadis? Pernah memukul orang sampai giginya patah. Semua orang takut sama dia dan nggak berani ganggu. Tapi kenapa bisa sesabar itu?
Maksud Gesna, kalau dia yang dikerjai orang seperti Adit, tadi. Pasti orang itu sudah habis dibenamkannya ke rawa-rawa.
Gesna beranjak dari kasur untuk menutup tirai. Ponselnya berbunyi. Gesna meraih ponsel. Sebelah tangan menutup tirai, sebelahnya lagi memeriksa ponsel.
Adit menelepon.
__ADS_1
"Halo," jawab Gesna dengan menetralkan suara, tidak mau terdengar gembira atas panggilan masuknya.
"Di mana?" tanya Adit langsung tanpa basa-basi.
Gesna memunggungi tirai, berjalan menuju sudut untuk menghidupkan lampu balkon. "Rumah."
"Kok nggak kasih kabar?"
Gesna menggigit bibir bawah dengan gugup. Dia tidak menyangka kalau Adit memang menunggu kabarnya. Dia tidak mengabari karena dia pikir Adit hanya basa-basi.
"Lupa," sahutnya spontan.
Adit menarik napas pelan. "Look out your window," pintanya.
Gesna sempat terpaku. Otaknya lambat memproses permintaan Adit. Setelah paham, dia berlari menuju jendela dan menyibak tirai kembali.
Di bawah sana, ada seseorang menengadah ke arahnya, sedang tersenyum sambil mengantongi tangan di saku jaket. Senyum yang berhasil membuat Gesna terhipnotis hingga menuju ke bawah dan menghampirinya.
"Kok lo ke sini?" tanyanya heran.
"Cuma memastikan Kepala Putik baik-baik aja," ujar Adit menatapnya.
Gesna menoleh. Di sekitar Adit tidak ada apa-apa. Tidak ada motor atau kendaraan apa pun. "Lo ke sini naik apa? Motor lo gimana?"
"Motor udah diderek ke bengkel langganan." Cowok itu meringis kecil, bersandar pada pohon di depan rumah. "Tadi, naik Gojek."
"Hah? Gojek? Ngapain ke sini lagi, sih? Harusnya lo langsung pulang," decak Gesna.
"Kamu nggak ada kabari aku, padahal laporan di aplikasi udah sampai," jelas Adit. "Ya, udah. Ya, udah. Aku pulang."
Cowok itu mengeluarkan ponsel, memesan ojek online. Menoleh sedikit ke rumah Gesna untuk memberi detail lokasi kepada pengemudi. "Sori, ganggu. Masuk lagi, gih. Aku cuma mau lihat kamu aja, tadi."
Gesna berdecak keras. Dia memang jail, sering iseng terhadap teman-temannya. Namun, semua kelakuan asal mereka bukan perbuatan kriminal. Dia sudah tidak nyaman atas perbuatannya ke motor Adit dan sekarang, cowok itu makin menambah ketidaknyamanan di diri Gesna.
Tangan Gesna refleks menarik Adit dari bawah pohon, mengajak duduk di teras.
"Dit," panggilnya hati-hati. "Lo tadi bikin keputusan sendiri, nggak melibatkan gue."
Adit menoleh. Tatapan cowok itu terpaku, menunggu kalimat Gesna selanjutnya.
"Lo nggak tanya jawaban gue dulu, 'kan?"
Adit mengerjap dan mengangguk paham. Ekspresinya tegang. "Iya, sori. Gue nggak bermaksud paksa lo."
"Dit, gue nggak mau jadi Mrs. Aditya," tutur Gesna lalu diam sesaat.
Mereka berdua sama-sama tidak bicara.
"Gue nggak mau jadi nyonya-nyonya, nikah aja belum. Memangnya gue emak-emak?" tambah Gesna. "Gue mau jadi nona aja, kayak yang lo panggil selama ini."
Gesna mengangguk sambil tersenyum. Dia percaya Adit baik. Dia percaya. Dan tidak ada salahnya memberi kesempatan kepada orang yang mau berusaha. Toh, dia tidak mungkin mau memaksakan perasaannya dimengerti Guntur. Cowok itu sudah memiliki pasangan pilihan.
Senyum di bibir Adit mulai kembali berkembang. Bangkit dari tempat duduk, Adit memosisikan badan di lantai. Tangan Gesna digenggam dan cowok itu menaruh genggaman juga kepalanya di paha Gesna.
"Sekarang, kamu udah jadi pacar aku. Aku pengin bisa bikin kamu bahagia dan senang terus. Apa keinginan pertama kamu buat aku?"
Gesna tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Adit barusan terasa mendadak. Namun, mulutnya bergerak sendiri, meminta sesuatu sesuka hati.
"Temani gue makan, setiap hari."
Ojek pesanan Adit sudah datang dan membunyikan klakson. Adit menjawab agar menunggu sebentar. Cowok itu bangkit dan tersenyum, mengacak kepalanya dengan lembut.
"Siap, pacar. Aku pulang dulu, ya."
Cowok itu berlalu pergi tanpa menolak permintaan aneh Gesna. Berhasil membuat dadanya kembali tertabuh dan gaduh.
***
"Gesna!" Suara Bu Muslicha memecah lamunan Gesna. "Coba jelaskan kembali, yang barusan saya terangkan."
Gesna menelan ludah, melirik sekitar yang berusaha menyembunyikan tawa. Selama ini jika murid-murid bosan dengan penjelasan Bu Muslicha, mereka akan tetap berakting menyimak sambil pura-pura menulis. Walaupun kenyataannya Gesna akan menggambar-gambar, Naraya menulis puisi atau yang lain mencoret-coret isi buku. Setidaknya semua berakting sedang belajar, bukan melongo seperti yang barusan dia perbuat.
Dia menoleh ke samping. Naraya terlihat cuek, mengabaikan permintaan bantuannya. Semenjak peristiwa bioskop kemarin, mereka tidak saling menegur. Naraya tidak bisa menolong, kali ini. Dengan pasrah, Gesna menggeleng. Dia memang tidak paham Bu Muslicha sedang menjelaskan apa.
"Nggak mengerti, 'kan? Makanya dengarkan penjelasan saya. Jangan melamun."
Sambil tersenyum masam, dia mengangguk. "Iya, Bu."
Bu Muslicha meneruskan lagi penjelasan. Ponsel di kantong Gesna bergetar. Pelan-pelan, dia berusaha mengintip. Sebab ponsel tidak boleh dimainkan selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Gesna menundukan kepala.
Mr. A : Hello, sweetheart.
Mr. A : Tadi aku telat, terus masuknya panjat pagar yang di samping masjid.
Mr. A : Budi tahu, tapi diam aja. Sok-sok nggak lihat.
Gesna tersenyum. Budi itu satpam sekolah. Ternyata orang seperti Budi juga takluk sama Adit. Dari tadi, Gesna memang tidak konsen belajar. Otaknya masih loading. Dia bangun hari ini dalam kondisi percaya tidak percaya dengan status baru yang ada.
Dia pacarnya Kepala Suku.
Kepala Suku.
__ADS_1
KEPALA SUKU.
Bayangkan.
Bayangkan seorang Adit bilang 'Aku'. Bayangkan orang yang ditakuti di sekolah menggenggam tangannya. Bayangkan sosok yang juga dikagumi cewek diam-diam itu adalah pasangannya.
Bayangkan.
Bay—
"Sudah, Gesna?" bisik sebuah suara yang tiba-tiba berada di sebelahnya. Gesna menegakkan kepala, Bu Muslicha sudah ada di sana dengan seringai mengerikan. "Sekarang kamu keluar dan angkat kaki sebelah."
Seluruh mata penghuni kelas menatap iba kepadanya. Gesna melangkah cuek dan senang hati. Setidaknya di luar, dia bebas melamun tanpa diganggu.
Begitu sampai di luar kelas, Gesna berdiri di samping jendela, mengangkat sebelah kaki. Tidak peduli mata-mata yang menoleh ke arahnya, Gesna kembali meneruskan lamunan, memikirkan kejadian semalam dengan tersenyum-senyum. Persis seperti orang tidak waras.
"Awas gila, senyum-senyum sendiri, Non."
Gesna mengangkat kepala. Orang yang dilamunkan melintas sambil tersenyum jail. "Kenapa kamu dihukum?"
Gesna memutar mata. "Kegep baca Line lo!"
"Ulu-ulu kacian." Adit sedikit terkekeh lalu melirik ke dalam kelas, melihat Bu Muslicha yang memperhatikan mereka. Dia lalu berjalan melewati Gesna. "Bantengnya ngelihatin," bisik Adit.
Cowok itu hilang di tikungan. Gesna kembali menunduk. Berada di lantai dua membuat dihukum berdiri di luar kelas tidak begitu asyik. Dinding pembatas menghalangi pandangan ke lapangan bawah.
Suara berdesis datang dari pojok. Gesna menoleh. Adit muncul kembali dari balik dinding dan berjalan berbalik, melewatinya lagi. "Tenang, aku temenin," bisiknya saat berpapasan.
"Lo nggak belajar? Lo udah kelas 12."
Adit yang sudah melewati pintu kelas Gesna, batas antara kelasnya dengan kelas sebelah, lantas memutar badan lagi. "Santai, lagi jam kosong. Pegal nggak?"
Gesna menggeleng kecil sambil tersenyum geli. Adit tidak sadar kalau dia mondar-mandir seperti gosokan. "Lo nggak capek seliweran melulu?" desisnya.
Adit cuma tersenyum. Lain kali, Gesna harus ingatkan cowok itu agar jangan banyak tersenyum. Lama-lama dia bisa terkena serangan jantung.
"Kamu sendiri? Nggak capek hilir-mudik di pikiran aku?" bisik Adit.
Gesna melirik Adit yang sudah sampai di ujung bagian lain. Cowok itu berbalik lagi. "Tahu nggak kenapa aku telat? Tadi malam, nggak bisa tidur."
"Kenapa?" Bibir Gesna hanya bergerak tanpa suara.
"Ingat kamu."
Gesna berdengkus kecil, menunduk untuk sembunyikan senyum. Adit ini gombal, garing, tapi lucu juga. Bisa menghibur di saat-saat dia perlu hiburan.
Pintu kelas dibuka. Wajah Bu Muslicha keluar dari sana. "Kamu," ujarnya kepada Adit. "Ngapain dari tadi bolak-balik di sini?"
Gesna menoleh. Dari balik jendela besar yang ada di belakangnya, dia melihat kalau seisi kelas tertawa sembunyi-sembunyi, kecuali Naraya. Sepertinya mereka juga menyadari keganjilan Adit yang hilir mudik melewati kelas mereka.
Adit yang tepergok Bu Muslicha lantas membalikkan badan, "Eh, Ibu. Apa kabar, Bu? Kangen deh diajar Ibu," ucapnya sambil menyalami tangan Bu Muslicha.
"Ngapain kamu mondar-mandir dari tadi, Adit? Kelas kamu kan di atas? Kamu mau gangguin Gesna?" Meski menyodorkan tangan untuk disalami, Bu Muslicha masih mencecar Adit dengan garang.
"Ih, Ibu jangan seram-seram gitu. Nanti cantiknya hilang," goda Adit yang didengar penghuni kelas. Seisi kelas Gesna mulai tertawa diam-diam kembali.
Dipuji seperti itu membuat muka Bu Muslicha mendadak tersipu. Nada suaranya merendah. "Apa sih kamu? Udah jangan diganggu Gesna-nya."
"Saya nggak ganggu, Bu. Cuma saya lihat, Gesna ini kayak lagi sakit. Lihat deh, Bu. Mukanya merah dan keringetan. Kalau dia kenapa-kenapa kan sekolah kita jadi dituduh, Bu," jawab Adit diplomatis.
Bu Muslicha menoleh ke Gesna, meneliti perkataan Adit. "Gesna, kamu sakit?"
Gesna cuma menunduk, dan menggigit lidah. Dia mencoba menahan tawa yang membuat mukanya semakin merah.
"Ibu tahu nggak kalau Gesna ada epilepsi?"
Gesna menahan napas. Rasa ingin tertawanya sudah tidak terbendung. Dia terbatuk-batuk sampai keluar air mata.
"Tuh, kan, Bu. Dia tetangga saya, Bu. Makanya saya tahu. Dia suka kejang-kejang deh, Bu."
Ingatkan Gesna untuk menoyor kepala Adit, nanti.
Bu Muslicha mulai melunak. Wanita itu melirik arloji, sebentar lagi juga istirahat. "Ya, sudah. Kamu ke UKS saja, Gesna. Lain kali, jangan melamun sama main hape kalau lagi belajar."
Mendengar hal itu, Adit langsung menyodorkan diri. "Biar saya yang antar Gesna ke UKS, Bu. Ibu percaya aja sama saya."
Cowok itu lalu memegang lengannya dan membimbing menuju ruang UKS yang berada di lantai satu. Sampai di tikungan menuju tangga, Adit menoleh ke belakang.
"Aman," ujar Adit sambil mencolek ujung hidung Gesna. "Makanya kalau lagi belajar jangan melamun sama main hape, Jessica."
Gesna mencebik, melepaskan pegangan Adit di lengannya. "Itu juga karena lo, tahu. Kenapa bilang gue epilepsi, sih? Jelek amat doanya!"
Gesna memukul lengan Adit. Cowok itu terkekeh pelan sambil mengantongi kedua tangan. Mereka menuruni tangga sebelah barat.
"Kok Bu Muslicha bisa manut gitu sama lo?" tanya Gesna. Dia heran saja bagaimana Adit bisa dengan santai berbicara dengan Bu Muslicha, di saat setiap murid takut berurusan dengan Ibu tersebut.
"Siapa dulu? Adit."
Hanya itu jawaban Adit. Namun Gesna mulai paham. Adit kan sering membahas sejarah ketika bersamanya. Jangan-jangan Adit termasuk murid kesayangan Bu Muslicha. Adit bahkan berani menggoda Ibu itu tadi.
"Gue paham. Lo kesayangan Bu Muslicha, ya? Lo kan kayak hafal banget gitu sejarah-sejarah," selidik Gesna.
Adit kembali tertawa, tidak mengiakan. Sampai di depan UKS, cowok itu malah menariknya mengarah ke kantin.
__ADS_1
"Bu Muslicha aja sayang sama aku. Kamu enggak?" goda Adit berkedip-kedip.