
Gesna menyeka kepala yang basah kuyup. Rambutnya bahkan seperti habis keramas. Matahari sore memanggang mereka di lapangan beserta perintah-perintah yang diberikan oleh pelatih.
Tadi sepanjang latihan, dia berhasil berakting pura-pura bahagia, mengolok Guntur sesekali juga menertawai yang lain. Porsi latihan hari ini lumayan kejam, membuat mereka kehausan setengah mati setelahnya.
"Edodoe, nggak nyangka datang juga Abang Guntur, hari ini. Mentang-mentang udah punya pacar, bisa banget pakai acara menghilang-menghilang," goda Riko kepada Guntur yang duduk di sisi kanan.
Guntur yang lagi meneguk minum hanya melirik Riko dengan malas.
"Ya, iya, dong. Kan tadi udah gue titip pesan sama kuncen barunya biar bujuk Guntur latihan," sahut Adrian percaya diri. Cowok itu memamerkan gigi sambil menaik-turunkan alis ke arah Guntur, penuh kode.
"Kuncen baru?" sela Ilham mengernyit tidak paham.
Adrian menepuk Ilham yang ada di sebelahnya. "Iya, kuncen baru, si Joceline. Soalnya Gege udah nggak sakti lagi buat nyuruh Guntur latihan."
Mereka tertawa-tawa sedangkan Gesna meringis, berusaha ikut tertawa dengan segala sesak. Dia berharap semoga wajahnya bisa diajak kerja sama lagi.
"Lo kenapa menghilang, Gun? Takut banget kali bakal kita mintain pajak jadian," ujar Gesna berusaha mengeluarkan nada riang.
"Mungkin karena lo sering bikin orang bangkrut, Ge. Lo paling banyak menuntut kalau minta makan-makan." Riko terkekeh nyaring.
"Ih, sori. Memangnya gue cewek apaan?" balas Gesna dengan menaikkan dagu.
Riko makin terpingkal dan merangkul Gesna. "Cewek jadi-jadian, Ge," tambahnya yang diikuti gelak dari yang lain.
"Sialan! Cewek tulen gue ini, cewek tulen!" Gesna mendorong bahu Riko agar cowok itu menjauh. "Lagian traktir makan-makan itu cara untuk didoain supaya langgeng tauk. Ya, nggak?"
Riko berdecak sambil mengelap muka dengan handuk. "Gue udah traktir kalian makan-makan tetap aja nggak langgeng."
Gesna menutup mulut dan berdiri menjauhi Riko. Dia ingin tertawa, tetapi waspada bakal ditoyor. "Ko, lo mau diketawain pakai cara apa, nih? Ketawa besar? Ketawa kecil? Ketawa syarii, apa gimana?"
Riko mengumpat, yang lain kembali tertawa. Mereka mulai berkemas-kemas untuk pulang. Satu per satu akhirnya meninggalkan sekolah. Gesna mendekati Guntur yang masih duduk di bangku semen pinggir lapangan. Dia harus bicara.
"Gun, sibuk nggak?" tanyanya yang terdengar seperti bisikan. Hatinya tiba-tiba gamang. Keinginan Gesna berubah maju mundur. Bicara atau tidak, ya?
Guntur menoleh ke arahnya sesaat lantas mengembalikan pandangan ke lapangan. "Kenapa, Ge?"
Sumpah demi apa pun, Gesna sudah ingin menangis. Suara itu sangat dirindukannya. "Gue mau ngomong," ujar Gesna ikut duduk di samping Guntur.
Mereka berdua lalu sama-sama diam, melihat lapangan basket yang sepi dengan kenangan yang tertanam di setiap inci.
Sebelum memulai, Gesna berulang kali menarik napas. Berat sekali untuk bicara. "Gue nggak tahu kenapa, tapi kok gue merasa lo berubah, ya?" desisnya parau.
Mata Gesna tetap memandangi lapangan. "Gue sms, gue telepon, gue chat, nggak lo balas. Lo menghilang gitu aja, latihan juga nggak datang. Sampai-sampai gue tahu lo pacaran aja dari Instagram."
Guntur masih diam. Tangan panjang cowok itu memutar-mutar botol plastik yang isinya udah tandas.
"Gue ganggu, ya? Gue nggak maksud mau ganggu lo, sih. Gue tahu kok lo udah punya pacar. Ya, tapi jangan gara-gara pacaran lo jadi nggak latihan, jadi nggak balas telepon gue, nggak balas sms atau pesan gue. Pacar lo marah ya kalau gue ngehubungin lo?"
Gesna melirik ke sebelah dan Guntur seperti tidak tergerak untuk berbicara.
"Gue ada salah?" tanya Gesna lagi. "Ngomong kali, Gun."
"Menurut lo?" Guntur mulai bersuara. Cowok itu menoleh ke arahnya.
Gesna menggeleng dengan muka sendu. "Gue nggak tahu, makanya gue tanya."
Guntur kembali diam, membuat Gesna kehilangan kata-kata. Mereka tidak pernah secanggung ini.
"Bilang sama cewek lo, gue tahu memosisikan diri jadi sahabat, kok. Gue cuma pengin sahabat gue nggak berubah. Gue nggak ada maksud apa-apa." Gesna mulai berdiri dan meraih tas. "Ya udah kalau lo nggak mau ngomong, gue pulang dulu. Selamat ya Gun buat jadiannya. Semoga kalian berdua bahagia dan langgeng."
"Ge..." Secepat kilat Guntur meraih lengan Gesna, mengajak cewek itu duduk kembali. Cowok itu menatap Gesna dengan pandangan getir. "Lo sendiri, gimana? Bahagia sama Bang Adit?"
Demi sinar matahari yang masih ganas pada pukul lima sore, Gesna membuka mulut tanpa sengaja. Kenapa Guntur bisa tahu kabarnya dengan Adit?
Guntur mengangguk dan tersenyum tipis. "Gue tahu kali, Ge. Gue tahu lo ke Bandung sama dia. Gue tahu dia datang dan ngapelin lo. Apa lo ada cerita sama gue?"
__ADS_1
Lidah Gesna seketika terasa pahit.
"Lo bilang gue berubah. Memangnya lo nggak berubah, Ge? Sejak kapan seorang Gege bohong sama gue?"
"Harusnya gue yang tanya sama lo. Lo kenapa? Apa lo berpikir gue bakal melarang-larang lo sampai lo bohong ke gue?" decak Guntur. "Gue cuma pengin sahabat gue jadi bagus aja, kok. Apa pun keputusan lo, gue bakal dukung kali, Ge. Nggak perlu bohong."
Gesna melirik Guntur dengan mata berkaca-kaca. "Gue nggak bermaksud bohong, gue cuma ...."
"Cuma apa?"
Tenggorokan Gesna tersumbat.
"Gue nggak kasih tahu lo, takut lo berpikir macam-macam sama gue."
"Kalau lo bohong malah bikin gue berpikir macam-macam, Ge."
"Maaf," cicit Gesna sambil menyeka sudut mata sebelum air matanya turun.
Sekolah sudah sepi, tidak ada siapa-siapa lagi. Anak-anak ekskul juga sudah pulang mengingat sebentar lagi magrib.
Guntur berdengkus kecil. "Bisa juga lo sedih. Kirain hati lo terbuat dari alumunium," celanya sambil menarik kepala Gesna ke dada. "Jangan bohong lagi, ya?"
Kepala Gesna mengangguk pelan dan lengannya melingkari pinggang Guntur. "Jangan musuhin gue, Gun."
"Enggak. Makanya jangan bohong."
Gesna merengut sambil melepas pelukan. Tangannya bertamu ke bahu Guntur, memukul seperti biasa. "Lo sendiri? Jadian aja pakai rahasia-rahasia! Apa itu kalau bukan bohong?"
"Enggak, gue nggak bohong. Kalau gue bohong, udah gue ralat postingan Nay." Guntur mengacak rambut Gesna sedikit. Muka cowok itu mulai cerah kembali. "Kangen juga gue sama lo."
Gesna tersungging, mengulas sebuah senyum juga. "Iya, dong. Gue memang orang yang pantas dirindukan semua makhluk."
Tangan Guntur mendorong kepalanya dan Gesna terkekeh.
"Lama nggak cerita-cerita. Ada kabar terbaru apa yang gue ketinggalan, Ge?" tanya Guntur sambil merangkul bahu Gesna.
"Kabar terbarunya adalah gue sama Gesna udah jadian, Tur."
Napas Gesna tertahan. Matanya tidak berkedip. Dia mungkin tidak sadar kalau mukanya menjadi pias.
Guntur yang lebih dahulu menyahut. Meski kaget, reaksi Guntur lebih cepat. Dia juga menarik tangan dari bahu Gesna dengan penuh kesadaran diri. "Oh, iya? Kapan jadiannya, Bang?"
"Lo jadian kapan sama anak OSIS itu?" Adit mendekat dengan bibir yang masih tersenyum, tetapi Gesna merasa sangat gelisah hingga tak mampu berkata-kata.
Guntur mengemam. "10 Oktober, Bang."
Adit mengangguk sambil merangkul leher Gesna dari belakang. "Sama. Cuma kami jadiannya malam. Ya, kan, Non?"
Gesna melirik kaku ke arah Guntur, tidak menolak juga tidak mengiakan.
"Tapi Nona gue ini minta supaya jangan diekspos. Dia nggak suka jadi bahan gosip," tambah Adit menaruh dagunya di atas kepala Gesna. "Udah keringatan, masih wangi aja kamu."
Gesna menunduk, tidak berani menoleh lagi. Dia hanya mengencangkan pendengaran saja.
"Wuoh. Keramat itu tanggal," ujar Guntur tertawa. "Selamat ya, Bang, Ge. Semoga kalian berdua bahagia dan langgeng."
Gesna merasa ucapan tersebut menyindirnya. Sebab itu tadi ucapan dia untuk Guntur. Gesna paham nada keberatan yang terselip dalam suara Guntur, tapi dia tidak bisa menarik Guntur dan membujuk Guntur agar jangan memusuhi dia lagi. Sampai Guntur pamit dan meninggalkan dia berdua bersama Adit.
Dagu Adit yang masih ada di atas kepala Gesna lantas bergeser jatuh ke bahu. Cowok itu berbisik di telinganya. Pelan tetapi berefek membunuh. "Kamu suka sama Guntur, ya?"
Gesna berdengkus dan mengurai rangkulan Adit. "Apaan sih lo? Kan udah gue bilang tadi, nggak usah macam-macam. Kalau ada yang lihat gimana?"
"Aku udah memastikan siapa yang masih ada di sekolah selagi kalian duduk bermesraan berdua di sini." Kedua alis Adit yang terangkat itu seperti pematik bazoka.
"Ngomong apa sih lo?!" Gesna lalu berdiri. Dia sudah meledak dengan sempurna.
"Enggak usah marah kalau enggak merasa. Aku yang semestinya marah, lihat pacarku pelukan sama cowok lain."
__ADS_1
"Guntur itu sahabat gue, bukan cowok lain!" sahut Gesna menyandang tasnya, berjalan ke parkiran dan meninggalkan Adit.
"Alright. Sahabat kamu." Adit mengangguk-angguk sembari berjalan di sisi Gesna. "Aku kasih tahu status kita ke dia juga karena dia sahabat kamu. Guntur nggak mungkin bocorin ke BOS atau Lambe School, 'kan?"
Gesna masih cemberut. "Bukannya tadi siang udah gue bilang nggak usah jemput gue?" Dia menatap mata Adit. "Gue nggak nyaman kayak gini, Dit. Serius! Kayaknya kita beda persepsi, deh. Persepsi pacaran menurut lo sama persepsi pacaran menurut gue."
Kedua tangan Gesna berkacak di pinggang. "Gue enggak suka sama cowok banyak aturan, menghalang-halangi dan protes ini itu. Pacaran bagi gue itu punya teman dekat bukan punya sipir penjara!"
"Oh, jadi aku kayak sipir penjara?" Adit berdiri di depan Gesna sambil melipat tangan. "Iya, gitu?"
"Whatever, yang jelas gue nggak suka kayak gini."
"Oke. Let's talk." Adit menggenggam tangan Gesna ke arah parkiran sambil menatap lurus ke depan.
Gesna menoleh, mendapati seseorang cewek yang berdiri di balik perdu tinggi sedang terpaku ke arahnya dan Adit. Gesna tahu siapa cewek itu. Dia Ester, cewek yang suka menitip salam untuk Guntur.
Sebelah tangan Gesna yang bebas naik ke bibir, menaruh telunjuk di sana. Meminta Ester untuk merahasiakan itu dari semua. Walaupun Gesna tidak kenal dekat dengan Ester, setidaknya cewek itu dekat dengan Miya, sepupu jauhnya yang juga bersekolah di sini. Kalau Ester macam-macam, tinggal minta Miya mengenyahkan cewek itu saja.
Adit masih menarik tangan dia hingga parkiran. "Kamu mau kita bicara di mana?"
"Terserah," balas Gesna.
"Aku paling nggak ngerti sama bahasa 'terserah'. Nanti aku ajak kamu ke satu tempat, kamu takut dilihat orang."
"Di rumah aja," pilih Gesna akhirnya. Dia lalu naik ke skuter.
Adit mengikuti dari belakang dan parkir di sebelah skuter Gesna saat sampai.
Tas berisi baju kotor ditaruh Gesna dengan asal dan dia mengempaskan badan ke sofa.
"Ayo, kita bahas." Adit duduk di karpet, kembali menempatkan diri tepat di samping kepala Gesna. "Kamu maunya gimana?"
"Gue nggak suka lo ngatur-ngatur! Kurang jelas apalagi bahasa gue ini? Atau gue mesti ngomong pakai bahasa arwah?"
Adit menarik napas dalam. "Oke, fine. Aku tampung. Sekarang aku, ya? Aku nggak suka kamu nggak batasin kontak fisik sama sahabat-sahabat cowok kamu."
"Mereka sahabat gue. Lo nggak punya sahabat apa?!" Kedua alis Gesna bertaut dan wajahnya menegang. Dia paling tidak suka kalau sahabat-sahabatnya dibicarakan orang.
"Ada," balas Adit dengan tatapan tajam. "Tapi sahabatku cowok semua."
"Ya, itu sih derita lo." Gesna melirik kesal. "Kalau lo nggak punya sahabat cewek, masa gue yang mesti lo salah-salahin?"
"Aku nggak salah-salahin," terang Adit.
Gesna mulai duduk bersila. "Gini, ya. Sebelum lo kenal sama gue kayak sekarang, lo pasti udah tahu gue sama mereka gimana. Gue sahabatan sama Guntur, sama Riko, sama yang lain-lain," tekannya.
Adit menggembungkan pipi, membuang kesal bersama udara. "Enggak ada persahabatan murni di antara orang berlainan jenis kelamin, Non."
"Ah, kata siapa? Lo nggak paham karena lo nggak punya sahabat lain jenis." Gesna masih bersikeras.
Adit mengusap muka gusar. Sedari tadi, dia menunggu Gesna latihan dengan mengerjakan PR di basecamp. Ketika dia mendengar suara Riko dan lainnya, dia langsung turun, berpikir Gesna juga ada. Namun pacarnya tidak ada, entah sudah pulang atau masih di sekolah. Beruntung saat Adit melewati sekolah, dia melihat skuter Gesna. Dia lalu masuk mencari cewek itu di sekolah dan melihat pemandangan yang menikam tepat pada jantungnya.
"Non... Aku tungguin kamu di basecamp, dari tadi. Kamu tahu nggak rasanya melihat pacar sendiri dipeluk orang?" desisnya sambil menatap mata Gesna.
"Kan tadi udah gue suruh lo buat pulang? Nggak ada yang minta lo tungguin gue. Lo aneh, deh. Apa yang gue minta enggak lo bikin, malah bikin yang lain." Gesna menyapu bantal-bantal sofa hingga jatuh ke bawah dan kembali mengempaskan badan, kali ini membelakangi Adit.
"Karena aku sayang kamu," ujar Adit sungguh-sungguh.
Gesna bergeming.
"Non, dengar, 'kan?"
"Lo tahu kan gue dari latihan? Gue capek, gue pegal, gue ngantuk. Bisa nggak biarin gue istirahat?" balas Gesna tanpa menoleh.
Dia tidak mendengar balasan Adit lagi, melainkan deru napas yang diusahakan teratur. Adit emosi, itu jelas. Tapi bukan cowok itu saja yang emosi, dia juga.
"Tunggu sebentar," pesan Adit sebelum dia mendengar suara pintu ditutup.
__ADS_1
Tangan Gesna naik memijat pelipis. Dia meraih ponsel untuk mengirimi Guntur pesan. Memilih kata-kata yang paling baik, menjelaskan kepada Guntur kalau dia mau menceritakan hubungannya dengan Adit tetapi cowok itu sudah datang lebih dahulu. Semoga Guntur tidak marah kepadanya lagi. Gesna tidak mau musuhan dengan sahabat sendiri. Sahabat merupakan keluarga kedua bagi Gesna, selain Gustav dan Gandhi. Apa pun yang terjadi pada dunia ini, persahabatan mereka tidak boleh rusak.
Tak lama Gesna merasa matanya semakin berat. Melihat huruf-huruf di ponsel, membuat Gesna sukses jatuh tertidur tanpa sempat mandi.