
Langkah pertama yang dilakukan Gesna adalah memberikan bunga kepada Adji. Kebetulan setelah band Adit tampil, band Adji yang naik ke pentas. Daripada bunga yang sudah dibeli jadi dibuang, Gesna pikir tidak ada salahnya memberikan sekuntum mawar merah itu ke Adji.
Teriakan juga meriah saat dia menjadi orang yang pertama kali memberi bunga bahkan sebelum Adji membuka suara di mik. Puas menontoni bagaimana skenario-skenario prank di YouTube, membuat Gesna melambai ke Adji, meminta cowok itu menunduk. Dia meraih ponsel dan mengajak wefie. Adji merangkul bahunya dan mereka mengambil gambar dengan tersenyum manis.
Peduli apa sama kucing-kucing alay yang sudah terpekik tidak kendali? Toh, mereka juga tahu kalau Gesna dan Adji dekat, sama-sama anak basket, sama-sama anak kantin Pespel. Mereka tentu tidak ada yang bisa menandingi kedekatan Gesna dengan Adji.
Tidak tanggung-tanggung, foto tadi langsung Gesna jadikan status di semua sosmed miliknya dan diberi caption yang sangat keren.
Gesna.vinanda: Makasih ya Kak udah selalu ada buat gue. 🥰
Gesna tersenyum puas melihat orang-orang mengomentari foto tadi. Dia juga senang karena setelah kedatangannya ke pinggir panggung, cewek-cewek yang mau memberi bunga kepada Adji hanya berani menaruh di kaki cowok itu saja. Rasakan! Kucing-kucing kelaparan juga harus tahu diri. Enggak semua makanan bisa mereka hajar.
Dari jauh, Gesna tahu kalau Naraya melemparkan pandangan menusuk. Bibir Gesna terkekeh. Baguslah kalau Naraya kesal, supaya cewek itu jangan merasa spesial mentang-mentang disayangi orang. Selama ini, Gesna coba menahan diri mendengar cerita tentang cewek itu dari Adji dan hari ini, kesabaran dia habis.
Naraya itu definisi ubur-ubur yang bentuknya menyerupai manusia. Tidak ada otak dan tidak ada hati. Cewek itu nggak sadar kalau disayangi Adji merupakan anugerah. Di sekolah ini, siapa sih yang tidak mau jadi pacar Adji?
Gesna sudah masa bodoh dan menebalkan muka, kakinya berjalan ke belakang panggung untuk menunggu Adji. Ada Guntur di sana.
"Gun," panggil Gesna sambil menunjuk lemari pendingin yang berdiri di belakang panggung. "Mau itu." Tangannya menunjuk minuman sponsor yang terlihat sangat enak di suasana terik seperti ini.
Guntur mendekat dan berdecak. "Itu buat band-band sama panitia."
"Ya, makanya gue minta lo. Lo kan panitia." Gesna memasang muka nelangsa. Yang berhasil membuat siapa pun akan luluh dengan raut itu.
Saat Guntur mengulurkan botol berembun ke arahnya, Gesna memekik senang. Dia menggelantung di lengan panjang Guntur. "Abang Gugun baik banget. Gue doain enteng jodoh, deh."
"Gue udah punya pacar, Gege." Guntur menggeleng-geleng sambil menepuk pelan kepala Gesna.
"Ye, kan belum tentu jodoh lo." Gesna menjulurkan lidah tidak mau kalah sambil membuka botol. Diteguknya isi minuman dengan gaya iklan-iklan di televisi. "Gila, segar banget! Beda memang yang gratisan ini, ya?"
Gesna makin tergelak kala kepalanya didorong Guntur. "Nggak usah pakai toa juga ngomongnya," desis Guntur sebal.
"Biarin sih, Gun. Kenapa? Malu lo? Malu lo berkawan sama gue?" Tangan Gesna berkacak di pinggang sambil tertawa-tawa. Sesekali dia ikut bernyanyi lagu Creep yang sedang dibawakan oleh Adji.
Seperti itu memang ya orang sedang jatuh cinta. Jatuh sedalam-dalamnya tanpa ada penghalang sama sekali, lalu hancur bersamaan kala mengetahui hanya jatuh sendirian. Tidak ada siapa pun yang meraih kejatuhan kita. Seperti Adji jatuh kepada Naraya dan dia yang jatuh kepada Guntur.
I wish I was special
You're so fuckìn' special
But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hèll am I doing here?
I don't belong here
Gesna meringis sedikit. Dari sudut mata, Gesna melihat Guntur juga ikut bernyanyi. Guntur kalau bernyanyi suaranya bagus, tapi pada dasarnya Guntur tidak suka menonjolkan diri. Sehingga paling-paling yang tahu bagaimana suara cowok itu cuma dia dan Pelangi.
Ketika Adji menyelesaikan penampilan, Gesna langsung berdiri. Menampilkan senyum dukungan untuk cowok itu. Tangannya juga ikut bertepuk tangan guna membesarkan perasaan Adji, sebab dia tahu Naraya tidak menggubris lagu yang dibawakan Adji. Untuk sekadar menoleh saja pun tidak.
"Kantin, yuk, Ge," ajak Adji.
__ADS_1
Gesna mengangguk dan berjalan bersama Adji, di belakang yang lain. Tangannya melambai ke Guntur, cowok itu sedang memperhatikan panitia acara, tidak bisa ikut ke kantin. Lagi pula Guntur tidak pernah mau diajak ke kantin Pespel.
"Gue gagal," bisik Adji yang hanya didengar oleh mereka berdua. Muka Adji terlihat muram. Mereka berdua sama-sama tahu kalau Naraya acuh tak acuh dengan penampilan Adji, tadi. "Dia ada hubungan apa sama Adit?"
Kepala Gesna bergeleng, tidak tahu jawaban.
"Lo beneran pacaran sama Adit, 'kan, Ge?"
Pertanyaan Adji membuat langkah Gesna berhenti dan badannya memilih berputar. Dia langsung lari menjauh. Naraya ini memang bisanya menghancurkan perasaan orang saja. Kepala Gesna menoleh kanan kiri, mencari keberadaan Naraya secepat dia bisa dan menarik cewek itu menuju tempat sunyi di belakang sekolah.
Taman belakang sekolah bukanlah taman yang bagus dengan bunga-bunga indah. Hanya tanaman-tanaman tidak terawat, ilalang setinggi pinggang dan sebuah kursi panjang yang kusam. Naraya mengentak tangannya agar lepas dari cengkraman Gesna dan Gesna memandang Naraya dengan nyalang.
"Kenapa?" tanya Naraya datar sambil melipat tangan di dada, tidak terpengaruh muka marah Gesna.
"Lo!" Tunjuk Gesna dengan geram, ingin sekali dia bisa mencekik cewek ini.
"Iya, gue. Kenapa?" tanya Naraya dengan menaikkan dagu.
"Punya hati itu dipakai sih, Nay!" erang Gesna.
Seperti biasa, Naraya berdecak sinis dan tersenyum miring mendengar perkataannya. Kedua alis Naraya naik, dengan air muka sangat meremehkan. Melihat gaya yang terkesan angkuh itu, Gesna tidak dapat menahan lagi. Tangannya maju mencekik Naraya, membuat Naraya tersandar di tembok. "Pengin gue hajar aja lo!"
"Hajar!" bentak Naraya menantang. Cewek itu sama sekali tidak melepaskan cekikan Gesna di leher. Tangannya masih terlipat di dada. "Apa mau lo? Mau bunuh gue? Bunuh aja, biar lo puas!"
Mata Gesna membulat. Naraya menatap dingin ke arah Gesna, tidak ada ketakutan sedikit pun. Jangan-jangan Naraya ini psikopat? Cewek itu terkekeh saat dicekik. Apa namanya kalau bukan psikopat?
"Segitu aja bisa lo? Cuma ancam-ancam aja?" ejek Naraya tersungging sadis. "Lakuin aja apa yang lo mau, Ge. Lo suka sama Kak Adji? Ambil aja ambil. Telan bulat-bulat sampai lo muntah darah."
Gesna mengencangkan cekikan yang tidak juga dihalau Naraya. "Yang suka sama Kak Adji siapa?!"
Sorot mata mengerikan yang tidak pernah Gesna lihat dari mata Naraya, kini tampak. "Gue diam bukan berarti gue nggak tahu, Gesna."
Senyum cewek itu tampak asing dan seram. "Gue malah kasih lo kesempatan berdua sama dia, biar hidup lo nggak munafik banget," ujar Naraya dengan suara rendah dan intonasi mengolok.
"Lo pikir lo nggak munafik? Bilangnya rapat OSIS tapi malah nonton! Mikir lo, tolòl! Lo udah bohongin gue!"
"Yang bohong siapa? Lo tanya Guntur, kami memang rapat, bengàk!" umpat Naraya. "Terus lo sendiri apa? Gue tahu lo pelukan sama dia di depan toilet. Lo jalan dan nonton sama dia. Apa itu kalau bukan munafik? Gaya aja nyuruh kami jadian padahal lo juga mau sama dia."
Gesna mulai mencaci maki Naraya. Semua yang selama ini hanya bisa dipendamnya, keluar semua. "Lo jealous? Buat apa lo jealous? Lo kan udah tolak Kak Adji. Hak gue sama dia dong, mau jalan kek, mau nonton kek."
Kali ini, Naraya yang maju dan mendorong bahu Gesna hingga terduduk di kursi. "Lo harus milih! Jangan semua cowok lo kasih harapan! Semua cowok lo gandolin. Jangan kayak cewek murahàn, Ge!"
"Lo bilang gue murahàn?!" Gesna sudah akan menendang Naraya jika saja Asri tidak memekik dan melerai mereka.
"Diam! Diam nggak lo pada!" potong Asri dengan suara sengau. Cewek yang datang dari balik sudut taman itu sudah berlinang air mata.
"Gue memang dong-dong. Gue memang bontot, lemot, kecil, nggak ngerti apa-apa. Tapi gue tahu ya kalau kalian itu musuhan. Gue berusaha tanyain lo berdua, lo berdua bikin-bikin alasan aja," jelas Asri terseguk-seguk. "Kita ini bukan dukun! Enggak perlu sok tahu sama perasaan orang lain, dan jangan selalu minta dingertiin aja."
Asri memandang Naraya dan Gesna dengan muka basah dan memerah. "Ngomong woy, ngomong! Memangnya kita bisa ngerti kalau nebak-nebak? Ngomong baik-baik, dong. Kita sahabat, 'kan?"
"Kalian itu masing-masing merasa jadi korban. Nyatanya kalian pelakunya!" sedu Asri terisak-isak.
Gesna dan Naraya terdiam.
"Sampai sini aja persahabatan kita? Percuma label sahabat kalau saling nggak percaya, percuma mengaku sahabat kalau berkhianat. Sekarang gue tanya sama lo..." Asri menunjuk Gesna. "Lo kenapa belakangan ini dekat sama Kak Adji? Lo suka sama dia? Lo boleh suka sama siapa aja. Enggak perlu lo jauhin kami!"
__ADS_1
"Dan lo..." Asri menoleh ke Naraya. "Kenapa lo malah nonton sama OSIS sedangkan lo bilang ada urusan penting? Kenapa lo bohong?"
Air mata Asri bercucuran sehingga napasnya menjadi pendek-pendek. Naraya segera merangkul Asri, khawatir asma cewek itu kambuh.
"Gue nggak bohong masalah rapat. Gue memang habis dari urusan OSIS, kebetulan diajak jurinya duduk di Starbucks terus selesai cepat. Habis itu, Guntur ajak nonton sekalian traktiran PJ. Bukan gue nggak ingat janji gue nonton sama Gege, tapi gue mikir nanti aja gue nonton ulang waktu kita semua udah kumpul."
"Bohong lo! Kak Adji bilang lo double date. Lo sendiri yang bilang sama dia. Mana yang benar?!" potong Gesna gusar.
"Kurang jelas penjelasan gue tadi? Gue nggak ada double date. Gue cuma iya-iyain aja yang ditanya Kak Adji biar cepat. Biar nggak ganggu lo berdua," balas Naraya.
"Sekarang lo, Ge." Asri menoleh ke Gesna. "Kok bisa pelukan dan nonton berdua sama Kak Adji?"
Gesna terdiam. "Gue nggak ada apa-apa sama Kak Adji. Sumpah! Dia meluk gue karena tahu gue lagi sedih. Dia udah kayak abang buat gue."
"Lo sedih kenapa?" desak Asri meminta Gesna menjelaskan.
Gesna tergagap dan memilin ujung baju. "Karena gue sakit hati," desisnya.
"Sakit hati kenapa? Yang jelas kalau ngomong," paksa Asri lagi.
Gesna menghela napas gelisah. Dia menggigit bibir bawah dan menggaruk belakang kepala. Sebenarnya Gesna tidak mau mengakui, tetapi jika tidak dijelaskan, mereka tidak akan mengerti duduk masalah dan Naraya akan terus menganggap Adji ada hubungan spesial dengannya.
"Gue sakit hati sama postingan Nay. Gue tuh udah suka sama Guntur dari lama." Dia menunduk menatap kerikil di ujung sepatu sambil menendang-nendang kecil. "Tapi salah gue juga, sih. Gue udah menyerah sebelum berusaha. Gue nggak mau merusak persahabatan gue sama hubungan yang jelas-jelas belum tentu kekal."
Naraya menatapnya tanpa berkedip, seolah terkejut menerima kenyataan. "Gue nggak tahu kalau lo beneran suka sama Guntur. Kalau tahu kan, gue nggak mungkin ...."
Gesna terkekeh lirih, menertawai semua. Menertawai kesalahpahaman mereka, menertawai sikap-sikap impulsif yang mereka punya. Kepalanya didorong oleh Naraya.
"Lo juga kenapa pakai acara kasih bunga sama wefie bareng Kak Adji? Caption lo itu jijik banget gue bacanya," hina Naraya sambil mencibir.
"Lagian lo duluan!" Gesna berkelit. Untuk urusan yang ini dia tidak mungkin salah. "Lo duluan yang ngasih bunga ke Adit, pakai Adit cium bunga lo segala. Lo nggak tahu gue pacarnya Adit?!"
Baik Naraya maupun Asri berpandangan. Mereka lalu tersenyum sarat makna.
"Akhirnya, lo jujur juga sama kami," ledek Asri memamerkan gigi. Tangis di mukanya sudah hilang.
Gesna tergagap. Yah, dia keceplosan. Mungkin karena hari ini hatinya sudah terlampau lelah dengan tindak-tanduk para penggemar Adit.
Naraya bergeleng sambil melipat tangan. "Itu makanya tadi gue marah, Ci. Dia dekat sama Adit, dekat sama Kak Adji, dekat sama Guntur. Nggak tahu lagi gue apa yang jadi falsafah hidupnya."
"Kayak lo enggak aja," sanggah Gesna cepat. "Lo kasih Adji harapan tapi lo juga dekat sama Renard."
"Mana ada gue kasih dia harapan?!" sergah Naraya melotot.
Gesna menggeser badan ke arah Naraya, melihat cewek itu dengan saksama. "Ya, nyatanya Kak Adji masih aja berharap sama lo. Nay, lo boleh nggak suka atau tolak orang tapi jangan musuhin dia. Dia juga nggak bisa pilih jatuh hati sama siapa. Lo enggak perlu jauhin dia sampai segitunya padahal kita dulu teman dekat. Kak Adji tuh sabar banget nunggu dimaafin lo," papar Gesna perlahan. "Lo tahu nggak? Lagu yang dibawain dia tadi aja buat lo."
Bibir Naraya tersimpul tiba-tiba. "Serius?"
Gesna mengangguk dan ikut duduk di bangku panjang. "Baikan gih, Nay. Didiamin lebih sakit daripada dihujat-hujat tauk. Lo yakin nggak punya perasaan yang sama?"
Naraya berdesis, tidak menjawab pertanyaannya. Cewek itu malah membahas hal lain. "Gue nggak nyangka kalau tebakan gue selama ini benar," ledek Naraya. "Kalau lo suka sama dia, kenapa lo nggak kasih tahu, Ge?"
"Nggak, ah. Kayak kata Kak Zella, gue memutuskan mundur sebelum mencoba. Taruhannya terlampau gede, persahabatan gue lebih penting. Lagian ..." Gesna menggantung kata-kata. "... Gue sih ogah ya nanti dijauhin sama sahabat gue, didiamin, nggak ditegur cuma gegara ngakuin perasaan."
Asri yang dari tadi menyimak akhirnya ikut berkomentar. "Yang terakhir itu, maksud lo kayak si Nay diamin Kak Adji? Gitu, 'kan?"
__ADS_1
Sebelum mengangguk, Gesna buru-buru bangkit soalnya tangan Naraya terlalu kuat. Lumayan sakit jika dipakai cewek itu untuk menabok kepalanya.