
"Gandhi..."
Pekikan itu langsung mencuri perhatian beberapa penghuni rumah sakit. Adit menarik tangan Gesna untuk mempercepat langkah agar cewek berhoodie hitam itu tidak semakin heboh. Disangka penculikan anak nanti.
"Bisa nggak usah teriak-teriak? Ini bukan pasar."
Gesna melengos mendengar peringatannya. Adit balik melirik. Gesna sering kali melengos tidak lihat tempat dan lawan bicara. Kebiasaan yang tidak sopan.
Tangannya turun dan menggenggam Gesna dengan kencang. Menarik cewek itu menyusuri koridor rawat inap anak yang berada di lantai lima. Setelah menemukan nomor kamar yang didapatnya dari informasi, Adit mulai mengetuk pintu.
Pintu terbuka. Ruangan lebar menyambut mereka. Dinding bercat warna muda khas bocah dilengkapi dengan stiker-stiker bergambar kartun. Seseorang bapak yang membuka pintu langsung menunduk mundur saat melihat Gesna, sedang seorang wanita yang duduk di sebelah ranjang langsung berdiri.
Gesna mempercepat langkah menuju tempat tidur berseprai kuning dengan motif sapi. "Gimana Gandhi, Mbak? Sakit apa dia?"
"D-diare dia, Kak. Tapi sudah mendingan sekarang," jawab wanita yang Adit rasa bekerja sebagai pengasuh.
"Dikasih makan apa bisa diare?!" bentak Gesna.
Nada suara yang meninggi itu membuat pengasuh tertunduk takut. Adit langsung mencengkeram genggamannya di tangan Gesna, mencoba mengingatkan.
"Apa sih, lo?!" Cewek itu menoleh ke Adit dan melepaskan genggaman mereka. Gesna masih tidak mengerti arti peringatan halus Adit.
Adit lalu mengantongi tangan dan memandang anak yang sedang tidur. "Memangnya dia ada makan apa, Mbak?"
Pengasuh itu terlihat menautkan jemari. Suara gugup keluar dari mulut yang bergetar. "A-anu kemarin d-dia maksa mau makan cimol yang di p-pinggir jalan."
"Dan Mbak kasih?!" Gesna kembali meradang. Urat-urat lehernya sampai terlihat.
"Sudah kami larang, tapi si Adek tetap kekeuh," sela lelaki yang tadi membuka pintu. Sang sopir itu berusaha menengahi keadaan.
Adit yakin, Gesna tetap tidak akan bisa menerima penjelasan itu. Dari embusan napasnya saja terdengar kalau ada api besar yang sedang berkobar di kepala. Pasti letupan panik, khawatir dan amarah akan segera keluar dari tubuh Gesna. Aura itu sudah terasa oleh Adit dan dia bergegas menarik Gesna untuk duduk di sofa yang ada. "Santai, Non. Memangnya bisa berpikir sambil marah-marah?"
Dia meraih air mineral yang ada di atas meja. Membukakan segelnya dan memberikan botol itu ke Gesna. "Minum dulu, biar adem. Panas amat kayak mau bakar sate."
"Biarin! Bakar orang sekalian, bila perlu orangnya gue sate," potong Gesna sambil meraih air mineral dan mereguk. Dia berulang kali menarik dan membuang napas agar tenang. Gandhi memang tidak bisa sembarangan makan, salah sedikit bisa sakit perut. Sudah sering kali dilarang tetapi tetap saja suka melanggar. Gesna berdecak kesal, raut mukanya asam sekali.
Adit tersenyum tipis melihat muka Gesna yang kelewat ekspresif. Dan ketika melihat Gesna yang jutek, rasanya semakin menggemaskan. Dia kembali mengalihkan pandangan ke ranjang. Adik Gesna sudah tidur dengan infus di tangan kanan. Anak itu terlihat lemas, maklum saja diare menyebabkan kekurangan cairan dalam tubuh.
"Tadi berdua aja ke sini?" tanya Adit. Pengasuh dan sopir mengangguk. Adit tidak menangkap sosok orang tua Gesna di sana. Namun, dia coba mengerti dan tidak menanyakannya. "Ada bawa baju atau perlengkapan nggak?"
"Tadi buru-buru, soalnya Gandhi berulang kali muntah-muntah dan ke belakang," ujar pengasuh masih menunduk. Kentara sekali dia takut kepada Gesna.
Mudah ditebak, begitulah keadaan orang yang sedang panik. Otaknya tidak mempersiapkan sesuatu dengan matang. Adit merasa perlu mengambil alih. "Ya sudah, malam ini biar kami saja yang jaga. Mbak sama Bapak pulang saja dan siapkan keperluan Adek. Besok dibawa."
"Kakak baru sampai dari Jakarta?" tanya pengasuh. Wanita itu seperti memahami perjalanan Adit dan Gesna dari wajah-wajah mereka yang tampak lelah.
"Ya iyalah, masa dari Arab, Markonah?!" Gesna menjawab asal. "Tahu nggak lo? Gue pegel berjam-jam di atas motor karena dengar Gandhi masuk IGD."
Adit ingin sekali menyentil bibir lemas itu agar diam. Ia yang sedari tadi mengemudikan motor saja tidak mengeluh. "No matter the situation. Don't let your tongue cut your throat."
Gesna meliriknya dan Adit menaikkan alis. Adit yakin Gesna paham maksud ucapannya. Benar saja, cewek itu mendadak bungkam. "Iya, kami buru-buru dari Jakarta begitu dengar berita ini."
"Maaf, saya merasa perlu kasih tahu Kak Gesna. Ibu masih di Paris soalnya. Saya coba hubungi Bapak dan Abang tapi nggak nyambung." Pengasuh menjelaskan dengan ragu-ragu.
"Nggak apa-apa, Mbak. Memang sudah seharusnya diberitahu. Lain kali, diingatkan Adek supaya jangan makan sembarangan." Adit menoleh ke Gesna yang masih diam dan memandangi adiknya. Ada tatapan sayang dan khawatir di mata bulat itu. Marahnya Gesna barusan adalah ekspresi kecemasan berlebihan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Kakak sudah makan? Makan saja dulu, biar kami yang nunggu. Baru sehabis makan nanti kita aplusan."
Adit melirik jam tangan, waktu menunjukan pukul delapan malam lewat, hampir pukul setengah sembilan. "Benar juga, makan yuk," ajaknya ke Gesna. Yang diajak hanya bergeming, Adit menepuk jidat pelan, Gesna benar-benar tidak mendengar dia. Dia berjalan dan menarik Gesna dari sofa. "Ayo makan, biar bisa gantian sama si Mbak."
"Hah? Apa?" Gesna baru tersadar ketika lengannya ditarik keluar kamar.
"OS berapa sih lo? Lambat amat?" ejek Adit berjalan ke lift.
Gesna melepaskan pegangannya dan menghadiahi Adit lirikan membunuh. "Mulut lo kayak nggak makan bangku sekolah."
"Perlu kaca, Non? Lagian bangku sekolah ngapain dimakan? Bangku sekolah mah buat didudukin." Adit berusaha menjawab Gesna, meski muka cewek itu semakin rata, tidak ada gurat senyum.
"Atur aja atur," jawab Gesna terlihat malas. "Lo ngapain ngebela si Mbak? Udah tahu dia salah, besar kepala nanti."
Mata hitam Adit menatap ke angka yang berjalan mundur di dinding lift. "Lidah lo itu tajam, jangan sampai nyakitin orang. Dia pengasuh adek lo, gimana kalau dia sakit hati terus ..."
Adit hanya menoleh sedikit, ia yakin Gesna mengerti kelanjutannya. "Gimanapun, dia yang setiap hari sama adek lo. Nggak sepenuhnya salah dia juga. Kalau lo mau ingetin, ingetinnya dengan cara yang baik, Nona."
"Duh, instruksi pembina upacara itu adanya hari Senin. Jangan dimulai sekarang, deh," dengkus Gesna sambil melipat tangan.
Lift sudah sampai di lantai dasar, mereka menuju pintu keluar. Gesna menoleh ke kanan dan kiri ketika langkah mereka sudah sampai di trotoar yang menghadap ke jalan besar. "BTW, kita mau ke mana? Lo kayak tahu aja ada makanan apa sekitar sini?"
__ADS_1
Adit mengeluarkan ponsel lalu terlihat mengutak-atik sebentar. Tak lama terdengar panggilan masuk dan Adit memberitahu posisinya.
"Lo mau makan apa?" ujar Adit sambil mengantongi ponsel setelah panggilan selesai. Belum sempat dijawab Gesna, dia langsung menggiring cewek itu berjalan memasuki tempat yang berdekatan dengan rumah sakit.
Gesna mengamati sekitar. Tempat itu seperti rumah dengan gerbang kayu bernomor dua belas, tanpa nama. Ketika mereka masuk, suasana klasik dengan lampu-lampu kuning yang temaram menyerbu pandangan. Cukup ramai pengunjung di kafe bernuansa semi outdoor itu. Banyak tanaman yang membuat pengunjung merasa menyatu dengan alam.
Adit menarik sebuah bangku kayu yang ada di teras tersebut. "Silakan, Nona."
"Makasih, Babu," balas Gesna angkuh. Sudut bibirnya naik sedikit, tanpa sadar ia menarik sebuah senyum.
"Wih, kalau tahu masih nyebelin gini, gue lempar juga lo waktu di puncak tadi." Adit berpura-pura mengeluh. Dengan cepat, tangan Gesna terayun memukul lengannya. "Aduh, KDRT!" pekik Adit kecil.
Gesna hanya memonyongkan bibir dan teruskan pengamatan kepada sekitar. Di meja ada lilin-lilin kecil beraroma serai. Hidungnya terlihat mengendus-endus. "Kok bau jamu, ya?"
"Memang ada jual jamu. Menurut review orang, di sini jamunya enak dan diracik tradisional. Bakmi di sini juga legendaris."
Dia menarik lengan jaketnya hingga ke siku sebelum menyodorkan menu ke Gesna. Setelah membaca menu, Gesna lalu memesan makanan yang sama dengan Adit, mi yamin manis.
Adit memanggil pramusaji. "Mi yamin manis pakai bakso dua ya. Nggak perlu manis-manis banget. Yang di sebelah saya sudah manis soalnya."
Pramusaji itu terlihat menahan senyum dan melirik ke arah Gesna. Sedangkan Gesna sudah melengos ke arah lain.
"Minumnya apa, A'?" tanya pramusaji dengan ramah.
Mata Adit berkilat, tiba-tiba terlintas ide di benaknya. "Ah, Mbak tahu aja nama saya inisialnya A. Perlu kenalan nggak mbak biar akrab?" Adit menoleh sambil tersenyum sebentar kepada gadis yang berdiri di sampingnya, lalu pandangannya kembali ke Gesna.
Padahal Adit penginnya Gesna yang tersenyum. Ia berkata seperti itu hanya ingin mengajak Gesna bercanda. Ia tahu jika di Bandung, semua pengunjung terbiasa dipanggil Aa. Alih-alih tersenyum, Gesna malah memandangnya jijik.
"Nggak usah keganjenan deh lo. Cepetan pesen minumnya. Saya minumnya es teh hejo ya, Mbak." Gesna menutup menu lalu mengulurkan ke pramusaji. Cewek itu meninggalkan bangku dan pergi ke toilet. Adit yakin pasti pramusaji tadi menertawainya dalam hati.
Dua mangkuk mi dengan aroma khas menyeruak, terhidang di hadapan. Perut Gesna langsung keroncongan melihat itu. Dia mengaduk mi lalu mencicipinya. Rasanya memang enak.
Tanpa berpikir panjang, Gesna mulai makan. Setelah suapan ketiga, Gesna terdiam. Pandangannya terpaku kepada pemilik kafe yang sedang berbicara kepada para pelayan. "Um... Dit."
Adit menoleh dan mengikuti pandangan Gesna.
"Ini ... halal?" bisik Gesna. Bagaimanapun ulasan makanan halal atau nonhalal akan menjadi hal yang sensitif untuk sebagian orang.
Adit mengangguk sebagai jawaban. "Aman. Gue muslim juga. Masa gue celakain lo, sih."
"Oh... Iya, sori, sori. Soalnya kami kalau mau makan di luar selalu make sure hal itu." Gesna melanjutkan makannya.
Gesna menyendok dan menyeruput kuah. "Gue sama Guntur," jelasnya singkat. "Oh iya. Hape gue mati nih. Boleh pinjam hape lo nggak, Bang? Gue belum kasih kabar."
Adit terkekeh sambil mengeluarkan ponsel. "Lo kalau ada maunya aja baru panggil gue Abang, ya? Mau kasih kabar ke siapa?"
"Bang Gustav," sahut Gesna menerima ponsel hitam itu. Mulutnya masih mengunyah. "Sama Guntur."
Cowok itu menarik kembali ponselnya. "Banyak amat yang mau lo hubungin? Nggak sekalian lo hubungin Kepala Sekolah, Ketua RT atau Camat setempat?"
"Idih, pelit. Segitu doang." Bibir bawah Gesna maju, mencibirnya.
"Bukan gitu, gue lagi hemat-hemat batre, nunggu telepon orang. Hubungin Abang aja. Jangan yang lain." Cowok berambut acak itu mengangsurkan ponsel kembali ke Gesna.
Dengan cekatan, Gesna menekan nomor Gustav. Ketika panggilan tersambung, matanya membulat sempurna. Nama Gustav ada di kontak ponsel Adit. "Lo punya nomor Abang? Kok bi—"
Pertanyaan Gesna terputus karena panggilan sudah dijawab Gustav. "Bang, ini Gege. Gue di Bandung. Tadi siang si Mbak kasih kabar kalau Adek masuk IGD."
"Adek? Kena diare. Udah di ruang rawat kok. Kondisinya udah nggak apa-apa, agak lemas aja. Gue? Sam—"
Gesna berdiri. Dia merasa perlu menjauh dari Adit karena reaksi Gustav yang terdengar riuh di ujung telpon. "Iya, sama Adit," bisiknya setelah sampai di pinggir teras yang dirasa aman.
Gesna dapat mendengar tawa cemooh dari Gustav. "Apa sih?! Lebay deh lo! Ini kan karena gue mau ketemu Adek. Gue sama dia sih kebetulan aja. Tadi siang waktu gue mau ke Bandung, pas dia nongol. Pakai mau nganterin pula, ya udah jadi gue sama dia kemari."
Dia memutar mata mendengar ejekan dari Gustav. "Terserah lo kalau nggak percaya. Bebas Bang, bebas!"
Tawa Gustav terdengar semakin memekakkan di telinga Gesna. "Udahlah, ya. Hape gue mati, charger nggak gue bawa. BTW, kok lo tahu ini nomor dia? Kalian ada telpon-telponan apa pegimana?"
Pertanyaan Gesna tidak dijawab Gustav. Abangnya itu malah menitip salam untuk Adit lalu mematikan panggilan. "Memang ya orang tua zaman sekarang, nggak ada sopan-sopannya," keluh Gesna. Bukan sekali dua kali Gustav mematikan panggilan tanpa salam.
"Udah?" Adit tiba-tiba ada di belakang. "Jauh amat nelponnya, Non. Nggak sekalian one lap sampai rumah sakit?"
"Bawel. Eh, bentar. Masih ada 15 persen nih." Gesna menunjuk baterai di ponsel Adit. "Gue boleh telepon satu orang lagi nggak? Bentar doang. Mau nitip keluarin surat izin buat besok."
Besok masih hari Jum'at dan Gesna perlu mengeluarkan satu surat izin yang selalu distok di laci meja agar tidak menjadi masalah bagi absennya.
"Siapa?" tanya Adit ketika mereka sudah kembali ke meja.
"Naraya." Gesna menatap Adit, meminta persetujuan empunya yang dari tadi keberatan ketika ia akan menghubungi dua orang. Di luar dugaannya, Adit hanya mengedikkan bahu, tidak keberatan. Tidak sampai satu menit Gesna menelpon Naraya. Ia malah menelepon tanpa beranjak dari bangku. Tidak ada yang perlu ditutupi dari obrolannya perihal menitip izin.
__ADS_1
Adit mengeluarkan sekotak rokok dan menyalakan sebatang. Gesna menyodorkan ponsel Adit yang sudah dipakai dan langsung tertarik dengan rokok. "Eh, bagi rokok."
Ia mengambil satu batang rokok dari kotak, langsung hidupkan dan menghirup dalam-dalam.
Adit berusaha mengambil rokok yang menyala dari tangan Gesna. "Kalau belum diizinin udah ngambil, namanya maling, Non."
Gesna mengelak. Tangannya menepis tangan Adit yang menjulur maju. "Sebats aja. Biar kece," ujarnya cuek.
"Ck. Gesna!"
"Apa?!" tantang Gesna.
"Jangan ngerokok."
"Apa lo ngatur-ngatur orang?! Lo aja perokok."
Adit bergegas mengantongi kotak rokoknya. "Beda. Gue cowok. Ya udah sebatang aja. Gue kasih waktu sepuluh detik, habis nggak habis harus dibuang."
"Ribet hidup lo, ribet!" Gesna mengembus asap ke arah Adit. Tidak peduli peringatan yang ada. Palingan hanya ancaman. Halah, itu sudah biasa.
Adit melihat jam tangan seolah wasit. "Udah sepuluh detik. Matiin rokok lo. Ayo kita balik."
Gertakan Adit bukan main-main. Cowok itu merenggut rokok yang ia pegang lalu memijak rokok yang masih menyala sampai rata di tanah. Gesna menendang kaki Adit dengan kesal. Cowok yang melarang dia merokok itu malah asyik mengebul sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
"Adit?" tanya seseorang yang berdiri di depan lobi rumah sakit.
Adit mengangguk dan mengambil kantong yang diberikan bapak tersebut. "Makasih ya, Pak."
Dia lalu kembali ke Gesna dan mengajak cewek itu ke atas. "Yuk."
"Itu apaan?" Gesna bertanya acuh tak acuh sembari menekan tombol pintu lift.
"Charger."
"Hah?" Gesna langsung menoleh dengan tatapan setajam elang yang hendak memangsa buruan. "Kok lo nggak bilang sih mau beli charger?! Gue juga perlu. Gila, pelit amat jadi orang. Titip dulu kan bisa? Nanti gue ganti."
Cewek itu berjalan meninggalkan Adit dan lebih dahulu masuk ke kamar. Setelah pengasuh dan sopir pulang, mereka hanya diam-diaman.
Adit duduk di samping jendela. Meski sudah malam, aktivitas kota Bandung masih menggeliat. Kendaraan yang lalu lalang di depan rumah sakit terlihat dengan lampu berwarna jingga dan merah.
Tatapan Adit berbalik ke arah dalam. Pasien masih tampak pulas. Berbeda dengan cewek yang sedari tadi menukar-nukar channel televisi. Mukanya terlihat penuh angkara murka.
"Tidur gih," ujar Adit.
Bukan menjawab, Gesna malah berdengus seperti lembu. Sambil melipat tangan, Gesna menaikkan kedua kakinya ke meja makan. Kalau saja televisi bisa berteriak, mungkin barang itu akan hangus karena ditatap Gesna dengan mata penuh bara.
"Cie, marah," ledek Adit sambil memainkan ponselnya yang sedang diisi daya. "Kayak anak kecil aja. Kalau mau nelepon kan bisa pakai hape gue."
Gesna tidak menjawab. Badannya malah membelakangi Adit. Tangannya kembali mengganti-ganti saluran televisi .
"Itu aja." Adit menarik remote dari tangan Gesna. "Saving Private Ryan. Udah pernah nonton belum lo?"
"Bodo amat."
"Beuh, galak." Adit menarik sebuah kursi dan duduk di samping cewek marah itu. "Tadi gue pesannya dari iPlug, Non. Ya nggak ada lah charger lo. Besok kita cari, ya? Jangan ngambek gitu, dong."
Adit menjawil hidung yang terlihat menggemaskan karena pemiliknya semakin terlihat cantik saat marah. "Pesek lo."
Tanpa Adit duga, Gesna membentaknya. "Jangan sementang lo mancung, terus berhak ngomentarin hidung orang yang nggak semancung hidung lo."
"Widih, beneran galaknya. Salah mulu Abang di mata Adek," decak Adit tanpa melepaskan tatapan dari Gesna. "Abang pindah ke hidung aja deh kalau gitu. Soalnya di mata Adek, Abang salah terus."
Gesna melengos. Mata itu memandang lurus adegan tembak-tembakan di layar datar.
"Apa Abang mesti jadi tentara dulu? Biar Adek ngelirik Abang?" sindir Adit, sayangnya yang disindir tidak peduli.
"Atau Abang perlu bertempur dan mati di medan perang. Supaya Adek peduliin Abang?" serang Adit menggombal.
"Udah berapa orang?" Gesna menoleh kepadanya.
Adit menaikkan sebelah alis. "Apanya yang berapa?"
"Berapa orang korban gombal jayus lo itu?!" cibir Gesna sambil kembalikan tatapan ke televisi. Tidak terpengaruh atas semua rayuan Adit.
Merasa usahanya gagal, Adit berdiri dari bangku sebelah Gesna dan memilih kembali duduk di sofa. Gesna masih sama, tetap jutek dan galak kepadanya. Berbeda sekali dengan yang ia ketahui selama ini. Sebelum berbalik, ia mengacak pelan kepala itu.
"Sama lo aja."
__ADS_1
Tetapi ucapan tadi berupa bisikan dalam hatinya yang hanya setara gelombang infrasonik. Bunyi dengan frekuensi di bawah 20 Hertz itu hanya bisa didengar oleh paus, gajah, badak atau kuda nil. Bukan oleh cewek batu seperti Gesna.