Matahari Api

Matahari Api
Timpang


__ADS_3


Gesna tidak bohong. Ketika akunnya ditandai dalam unggahan foto Adit, seperti ada yang melompat-lompat liar di dada. Sial, tidak bisa diatur lagi frekuensi lompatannya. Kayak bukan jantung olahragawan saja. Berusaha tidak mengembangkan senyum yang terlalu lebar, Gesna terbatuk kecil. "Dit, pengin minum."


"Mau apa?" Cowok itu melambaikan tangan kepada penjaga kantin agar mendekat.


"Jus stroberi," ujar Gesna setelah melihat etalase ada pantulan bayang mangga, wortel, jeruk dan semangka.


Adit berdesis sambil melirik, tahu sedang dipermainkan. "Nggak ada di sini. Kenapa enggak sekalian aja carinya Booba Milk Tea?"


"Nah, itu juga boleh." Gesna memajukan bibir, menahan tawa.


Sejumput rambutnya yang jatuh di kening diacak pelan oleh Adit dengan gemas. "Ini kantin ya, bukan food court. Kamu mau Booba? Aku pesan dari Go-Food aja."


Cowok itu langsung meraih ponsel, membuat senyum Gesna langsung terkembang. "Nggak usah, nggak usah. Bercanda doang" tolaknya menggeleng-geleng lalu menoleh ke penjaga kantin. "Jus jeruknya dua ya, Bu. Kue cubit satu porsi."


"Tumben pesanin aku minum," ulas Adit ketika penjaga kantin menjauh.


Dari sudut mata, Gesna mencuri pandang dan dia dapat melihat senyum Adit sangat lebar. Seperti senang yang berlebihan. Baru juga dipesankan minum, bukan dipesankan rumah atau apartemen. "Nggak mau? Gue tarik lagi nih pesanannya?"


Tangan Gesna yang akan naik langsung diraih Adit. "Cuma tanya, ya ampun. Nggak ada yang minta cancel," ringis Adit membuat Gesna terkekeh di dalam hati.


Selanjutnya, cowok itu masih saja tersenyum dan menatap dari samping meski pesanan mereka sudah datang. Gesna tahu sedang dipandangi. Sebab mukanya sudah terasa terbakar, sedari tadi. Merasa jengah, sebelah tangan Gesna naik untuk mengalihkan arah muka Adit. "Lihat depan. Sakit leher lo nanti gara-gara menoleh terus."


"Nggak apa-apa. Sakit leher pun rela," balas Adit masih menyengir.


Berupaya menstabilkan dada yang berdegam, Gesna mengaduk-aduk jus jeruk seraya menundukkan pandangan. "Lo lihat gue, jangan kayak kambing lihat rumput gitu, dong."


Lama-lama kulit Gesna bisa makin tipis karena dikuliti dari tadi. Ini saja kalau dilihat pakai inframerah mungkin terlihat api yang menyala dari tatapan Adit dan banyak asap di sekitar mereka.


"Jelek banget disamain sama kambing. Aku kan kayak raja lagi memandang ratunya."


Sudut bibir Gesna otomatis melekuk. Jus jeruknya hampir melompat keluar. Geli sekali mendengar Adit menggombal, belajar di mana, sih? "Lidah lo nggak bergetar ngomong kayak gitu? Idih," celanya sambil menyomot sepotong kue.


Adit menahan suapan Gesna dan mengarahkan kue yang dipegang ke arah mulutnya. "Bergetarlah, kalau nggak bergetar mana keluar bunyi," jawab Adit seraya mengerling ketika kue sampai di mulut.


"Yaaaah. Susah memang ngomong sama anak IPA. Nggak ngerti perumpamaan." Pandangan Gesna teralih ke pemberitahuan yang masuk bertubi-tubi di ponsel. "Dit, boleh pinjam hape?"


Adit memberikan ponselnya. "Kenapa?"


Dengan segera, Gesna membuka Instagram Adit dan menonaktifkan komentar untuk unggahan terbaru cowok itu. "Matiin komen. Malas baca komen-komen penggemar lo. Kita nggak bisa atur orang, 'kan?"


"Oh, iya, iya. Omong-omong, nggak ada niat mau follow back Instagram pacar kamu, Non?"


Mulai terkekeh, Gesna menoleh. "Mau di-follow? Tinggal bilang kali."


"Penginnya sih di-follow dengan kesadaran sendiri. Tapi kayaknya pacar aku lagi pingsan atau tidur panjang, jadi nggak sadar-sadar."


Gesna berdecap dan mengambil sepotong kue kembali. "Lagi tidur mungkin, dia kan Snow White. Bangunnya kalau dicium Pangeran."


Adit mengangguk setuju. "Gitu deh si Snow White. Udah tidurnya lama, pakai ngorok lagi. Pangeran udah datang, dia masih nggak sadar. Dicium aja apa, ya?"


Adit sudah mendekatkan kepala ke arahnya. Badan Gesna refleks mundur. Tangan kirinya mengangkat buket bunga untuk menampar bahu Adit. "Jangan macam-macam," ancam Gesna melotot.


Cowok itu malah tergelak. Menertawai muka Gesna yang padam karenanya. "Satu macam kok, Non. Sumpah cuma satu macam." Adit mengangkat jari telunjuk dan tengah ke udara. "Cuma ci—"


Ucapan itu tidak berlanjut karena Gesna lebih dahulu menyuapkan sepotong kue cubit dengan paksa untuk membungkam mulut Adit.


Satu yang Gesna lupa, dia mungkin tidak akan menemukan komentar apa pun di unggahan Adit, tetapi jika foto itu dibagikan di akun Lambe School, semua orang bisa mengomentari langsung. Bahkan Naraya dan Asri juga serempak membuka foto yang sedang dibicarakan.


Sebenarnya Gesna tidak mau melihat, tapi dia penasaran. Dia lupa kalau penasaran bisa membakar orang diam-diam. Akhirnya penasarannya tetap menang, Gesna membuka dan membaca semua komentar orang di akun Lambe School. Dia membaca bagaimana penggemar Adit memperoloknya.


Barusan foto sama Adji, sekarang difoto Adit. Sok laku banget jadi cewek. Pake pelet nih gue rasa.


Palingan settingan itu. Gue sih nggak percaya ini Gesna.


Tapi ini sepatu dan bunga yang dipegang Gesna tadi. Coba lo perhatiin deh.


Ini sih caption yang cocok: handsome and the beast


Handsome and the ugly duck, sis. WKWKKWKW.

__ADS_1


Dan banyak lagi komentar yang sudah tidak kuat untuk dibacanya. Dari awal, dia tahu akan ada komentar seperti itu jika orang-orang mengetahui hubungan mereka berdua. Dia tahu sih kalau antara dia dan Adit memang tidak sepadan.


Sebelah hati Gesna ingin menghajar yang mengunggah ulang foto mereka. Namun, tidak ada yang tahu siapa di balik Lambe School hingga sekarang. Sebelah lainnya, dia merasa ingin terjun langsung ke dalam bumi.


"Udah nggak usah dipikirin. Lo tahu aja, gue dulu lebih parah. Dibilang nggak tahu diri, jual badan, deelel," hibur Naraya.


Gesna hanya menunduk murung. Dia paling tidak suka berita. Dahulu, dia perlu waktu lama untuk bangkit saat seluruh media membicarakan keretakan rumah tangga orang tuanya, juga ketika nama papa disebut sebagai salah satu pengusaha yang terlibat dalam pemakaian jasa prostitusì artis. Gesna saat itu ingin hilang dan tidak dikenal orang. Dia ingin bisa menyamar agar tidak ada yang mengenal dan berbisik menghina diam-diam. Sekarang, dia membaca berita tentang diri sendiri, diejek secara terbuka.


"Ini kalau gue ketemu siapa anaknya, bakal gue cincang hidup-hidup," ujar Naraya pelan dan tanpa emosi. "Lo tenang aja, Ge."


Gesna berusaha tersenyum, mengeyahkan rasa tidak nyaman yang melingkupi erat. "Gue ke kelas dulu, deh. Pengin rebahan."


"Bentar lagi pengumuman sama performance ERK. Lo nggak mau nonton?"


"Dari atas aja," ujarnya kemudian. Seperti mengerti, Naraya dan Asri membiarkan Gesna berjalan menuju kelas.


Melihat pengumuman pemenang juga menonton artis bisa dilakukannya dari balkon. Menjelang senja, lapangan sekolah semakin ramai, berbeda dengan kelas-kelas yang sepi. Beberapa ada yang seperti Gesna, berdiri dan melihat pertunjukan dari lantai dua atau lantai tiga.


Dia menarik sebuah kursi keluar kelas, melipat tangan di pembatas dinding yang setinggi dagu. Dari lantai dua ini, Gesna dapat melihat betapa padatnya di bawah sana. Apalagi nanti malam akan ada dua bintang tamu sebagai penyemarak acara. OSIS memilih Efek Rumah Kaca dan Fiersa Besari sebagai bintang tamu.


Pengunjung yang datang bukan saja murid di sekolah ini. Acara festival dan konser dibuka untuk umum. Tentu saja semakin malam lapangan basket semakin penuh. Sayangnya itu berkebalikan dengan Gesna. Dia merasa sepi di tengah kemeriahan yang ada.


Langit bertambah gelap. Matahari sudah padam total. Lampu-lampu di bawah ditata sedemikian rupa sehingga terlihat seperti barisan yang tidak beraturan namun indah. Ada lampion-lampion tergantung pada setiap stan kecil. Banyak sekali jualan makanan, minuman juga hasil kerajinan tangan. Beberapa murid yang memiliki usaha sampingan juga ikut membuka stan di sana, seperti Ester dan pernak-pernik Korea-nya.


Meski keadaan sudah remang, Gesna dapat melihat sosok Naraya dan Adji di sisi lapangan. Dia tersenyum pelan. Ikut senang melihat dua orang terdekatnya berdamai.


Adji telah menang atas apa yang diusahakan, meski awalnya hancur dan berdarah-darah. Sedangkan dia? Entahlah. Tidak berani berdarah di depan dan tidak menjamin diri bahwa hatinya tidak berdarah hingga saat ini.


Melupakan seseorang itu sulit, melupakan perasaan yang tumbuh apalagi. Namun, dia tidak mungkin menjauhi Guntur. Cowok itu tidak bersalah apa pun. Semua tidak salah. Jatuh hati juga tidak bisa pilih-pilih, 'kan?


Gesna mengedarkan pandangan. Dari atas, dia juga dapat melihat Guntur. Cowok itu bersama Joceline dengan tangan berada di bahu sang pacar. Seakan menjaga dari belakang jika sewaktu-waktu ada hal yang mengganggu. Guntur memang seperti itu. Dulu, waktu mereka sering menonton konser, Guntur selalu menjaga dari belakang. Mungkin Tuhan memberi badan yang tinggi, lengan yang panjang untuk membuat cowok itu menjadi penjaga. Tidak hanya di lapangan, juga untuk para perempuan.


Guntur beda dengan Adit. Guntur tidak pernah memaksa malah bisa dibilang sangat menuruti semua kemauan Gesna. Kalau Adit, jangan ditanya. Berdebat, jawab-jawaban juga kesepakatan menjadi sesuatu yang mengesalkan sekaligus kocak.


Mereka berdua memang tidak sama tetapi memberi warna dalam hidupnya. Gesna menghela napas pelan, mengalihkan pandangan ke langit hitam yang kosong. Dia ingin mengistirahatkan penat dan semua yang memenuhi pikiran. Namun, semua itu gagal kala nama The Tahan Banting disebutkan oleh MC.


Kepala Gesna menjadi kembali menoleh ke bawah. Penonton menjerit senang, apalagi saat Adit yang mewakili The Tahan Banting naik ke panggung untuk menerima piala juara satu.


Jika Renard pernah menyerahkan tropi bergilir tim putra ke Kepsek, Asri dan Naraya mempersembahkan medali, Adit mengangkat piala berkaki empat. Dia apa? Tim basket putri paling hebat juara dua dengan piala tidak tinggi.


Menatap bagaimana cowok itu tersenyum dan mengangkat piala, membuatnya sadar betapa gemerlap Adit. Semenjak tadi siang, semua membicarakan cowok itu. Semua Snapgram orang-orang yang dikenal juga berisi rekaman pertunjukan Adit dan finger style-nya. Berbagai pujian datang membanjiri seluruh media sosial The Tahan Banting.


Sekarang, semua mengelu-elukan cowok itu. Semua seperti lupa kalau cowok itu pernah mematahkan gigi orang. Semua memuja betapa hebatnya permainan gitar Adit, betapa memukaunya penampilan band mereka.


Gesna melenguh. Dia tidak cemburu. Ini bukan cuma cemburu-cemburu norak ala anak muda. Makin ke sini, Gesna makin merasa tersudut, merasa kecil. Semua yang mengetahui hubungan dia dengan Adit pasti mengejek, menghina.


Dia tidak cantik seperti para penggemar Adit, tidak juga pintar, nilai saja pas-pasan. Tidak ada yang bisa disombongkannya selain kedudukan sebagai kapten basket putri. Jika disandingkan berdua, memang benar mereka seperti Pangeran dengan Upik Abu.


Efek Rumah Kaca sudah di panggung utama. Vokalisnya menegur semua penonton lantas menyanyikan sebuah lagu pembuka.


Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi


Di balik awan hitam


Semua pengunjung ikut bernyanyi, dia pun begitu. Bibirnya bergumam pelan.


Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini


Menanti


Seperti pelangi setia menunggu hujan reda


"Ternyata di sini, aku cariin dari tadi."


Sebuah tangan jatuh di kepala dan mengusap pelan pucuk kepalanya. Tanpa menoleh, Gesna tahu siapa yang datang. Aroma Adit sangat khas.


Cowok itu naik dan duduk di pembatas balkon, menghadap ke arah Gesna. "Kok sendiri?"


Minuman yang dijulurkan Adit, diterima Gesna. "Lagi pengin," jawabnya sambil kembali menontoni Efek Rumah Kaca dan menyesap minum. "Lo kenapa ke sini?"


"Penginnya sih nonton di bawah, tapi pacar ngajak pacaran di balkon," bisik Adit yang refleks dipukul Gesna dengan tangan kanannya yang kosong.

__ADS_1


Badan Adit bergoyang tidak seimbang, seperti hendak jatuh ke belakang. Tangan Gesna otomatis melepas minum, langsung meraih lengan Adit dan menarik ke arahnya secepat dia bisa. Mereka berdua terjatuh berguling dengan Gesna berada di bagian bawah.


Wangi Adit sudah menyeruak memenuhi hidung Gesna. Badan mereka sudah berimpit. Adit yang berada di atasnya lebih dahulu bangkit dan berjongkok. "Kamu nggak apa-apa?"


Tangan Adit ternyata berada di belakang kepalanya, menjadi penyangga sebelum lantai. Gesna menggeleng dan berusaha duduk. Minuman tadi tumpah di kausnya dan celana Adit.  "Lo jangan duduk di situ, deh. Kalau tadi jatuh gimana?"


"Kan kamu yang pukul aku, Non." Adit meraih tangan Gesna dan menggiringnya duduk kembali di kursi. "Baju kamu basah. Sebentar, aku ambilin baju ganti. Aku bawa, kok."


"Nggak usah. Nggak apa-apa. Celana lo juga basah."


"Gampanglah. Aku ambil baju dulu, nanti kamu masuk angin."


Cowok itu langsung hilang dari koridor, melangkah cepat menuruni tangga. Hanya sekitar lima menit, Adit kembali datang dan menyerahkan lipatan baju kepadanya. "Ganti baju dulu. Di kelas ada orang nggak? Kalau enggak, di situ aja. Aku jaga di luar."


Memasuki kelas yang temaram, Gesna menyapu keadaan. Tidak ada siapa-siapa. Dia berjongkok dan melepas kaus, lalu memakai kaus yang dibawa Adit.


Senyum Gesna terbit kala meraba kaus tersebut. Kausnya dingin. Berukuran lebih besar dari kaus yang biasa dipakai Gesna, sudah seperti baju tidur. Dan wangi dari kaus ini membuat Gesna ingin berguling meringkuk di tempat. Wangi Adit sekali. Wangi apa sih ini? Gesna harus mencari tahu parfum yang dipakai Adit.


"Non, udah?"


Setelah beberapa kali mencoba embuskan napas dan berhasil menetralisir keinginan cengar-cengir tidak jelas, Gesna membuka pintu kelas


"Kirain udah diculik, lama banget ganti bajunya."


Gesna baru sadar kalau Adit juga membawa jaket. Sepertinya barang itu diambil bersamaan dengan kaus ganti. "Lo nggak ganti celana?"


Cowok itu bergeleng, masuk ke kelas Gesna untuk mengambil sebuah kursi lantas kembali merapat ke pinggir balkon, menikmati lagu-lagu Efek Rumah Kaca. "Enggak bawa celana. Sini duduk. Biar berasa nonton konser VIP."


Mereka duduk berdampingan sambil menaruh tangan di pagar pembatas. Gesna ikut bernyanyi beberapa lagu Efek Rumah Kaca yang dia ketahui.


"Kamu suka ERK?" tanya Adit ketika vokalis selesai bernyanyi dan menegur penonton kembali.


"Lumayan," angguknya.


"Fiersa Besari?"


"Beberapa lagunya juga suka."


"Semua aja kamu suka ya, Non," desis Adit membuat Gesna tersenyum pamerkan gigi. "Kalau sama aku suka nggak?"


Senyum Gesna pudar sebab jantungnya terasa melorot ke pinggang. Beruntung koridor tidak terlalu terang, lampu neonnya seperti lama tidak diganti. "Kenapa nyambarnya sampai jauh ke sana?" protes Gesna mengalihkan pandangan. Gila, mukanya pasti sudah salah tingkah.


"Tanya doang. Siapa tahu dijawab iya," cetus Adit ketawa kecil.


Memang beda ya jika orang jarang tertawa lalu terlihat mengembangkan tawa? Mungkin bagi sebagian murid, hari ini seperti akan dicatat dalam bukti keajaiban dunia. Sebab mereka dapat melihat Adit tersenyum dan tertawa di berbagai foto, berita dan secara langsung.


Iya, meski sulit, Gesna akui bahwa Adit tampan. Tidak main gitar juga cowok itu tetap tampan. Hanya saja, dari dulu, Gesna tidak tertarik untuk beramah tamah dengan Adit dan Bara di basecamp. Bara tampak angker sedangkan Adit yang terlalu pendiam seperti tidak acuh kepadanya.


Namun, kita tidak tahu jika tidak mengenal langsung. Adit tidak sependiam dan seangkuh perkiraan. Murid-murid di sekolah saja yang jarang bisa berkomunikasi dengan Adit. Setelah melihat senyum Adit, semua berbalik arah.


Makin lama, manusia menjelma menjadi pemutus takdir bagi manusia yang lain. Menentukan siapa pantas dengan siapa. Orang tampan hanya pantas memiliki pacar cantik dan sebaliknya. Itu seperti hal normal di mata masyarakat. Akan tetapi, jika cowok ganteng memiliki pacar dengan wajah sebiasa dia. Lihatlah, seluruh dunia mencemooh. Seolah-olah Gesna telah melakukan perbuatan keji.


"Lo kenapa sih pacaran sama gue?" tanya Gesna menoleh dan memperhatikan muka Adit.


"Karena suka." Adit balas menatap matanya.


"Kenapa suka?" Alis Gesna naik sebelah, melirik tidak yakin sementara Adit tersenyum melihat ekspresi Gesna.


"Karena apa, ya? Banyaklah." Cowok itu mengedikkan bahu.


"Banyak gimana?" tanya Gesna lagi.


Adit mengerjap, menelengkan pandangan ke arah depan lantas kembali menoleh ke arah Gesna. Tangan Adit yang ada di bahu bangku kemudian naik dan mengusap kepalanya. "Nggak usah dipikirin apa yang kamu baca di Lambe School. Yang pacaran sama kamu kan aku. Yang tahu tentang kamu juga aku."


Jari Adit membenarkan riap-riap rambut Gesna yang dipermainkan angin. Sementara Efek Rumah Kaca masih bermain lagu Cinta Melulu. Gesna menangkap tangan Adit. "Dit, kuku lo patah."


Adit melihat kukunya sekilas. "Biasa, karena main gitar." Cowok itu kembali ke pembahasan awal. "Aku suka kamu karena kamu itu aneh, unik dan spesial. Kamu kuat dan tidak terkendali di waktu yang sama. Kamu galak dan lucu jadi satu. Dan ... aku suka."


Sepertinya angin malam terlalu dingin, sebab Gesna merasa mukanya kebas. Badannya keras dan tidak bisa bergerak. Jantung? Dipastikan sudah jatuh di lantai, saat ini.


"Aku suka kamu ketawa. Aku suka lihat kamu marah walaupun nggak suka kalau marahnya karena aku. Aku suka semua ekspresi kamu." Tangan Adit mengusap pipinya. Seperti lilin yang menghangatkan dingin.

__ADS_1


"Aku bangga lihat kamu di lapangan, lepas aja gitu jadi diri kamu sendiri. Jadi, apa pun yang mereka bilang, biarin aja. You're my queen and I'll be the one and only your king."


Telepon pemadam kebakaran 911 bukan, sih? Eh, tapi bukannya 911 berlaku di Amerika? Ah, Gesna tiba-tiba lupa. Kepalanya kosong mendengar ucapan Adit dan seluruh badannya sudah hangus terbakar.


__ADS_2