Matahari Api

Matahari Api
Juru Kunci


__ADS_3


Gesna mendengkus, menyembunyikan gurat di bibir yang tiba-tiba tertarik sendiri. Ucapan selamat pagi dari Adit yang masuk ke ponsel baru dibacanya, dan membuat dia hendak tertawa.


Mr. A: Selamat pagi juru kunciku~ 🔐


Apa-apaan coba? Jelas itu adalah sindiran. Sebab, kemarin, Gesna benar-benar mengunci Adit kembali di kamar meski cowok itu menggedor pintu atau berulang kali menelepon. Pintu sendiri baru dia buka tiga puluh menit setelah itu, ketika Mbak selesai masak. 


Tidak peduli Adit yang misuh-misuh, Gesna tetap masa bodoh. Toh, dia mengunci Adit supaya cowok itu beristirahat. Adit juga tidak marah. Sehabis Mbak pulang, mereka menonton dan makan siang bersama. Semua terasa cepat sampai Bara datang di sore hari untuk menjemput Adit.


Gesna: Juru kunci? Kuncen kali.


Mr. A: Abang tunggu sampai kering, Dek. Baru dibalas sekarang. 😭


Mr. A: Iya, kamu kan kuncennya aku.


Tadi, pelajaran Bu Muslicha, tentu Gesna tidak mau disuruh berdiri lagi di luar kelas karena ketahuan bermain ponsel. Kalau waktu itu Adit bisa menyelamatkannya, belum tentu bisa diselamatkan kedua kali dengam alasan yang sama. Guru tentu tahu modus murid-muridnya.


Dia menggigit bibir bawah saat membaca pesan Adit. Nilai bahasa Indonesia yang sembilan memang menjadikan orang pintar mengarang, ya? 


Gesna: Terus? Kalau aku kuncen, kamu makam keramatnya? 🤪


Mr. A: Jahat banget pacarnya dibilang makam? 🥺


"Senyum-senyum mulu lo, kesambet apa gimana?" tegur Naraya sambil berdecak. Cewek itu memasukkan buku dan peralatan menulis ke tas. Siapa yang membiarkan pena tetap di meja saat istirahat sama saja seperti merelakan benda itu hilang, pena tak bertuan adalah target emas para curanpen.


"Siapa yang senyum?" Gesna mengantongi ponsel, bangkit bersama Naraya. Mereka hendak ke kantin, seperti biasa. 


"Masih terngiang momen kemarin?" dengkus Naraya sambil terkekeh kecil. Bibirnya terlihat mencibir. Mereka keluar dari kelas, berjalan menuju lorong sambung hendak ke gedung IPA.


"Momen apaan, gila?" Gesna bergeleng sambil menguncir rambut. Hanya di luar jam pelajaran, dia berani memperlihatkan undercut-nya. Dia dan Naraya pernah dibilang murid yang nakal hanya karena seorang guru melihat undercut bermotif di kepala mereka. Sejak saat itu, mereka selalu menggerai rambut untuk menutupi undercut jika sedang di kelas.



"Momen sama Guntur?" Naraya melirik dengan menaikkan sebelah alis. 


"Udah gila lo. Guntur aja sekolah kok, kemarin," desis Gesna sambil memperhatikan kanan dan kiri. Berharap tidak ada yang mendengar.


Naraya mengangguk-angguk. "Iya, juga. Jadi, lo cabut sama siapa?" Mata cewek itu lalu memicing dan badannya mulai maju untuk berbisik. "Bang Adit?"


Tanpa menjawab, Gesna hanya mengerjap. Berhentikan tubuh di depan kelas Asri, menunggu cewek itu keluar dari kelas.


"Woy, ke mana lo, kemarin?" sapa Asri mengikuti dia dan Naraya. Mereka menuruni tangga lantai dua, menuju selasar lantai satu. 


"Ada bisnis dikit," jawab Gesna santai. Ponselnya kembali berbunyi dan segera dibukanya.


Mr. A: Istirahat di mana?


Gesna: Kantin.


"Percaya lo, Ci?" tanya Naraya dengan datar tetapi penuh sindiran. Asri mengedikkan bahu. "Bisnis sama pacar, Ci. Udah bisa madol sama pacar."


"Apaan sih, Nay?" decak Gesna merengut.


Mr. A: Ke kantin biru aja, mau? Aku jemput ke sana?


Tidak peduli oleh keberatan Gesna, Naraya masih saja menyindir. "Biasalah, kalau udah jadi bucin, yang namanya sahabat itu enggak bakal ada."


"Hati-hati berbicara, wahai Nyisanak." Tangan Gesna langsung menampar bahu Naraya. Tidak terima atas perkataan barusan. Walaupun sebenarnya Gesna ingin bisa bertemu Adit saat istirahat, karena perkataan itu, dia lalu mengurungkan. Diam-diam, dia mengetik pesan.


Gesna: Aku sama yang lain. Nggak enak nanti.


"Tuh, kan, Ci. Udah sibuk sendiri sama hape."


"Ya ampun, balas pesan doang." Gesna langsung merangkul bahu Naraya setelah mengantongi ponsel. "Jangan khawatir cinta-cintaku. Cintaku kepada kalian tidak akan terbagi."

__ADS_1


"Idih, merinding gue dengarnya!" Naraya berkelit dan mendorong pelan kepala Gesna, membuat Gesna terbahak-bahak.


Semua itu tertangkap oleh mata Adit. Dia masih di koridor lantai dua ketika mendengar tawa yang sangat dikenalnya. Dari sini, Adit dapat melihat Gesna bersama Naraya dan Asri berjalan menuju kantin, dengan anak-anak kelas sepuluh yang langsung menyingkir ketika mereka akan lewat. Mereka juga mengabaikan geng Fiska yang bertingkah menutupi jalan, membiarkan bahu dan bahu bersenggolan.


"Mana pacar?" tanya Bara menyengir iseng, mengikuti arah pandang Adit. "Oh, sama gengnya. Enggak bareng, nih?"


Adit hanya tersimpul. Kaki panjangnya menuruni undakan tangga. 


"Padahal baru balikan, masih aja kayak orang enggak kenal kalau di sekolah," gumam Bara yang hanya didengar Adit dan Miko. "Gesna sama anak basket biasa di kantin apa, sih?"


"Anak basket di kantin netral, tapi Gege sama gengnya itu di kantin Pespel," jelas Miko sambil mengantongi kedua tangan. 


Bara mengangguk-angguk paham. "Wow! Pantesan mereka berdua gagah banget bisa tantangin si Fiska. Bekingnya anak kantin Pespel. Kok lo enggak pernah cerita sih, Dit?" 


Adit yang sudah dirangkul Bara menuju kantin di arah berlainan hanya menarik sedikit senyum. Dia tidak pernah mau mendiskusikan Gesna kepada siapa pun. "Ngapain? Entar lo naksir lagi."


"Buset! Gue nggak demen TMT!" cibir Bara melepaskan rangkulan. Mendekati kantin, cowok itu langsung memanggil Gita dan meminta ditraktir semangkuk Indomie sebagai upah mengantar kemarin.


Adit tidak ikut duduk, dia berbalik keluar dari kantin sambil memberi kode ke Miko dan Bara kalau ada keperluan sebentar. Langkahnya berjalan ke arah seberang, menuju kantin Pespel hanya untuk sekadar bertemu muka.


"Ge... Gege!" panggil Yusuf dengan ribut, membuat Gesna yang sedang menggoda Makwo lantas menoleh. "Dicariin pacar," tambah Yusuf dengan menyengir. Cowok itu yang biasa nongkrong sambil bergitar di depan kantin, terlihat sudah dirangkul oleh Adit. 


Gesna terdiam sesaat, tidak menyangka kalau Adit akan datang ke kantin ini. Dia yang sedikit kikuk, berjalan ke arah pintu.


"Cie, Gege... Beda memang ya aura yang udah punya pacar itu," goda penghuni yang lain sambil tertawa. Naraya terlihat menyengir dan Asri menahan tawa.


Gesna melengos, tidak pernah-pernahnya dia jadi bahan olokan di kantin perkara cowok. Kalau dicandai karena dia dan Naraya berantam dengan Fiska, pernah. Atau pernah ditertawakan karena jatuh dari kursi, pernah. Dengan segera, dia menghampiri Adit. 


Cowok itu mengajaknya menepi ke dinding yang berseberangan dengan kantin netral. Membuat pandangan mata penghuni kantin sebelah terarah ke mereka. 


"Kenapa?" tanya Gesna sambil menggaruk telinga. Harusnya kalau ada apa-apa, Adit hanya perlu mengabari lewat pesan saja.


"Kangen. Pengin lihat pacarnya aja dari dekat." Adit tersenyum senang begitu melihat Gesna melotot. Cowok itu menahan tangan Gesna seraya berdecak. "Mau berapa banyak lagi plester di kuping kamu, Non?! Lecet semua nanti kalau garuk melulu."


"Dan kau bisikan, kata cinta. Kau 'tlah percikan, rasa sayang. Pastikan kita seirama, walau terikat rasa hina." 


Suara Yusuf terdengar paling nyaring, membuat Gesna melirik sadis. Awas saja nanti, akan dia balas mengeplak kepala itu.


"Hari ini ada latihan?" tanya Adit yang ternyata sedari tadi memperhatikan. Gesna mengangguk. "Makan siang bareng, yuk? Motor kamu ditinggal aja, nanti kan kita balik ke sekolah lagi. Kamu latihan, aku les."


Gesna mendongak. Les? Adit les? "Les apa les?" ledeknya menahan senyum. 


"Les. Demi masa depan yang lebih baik, Abang rela." Adit menganggukan kepala dengan sok oke, Gesna semakin mencibir. "Ya udah, gitu aja. Cuma mau bilang itu. Masuk lagi, gih."


Gesna lagi-lagi menggaruk kepala, meninggalkan Adit yang terus menatap langkahnya hingga dia masuk kembali ke kantin. Juga lirikan-lirikan mau tahu dari penghuni kantin Pespel dan kantin netral yang beberapa di antaranya ada Guntur, Ilham dan Adrian.


***


"Mau makan apa?" Adit membuka sedikit celah kaca helm. Mata yang mengingatkan Gesna ketika pertama kali mereka bersinggungan itu, menatapnya hangat.


Gesna memegang pundak Adit untuk menaiki motor dan duduk dengan menarik sedikit rok. Dia tidak suka duduk menyamping ketika di boncengan. Rasanya tidak seimbang dan seperti mau jatuh. "Makan di rumah aja, yuk? Kan si Mbak udah masak."


Adit mengangguk, melirik sedikit ke rok Gesna yang terangkat sedikit di atas dengkul. "Kamu pakai celana pendek lagi nggak di balik rok?" tanyanya sambil menghidupkan mesin, menunggu jawaban Gesna dari pantulan kaca spion.


Gesna menggeleng dan Adit berdecak. 


"Lain kali harus pakai," tambah Adit sambil menekan gas.


Di balik punggung, Gesna tersimpul. Dia sering kok memakai celana di balik rok, hanya saja hari ini kelupaan. Berteman dengan banyak orang berotak gesrek, tentu membikin Gesna tahu kalau ada jenis-jenis cowok yang suka mengintip ketika cewek menaiki tangga. Meskipun dia bukan jadi bahan intipan para cowok, setidaknya memakai celana pendek di balik rok membuat Gesna leluasa untuk duduk atau bersila di mana pun.


"Iya, iya," balas Gesna pada akhirnya. Merangkulkan kedua lengan di pinggang Adit dan menyandarkan kepala di punggung itu, Gesna kembali tersenyum. Diabaikannya pandangan-pandangan yang masih melingkupi mereka di sepanjang jalanan sekolah. Biarlah, semua memang ada risikonya, dan dibicarakan orang sudah menjadi konsekuensi berpacaran dengan Kepala Suku.


Begitu sampai di rumah, dia langsung melompat, membuka pintu dengan riang dan menaruh tas di sofa. Berjalan menuju meja makan, membuka tudung saji untuk melihat masakan si Mbak. "Nyo," panggilnya kepada Adit yang baru saja membuka helm. "Sambal udang, perkedel jagung sama tumis kangkung. Mau?"


Adit merapat ke meja makan. Memandang makanan yang tersaji. "Enak, tuh," komentarnya sambil menarik Gesna yang sudah duduk untuk kembali berdiri. "Cuci muka sama tangan dulu, Nona."

__ADS_1


"Cuciin," pinta Gesna mengedip-ngedip.


"Apa wastafelnya mesti aku copotin buat datang ke hadapan kamu?" 


Gesna tergelak sambil menepuk bahu Adit dari belakang. Air yang sedang mengucuri tangan Adit sampai menciprat ke sekitar. "Manja dikit aja enggak bisa ya, Nyo?"


"Manjanya kira-kira dong, Non. Besok, jangan-jangan kamu minta bikinin seribu candi dalam semalam?" Adit yang sudah membilas tangan lantas berbalik, memercikkan sedikit air ke muka Gesna. 


Gesna menepuk lengan Adit sebagai balasan, kemudian maju ke wastafel, menyabuni tangan di bawah air. "Idih, seribu candi. Memang aku cewek apaan?" sahutnya sambil berjalan kembali ke tempat duduk. 


Adit sudah menaruh dua piring untuk mereka berikut nasi. Cowok itu masih melihat Gesna seakan tahu akan ada kalimat lanjutan. "Terus kalau bukan seribu candi, apa?"


Gesna menyendok sambal udang dan mengambil sebuah perkedel jagung, menggigit sedikit bagian yang menguning dari perkedel itu. Dia menyengir. "Cuma ... minta membelah Laut Merah."


Kepala Adit hanya bergeleng-geleng sementara Gesna tersenyum-senyum sambil menyuap nasi. Membelah Laut Merah? Membuat seribu candi saja tidak bisa apalagi harus sejajar dengan seorang nabi? Gesna memang bukan tandingan sehat untuk berdebat.


"Latihannya jam berapa?" Adit membenarkan anak rambut Gesna yang terlihat menghalangi pandangan, menjuntaikan ke belakang telinga.


"Empat," sahut Gesna sambil melenguh kepedasan. Cewek itu tadi mengambil banyak sambal tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain.


Adit mengambil teko dan mengisikan gelas Gesna yang mulai kosong. Dia menyelesaikan makan dengan cepat. "Sampai jam enam?"


Gesna mengangguk sambil meneguk air, membuat air menetes dari sela bibir yang tentu saja langsung diusap Adit dengan tisu. "Dasar anak bayi," ujarnya sambil menjawil pelan hidung Gesna


Setelah menaruh piring, Adit meraih gitar, memetik perlahan sambil duduk di karpet. "Kita berangkat jam setengah empat aja, ya?" katanya sambil menoleh ke belakang, menunggu persetujuan Gesna yang sedang bersandar di sofa.


Cewek itu mengangguk lalu mengamati. "Waktu pertama kali main gitar, jarinya kebas enggak?" tanya Gesna dengan raut ingin tahu. Badan cewek itu merosot di sebelah Adit, melihat bagaimana jari Adit bekerja.


"Pastilah." Adit mengangkat jari tangan kanan untuk menunjukkan bukti. "Kebas, lecet, melepuh, kuku patah. Udah biasa itu, sih. Kamu bisa main gitar, Non?"


Kepala Gesna menggeleng. "Dulu, waktu SMP pernah sama-sama Guntur belajar sama Abang. Tapi aku nyerah, susah."


"Enggak susah, kok."


"Susah!" Gesna bersikeras. "Udah gitu cuma gonjrang-genjreng aja soalnya setiap lagu pasti mainin banyak kunci. Bosan."


"Kata siapa?" Adit melirik sambil tersenyum lalu menghentikan petikan. Gitar tersebut diletakkan Adit di pangkuan Gesna. Dia duduk di sofa, di belakang Gesna. Menarik tangan kiri Gesna dan menaruh telunjuk pada senar nomor lima dari bawah yang berada di kolom kedua, jari tengah di senar nomor enam kolom ketiga dan jari manis Gesna di senar nomor satu tetap di kolom ketiga. "Ini G." 


"Ini C," paparnya sambil memindahkan jari telunjuk, tengah dan manis milik Gesna.


Gesna mengangguk. Kunci dasar G dan C, dia tahu. Adit memegang jemari tangan kanan, membimbing untuk memetik pelan sambil mengarahkan. "G," pinta Adit.


"C," tambahnya meminta Gesna mengganti posisi jari.


"G-C-G-C melulu sampai kiamat?" dengkus Gesna tidak sabar.


Adit terkekeh lirih dan menaruh kepala di bahu cewek itu. "G lagi coba." Setelah Gesna menekan G, Adit lalu bernyanyi pelan. "Melihat tawamu."


"C," ujar Adit. "Mendengar senandungmu."


"G." Adit meminta untuk mengembalikan jari. "Terlihat jelas di mataku."


"C lagi. Warna-warna indahmu." Setelah dia merasa Gesna mengerti perpindahan nada, Adit hanya meminta tangan Gesna bertukar di antara dua kunci itu saja.


"G. Menatap langkahmu."


"C. Meratapi kisah hidupmu."


"G. Terlihat jelas bahwa hatimu."


"C. Anugerah terindah yang pernah kumiliki."


Gesna berhenti, menoleh sedikit ke kepala yang masih ada di bahunya. "Ini lagu cuma pakai G-C-G-C aja?"


"Iya." Kepala itu mengangguk sambil mencium pipinya. "Gampang, 'kan?"

__ADS_1


__ADS_2