Matahari Api

Matahari Api
Sial Amat


__ADS_3


Tujuan luhur Gesna sekolah hari ini adalah untuk menemui Ester. Pelajaran? Enggak usah ditanya, semua lewat saja di kepalanya. Beruntung, Asri masih di Madinah, sehingga dia tidak memiliki kewajiban untuk datang ke kantin Pespel. Naraya juga tidak sekolah, izin dispensasi Pelatnas. Terserah cewek itu saja, dia dan Naraya masih perang dingin.


Ester datang saat melihat lambaian Gesna di udara. Mereka menepi di sudut kantin depan, yang cukup aman dari cewek-cewek.


"Ter," bisiknya sambil berusaha memastikan tidak ada satu pun yang mendengar pembicaraan mereka. "Yang kemarin, rahasia kita berdua aja. Enggak ada yang tahu. Jadi kalau bocor, gue pastiin itu dari mulut lo."


Gesna tentu ingat bagaimana Ester membocorkan kepada guru piket kalau Naraya sering melompati dinding belakang sekolah untuk cabut. Dia tidak mau kejadian keceplosan cewek itu akan berakibat fatal untuk kesejahteraan hidupnya di sekolah.


"Lo tahu kan dia siapa?" tambah Gesna dengan nada sedikit mengancam.


"Iya, enggak, kok. Gue pikir lo pacaran sama Guntur. Gue lihat lo pelukan sama dia," gumam Ester tertunduk.


"Ye... Dia sahabat gue. Semua salam lo juga gue sampaikan kok ke dia." Gesna merengut. Tidak perlu banyak orang tahu bagaimana sesungguhnya perasaan dia dan juga meskipun dia menyayangi Guntur, bukan berarti setiap salam yang dititipkan cewek-cewek untuk Guntur melalui dia, tidak disampaikan.


Ester mengangguk sambil menyeruput teh botol. "Ya, kalaupun akhirnya kalian jadian, nggak apa-apa juga. Gue malah setujunya Guntur sama lo, daripada sama Joceline itu."


Gesna membuang pandangan, mencoba tidak besar kepala. Guntur sudah memilih Joceline dan dia bukanlah pemenang. "Gila lo. Mereka udah jadian, jangan diutak-atik," desis Gesna memelotot.


Cewek di samping tertawa pelan sambil menoleh. "Kok bisa sih kalian berdua jadian? Dari mana awalnya? Nggak sangka lho gue."


"Mau tahu aja lo kayak rubrik gosip." Gesna mulai menyesap minumannya. Enggak akan ada yang percaya jika pertemuan Gesna dengan Adit pertama kali di parkiran motor, dengan keadaan dia menantang Kepala Suku.


Ester masih tertawa, memberi tahu Gesna satu info penting. "Cewek-cewek di sini, banyak juga yang suka sama dia. Lo tahu ajalah. Orang tuh semakin misterius semakin keren. Dia kan tipe-tipe ganteng-ganteng cool gitu."


Gesna menaikkan sebelah alis atas perumpamaan barusan. Ganteng-ganteng cool?


"Masa sih lo nggak sadar? Coba lo sekali-kali lihat dari jauh kalau dia lagi jalan sendiri di koridor." Ester cengengesan. "Anak kelas gue suka ngintip-ngintip kalau dia lewat."


Gesna menelan ludah. Untungnya kelas dia dan Ester berbeda. Ester kelas IPA yang berada di gedung kanan, sedangkan dia kelas IPS yang berada di gedung sebelah kiri. Kedua gedung itu dihubungkan dengan koridor, sehingga dari jauh terlihat berbentuk U.


Dia mulai berpikir kebenaran ucapan Ester. Masuk akal juga kalau kelas Ester sering mengintip Adit, kelas Adit kan di atas kelas Ester. Sama-sama kelas IPA. Pasti cowok itu pernah lewat.


Seseorang terlihat mendekat. Miya, sepupu jauhnya. Hubungan kekeluargaan mereka terjadi karena nenek Gesna dan kakek Miya kakak beradik. Namun, selama ini Gesna paling malas diajak kumpul keluarga. Sebab mereka semua akan membahas bagaimana tidak harmonis keluarganya.


"Weits, tumben amat kantin ini bisa didatangi seorang Jessica," goda Miya ikut duduk di antara dia dan Ester. "Aci sama Naraya mana?"


"Mereka nggak masuk. Gue lagi ada bisnis sama Ester. Ya, 'kan, Ter?" Ekor mata Gesna mengode Ester dan cewek itu mengangguk.


Miya tertawa sambil menata rambut panjangnya. "Bisnis sama Ester? Lo suka Kpop juga?"


Miya mungkin berpikir dia mendekati Ester untuk memesan pernak-pernik artis Korea seperti yang dilakukan cewek-cewek di sekolah. Rasanya Gesna ingin melengos jika saja tidak ingat kalau dia menampik, Miya akan lebih penasaran.


"Gitu, deh. Udah ah gue cabs dulu. Thanks, Ter." Gesna juga melambai ke Miya sebelum meninggalkan kantin yang selalu ramai oleh celotehan para cewek.


Sambil menyusuri koridor, ucapan Ester berputar di kepalanya. Coba lo sekali-kali lihat dari jauh kalau dia lagi jalan sendiri di koridor.


Memangnya bagaimana kalau Adit jalan di koridor? Melayang? Atau moonwalk?


"Cewek-cewek memang suka lebay," desis Gesna mencemooh perandaian itu. Dia naik melalui tangga kanan gedung karena kantin depan berdekatan dengan gedung yang dihuni anak-anak IPA tersebut. Dia masuk ke toilet di ujung.


Ketika dia keluar, di depannya ada seseorang yang berjalan tegap. Orang itu memunggungi Gesna. Seragamnya terurai keluar, kedua tangan masuk di kantong.


Gesna memusatkan pandangan, merasa kenal dengan sosok itu. Saat orang di depannya menoleh ke arah lapangan badminton yang ada di antara gedung, Gesna baru menyadari kalau dia adalah Adit.


Dia menepi ke pilar kosong. Membiarkan Adit jalan lebih jauh dan berjarak dengan posisinya saat ini. Gesna mengamati kelas sekitar. Benar kata Ester, banyak mata yang menoleh dari balik jendela. 


Sembari menempelkan badan ke pembatas, Gesna menunduk ke lapangan badminton. Ganteng-ganteng cool? Ah, sial. Kata-kata itu teringat lagi. Cool dari mana, sih? Mereka itu tidak tahu saja kalau Adit menyebalkan. Seperti sipir penjara. Seperti singa. Suka mengatur-mengatur. Cerewet. Suka nongol tiba-tiba. Suka spam chat.


Gesna mengintip lagi, bayang Adit sudah menjauh. Saat dia akan kembali berjalan, beberapa cewek keluar dari kelas terdekat dan menoleh ke arah hilangnya Adit. Mereka tidak peduli keberadaan Gesna di situ.


Seorang yang memiliki rambut paling panjang dari lainnya mulai berbisik heboh. "Gue, ya. Kalau sampai Adit nembak gue, gue traktir kalian selama satu bulan." 


"Ye, ngimpi lo," balas yang lain sambil memandang punggung Adit yang mengecil. "Kira-kira pelet apa sih yang cocok buat cowok cool kayak dia?"

__ADS_1


"Pelet online. Kabarnya pelet online sekarang ada."


"Udah gila lo. Kita bisa pelet orang kalau kita punya fotonya. Ini kan nggak punya," ucap teman yang lain lagi. Mereka tentu tidak acuh jika obrolan itu didengar orang, selama itu bukan Adit.


Seseorang mengeluarkan ponsel dan menunjukan ke yang lain. Lidahnya menjulur-julur. "Gue punya, gue punya. Kemarin, gue screenshot IG live Kak Miko. Berarti gue bisa pelet dia."


Kalau saja Gesna ingat dia yang meminta Adit agar status mereka dirahasiakan, mungkin enak sekali membenturkan kepala-kepala gerombolan cewek itu menjadi satu. Cewek-cewek zaman sekarang memang agresif-agresif, 'kah?


Gesna melengos. Seharusnya Adit tahu kalau dia jadi obyek cewek-cewek kegatalan di luar sana. Supaya cowok itu enggak usah sering sok kegantengan. Lagi pula, buat apa coba Adit pakai acara jalan di lantai dua? Jelas-jelas ini koridor kelas sebelas. Tempatnya kelas dua belas kan di lantai tiga. Langsung naik saja ke lantai tiga kan bisa, nggak perlu melintas di lantai dua. Dasar saja Adit-nya memang mau tebar pesona.


Dia mencibir sambil memeriksa ponsel yang bergetar.


Mr. A: Belum di kelas?


Gesna: Kenapa?


Mr. A: Nggak apa-apa. Tadi lewat seberang kelas kamu, kamu belum ada.


Bibir Gesna melengkung di luar kendali. Apa ini berarti Adit sengaja lewat lantai dua untuk melihat dia? Ah, itu pikiran yang terlalu muluk. Jelas itu tidak mungkin.


Dikantonginya ponsel sembari melewati gerombolan itu. Kasihan mereka. Halusinasinya terlalu tinggi.


Ester yang baru datang, berjalan mendekati cewek-cewek tadi. "Ada apaan? Pada masuk, gih. Sebentar lagi Pak Iksun datang."


"Biasa, Abangda Kepala Suku lewat. Tenang Ibu Ketua Kelas, kami bakal masuk kok sebentar lagi."


Ester melirik Gesna dan pandangan mereka bertemu. "Hus, dia udah punya pacar."


Langkah gerombolan itu berhenti. "Ah, kata siapa? Mana mungkin! Gue ini follow IG dia sama anak-anak The Tahan Banting, nggak ada foto Adit sama cewek."


"Lagian, lo dapat gosip dari mana kalau dia punya pacar?" tanya yang lain ikut penasaran.


"Kabarnya gitu," kilah Ester sambil berjalan memasuki kelasnya.


"Cakepan mana sama gue?" tanya yang berambut panjang dengan percaya diri. Memang sih di antara yang lain, cewek itu paling cantik dan paling putih. "Selama janur kuning belum melengkung, kesempatan akan tetap selalu ada. Nggak ada yang tahu kan? Bisa jadi di masa depan dia jodohnya sama gue."


Sepanjang sisa pelajaran dilalui Gesna dengan menggambar-gambar. Kenapa siang lama sekali, sih? Penjelasan Bu Muslicha cuma memantul di telinga. Dia kebosanan setengah mati dan ingin cepat pulang.



Bel pulang sekolah terasa seperti beduk lebaran. Gesna menyambut dengan penuh syukur dan tanpa berlama-lama, dia langsung melompat ke jok, menekan gas skuter dalam-dalam.


Dia tak tahu bagaimana angin bertiup. Sepertinya biasa saja. Sepertinya dia juga mengendarai skuter dengan baik. Sepertinya jalanan juga tidak ada masalah. Tetapi setelah Gesna sadar, dia sudah terduduk lemas di trotoar dengan dikelilingi orang-orang.


Skuternya jatuh tertidur di pinggir jalan. Beberapa orang menanyakan kondisi Gesna. Ada yang memberi minum dan menanyakan apakah perlu ke rumah sakit. Gesna menggeleng. Dia coba menggerakkan kakinya, tidak masalah.


Gesna juga tidak tahu kenapa nama Adit yang ditekannya ketika seseorang meminta Gesna untuk menghubungi keluarga. Mungkin karena nama Adit terletak paling atas di buku telepon.


Cowok itu datang sepuluh menit kemudian dan turun dari motor dengan terburu-buru. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Adit. Kerumunan orang mulai mereda setelah tahu Gesna tidak sendiri lagi.


Gesna memandangi kakinya yang terasa nyeri. "Kenapa-kenapa. Nggak lihat apa kaki gue baret?" desisnya kesal.


Seorang bapak yang menolong Gesna sedari tadi, lantas menyerahkan kunci skuter ke Adit. Cowok itu berterima kasih sembari menjabat tangan bapak tersebut. Kemudian sibuk dengan ponsel, menelepon entah siapa dan meminta orang datang mengurus skuter yang terlentang.


"Kok bisa jatuh?" Adit duduk di sisinya sambil meneliti lutut Gesna yang tergores aspal.


"Mana gue tahu? Kalau tahu mau jatuh juga gue nggak bakal mau," balas Gesna jutek. Lagi pula pertanyaan Adit kok seperti itu. Dia juga tidak tahu bagaimana kejadian dia bisa jatuh mendadak. Tidak ada yang menabrak dan tidak ada yang ditabraknya.


"Tadi yang jatuh duluan di bagian mana?"


Gesna menunjuk lutut. "Di sini. Kan ini yang berdarah. Gimana, sih?"


"Oh, bukan badan, tangan atau pantat?"


"Mau sok jadi dokter lo?" dengkusnya. "Buruan antarin gue pulang."

__ADS_1


Adit memintanya menunggu sebentar. Setelah orang yang dimintakan mengurus skuter Gesna datang, cowok itu lantas meninggalkannya, menuju warung terdekat dan kembali dengan sebotol air mineral. "Sebentar. Luka kamu mesti dibersihin dulu."


Air yang dituang Adit membasahi luka, membuat Gesna merintih-rintih.


"Sakit?" tanya Adit.


"Menurut lo ajalah?!" bentak Gesna gusar. Yang namanya luka terbuka, kena apa pun juga sakit. Pakai ditanya lagi. Mau ajak bercanda atau bagaimana, sih?


Cowok itu menghela napas. "Kalau sakit, kita ke rumah sakit aja."


Gesna menggeleng. "Pedih doang! Namanya juga luka. Udahlah, gue mau cepat pulang."


"Yakin nggak mau ke rumah sakit?" Adit masih memperhatikan Gesna yang tertatih hendak bangun dan langsung meraih lengan cewek itu.


"Pulang," tolak Gesna. 


"Rumah sakit aja, yuk?" Adit membantu Gesna duduk menyamping di jok motor yang tinggi. 


Gesna berdengkus dongkol. Apalagi masih saja ada yang menontoninya dengan Adit. Memangnya dia lagi bikin konten prank apa? "Ngapa sih lo heboh banget mau ke rumah sakit?! Mau tepe-tepe? Gue yang habis jatuh, gue aja nggak apa-apa. Kok lo yang ribet? Udah! Gue mau pulang."


Adit akhirnya mengangguk dan melajukan motor pelan-pelan. "Ya, udah. Tapi kalau ada yang masih sakit langsung ke rumah sakit, ya?"


"Iya." Gesna melengos, merasa ganjil duduk menyamping seperti ini. Jok Adit yang menungkik membuat badannya bersandar ke punggung yang tadi siang hanya dipandangi dari jauh. "Buruan pulang."


"Pegangan, nanti jatuh lagi," pinta Adit sambil menarik tangannya ke pinggang cowok itu.


Begitu sampai di rumah, cowok itu menolak memapah Gesna. Badannya langsung digendong dan dibaringkan di sofa. Adit tidak memperbolehkannya ke mana-mana, sedangkan cowok itu hilir mudik dari tadi.


Adit menghampirinya untuk membersihkan kembali luka dengan cairan antiseptik, lalu meneteskan betadine. Gesna kembali meringis. Sebuah obat pereda rasa nyeri juga Adit sodorkan untuk diminum.


"Apaan ini? Racun?"


"Parasetamol, minum." Cowok itu kembali meninggalkan dia, menuju dapur dan kembali dengan es batu yang dibalut dengan lap bersih. "Lutut kamu bengkak. Kompres dulu, ya."


Gesna hanya diam, menerima semua perlakuan Adit. Lukanya tidak besar, tetapi rasanya sakit sekali. Bukan sekadar perih karena kulit yang baru saja tergores aspal. Entah kenapa, jantungnya berdetak tidak asyik. Mungkin efek dari jatuh tadi.


Diam-diam Gesna sebenarnya takut lututnya kenapa-kenapa, sehingga dia menolak diajak ke rumah sakit. Dia mengembus napas pelan untuk meredakan rasa sakit yang terasa menyiksa.


"Tadi aku lihat ada ayam goreng. Mau makan?" tawar Adit menatap matanya.


"Ini kan lagi kompres bengkak, kenapa ngajak makan, sih?" Dipasangnya raut kesal agar tidak dipandangi terus-terusan. "Udah, nanti aja. Gue lagi malas makan."


"Biar aku suap, kamu pegang kompresan."


Apa? Gimana? Disuap? Gesna hampir bangkit berjengket. "Maksa banget sih lo?"


Adit mengabaikan protes Gesna, mengambil sepiring nasi bersama ayam saja sebab paham kalau Gesna tidak menyukai sayur. "Bukan mau maksa, tapi kamu harus cepat makan."


"Lo maksa!" Gesna merenggut piring yang dipegang Adit. "Kenapa gue harus cepat makan? Biar lo cepat bisa pulang, 'kan? Biar bisa live IG lagi gitu? Biar bisa cepat dapat pujian dari penggemar-penggemar lo itu?"


Kedua alis Adit bertaut. "Maksudnya?"


"Halah, udah lagi. Udah kebaca, kok." Gesna menaruh piring di samping. "Ya, udah. Kalau lo mau pulang, pulang aja. Sana live IG, sana."


Dia mengibaskan tangan, meminta Adit pergi. Lututnya nyeri, hatinya panas dan kelakuan Adit  membuat dia gondok. Sial amat sih dia hari ini?


"Hei, Non," panggil Adit mengusap kepala Gesna dan kembali meraih piring. "Kenapa sih marah-marah terus? Yang mau live IG siapa?"


Gesna berdengkus, mengembalikan es batu ke ember, lalu melipat tangan. Dia membuang muka ke sebelah lain, malas melihat Adit. "Alasan aja lo mau kerjain PR. Padahal live IG, 'kan?" tudingnya. "Biar penggemar-penggemar lo komen, 'Rahim adek berkedut, Bang', 'Buahi aku, Bang'. Alay!"


Adit langsung bangkit dan duduk di depannya. Mata cowok itu membola sambil tersenyum di sudut bibir. "Kamu nggak lagi jealous, 'kan?"


"Ye, enggak! GR amat lo, Bang. Ya ampun, pede lo setinggi angkasa!" Gesna merotasikan mata. Sial sekali dia hari ini. Sial sekali!


🌺🌺🌺

__ADS_1



__ADS_2