
Setelah sepanjang siang dihabiskan dengan rebahan, tetapi tidak juga bisa tertidur, Gesna memutuskan keluar rumah. Langit setengah gelap kala skuternya melaju di jalan raya. Tidak ada tujuan pasti. Gesna hanya mencari-cari keriangan sendiri. Bisa saja sih dia ke basecamp, hanya saja Gesna masih merasa bersalah kepada Rico, Ilham dan Adrian. Mereka pasti sangat kewalahan menghadapinya semalam.
Skuter putih itu berputar di sekitar gedung olahraga. Tadinya Gesna ingin melihat Naraya latihan. Siapa tahu cewek itu sedang latihan di papan panjat yang tinggi di belakang GOR. Sayang, dia terlambat. Naraya sudah pulang ketika Gesna sampai.
Perutnya tiba-tiba berbunyi. Gesna memegang perut sambil menoleh. Untung bunyi perut yang berkhianat itu tidak didengar orang lain. Ya ampun, dia sudah lapar lagi. Ini pasti efek makan siang yang hanya beberapa suap.
Pandangan Gesna mengeliling, mencari-cari makanan apa yang dapat diraih dengan cepat tanpa banyak menunggu dan pilihannya jatuh kepada bubur ayam. Di sekitar GOR ini ada tukang bubur ayam legendaris, bukanya dari pagi sampai malam. Seakan memberitahu kepada pelanggannya, kalau bubur ayam bukan hanya enak disantap saat sarapan saja.
Gesna masuk ke tenda dan duduk di bangku pojok yang tinggal untuk satu orang saja. Suasana cukup ramai. Apalagi tidak jauh darinya duduk, ada sekelompok cewek bercicit yang terlalu ribut. Persis seperti koloni cewek penghuni kantin depan. Dia lalu menutup kepalanya dengan hoodie sambil duduk menunggu bubur ayam.
Ketika pesanan datang, Gesna menikmati bubur dengan menunduk, tidak memedulikan sekitar. Sampai matanya terpaku dengan mangkuk yang berada di seberang. Meja kayu yang berukuran satu meter itu membuatnya bisa melihat mangkuk yang dimakan orang di hadapan.
Segera Gesna menutup mulut. Alisnya menyatu, dahinya berkeriput. Dia jijik dan merasa mual. Cepat-cepat ia meneguk es teh manis yang ada. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Saat akan diletak kembali, gelas teh manis itu malah tergeser dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping.
Seperti terganggu, orang di depannya berdecak. Walaupun hanya satu reaksi, itu membuatnya kesal. Sebab yang membuat konsentrasinya hilang seperti ini karena mangkuk kepunyaan orang yang berdecak itu. Bagaimana bisa dia makan bubur ayam dengan diaduk rata semua hingga tidak berbentuk lagi?
Pelayan menghampiri Gesna, membantu bereskan pecahan gelas. "Maaf, Mang. Tadi nggak sengaja. Nanti saya ganti, pesan satu gelas lagi ya, Mang," jawab Gesna sekenanya.
Ia lalu mengembalikan tatapan kepada mangkuknya yang masih berisi bubur ayam. Nafsu makannya sudah hilang. Sial banget sih!
"Gue tahu sih gue ganteng, tapi biasa aja nggak perlu grogi."
Suara di seberangnya menyahut. Gesna melirik ke kiri dan ke kanan. Orang itu ngomong ke siapa? Tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Pasangan suami istri di sebelah kirinya sudah pergi sedangkan sebelah kanannya tanah kosong.
Pede amat dia!
"Lo ngomong sama gue?" tanya Gesna cuek sambil coba menyuap bubur kembali. Ia bahkan tidak ingin melihat siapa yang berbicara. Kalau melihat mangkuknya saja semenjijikkan itu, Gesna bisa membayangkan bagaimana sosok pemakannya. Pasti sebelas dua belas sama bubur ayam yang diaduk absurd.
"Siapa lagi kalau bukan lo? Segitunya sampai nggak mau lihat muka gue," tegur cowok itu.
Masih dengan tertutup hoodie, Gesna tidak menanggapi teguran yang ada. "Cukup bubur ayam lo aja yang udah bikin gue mual. Jangan sampai lihat muka lo bikin gue tambah mual. Lagian makan bubur kok diaduk, udah mirip muntah kucing!"
Bubur di mangkuk Gesna masih tertata. Suwiran ayam masih kelihatan, bersanding dengan kerupuk dan kacang kedelai. Taburan bawang gorengnya juga masih terlihat manis. Berbeda sekali penampakannya dengan bubur tanpa rupa di seberang.
"Astaga, Gesna. Nggak di basecamp, nggak di sini. Mulutnya masih lancip aja, ya."
Mendengar itu Gesna terperangah, ia menurunkan hoodie hitamnya. Cowok yang dihindar-hindarinya kini ada di depan muka. "Bang Adit?! Jadi ... lo yang makan muntahan kucing ini?!"
"Muntahan kucing? Ini cuma bubur kali, bukan hati. Nggak apa-apa diaduk." Adit yang juga berhoodie hitam tertawa pendek melihat air muka Gesna. "Kaget banget kayaknya ketemu gue."
"Biasa aja," sahut Gesna melanjutkan makan. Dia menetralisir keterkejutannya dengan sesantai mungkin.
"Ucapan sama ekspresi nggak sinkron." Adit tersenyum jail. Matanya menatap cara Gesna menyendokkan makanan.
"Bagusan nggak usah sok ganteng dan sok tahu. Sesat," dengkusnya sambil mempercepat makan. Risi diperhatikan Adit lekat-lekat.
"Wah, udah berubah perumpamaannya?" Adit tersenyum dan menoleh ke sekitar. "Sendiri? Para kurcaci lo mana?"
"Mau tahu aja kayak pembantu tetangga," ujar Gesna memutar bola mata. Dia lalu mengeluarkan earbuds. Benda itu bisa menjadi penyelamat ajaib saat dia sedang tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun.
Adit masih mengajaknya berbicara, tapi Gesna cuek seolah tidak mendengar apa pun. Rupanya cara itu berhasil, Adit akhirnya beranjak pergi. Merasa sukses telah mengusir Adit, Gesna selesaikan makan dengan santai. Bagaimanapun Gesna masih ingat saat Adit mengambil buku sketsanya atau menjulukinya Putri Salju dan dia tidak minat berteman dengan orang seperti itu.
__ADS_1
Dia memang tidak pernah memilih-milih teman. Dibanding Naraya yang jutek atau Asri yang kuper, dia hampir mengenal setengah jumlah murid di sekolah. Mulai dari cewek-cewek penghuni kantin depan yang maharibut, adik-adik kelas yang masih takut-takut kalau bicara atau kakak kelas yang digemari banyak orang. Namun, kali ini, Adit pengecualiannya. Dari awal bertegur sapa, dia sudah merasakan kalau Adit itu jenis orang yang harus dihindari.
Ponselnya berdering, panggilan dari Naraya. "Iya, Nay?" sapanya mengangkat telepon.
"Di mana lo, sekarang?"
"Masih di sekitar GOR, makan buryam."
"Kekasih mana kekasih?" tanya Naraya terdengar mengejek. Anak itu sering bilang kalau Gesna dan Guntur lebih cocok menjadi sepasang kekasih.
"Kekasih pala lo," balas Gesna meski dalam hati mengamini hal tersebut.
Naraya terdengar berdengkus. "Ngafe, yuk. Pengin ngopi-ngopi gue."
"Kuy lah. Aci gimana?" Gesna bangkit dan menuju penjual bubur untuk membayar tagihan.
"Beres, udah gue kabarin. Dia juga setuju."
"Ya udah, kirim lokasinya ke gue. Gue OTW." Gesna mengakhiri panggilan dengan riang. Jadwal Naraya itu tidak bisa diprediksi. Jika luang, biasanya dipakai cewek itu untuk istirahat di rumah. Sehingga Gesna yang banyak memiliki waktu kosong, selalu bersedia datang bila diajak berkumpul.
Tadi, dia memarkirkan skuter di parkiran GOR. Kendaraan dilarang parkir di pinggir jalan. Ketika dia kembali, dia melihat seseorang sedang berusaha mengutak-atik skuternya.
"Mau ngapain lo?" tegur Gesna. Sosok yang tertangkap basah itu gelagapan. Di tangannya ada peralatan aneh berbentuk huruf T. "Lo mau nyuri, ya?!"
Suara nyaring Gesna membelah parkiran tersebut. Beberapa yang hendak parkir atau pergi menoleh ke arah mereka. Gesna tidak bodoh. Dari gelagatnya saja, sosok itu terlihat berniat jahat. Cowok yang mengenakan masker menutupi muka itu maju ke arah Gesna.
"Motor lo?" dengkusnya. Sosok itu mengamati Gesna atas ke bawah. Seperti menilai apakah benar Gesna sang pemilik skuter.
Otak Gesna langsung membuat pilihan. Pilihannya cuma dua: lari menyelamatkan diri atau melawan tanpa senjata. Jelas opsi kesatu yang paling masuk akal. Dia hendak lari tetapi terpojok, belakangnya dinding.
"Kalau lo mau selamat, kasih kuncinya ke gue." Sosok itu memicingkan mata. "Biar sekali-sekali gue cicipin dapat skuter mahal," tandas cowok itu.
"Sebelum tidur itu makanya baca Bismillah, biar nggak ngigo." Sahutan Gesna lepas begitu saja. Dia bahkan ingin menepuk bibir sendiri yang tidak bisa direm saat-saat membahayakan seperti ini.
Tawa rendah keluar dari balik masker itu. Cowok itu sudah menepuk-nepuk besi ke telapak tangan kirinya. Sosok seram itu menggerakkan kepala ke kiri dan kanan seperti sedang pemanasan. "Lo ngelawan juga ternyata. Padahal cuma sendirian."
Gesna rasanya ingin tertawa meski sedang dalam keadaan terjepit. Kenapa dia merasa diapresiasi dengan kalimat terakhir barusan? Apa tadi katanya? Dia melawan? Tentu saja! Dunia ini penuh dengan makhluk buas dan selemah apa pun kondisinya, dia harus melawan agar tetap hidup.
Mata Gesna menyapu sekeliling, mencari benda yang bisa dijadikan senjata. Dia menemukan helm yang tergantung di sebuah motor, diraihnya helm full face tersebut. Sial, terkunci ternyata. Gesna coba menarik lagi sekuat dia bisa. Berhasil, sangkutan helm itu lepas.
Dibukanya selubung kaca helm yang tampak mengkilap, dan digenggam selayaknya perisai Captain America. Setidaknya dia punya senjata. Gesna mulai menimang helm berwarna kebiruan. Helm ini juga bisa dilempar seperti bola, kan?
Cowok itu makin mendekat. Jarak Gesna dengan orang itu hanya berkisar dua meter ketika sebuah suara menginterupsi.
"Kenapa, nih?" Adit mengantongi kedua tangan di hoodie seraya menatap dua orang yang ada di sebelah motornya. Sekilas Adit melirik ke kunci T yang ada dan helmnya yang sudah ada di genggaman Gesna.
"Nggak usah ikut campur masalah kami. Ini urusan gue sama pacar gue," sahut cowok itu sembari menyarungkan kunci T ke dalam jaketnya.
"Dih, ogah gue punya pacar pencuri kayak lo!" seru Gesna. Dia menoleh ke Adit, berharap Adit percaya. "Dia mau nyuri skuter gue."
"Jangan percaya. Cewek gue kalau bercanda suka gitu. Lo pergi aja, nggak usah ganggu kami." Tangan cowok itu mengibas ke udara untuk mengusir Adit dan maju hendak merengkuh Gesna.
"Nggak usah maju-maju lo, woy! Gue bukan pacar lo!" Sudah terdesak, mau tak mau Gesna melempar helm sekuatnya dan helm itu tepat mengenai kepala target. Terdengar suara benturan yang cukup keras. Helm itu lalu menggelinding ke arah Adit.
__ADS_1
Melihat targetnya mengaduh, Gesna tersenyum puas. Namun, senyum Gesna mulai luntur saat cowok itu mulai mengeluarkan sebuah pisau yang tajam dan mengkilap. Gesna lupa kalau manusia akan semakin buas jika tersudut. Dia dapat melihat kemarahan makin menyala karena lemparannya.
"Wah, banci lo. Beraninya cuma sama cewek."
Baik Gesna maupun cowok itu menoleh ke Adit. Adit sudah meraih helm yang tadi jatuh.
"Lo nggak dengar tadi dia bilang apa? Dia bukan pacar lo," dengkus Adit. "Nggak usah ngaku-ngaku."
Helm itu kembali melayang dan mengenai tangan yang memegang pisau. Pisau yang jatuh kemudian ditendang Gesna sekuat dia bisa. Seolah sedang main basket, Adit memungut kembali helm yang menggelinding dan mengoper helm itu ke pelukan Gesna. "Pegang, jangan lo lempar lagi."
Adit kemudian menarik Gesna ke belakangnya. "Bagus lo yang pergi, sebelum kenapa-kenapa," ancam Adit tersenyum sinis kepada cowok itu. "Karena gue nggak suka diganggu," tambahnya.
Orang asing itu maju menerjang Adit. Adit mendorong Gesna ke belakang, sebelum membalas serbuan yang ada. Sebuah tendangan bersarang ke perut Adit, tetapi ditangkap cowok itu. Gesna melihat Adit memutar kaki penyerangnya sehingga terjatuh. Lalu Adit balas menendang. Sekali, dua kali pencuri itu terkena tendangan dan berguling. Gesna dapat melihat mukanya lebam.
Kunci T yang sudah dimasukkan ke jaket, dikeluarkan kembali. Gesna terperanjat. Dia hendak maju dan memukulkan helm ke kepala orang itu. Namun, langkah Gesna terhenti. Dia melihat Adit dengan cepat menarik ikat pinggang.
Gesna tercekat lagi, tidak menyangka ada pisau kecil di balik gesper ikat pinggang tersebut. Pisau melengkung dan terlihat tajam seperti kerambit. Dia dapat mendengar dengkusan Adit sebelum berkata, "Gue kasih lo waktu tiga detik buat pergi dari depan gue."
Adit memutar sabuk bersilang ke arah lawan, kanan dan kiri. Mata pisau yang tajam menari-nari di udara. Sabuk panjang itu menyabet jaket lawan meski jarak Adit dengan cowok itu tidak dekat. Gesna memandang takjub bagaimana sosok itu kewalahan menghadapi sabuk ajaib milik Adit.
"Tiga..."
"Dua..."
Adit maju sambil mengarahkan sabuknya ke lawan, membuat sosok itu lari lintang pukang dengan beberapa bagian baju terobek dan tangan tergores berdarah.
Setelah keadaan aman, Adit mengenakan kembali sabuknya. Dia menghampiri Gesna yang memeluk helm sambil menatapnya horor.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Adit.
Gesna menggeleng cepat. Seharusnya dia yang bertanya seperti itu kepada Adit.
"Untung satu dari tujuh kurcaci basecamp ada di sini," canda Adit, "lain kali, jangan pergi sendirian, Putri Salju."
"Baiklah, Grumpy!" balas Gesna. Pertolongan Adit sudah akan Gesna haturkan terima kasih jika saja cowok itu tidak menyelanya dengan hinaan yang lebih mengesalkan.
"Jangan baiklah-baiklah aja. Gue ikutan karena lo ambil helm gue. Jadi, gue cuma selamatin helm gue ini, kok." Adit meraih helm dari tangan Gesna dan mengusap-usap bagian yang lecet.
Gesna melotot. Dia tahu sih kalau helm merek Arai itu mahal, pernah mendengar cerita Riko. Tapi, bisa nggak sih saat ini Adit nggak usah pakai acara elus-elus helm itu segala? Apalagi ada senyum mengejek yang terlukis di sana seolah menyindir Gesna kalau Adit tuh nggak niat menolong. Amit-amit dia mau ucapkan terima kasih, amit-amit!
Dia berbalik menuju skuter dan menghidupkan mesinnya.
Adit yang sudah di atas motornya mulai mendekat kembali. "Nggak ucapin terima kasih, nih?"
"Lo selamatin helm lo sendiri, buat apa gue terima kasih sama lo?" sahut Gesna seraya memakai helm. Suasana masih belum tenang, siapa tahu cowok tadi nongol membawa komplotannya. Dia yang sadar harus segera pergi, mulai jalankan skuter meninggalkan parkiran.
"Iya, deh. Iya." Motor Adit menyusul, sejajari skuter Gesna. Untungnya jalanan sekitar GOR sepi sehingga meski memakan jalan tidak ada yang mengklakson mereka. "Gue boleh nggak minta nomor lo?"
"Nggak. Bukan buat konsumsi publik, nomor gue bukan dapur umum," sahut Gesna sembari menekan gas dalam, meninggalkan Adit.
"Woy, Putri Salju!" panggil Adit. Cepat juga larinya skuter Gesna, sudah hilang di tikungan. Adit berdecak sembari terkekeh. Dia makin tertantang. Sikap Gesna seperti mengajaknya bermain petak umpet.
__ADS_1