
Guntur melirik jam yang ada di ruang rapat OSIS. Hampir pukul tiga sore dan rapat masih belum menemukan titik terang. Sedari tadi, dia sudah berusaha untuk menyuarakan ide-ide cemerlang agar rapat lekas berakhir. Namun, banyak sekali yang hendak dibahas Renard.
Badannya terasa penat. Guntur ingin segera pulang dan merebah. Ada bayang-bayang yang membuat tidur Guntur tidak nyenyak. Bayangan akan kehilangan Gesna. Bukan cuma Pelangi sebenarnya, dia juga sangat tidak siap untuk kehilangan Gesna. Cewek itu adalah zona nyamannya. Dan Guntur belum siap melangkah dari hal yang membuat nyaman hanya untuk mencari yang belum tentu ada.
"Jadi gini, gue boleh ngomong nggak?" tanya Naraya sembari menoleh ke yang lain dan dibalas dengan anggukan.
Guntur mulai memperhatikan Naraya. Cewek yang menyelamatkan perut penghuni rapat dengan membawa pisang goreng hangat dan kopi, mulai membelanya.
"Kalau menurut gue, rapat itu harus efisien. Untuk hal-hal yang nggak perlu perdebatan, ya, nggak usah diperpanjang lagi. Kayak lo, Tur."
Cewek itu menunjuk Guntur.
"Lo udah benar. Ini udah saatnya go digital, kalau lo mau bikin pembukuan OSIS pakai Excell, silakan. Simpan di Google Drive. Yang perlu tinggal di-share. Kalau sekolah mau lihat versi cetak, tinggal lo print. Atau sekalian, sekarang kan udah banyak ya aplikasi kas online, pakai itu aja. Biar transparan, berapa saldo kita. Ya, kali hari gini lo bawa-bawa buku utang."
Guntur mulai tersenyum. Ini yang dia maksud dari tadi.
"Terus masalah media komunikasi. Menurut gue, kita perlu dua. Yang pertama, grup kecil buat kita dan yang kedua, buat menampung info atau pesan atau aspirasi atau apalah dari pihak luar. Grup kecil sih terserah mau dibikin di WA, Telegram atau Line."
"Tapi kalau untuk yang kedua, kayaknya Line At sih yang cocok. Kenapa Line At? Soalnya bisa diadmin sama beberapa orang terus bisa broadcast message buat followers. Jadi, kalau ada pengumuman penting OSIS tinggal broadcast aja sebelum ditempel di mading atau share di sosmed OSIS."
Pengurus lain masih diam mendengarkan Naraya. Guntur mengangguk-angguk setuju. Harusnya beberapa keputusan memang tinggal ditetapkan saja oleh ketua, perkara beberapa orang yang tidak memiliki aplikasi itu hanyalah urusan remeh. Jika pengurus itu benar-benar mau bekerja, tentu harus merelakan beberapa memori di ponselnya dihapus untuk mengunggah aplikasi tersebut.
"Untuk Progja. Gue yakin semua pasti kasih ide yang terbaik buat ngangkat nama sekolah. Ini anak PMR ada mau Dwi Lomba, anak KIR ada mau PIKIR, kami Pespel juga mau bikin Lomba Panjat Tebing, belum lagi kita mau bikin Festival Musik. Kenapa nggak disatuin aja? Yang jadi panitia tetap anak-anak organisasi itu. OSIS nggak acak-acak kepanitiaan mereka, tapi ..."
Guntur dapat melihat kalau mata Naraya memindai semua pengurus yang masih menyimak.
"Tapi dibikin bersamaan dan ditutup dengan Festival Musik panggil artis sekalian. Kebetulan tahun ini kan sekolah kita ultah ke-50. Pakai embel-embel '50 Tahun' aja biar spektakuler!"
Guntur terperangah. Entah kenapa dia sangat setuju akan hal ini. "Lo pesan kopi pakai DHA?" tanyanya. "Kok bisa pintar banget abis minum ini kopi?"
Naraya meringis sedangkan Guntur mulai terkekeh. Sekarang Guntur paham kenapa Pasuspala bersikeras mendukung Naraya menjadi Ketua Umum OSIS. Walaupun tampilan dan stigma yang berkembang tentang Naraya membuat orang tidak yakin, Guntur perlu akui pemikiran cewek itu cukup revolusioner.
"OSIS tahun lalu tuh kebanyakan Progja, menurut gue. Kalian bayangin aja. Setiap tahun OSIS selalu ngurusin Upacara Tujuh Belasan, classmeeting, perpisahan kelas XII, bikin Buku Tahunan atau video Catatan Akhir Sekolah, Diklat OSIS, belum lagi program kecil masing-masing bidang. Itu udah banyak, tinggal kita bikin satu event gede aja. Kalau acara 50 tahunan ini berhasil, secara nggak langsung kita udah tunjukin keberhasilan pengurusan kita untuk menyatukan organisasi-organisasi di bawahnya. Intinya, nanti OSIS cuma urus Festival Musik aja. Titik."
Pembicaraan Naraya cukup serius, tetapi cewek itu berbicara sambil mengunyah pisang goreng. Cocok sih memang kalau dia dekat sama Gesna. Dua cewek itu nggak ada jaim-jaimnya.
"Bener juga," gumam Guntur.
"Iya, dong. Setahun itu sebentar. Kebanyakan urusin program yang ada kita nanti nggak belajar. Ini OSIS apa EO?"
Guntur terkekeh kembali sambil melempar remah pisang yang tersisa. "Gaya lo! Kayak belajar aje."
"Gimana, Pak Ketum?" tanya Naraya ke Renard. "Udah bisa diselesaikan rapat kali ini?"
Renard sempatkan bertanya ke yang lain mengenai ide Naraya. Hampir dua per tiga dari pengurus setuju dengan ide itu. Rapat akhirnya ditutup pukul setengah empat sore.
"Lain kali, gue nggak mau ya rapat ngalor ngidul. Nggak punya poin pembahasan, habisin waktu lama-lama buat bahas yang nggak genah!" rutuk Naraya sambil membereskan tasnya.
Guntur menoleh. Sekre OSIS sudah sepi. Yang berada di dalam ruangan tinggal Renard, Naraya, Joceline dan dia. Guntur pikir dia saja yang merasa rapat tadi terasa membosankan. Rupanya Naraya juga berpikir hal yang sama.
"Ini karena kamu telat," ujar Renard. "Kalau kamu nggak telat, meeting kita pasti lebih cepat."
Naraya terlihat tidak terima. "Meeting, meeting. Rapat!" dengkusnya sambil menunjuk muka Renard. "Gini ya, Renard. Kalau lo bisa mimpin rapat, ada atau nggak ada gue, rapat bakal tetap jalan dengan efektif. Lo aja kali yang nggak layak memimpin."
Guntur dan Joceline menjadi saling bertukar pandangan. Suasana mulai memanas dan mereka merasakan tanda-tanda akan terjadi perang dunia ketiga. Apalagi saat Renard bukannya mengalah malah tersenyum sinis.
"Kamu pikir kamu layak memimpin? Pemimpin apa yang telat sampai 30 menit tidak ada kabar?"
Guntur mencoba berdeham, meminta Renard untuk sadar. Akan menjadi tidak enak untuk ke depannya kalau mereka berdua selalu bersitegang. Namun, Renard sepertinya tidak paham arti dehaman Guntur.
"Oh, ya? Untuk lo ingat, ya, Renard. Secara de facto, gue yang harusnya jadi Ketua Umum OSIS!"
__ADS_1
Guntur dapat melihat dengan jelas muka Joceline yang makin memutih. Cewek itu menganga kaget melihat seruan murka Naraya. Perihal kedudukan Ketua Umum OSIS ini memang pernah dibahas di BOS dan menjadi desas-desus miring satu sekolah. Sebab, secara suara, Naraya menang belasan angka di atas Renard. Namun, anehnya cowok itu yang naik dan dilantik menjadi Ketua Umum.
"Oh, iya. Di Jerman lagi Summer Sale, 'kan? Kira-kira apa nih yang bagus buat Kepala Sekolah? Etienne Aigner? Hugo Boss? Braun Büffel atau Bally?" tanya Naraya menaikkan sebelah alis. "Atau apa kek gitu yang mereknya itu Jerman banget. Adidas? Ah, Adidas sih nggak eksmud banget, ya."
Baik Renard maupun Naraya bertatapan dengan tidak mau kalah. Guntur tahu Renard coba menahan marah. Pertanyaan Naraya seolah-olah menuduh cowok itu sudah berbuat curang demi mendapatkan kedudukan. Guntur berusaha menarik tangan Renard tetapi dilepas Renard. Cowok itu malah merapat ke arah Naraya, berhadap-hadapan dan saling menantang.
"Ling, kita pulang, yuk."
Guntur berinisiatif menarik Joceline agar meninggalkan sekre OSIS. Biarlah permasalahan itu diselesaikan mereka berdua secara empat mata. Joceline sepertinya akan jatuh pingsan jika melihat kelanjutan debat.
Joceline kembali terkejut saat tangannya ditarik Guntur.
"Sori, Ling. Menurut gue, biarin aja mereka berdua selesaiin masalah mereka." Guntur mengedik sambil menuruni tangga gedung kesekretariatan setelah melepaskan genggaman di tangan Jocelune.
Joceline hanya mengangguk-angguk. Sekretaris OSIS itu tidak menyangka kalau rumor perebutan jabatan Ketum masih ada dan meninggalkan ketidakterimaan pada Naraya.
"Lo kayaknya syok banget, Ling." Guntur terkekeh.
"Walaupun gue sering dengar kalau Naraya itu ganas, baru tadi, gue lihat langsung gimana dia marah," sahut Joceline menggenggam tali tas. Dia mengembuskan napas dalam untuk menetralisir dadanya yang berdetak kencang sekali. "Benar-benar seram."
"Santai, mereka memang sering begitu. Nanti juga lo jadi biasa," ujar Guntur.
"Gue bisa cepat mati mendadak kalau kayak gini, sih," gumam Joceline sambil menggeleng lemas. "Itu tadi baru Naraya yang teriak, kalau Renard yang teriak juga. Lepas jantung gue kayaknya."
Tawa Guntur terburai lepas. "Nggak, Renard nggak tukang teriak-teriak. Tenang aja lo."
Sebut saja beberapa bulan ini Guntur cukup mengenal Renard ketika di lapangan. Dia sedikit tahu bagaimana perangai kapten timnya. Renard jarang sekali marah. Mungkin perkataan Naraya tadi sudah tidak bisa ditolelir sehingga Renard ikut marah.
Sekolah sudah sepi. Mereka berjalan menuju depan sekolah.
"Lo dijemput, Ling?" tanya Guntur saat mereka menyusuri koridor sebelah lapangan basket.
Joceline menggeleng lagi. "Nanti order ojol aja kalau udah di depan."
Joceline menyebutkan nama perumahan yang berdekatan dengan perumahan Guntur.
"Searah sama gue. Balik sama gue aja, udah sore," ujar Guntur. Joceline terlihat bimbang. "Udah nggak apa-apa, gue tahu jalan tikus ke tempat lo."
Guntur meminta Joceline untuk menunggunya di pos satpam dan dia menuju parkiran motor. Di sana lengang, tinggal beberapa kendaraan yang masih ada. Termasuk miliknya, milik Renard dan Naraya.
Guntur tertegun menyadari sesorang sedang menduduki skuter Naraya. Orang yang menyadari kedatangannya kemudian melambai.
"Tur, lo dari rapat OSIS?" tanya Adit.
Sadar tidak bisa menghindar dari percakapan, Guntur mengangguk. "Iya. Nunggu siapa, Bang?"
"Naraya ada?"
Buat apa Adit mencari Naraya? Guntur terdiam sesaat lalu mengangguk. "Masih di sekre, Bang."
Adit mengacungkan jempol ke arahnya sebagai pernyataan terima kasih. "Oh, ya, Tur."
Guntur kembali menoleh dari atas motor yang sudah didudukinya. Semenjak dia melihat Adit di rumah Gesna, entah kenapa ada rasa malas untuk berinteraksi lebih dengan Adit.
"Lo sama Gesna ada hubungan apa?" Cowok itu bertanya lagi.
Guntur berani sumpah kalau mata Adit memindainya dari atas ke bawah. Dia lalu teringat senyum Gesna, malam itu. Guntur paham, Adit perlu diyakinkan dan Guntur tahu diri untuk tidak merusak hubungan yang sedang dibangun antara Gesna-Adit.
"Dia sahabat gue dari SMP. Kenapa, Bang?"
Guntur tidak tahu apakah cengirannya tadi terlihat kaku atau palsu. Tersenyum saat tidak ingin tersenyum tentu hasilnya tidak akan maksimal.
"Oh, gitu. Nggak apa-apa. Gue make sure aja." Adit mengangguk-angguk pelan. "Ya udah, hati-hati di jalan, Tur."
__ADS_1
Guntur kembali berusaha tersenyum dan menjalankan motor. Dia masih tidak mengerti hubungan Adit, Gesna dan Naraya.
***
Adit tahu senyum Guntur tadi cukup tegang. Seperti ada yang disembunyikan. Tentang itu akan dicari tahunya nanti. Saat ini, Adit punya urusan yang lebih penting.
Naraya yang sudah ditunggu mulai mendekat ke parkiran. Cewek itu berjalan dengan tatapan datar ke depan.
"Lo Naraya, 'kan?" sapa Adit kepada Naraya sembari mengembus asap ke udara. Ada tatapan heran seolah bertanya kenapa Adit ada di atas skuternya.
Naraya mengangguk dingin. "Iya, kenapa?"
"Ketos jangan jutek, dong. Masa gini perlakuan lo sama orang-orang yang dulu pilih lo?" tembak Adit santai. "Gue udah nunggu lo satu jam di sini."
"Terus? Mana gue tahu lo nunggu gue." Cewek itu tersungging tipis. "Bisa to the point aja? Gue buru-buru mau latihan soalnya."
"Wah, gue demen yang nggak banyak basa-basi gini," tandas Adit.
Mata Naraya terlihat memperhatikannya dengan saksama. Meneliti baju seragam Adit yang keluar dari ikat pinggang juga rokok yang sedang dipegangnya. Dua tangan cewek itu terlipat di dada. "Gue tahu lo siapa. Dan kayaknya lo nggak mungkin datengin gue kalau nggak ada kepentingan," kata cewek itu lagi. "Tentang apa, nih? Gesna?"
Adit dapat melihat ada sunggingan samar di bibir Naraya. Senyum yang menegaskan kalau dia mengetahui kalau Adit sedang mendekati Gesna. Mau tak mau, Adit tertawa pelan. Dia hampir lupa kalau Naraya dan Gesna cukup dekat.
Adit menyentil puntung rokok ke tanah dan menginjaknya jadi abu. "Gesna cerita?"
Terdengar dengkusan pelan. "Enggak, tuh."
"Kok lo bisa tahu?"
"Ya, tahu aja. Dinding aja punya kuping," ujar Naraya kembali tersenyum tipis dan berdiri tanpa gentar. "Jadi, kenapa, nih, Kak?"
"Panggil gue Adit aja, nggak usah pakai kakak," pintanya dan Naraya mengangguk. "Gue mau nagih janji lo di orasi kemarin."
"Tentang?"
"Pendekatan personal kepada pemakai di sekolah ini sebagai upaya memberantas narkoba," ujarnya mantap. "Gue dengar ide lo itu dan sekarang, gue minta lo buktiin omongan kemarin, sekadar teori atau bukan."
"Lo mau bukti yang gimana?" Cewek berambut sama pendek dengan rambut Gesna itu menatapnya datar.
"Gini, biasa yang namanya pemimpin itu kan waktu kampanye bilang apa, waktu udah kepilih malah ngapain. Nah, gue harap sih orang yang gue pilih waktu itu bukan orang yang salah. Bukan orang yang omdo aja."
Alis Naraya terangkat. Matanya kemudian memicing. "Ada bidang yang membawahi urusan itu, nanti Kabid Bidang Enam gue utus buat temuin lo."
"Enggak, gue maunya lo," jawab Adit terkekeh. "Biar urusan kita langsung aja. Masalah lo mau utus siapa itu terserah lo."
"Itu bukan urusan Naraya." Sebuah suara datang memotong. Anak baru yang entah bagaimana bisa mendulang suara menjadi Ketua Umum OSIS itu berdiri tidak jauh dari mereka. "Janji Naraya hanya berlaku kalau dia jadi Ketua Umum, dan dia hanya Ketua I jadi janji itu tidak berlaku."
Adit menoleh. Berani sekali anak itu ikut campur dalam urusannya. Dia lalu mendengus. "Dari hasil suara, jelas kok kalau dia yang terpilih. Lagi pula, gue pilih dia bukan karena ajakan Adji aja. Gue pilih dia supaya dia bisa jalanin apa yang jadi janji muluknya."
Kepala Adit kembali berputar dan menatap Naraya. Dia harus menantang cewek itu. "Gue tunggu bukti nyata lo. Bukan sekadar janji-janji!"
Adit berdiri dan mulai berjalan pergi. Saat melewati Renard, dia berbisik, "Gue peringatin lo untuk nggak usah ikut campur urusan orang."
"Saya nggak ikut campur, tapi kalau kamu membahas OSIS. Saya termasuk di dalamnya."
Adit meninggalkan mereka sambil mengawangkan alis. Jika saja dia tidak berpikir kalau Renard itu juga teman si Gesna, pasti enak sekali memperingatkan dengan sedikit sentuhan. Diraihnya ponsel dan mulai mengetik pesan untuk Naraya.
"Gue bisa jadi penyedia informasi kalau lo perlu."
Sent.
***
Renard... Kalo Kepala Suku gue bilang jangan ikut campur, jangan ikut campur lo. Mundur, woy. 😄
__ADS_1