Matahari Api

Matahari Api
Sinyo


__ADS_3


Adit coba untuk menguraikan pelukan Gesna. Kelakuan Gesna hari ini aneh, mengguncang keteguhan hati yang tidak mau berharap lagi. Bukan dilepas, Gesna semakin mengencangkan pelukan. "Ges. Tolong lepas, jangan bikin gue bingung."


"Maaf." Cewek itu masih terseguk-seguk. Dada Adit rasanya sesak, mendengar tangisan Gesna yang sangat menyayat. "Maaf, Adit."


"It's okay. Gue juga salah, kok. Jadi ... udah, nggak usah lo pikirin. Baju gue basah banget, entar lo masuk angin," ujarnya kembali melepas pelukan Gesna. Apa Gesna tadi menangis karena merasa sedih, bersalah atau ada perasaan lain?


"Gue juga basah, kok," sahut Gesna terisak. Muka itu seperti sangat merana, menatapnya dengan pandangan curiga. "Lo udah nggak sayang gue lagi, ya?"


Adit hanya menarik senyum datar, tidak mau membalas. Dia hanya ingin pergi secepatnya sebab kalau di sini, keinginan untuk memeluk dan mengusap tangis Gesna sangatlah besar.


"Gesna, stop," elak Adit waktu Gesna memeluk punggungnya kembali. "Lo udah tahu perasaan gue. Tolong jangan jadiin itu senjata buat lo memaksakan semua keinginan lo."


Kepala itu menggeleng-geleng di punggungnya. Seakan nggak terima sama ucapan barusan. "Gue... G-gue sayang lo, Dit."


"Lo sayang Guntur, bukan sayang gue," potong Adit lalu mengerjap. Merasakan kesakitan dari kalimatnya sendiri.


Pelukan yang melingkarinya luruh. Cewek itu merosot dan memeluk kedua kaki sendiri, menangis dengan tersedu-sedu. Adit tidak pernah suka melihat orang yang disayanginya menangis. Dia mengusap kepala Gesna pelan. "Nggak capek nangis terus? Mata lo sembap melulu belakangan ini."


Tangisan Gesna semakin keras. Bagaimana dia bisa abai kalau Adit memperhatikannya sejauh ini? Itu pun karena Asri memberitahunya kalau Adit memergoki Naraya membantu dia memanjat. Kata Asri, Adit mempermasalahkan lutut Gesna yang sakit. Kenapa dia bisa tidak tahu diri ketika disayangi orang? Gesna menangkap tangan Adit dan menarik cowok itu untuk ikut berjongkok. Merangsek ke pelukan Adit, melabuhkan tangis di sana. "Guntur sahabat gue, pasti gue sayang, tapi gue juga sayang lo!" seru Gesna terbenam dalam dada Adit.


Itulah jawaban yang Gesna dapatkan tadi. Jawaban dari semua kegelisahan dan ketidakseimbangan belakangan ini. Ternyata, dia juga menyayangi Adit. Ternyata, dia ingin ada Adit di sisinya untuk bertukar cerita, tertawa dan bercanda. Ternyata, dia kehilangan Adit jika cowok itu berubah menjadi asing. "Adit," tegurnya ketika menyadari Adit hanya diam.


"Guntur sahabat lo, wajar kalau lo sayang. Gue bukan siapa-siapa lo, buat apa disayang? Udah nangisnya. Jangan buang air mata untuk hal sia-sia." Adit sekuat mungkin berusaha berpikir jernih, tapi tangisan Gesna membuat tangannya bergerak di luar kendali. Dia menarik dagu Gesna dan mengusap air mata.


"Bukan siapa-siapa?" ulang Gesna. Ada yang mencubit hatinya hingga terasa sakit. Melihat Adit mengangguk, hati Gesna semakin teriris. Air mata Gesna semakin berjatuhan. Bagaimana dia bisa menyakiti perasaan orang lain dengan sangat kejam.


"Adit," raungnya kembali memeluk. Dia tidak bisa berhenti menangis. Dia takut jika berhenti menangis, Adit akan pergi. Gesna sedang berusaha menjelaskan perasaan kepada lawan, melucuti kelemahan pertahanan dan bersedia dimatikan. "Aku enggak bisa lupa kamu. Aku enggak bisa. Aku kangen kamu. Kamu masih nggak ngerti juga?"


Cowok itu membeku, tapi Gesna dapat mendengar debar keras dari balik dada yang dia peluk. "Adit...."


Adit hanya bisa menelan ludah. Gesna selalu bisa menggoyahkan akal sehatnya. Logikanya mati dan otaknya kosong. Semua keputusan kemarin mendadak porak poranda apalagi ketika Gesna berlutut, menyamakan tinggi wajah mereka untuk mendekatkan wajah dan mengecup bibir Adit.


Tangan Adit langsung menahan kedua pipi Gesna agar cewek itu tidak mengecup kedua kali. "Gesna, jangan kayak gini."


"Bukan siapa-siapa?" tanya Gesna masih tidak peduli, menarik tangan Adit yang menghalangi dan kembali mendekatkan muka. "Bilang lagi bukan siapa-siapa."


Embusan napas cewek itu bahkan ikut terhirup Adit. Harusnya dia tidak perlu kaget dengan kenekatan cewek ini. Walaupun begitu, tetap saja ada yang melompat liar di dada Adit. "Yang ngomong begitu kan kamu, bukan aku," dalihnya berusaha terdengar enteng sambil menaikkan sebelah alis, menatap mata berair itu.


Cewek itu mencebik, memukul bahunya pelan. "Ngeselin," ujar Gesna sambil kembali duduk di balik pintu.


"Kamu?" balas Adit. Yang mengesalkan kan memang Gesna, segala tingkah lakunya janggal sekali.


"Kamulah! Jadiin orang taruhan."


Adit berdecak sambil menggeleng tidak habis pikir. "Udah dibilang taruhan itu enggak ada, Gesna. Aku nggak suka main-main dengan perasaan. Aku juga waktu itu enggak ada maksud mainin kamu. Beneran. Susah sih memang kalau pada dasarnya enggak percaya."


Mereka sama-sama terdiam, memandang ruang tengah yang berantakan karena tas dan sepatu Gesna terlempar ke sembarang tempat.


"Aku pulang aja, bakal enggak baik buat kita kalau aku lama di sini. Aku enggak mau ganggu kamu. Jangan nangis terus nanti kamu sakit." Cewek itu kembali memeluk dada Adit ketika dia hendak berdiri. "Gesna, jangan kayak gini. Kamu bikin bingung," keluh Adit yang berperang kembali dengan hati dan otak.


"Bingung kenapa?"


"Kamu bikin orang berharap," jawab Adit berdecap.


"Berharap apa?"

__ADS_1


Adit berdengkus pelan. Cewek ini benar-benar tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu. Dia mencoba bangkit dan melerai pelukan. "Udah, ah. Keburu malam."


"Jawab dulu, berharap apa?" paksa Gesna sambil memegang sebelah kaki Adit kuat-kuat sehingga tidak bisa melangkah. Gila, maksud Gesna apa coba?


"Berharap yang lebih, Gesna." Adit mencoba untuk melangkah, tetapi Gesna malah mengganduli kakinya. Mirip anak yang merajuk minta dibelikan permen.


"Enggak jelas! Katanya nilai bahasa Indonesianya sembilan?" Cewek itu mencibir dengan memasang muka yang menyebalkan di antara mata bengkak. "Jelasin!"


Adit kemudian berlutut dengan sebelah kaki, menatap tepat mata Gesna. Semoga dengan ini semua selesai. "Berharap jadi pacar kamu lagi. Udah, 'kan? Ya udah, aku pulang," sahut Adit kembali bangkit.


"Enggak boleh," paksa Gesna dengan bibir yang tiba-tiba menyengir senang, dipeluknya kedua kaki Adit sambil menyembunyikan senyum. "Masih kangen pacar."


Adit berhenti dan menoleh. "Apa tadi?"


"Efek kehujanan ternyata bisa bikin budek." Gesna memutar mata sambil terus menyandarkan kepala di lutut cowok itu. Astaga, dia sudah putus urat malu.


"Cie, kangen." Telunjuk Adit menjawil dagu Gesna. "Kangen siapa? Kangen pacar? Bukannya udah mantan?"


"Pacar," tandas Gesna sambil berdiri. Bajunya bahkan sudah kering di badan. Hidupnya penuh drama sekali hari ini. "Ya udah, kalau enggak mau."


"Belum juga dijawab, udah punya kesimpulan sendiri. Boro-boro mau dibujuk." Adit sudah tersenyum jail, apalagi melihat muka itu mencoba berpaling karena mulai memerah. Biarlah keputusan mundur hanya wacana, sebab tidak setiap hari dia mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Adit meraih tangan Gesna dan menggenggamnya. "Jadi ... kita balikan, nih?"


Kepala di sebelahnya naik turun dengan antusias. Muka yang tadi menangis langsung berubah cerah.


"Tapi ... aku enggak pernah ngerasa putus, sih. Kalau diputusin sepihak, ada," ujarnya sambil bersiul pelan, menyindir. Dan pukulan kecil mendarat di badan Adit. "Aduh, KDRT."


Gesna menarik Adit ke arah dalam, lalu mendorong masuk kamar tamu. Seolah apa yang diucapkan adalah titah tanpa bisa dibantah. "Sekarang, kamu mandi dan ganti baju. Nanti aku sediain bajunya. Handuk ada di lemari."


Cewek itu meninggalkan Adit dan tak lama datang lagi. "Ini pakai ini. Buruan sana masuk kamar mandi. Pakaian kotornya taruh keranjang, nanti biar dicuci."


Adit mengangguk, menerima arahan dengan senang. Apa benar Gesna sudah menyayanginya? Atau ini hanya mimpi lagi dan akan ada badai yang lebih keras dari kemarin? Namun, Adit lagi-lagi kesulitan menolak. Seakan siap sedia jika kembali jatuh dan terkubur dalam lubang yang sama untuk kedua kali.


"Gesna... Gesna...." Adit berusaha mengoyangkan gagang pintu sambil mengetuk-ketuk. Pintu tertutup, tidak ada anak kunci, dia benar-benar dikunci. Adit meraih ponsel untuk menghubungi cewek itu tetapi nomornya sibuk. Ada apa ini?


Adit duduk di pinggir tempat tidur beberapa saat sampai pintu itu terdengar dibuka dari luar.


"Udah mandinya?" tanya Gesna menampakkan diri. Rambut pendek itu terlihat lembap dan wangi apel tercium di udara.


"Kok dikunci, sih?" Adit keluar mengikuti Gesna.


"Siapa tahu kamu tiba-tiba mau kabur pulang waktu aku mandi," sahut Gesna sambil menyengir santai seolah mengunci orang di kamar bukan sebuah kesalahan. "Makan apa, ya? Lapar, nih."


"Oh, lapar juga? Kirain pecahin piring dan buang lauk tadi karena kenyang," balas Adit menyindir, menyayangkan makanan yang terbuang karena perilaku emosional Gesna. "Di luar sana padahal banyak orang enggak bisa makan."


"Terus, terus... Sindir terus sampai kilat," decak Gesna sambil mencubit Adit. Tak lama, cewek itu menggelayut di lengan Adit. "Aku pengin spageti buatan kamu lagi, deh. Bikinin, ya?"


Dengan segera, Gesna mengeluarkan bahan-bahan dan menyodorkan ke Adit. "Aku bagian yang bikin teh," tambahnya lagi sambil menyiapkan dua cangkir kosong.


Adit hanya diam, berusaha mengerti mengapa Gesna masih terus menerus bertingkah ajaib. Dia pikir setelah mengaku rindu, Gesna akan kembali seperti biasa. Akan tetapi, sepanjang Adit memasak, cewek itu beberapa kali memeluk punggungnya. Apa Gesna memang benar-benar sudah berubah? Adit malah waswas melihat semua ini.


"Kamu kenapa, sih? Aneh banget hari ini?" tanya Adit sambil menghidangkan dua piring spageti di meja. Meja makan itu polos tanpa taplak dan perangkat makan apa pun, semua sudah dimusnahkan Gesna dalam sekali kibas.


"Aneh gimana?" Gesna menatap masakan Adit dengan binar bahagia. Cewek itu bergegas meraih garpu dan memilin pasta.


"Ya, aneh. Tiba-tiba bisa bilang kangen sama aku, tiba-tiba ngaku sayang sama aku. Aneh aja."


Gesna sudah menyuap spageti ke dalam mulut sambil mengedik. "Enggak tahu. Besok mau mati, mungkin," ucapnya dengan mulut menggembung.

__ADS_1


"Gesna!" Adit menurunkan kembali garpu dan menatap tajam sosok di sebelah.


"Nona!" ralat Gesna dengan raut tidak mau kalah. "Mana panggilan Nona-nya?"


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, Nona."


Tersenyum sambil mengunyah, Gesna menaikkan jempol. "Bagus, gitu dong patuh sama majikan."


Cewek itu lalu terbahak lepas saat Adit menyentil telinganya sebagai balasan. "Itu kenapa kuping kanannya pakai plester? Luka karena digaruk?"


"Pacar Gesna memang paling paham." Gesna menepuk-nepuk bahu Adit sambil menghabiskan spageti. Muka cewek itu mulai mendekat ke arah Adit. "Kok aku tuh baru sadar ya kalau kamu perhatian sama aku?"


"Eits, eits." Adit menaruh telapak tangan di jidat Gesna agar cewek itu tidak menyosor sembarangan. Tak lama tangan itu turun, jempolnya mengusap ujung bibir Gesna yang belepotan saus. "Kayak soang kamu."


"Karena nyosor atau makan berantakan?" Gesna mengambil tisu dan membersihkan jari Adit yang tadi dipakai untuk mengusap saus.


"Dua-duanya."


Gesna meringis sambil menarik muka. Tangannya membereskan piring-piring dan menaruh di tempat cucian piring. "Soang yang buruk rupa ya?"


Adit terkekeh, duduk di sofa ruang tengah dan menyalakan televisi. "Abang pulang jam berapa?"


Mata Gesna mulai melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Dia menggeleng. "Enggak tahu. Enggak tentu. Kadang malah enggak pulang."


Benar dugaannya, Gesna sendiri tiap hari hingga semalam ini. Adit menonton televisi dengan pikiran bingung. Dia tidak ingin meninggalkan Gesna sendiri, tetapi dia juga harus pulang sebab besok masih sekolah.


"Kenapa?" tanya Gesna ikut duduk di samping. "Mau pulang?"


"Iya, udah malam."


"Ah, masih sore," sela Gesna sambil menyandarkan kepala di bahu Adit. "Kamu kan suka begadang, cover-cover lagu malam-malam. Iya, 'kan?"


Teringat cover dan video, Adit menoleh cepat. "Nomor aku masih kamu blok, ya? Tadi, nggak bisa telepon."


Masih dengan kepala merebah, Gesna mengulurkan ponselnya ke Adit. Seakan memberi izin Adit untuk menuntaskan urusan itu.


"Dit, kalau Non itu pasangannya apa? Tuan?" tanya Gesna sambil memperhatikan Adit membuka blokir untuk telepon dan sms.


"Non atau Nona itu dulu adalah sebutan pribumi untuk anak Perempuan Belanda. Turunan dari bahasa Portugis, menina yang jadinya menona," jelas Adit sambil mengembalikan ponsel.


"Kalau cowoknya dipanggil apa?"


"Nyo, singkatan dari Sinyo." Adit menggeser bahu sedikit, karena telinga kanan Gesna yang berplester terlihat terjepit.


"Tapi, aku kan bukan Belanda. Kenapa dipanggil Nona?" Alis Gesna berkerut, menyadari esensi dari nama tersebut.


"Kamu penjajah," ujar Adit mengusap kepala cewek itu. "Menjajah hati aku."


Gesna refleks menepuk paha Adit. "Woy! Bisa aja celengan ayam." Cewek itu tertawa merdu. Tawa yang sangat dirindukan Adit. "Kalau gitu, aku panggil kamu Nyo, ya?"


"Hah? Kok?"


"Kenapa?"


"Kok makin aneh?"


"Kak kok kak kok kayak ayam. Kamu aja panggil aku Non, masa aku enggak boleh panggil Nyo?" Wajah semringah itu menatapnya sambil tersenyum. "Ya, kan, Nyo?"

__ADS_1


Adit hanya bergeleng-geleng, menyandarkan leher ke sandaran sofa. Tangannya masih mengusap pelan kepala Gesna. Apa yang terjadi hari ini, entahlah, Adit sendiri tidak begitu paham. Jika memang jalan cerita dia dan Gesna akan seperti ini, maka Adit hanya mengikuti alurnya, setiap naik dan turunnya, setiap tikungan dan tanjakannya.


Televisi menyiarkan film yang tidak disimak Adit. Kepalanya agak berat karena hujan tadi dan hidungnya semakin gatal. Setiap celotehan Gesna mengomentari film itu terasa menyenangkan, seperti lullaby penghantar tidur. Adit sudah lupa, kapan terakhir kali dia tertidur dengan senyum terbingkai di wajah.


__ADS_2