Matahari Api

Matahari Api
Kembali Ke Basecamp


__ADS_3


"Allahu Akbar! Maha Suci Allah! Gesna akhirnya datang!" pekik Riko memecah keheningan basecamp. Gembira tidak tertahankan, biang kerusuhan yang belakangan ini hilang akhirnya kembali. Penghuni lain serempak menoleh, menatap Gesna yang masuk melalui pintu.


"Ladies and Gentlemen, please welcome Ratu Kepala Suku!" Riko membungkukkan badan seolah memberi hormat.


Belum Riko melanjutkan ocehan, Gesna lebih dahulu melayangkan pukulan ke kepala sahabatnya itu. "Banyak bacot, nggak bagus!"


"Gege! Apa kabar sih, lo?" Adrian maju dan memeluk singkat Gesna. "Janganlah lupa kita mentang-mentang udah jadi Ratu—"


Gesna menepuk bibir Adrian sebelum kalimat cowok itu selesai. "Lo pikir gue lagi gabung sama Republik Cinta-nya Ahmad Dhani? Ratu-ratu melulu!"


Ilham juga mendatangi Gesna, Adrian dan Riko. Mereka berempat berpelukan seperti Telletubies, berputar-putar tidak waras. Sampai Riko berhenti dan melepas pelukan dengan kaku. Mata Riko melirik ke pintu masuk, memberi kode kepada yang lain.


Meski belum sempat menerjemahkan kode Riko, mereka akhirnya mengerti. Sesosok tubuh tegap dengan muka datar melewati mereka, naik ke lantai dua tanpa bicara dan hilang di balik pintu studio.


Ilham mendeham. "Lirikan pacar lo sadis banget, Ge."


Gesna terkekeh sambil duduk di sofa. "Gue ternyata kangen banget sama basecamp, sama kalian yang enggak penting sedunia."


"Makanya lo enggak usah sok-sok asyik sendiri. Teganya lo melupakan kami." Riko mulai berakting sedih yang hanya dibalas Gesna dengan lemparan bantal sofa. Cowok itu duduk di samping Gesna dan memusatkan perhatian. "BTW, gimana ceritanya Ge kok bisa sampai balikan?"


"Gitu, deh." Gesna mencomot toples yang berisi kacang. "Lo enggak ada niat sediain gue teh kotak?"


"Ambil sendiri, enggak usah sok oke!" cibir Riko yang dibalas keplakan oleh Gesna. "Kangen lho gue sama keributan lo, Ge."


"Lo kangen sama gue. Karena gue ini orangnya merindukan gitu, kagak usah ngeles pakai acara-acara ngatain gue ribut, deh." Gesna menepuk dada dengan bangga, yang langsung disahuti oleh dorongan di kepala dari yang lain. "Bertiga aja? Gugun mana?"


"Mana pernah dia ke sini lagi, Ge." Ilham meringis. "Jarang-jaranglah. Gue pikir lo yang ngomporin dia."


"Mulut lo, Ham. Minta dipanggang dengan api dari neraka." Gesna terkekeh. "Mana ada gue komporin orang? Segini baik hati dan welas asihnya gue."


Adrian mulai tertawa sambil menunjuk Gesna. "Ini, ini, yang gue kangen dari si Gege. Obrolan halu nan unfaedahnya ini, enggak ada yang ngalahin."


Sembari meringis, Gesna melambaikan tangan. "Sini, Dri. Lo kalau ngomong deketan dikit. Biar mudah gue ludahinnya."


"Non." Sebuah panggilan menyela mereka, membuat Gesna menoleh dan yang lain menjadi diam. Adit mendekatinya, dan sedikit berbisik. "Aku les dulu, ya. Masih mau di sini, 'kan?"


Gesna mengangguk dan cowok itu lalu pergi. Sebuah senyuman terbit dari bibir Riko, senyuman yang tak lama menjadi tawa mencemooh. "Apa tadi? Non? Lo dipanggil Non sama Bang Adit, Ge?" tanya Riko tidak percaya, meski Gesna sudah mengiakan. "Enggak tahu diri amat lo, keset welcome!"


"Heh! Dia yang panggil, gue enggak minta dipanggil itu dulu, ya!" Tangan Gesna melempari Riko dengan kacang. "Ngapain yuk, woy? Uno mana Uno?"


Adrian bergegas mengeluarkan kartu Uno dan mengocok rata lantas membagikan di atas meja. Ilham, Riko dan Gesna menempati masing-masing sudut meja dengan segera.


"Gimana minggu depan? Tim putri udah siap?" Ilham bertanya sambil meletakkan kartu hijau ke tengah.


"Siap, dong. Pantang pulang sebelum menang, pokoknya." Gesna mengeluarkan kartu hijau yang ada dari tujuh kartu di tangan.


"Gue seram dengar slogan begituan, Ham. Ingat enggak lo kita kena marah Guntur gara-gara ada yang bilang pantang pulang sebelum padam?" Adrian yang mendapat giliran setelah Gesna, juga mengeluarkan kartu hijau yang dipunya.

__ADS_1


Riko terkekeh geli sambil mengambil kartu dari tengah. Di tangannya tidak ada kartu hijau. "Iya, anjîr. Ingat banget gue itu. Udah kayak bangke ngangkat beratnya, sampai rumah kena marah pula. Nasib," serunya sambil melempar kartu putar balik ke meja.


Adrian berdecak, lantas mencangkul tumpukan kartu di tengah. "Padahal Ilham udah ingetin. 'Ge, lo haus apa demen?' Eh, dia lempeng aja gitu kayak minum air putih."


Mereka bertiga tergelak keras, mengingat bagaimana susahnya mengurus Gesna yang mabuk. Gesna mendengkus tidak terima ditertawakan. Dia melempar kartu +4 ke meja. "Udah gue bilang, kalau mau ngomongin gue deketan dikit. Biar mudah gue ludahinnya, dijamin hangus mendadak!"


"Dapat aja sih lo kartu-kartu kayak gitu?!" Ilham mengambil kartu dengan sebal. "Ini lo ngocöknya enggak benar, nih, Dri!" protes Ilham yang mulai kerepotan.


Ponsel Gesna bergetar dan dia menatap penelepon dengan memicing. Tak biasa-biasanya, Jody, sang papa, meneleponnya. Gesna mengangkat panggilan itu dengan malas. "Halo."


"Kamu di mana?"


Mata Gesna berputar mengejek. Peduli apa Jody, dia ada di mana. "Rumah teman, lagi kerja kelompok," jawabnya sambil mengode yang lain agar tidak berisik.


"Sama Guntur juga?"


"Iya," sahutnya cepat agar tidak perlu ditanya-tanya lagi. Benar saja, panggilan itu lantas berakhir cepat.


"Siapa, Ge?" tanya Adrian sambil melontarkan kartu berwarna kuning. Sekarang di meja, warna kartu sudah berganti.


"Bokap." Gesna mengedik masa bodoh, menjatuhkan kartu sakti lagi. Kali ini kartu +2.


Ilham mengumpat tidak terima, mendapatkan giliran untuk menambah dua kartu sekaligus. "Pantesan, tumben amat lo bilang kerja kelompok. Gesna kerja kelompok?"


Gesna terkikik. Tadi, ide kerja kelompok sendiri entah mengapa tiba-tiba terlintas. Sebab di jam sepulang sekolah seperti ini, hal yang paling masuk akal mengapa dia belum kembali ke rumah adalah latihan basket dan kerja kelompok. Karena dia tadi mengangkat telepon dengan nada santai, tentu saja tidak mungkin mengaku sedang latihan basket. "Sepele amat lo, Ham. Gini-gini, gue ini ikut kerja kelompok lho. Mereka yang kerja, gue bagian sediain konsumsi sama hore-hore."


Ponselnya bergetar lagi, kali ini panggilan dari Guntur. Kartu yang dipegang langsung Gesna letakkan. Sepertinya ini ada hubungan dengan panggilan Jody, barusan. "Halo, Gun."


"Basecamp," jawab Gesna santai. "Sinilah."


"Kalau lo di basecamp, ngapain lo bilang lagi sama gue ke bokap lo?" sentak Guntur membuat Gesna terdiam. "Gila, ya. Untung gue iya-iyain aja. Lo enggak ada kompakin gue atau kasih tahu gue dulu, Ge."


"Iya, soalnya gue lagi main Uno ini sama mereka."


"Kayak penting amat Uno itu sampai lo enggak kasih tahu gue dulu?! Kalau bokap lo tahu gue bohong, gue enggak bakal dipercaya lagi, Ge." Guntur seakan sangat keberatan dibawa-bawa dalam urusan barusan. Padahal Gesna cuma mengiakan dengan pemikiran Jody pasti percaya. "Gue jemput lo sebentar lagi. Kita pulang."


Muka Gesna langsung cemberut ketika Guntur menutup telepon. "Kenapa, Ge?" tanya Riko mau tahu.


"Tauk nih si Gugun, kayak orang lagi PMS," keluhnya sambil mengetikkan pesan kepada Adit kalau dia harus segera pulang.


***


Sekarang, Gesna tahu kenapa Jody menghubunginya. Papanya itu sedang berada di Jakarta. Ini kali pertama sang papa ada setelah perceraian waktu itu.


Lelaki itu lebih dahulu menegur Guntur daripada dia. Sok beramah tamah. "Tur, apa kabar? Om turun berduka cita ya atas berpulangnya papa kamu. Maaf, belum bisa pulang, tapi karangan bunganya sampai, 'kan?"


Jika tidak ingat yang sedang dibahas adalah Papah yang sangat Gesna hormati, tentu dia akan melengos dengan segera. Gesna melangkah masuk ke rumah, sedangkan Guntur menyalami tangan Jody.


"Iya, Om. Enggak apa-apa. Sampai, kok. Makasih, Om."

__ADS_1


Jody tersenyum dan menarik tangannya kembali. "Sehat, Tur? Keluarga gimana? Sehat juga?"


Gesna membuang muka ke arah lain, rasanya hendak tertawa. Keluarga orang lain ditanya-tanya, keluarga sendiri diabaikan. Pencitraan kelas berat yang sedang dilakukan Jody, sangat menjijikan sekali. Setelah melepas sepatu, Gesna memilih menyingkir, tidak tertarik menjadi pendengar percakapan basa-basi itu.


"Gesna, bikinin minum dulu buat Guntur." Jody menegurnya ketika dia akan menaiki tangga. Batal naik, Gesna menyeret langkah ke dapur. Mengambil dua gelas kristal dan mengisinya dengan sirup, setelah menambahkan air, Gesna bergegas membuka freezer untuk mengambil es batu.


Mata Gesna terpancang pada kehadiran kotak ungu yang sangat dikenali. Tempat Mamah biasa mengirimi ayam ungkep ada di sana. Tapi, kapan diantarnya?


Dia menghidangkan dua gelas sirup ke meja tanpa bicara. Mengabaikan pembicaraan antara Jody dan Guntur yang mengada-ada. Ditatapnya mata Guntur, dan sepertinya Guntur tahu ada yang hendak dikatakan Gesna.


"Makasih, Ge," ucap cowok itu sambil mengambil segelas sirup.


Gesna mengangguk. "Itu, kapan ayamnya diantar?" tanyanya berusaha bersikap biasa saja.


"Kemarin."


Sebuah senyum tidak biasa hadir di muka Guntur, membuat Gesna menaikkan sebelah alis. Dia bahkan tidak mendengar kedatangan Guntur, kemarin. "Kapan? Kok gue enggak tahu? Kok enggak panggil gue?"


"Udah gue panggil, kok. Lo nggak dengar, lagi sibuk di kamar," balas Guntur berdecap pelan setelah meneguk es sirup. Kedipan ringan cowok itu seolah-olah mengatakan kalau dia tahu aktivitas Gesna di dalam kamar.


Sambil membalik badan, Gesna berjalan kembali ke dapur dengan ragu. Dia menaruh nampan sambil berpikir ulang. Tidak ada panggilan dari Guntur sama sekali, kemarin. Oh, ya, bukankah dia sedang memakai headphone untuk mendengar Steve Aoki?


"Asyik banget kemarin, jadi enggak dengar gue datang," desis Guntur yang tiba-tiba sudah menyusulnya. Cowok itu membawa dua gelas yang sudah kosong. Gesna terkesiap dari lamunan dan menoleh ke ruang tengah. Jody sudah tidak ada, mungkin sudah masuk ke kamar.


Dia menggeleng. "Gue enggak dengar lo datang, gue lagi bikin mural di dinding."


Guntur mengangguk-angguk. Namun, Gesna melihat ekspresi menyebalkan dari muka Guntur. Antara menampilkan ketidakpercayaan dengan berusaha tidak ingin tahu. "Banyak banget kayaknya mural yang dibikin," komentar Guntur.


Gesna mengangguk, berusaha menilai maksud kalimat Guntur. Cowok itu pasti tahu ada Adit. "Satu dinding. Yang di sebelah tempat tidur."


Kepala Guntur mengangguk lagi. Setelah membasuh gelas, cowok itu mendekat. "Brutal, ya. Sampai leher-leher muralnya," bisik Guntur sambil menyibak rambut di leher Gesna, menekan plester yang ditempel di sana.


Tersentak, Gesna menepis tangan Guntur. "Apaan sih lo?" balasnya menutupi gugup.


Cowok itu malah terkekeh berdengih. Kali ini tawanya terasa sangat berbeda dari biasa. "Dari awal, gue udah enggak setuju lo balikan sama dia. Lihat lo sekarang? Makin bisa ngebohong pakai bawa-bawa nama gue, makin liar, makin aneh-aneh."


Gesna menoleh lagi, melihat kondisi rumah. Takut kalau pembicaraan ini ada yang mendengar. Dia menarik Guntur ke arah belakang, dekat mesin cuci. "Aneh-aneh apaan, sih? Jangan asal tuduh lo! Gue aja enggak pernah tuduh lo macam-macam."


Guntur kembali mengangguk samar. Bibirnya tersenyum kecut. "Cowok bakal lebih paham kenapa plester ada di leher lo daripada cewek, Ge. Apalagi kayak Nay sama Aci, mereka mungkin enggak berpikiran ke sana."


"Ini karena gue garuk," kilah Gesna berusaha santai sambil meraba plester yang sebenarnya tertutup kerah seragam. "Lo kayak enggak tahu gue suka garuk-garuk aja."


"Dari satu sekolah, cuma gue kayaknya yang paham tempat mana aja yang sering luka kalau tangan lo udah mulai gatal, Ge. Belakang kepala sama belakang leher, bukan tulang selangka." Cowok itu merendahkan muka untuk dapat bertatapan langsung. Dengan senyum yang mengisyaratkan kalau dia mengetahui lebih, Guntur seperti sangat menunggu reaksi Gesna. "Gue lihat, Ge," bisiknya pelan dan telak yang hanya didengar mereka berdua.


"Gue lihat," tekannya sekali lagi sebelum meninggalkan Gesna yang kaku dan tercenung. "Lain kali, jangan lupa kunci pintu."


🌺🌺🌺


__ADS_1


Mampos! 🥶


Gimana ini woy? 🤯


__ADS_2