Matahari Api

Matahari Api
Kepala Suku


__ADS_3


Lima menit lagi jam pelajaran pertama akan dimulai dan Gesna belum menemukan parkiran kosong untuk skuternya. Dia berdecak ribuan kali diiringi segala sumpah serapah.


"Menang tenar doang ini sekolah. Murid yang mau masuk antriannya kayak pembagian sembako gratis, tapi lahan parkir sempitnya ngalah-ngalahin WC umum! Bikin parkiran di rooftop atau basement, kek. Apa, kek. Mau parkir aja susah bener."


Diarahkannya skuter itu menyusuri parkiran, mencari kemungkinan celah yang bisa dimasuki. Matanya menemukan sedikit ruang di antara dua motor. Dia kembali berdecak.


"Ini siapa sih yang parkir kayak gini? Biasa bawa bajaj kayaknya," rutuknya lagi. Mana mungkin skuter mulus kesayangannya diselipkan paksa ke tengah itu, bisa baret nanti. Gesna tentu tidak lupa bagaimana berat perjuangan mempertahankan keinginan membeli skuter matik tersebut. Gustav bahkan bilang skuter itu terlalu mewah untuk anak SMA. Gustav saja yang nggak gaul, yang pakai skuter matik premium di sekolah bukan hanya dia sendiri kok. Naraya juga pakai.


Di ujung parkiran, ada sebuah celah kosong yang masih tersisa. Dengan sigap, Gesna memosisikan skuter putih berlampu bundarnya di sana.


"Dek, jangan parkir di situ. Itu tempat parkirnya Kepala Suku," tegur seorang kakak kelas sambil lalu.


Gesna mendengar peringatan itu dengan memutar bola mata. Tempat parkir Kepala Suku? Dia melengos. "Kepala Suku?" gumamnya berbicara sendiri sambil melepas helm. "Ya, memang kenapa kalau Kepala Suku? Sok spesial banget itu anak punya tempat parkir sendiri. Memangnya ini mal apa ada valet parking? Memangnya motornya apa? Ducati? BMW? Moto Guzzi?"


Dia menaruh helm dan mengunci setang saat derum identik motor besar mendekat. Motor berkapasitas 250cc itu berhenti di belakang skuter Gesna. Bukan Gesna tidak tahu desas-desus tentang Kepala Suku. Namun, siapa pun dia, masalah lahan parkir tetap beda.


"Kenapa?" tanya Gesna kepada pengendara motor merah yang menaikkan sedikit kaca helm untuk menatapnya. "Ada yang salah?"


"Tempat gue," ujar cowok itu. Suaranya bergaung karena memakai helm yang menutup seluruh muka. Kedua mata yang terlihat itu memindai Gesna dari atas ke bawah seolah bertanya kenapa kendaraan Gesna ada di sana.


Ditatap seperti itu, Gesna malah melenggang dengan cuek bebek. "Oh, lo Kepala Suku? Kita sama-sama bayar SPP, coy. Lahan parkir juga disediain sekolah buat siswanya nggak peduli siapa pun dia. Kepala Suku, kek. Kepala Hansip, kek. Kecuali Kepala Sekolah sama guru, yang lain punya hak yang sama buat parkir."

__ADS_1


Gesna dapat melihat kedua mata itu membundar kaget mendengar penuturannya. Itu membuat Gesna semakin senang dan bernyali. "Jadi biarin Kepala Putik parkir di sana, ya. Siapa tahu nanti terjadi pembuahan."


Setelah melengos dan berlalu dengan gaya paling oke sedunia yaitu memutar-mutar kunci di jari, Gesna meninggalkan Kepala Suku. Dia terburu-buru menaiki tangga menuju lantai dua lantas merapikan seragam dan melepaskan ikatan rambut sebelum mengetuk pintu kelas. Kemarin sudah ada satu guru yang menegur penampilannya.


Susah memang punya guru nggak pernah muda, cela Gesna dalam hati tanpa tahu ada sepasang mata yang masih memperhatikan dia.


***


"Where's your eyes?" tanya Adit kepada anak lelaki yang menabrak mejanya.


Tatapan tajam Adit membuat lawan bicara terkesiap dan kehilangan kata-kata. Mungkin tidak menyangka akan reaksi Adit, siswa baru yang notabene pendiam di kelas, akan seperti itu. Anak lelaki itu menoleh ke belakang, ke teman yang mendorong seolah menyalahkan kenapa badannya didorong dan menabrak meja Adit.


"Where-is-your-eyes?!" Adit sudah berdiri dari bangku dengan nada suara yang meninggi. Badan kukuh itu menjulang tegak, menantang kumpulan anak yang dari tadi rusuh saling mengejek sembari dorong-dorong tidak jelas. Tangannya mencengkeram kemeja tersangka penabrak meja yang membuat ponsel yang dipegang Adit terpental jatuh, meretakkan layar.


Mata anak itu berpendar, menilik sekilas logo buah apel tergigit dari balik ponsel Adit yang jatuh melintang di lantai kelas. Dia mulai ketakutan. Otaknya tidak berkonsentrasi atas pertanyaan Adit dan mulai sibuk berpikir bagaimana jika disuruh untuk mengganti ponsel produksi Amerika keluaran terbaru yang berharga belasan juta rupiah.


Pukulan Adit akhirnya terlepas ke rahang anak itu saat kalimat ketiganya tidak ditanggapi. Anak itu terjembab ke kumpulan teman-temannya yang mendadak hening. Darah segar mengalir dari bibir yang terpukul, giginya pecah satu. Kumpulan yang ada berpencar, kocar-kacir, berlari sejauh mungkin dari kelas.


Semenjak saat itu, namanya dikenal seantero sekolah sebagai orang yang ditakuti. Padahal sebagai murid baru kelas 10 pindahan dari New Zealand, Adit tidak mengenal siapa-siapa selain Miko dan Bara. Dia juga tidak tahu siapa yang dahulu menjulukinya sebagai Kepala Suku sehingga nama itu melekat kepadanya.


Cerita itu terus berkembang. Kejadian yang sudah lewat dua tahun lamanya masih menyisakan efek yang terus terasa sampai sekarang. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari kelompok Adit, sebagian lagi memilih menyingkir, tidak berurusan dengannya.


Adit tidak pernah memproklamirkan diri sebagai Kepala Suku, tetapi sikap yang lain berbeda. Saat dia berjalan, semua mendadak menepi seolah memberi jalan. Bukan Adit tidak menyadari kalau orang-orang bahkan tidak ingin bertatapan dengannya, setiap berpapasan lebih memilih menunduk atau bahkan berlari.

__ADS_1


Pernah dia mendengar bisik-bisik di depan meja. Seolah saling lempar siapa yang harus menghadapinya hanya untuk sekedar meminta Adit ikut mengerjakan tugas kelompok. Semua orang takut kepadanya seolah dia bisa memakan manusia.


Padahal, kalau mau dibahas kejadian lalu, Adit memukul bukan karena mau sok jago. Bukan juga masalah ponsel. Itu bukan sekadar merek iPhone atau iCherry. Mau Mito atau Advan sekalipun jika dia terusik, dia tetap akan melakukan hal yang sama. Dari pertama dia memijakkan kaki di sekolah ini, dia tidak mengganggu siapa pun. Sebaliknya, dia tidak suka diganggu. Hanya itu. Dan cuma karena sepanjang masuk kelas dia selalu diam, orang-orang jadi meremehkan bahkan menjadikannya bahan candaan.


Julukan Kepala Suku awalnya membuat Adit risi. Kemudian lama-lama, dia tidak peduli. Dia bukan artis yang perlu mengurusi semua pemberitaan, biarkan saja penghuni sekolah ini hidup dalam mitos yang berkembang tentangnya. Sekali lagi, selagi Adit tidak terganggu, tidak menjadi masalah besar baginya.


Namun, hari ini menjadi hari yang berbeda bagi Adit. Ketika sampai di sekolah, lahan tempat biasa dia parkir sudah ditempati orang. Gesna yang sedari tadi duduk di atas skuter itu menoleh begitu mendengar motornya mendekat. Meski tidak pernah berbicara langsung, Adit tahu siapa Gesna. Cewek itu satu-satunya perempuan yang sering nongkrong di basecamp rumah Miko dan merupakan teman main basketnya Riko, adiknya Miko.


Gesna turun dari skuter dan mendekatinya. Adit menaikkan sedikit kaca hitam dari helm yang menutup seluruh muka. Mata hitam Adit menatap pergerakan Gesna.


"Kenapa? Ada yang salah?"


Adit sampai menaikkan alis mendengar teguran Gesna. Di sekolah ini, seperti ada peraturan tidak tertulis yang mana parkiran ini adalah tempat parkirnya. Semua penghuni tidak ada yang mau menempati. "Tempat gue."


"Oh, lo Kepala Suku? Kita sama-sama bayar SPP, coy. Lahan parkir juga disediain sekolah buat siswanya nggak peduli siapa pun dia. Kepala Suku, kek. Kepala Hansip, kek. Kecuali Kepala Sekolah sama guru, yang lain punya hak yang sama buat parkir," balas Gesna terlihat masa bodoh. "Jadi biarin Kepala Putik parkir di sana, ya. Siapa tahu nanti terjadi pembuahan."


Tanpa menoleh lagi, cewek berambut pendek yang rambutnya dikuncir bagian atas sehingga undercut kelihatan itu berjalan menuju koridor sambil memutar-mutar kunci.  Alis Adit refleks menaik semakin tinggi. Pandangannya terus memperhatikan cewek itu naik ke tangga lantai dua, bahkan sampai cewek itu melepas ikatan rambut juga merapikan seragam.



Kata-kata Gesna tadi terdengar dengan sangat jelas dan berani. Sepanjang sejarah, baru ini ada cewek yang melengos di depan mukanya lalu berlalu tenang sambil memutar-mutar anak kunci di jari. Catat, memutar-mutar anak kunci di jari.


Selama ini, tidak ada yang mau bercanda dengannya selain Miko dan Bara. Yang mengaku-aku anak buah Adit saja tidak pernah.

__ADS_1


Kepala Putik? Pembuahan? Bibir Adit tertarik geli. Dia tidak merasa terganggu, malah lucu. Tidak menyangka kalau Gesna punya nyali berhadapan dengan dia. Kalau di basecamp, melihat mukanya saja Gesna tidak mau.


Setelah parkirkan motor, Adit bergegas meraih ponsel dan memesan sekilo apel merah. Sepertinya akan seru jika Gesna melihat hasil pembuahan di skuternya saat pulang sekolah nanti.


__ADS_2