Matahari Api

Matahari Api
Di Belakangmu


__ADS_3


Berulang kali Adit berdeham, membuka tutup aplikasi pesan dan memutar ponsel. Jarinya ingin mengetik pesan seperti biasa tetapi otak memaksanya untuk berhenti dan tahu diri.


Belakangan ini, ada yang tidak biasa. Ada yang masuk diam-diam ke ranah rahasianya. Ada yang mengganggu tanpa bisa diusir pergi.


Belakangan ini, semua tentang Gesna menyerbu keingintahuannya. Bayang cewek itu bermain dengan logika dan merenggut paksa sikap tidak peduli yang selama ini Adit punya.


Ada pertanyaan yang Adit sendiri tidak mampu tanyakan kepada orang lain. Tidak Miko atau Bara. Dan Adit perlu mencari jawab atas tanya itu.


Selama ini, parameter seorang cewek menarik bagi Adit adalah cewek yang feminin dan lembut serta agak lemah sehingga bisa dia lindungi.


Sejak berurusan sama Gesna di parkiran, ia tertarik dengan keberanian cewek itu. Adrenalinnya terpacu, membikin penasaran. Apalagi ditantangi Bara dengan iming-iming gitar, tentu Adit ingin membuktikan bahwa dia bukan pecundang.


Tapi semenjak dari Bandung kemarin, Adit merasa ada yang berubah di dirinya. Dia ingin melindungi Gesna. Cewek itu memang tidak lemah. Namun, bukankah yang dilindungi tidak harus orang lemah? Dan ini bukan perkara tertantang atau pecundang saja, ini lebih dalam dari itu. Adit merasa seperti kerbau tercucuk hidung atas perasaan asingnya sendiri.


Gesna dan buku tentang perempuan yang dibacanya mengubah paradigma Adit, menampik mitos bahwa cantik itu harus lembut, putih dan manis. Ternyata, tidak hanya kesempurnaan fisik yang membuat seseorang menarik. Cewek yang berani dan percaya diri tidak kalah cantik.


Buktinya dalam sejarah, perempuan yang cantik memang banyak, tetapi perempuan yang berani berkorban demi tanah air Indonesia lebih terkenang. Siapa yang tidak tahu Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang dan Laksamana Keumalahayati?


"Ke kelas, yuk," ajak Bara.


Kantin sudah sepi, bel istirahat sudah berakhir lima menit yang lalu. Adit berdeham kembali, beranjak dari singgasananya, berusaha keras singkirkan bayangan yang menghantui akhir-akhir ini.


"Kenapa lo? Makin pendiam gue rasa." Sebuah rasa ingin tahu tergambar di muka Bara. Pandangan cowok itu menelisik Adit.


"Sariawan kali," jawab Miko asal. Mereka berdua tergelak dan Adit masih terlihat datar seperti biasa.


Bara menggeplak kepala Miko. Mereka berjalan di depan Adit. "Eh, lo ingat Sabtu kemarin nggak, sih? Gue heran aja. Kenapa coba baju dua anak itu sama? Udah gitu, komuknya itu loh. Kayak ada yang disembunyiin."


"Masa, sih? Gue di belakang drum, kali! Nggak berapa lihat," timpal Miko.


"Wah, gila lo... Manis banget gue rasa. Dunia milik berdua, yang lain nebeng. Hampir aja gue banting bas di tempat," papar Bara. Dia yang menjadi saksi terdekat kejadian Adit dan Gesna malam itu memang menahan rasa ingin meledek atau ingin bereaksi lebih.


Merasa disindir, Adit berkomentar. "Bacot lo, Bara!"


"Mesti nabung gue nih, Ko. Gue mencium aroma kekalahan. Mana gue barusan ganti ban sama velg lagi," gumam Bara penuh nada penyesalan.


Miko terkekeh kecil. "Mampüs lo. Gue bilang juga apa? Kenapa mesti taruhan, sih?"


Bara meringis. Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong depan kantin. Kantin yang ditempati mereka adalah kantin kelas 12, hanya angkatan mereka dan adik kelas yang berani saja yang masuk ke sana. Ketika akan melewati toilet, Bara berhenti, Miko ikut berhenti dan Adit yang di belakang mereka mau tidak mau juga berhenti.


"Itu ... Gesna, 'kan?" Bara menunjuk ke seorang cewek yang sedang masuk ke toilet perempuan. Kaki cewek itu menendang kotak sampah kaleng sebelum masuk. "Buset itu anak. Nggak kebayang gue kalau dia tandem sama Ketua."


Adit masih diam dan melirik sedikit. Seharian ini, dia berusaha untuk tidak mengganggu Gesna dengan pesan-pesannya. Adit sedang memerlukan waktu untuk berpikir tentang hal aneh di dirinya.


Miko hanya tersenyum kecil. Dia mengenal Gesna lebih baik dari Bara. Setidaknya dia pernah bergabung dengan anak-anak basket saat di basecamp, dan tahu Gesna tidak sekasar itu. "Dia nggak gitu sebenarnya. Anaknya kocak. Lo pada yang belum pernah duduk bareng dia."


Adit masih memilih bungkam. Meski dia tahu kebenaran ucapan Miko.


Tak lama, Gesna terlihat keluar dari toilet. Bersamaan dengan itu, ada cowok datang menghampiri. Adji, pentolan basket juga teman sekelas mereka yang terkenal ramah, baik dan digandrungi banyak cewek. Dalam hitungan detik, Adji melingkarkan tangan, membawa kepala Gesna masuk ke dalam pelukan.


Mata Bara terbelalak. "Waduh! Salah perkiraan sodara-sodara. Ternyata dia lagi dekat sama Adji."


Pandangan Bara memutar ke belakang, melirik Adit. Kepala Sukunya memandang kejadian itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tidak ada yang tahu jika darah Adit seketika terasa bergelegak. Tangannya mengepal tanpa disadari. Adit menontoni Gesna dipeluk Adji dengan rahang yang kuat mengatup. Dia berkeras melawan hal aneh yang lagi-lagi menyerangnya.


Seperti mengerti, Bara mengajak Miko untuk pergi. "Kuy, ke kelas, Ko. Kadang, ada orang yang perlu menyelesaikan urusannya sendiri."


Tanpa memedulikan Bara yang beranjak bersama Miko, langkah Adit bergerak maju. Di luar kemauannya, dia mengurai tangan Adji yang ada di bahu Gesna.


"Dia sudah punya bahu buat bersandar." Adit menarik kepala Gesna ke pelukannya.


Adji mengangguk paham. "Jagain dia ya, Dit. Dia kayak adek gue sendiri," pinta cowok itu sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.


Adit melepas pelukannya untuk melihat muka Gesna. Raut galak itu kusut sekali, saat ini. Adit otomatis memeluk lagi.

__ADS_1


"Gandhi?" tanya Adit pelan sambil mengusap kepala yang ada di dadanya.


Gesna menggeleng.


"Mama?"


Cewek itu masih menggeleng dalam dekapan. Adit meraih muka Gesna, dan mengusap pipinya.


"Abang? Papa?"


"Ada yang ganggu lo selain gue?" tanya Adit lagi sambil memperhatikan keadaan Gesna.


Pelukan Adit dilepas Gesna. Cewek itu berusaha santai meski Adit dapat menangkap kesedihan yang ada.


"Nggak. Bukan apa-apa, kok," jawab Gesna sambil berbalik, hendak menaiki tangga menuju koridor kelas 11.


"Non..." Adit beranikan diri memanggil cewek itu. Gesna berhenti, masih menatap koridor depan. "Trust me. I'm always behind you," pungkas Adit.


Kalimat Adit membuat Gesna kembali ke hadapannya. Cewek itu menantang matanya. "Ngapain lo bilang gitu? Biar apa?!"


Lidah Adit terasa kelu. Dia tidak bisa menjawab.


"Adit... Lo waktu itu pernah bilang kalau lo mau kenal gue. Sekarang, lo udah tahu, 'kan? Lo udah tahu gimana keluarga gue, gimana gue, gimana hidup gue. Terus mau lo apa lagi?" Gesna mengangkat dagu.


"Nggak ada yang bagus dari hidup gue, Dit. Orang-orang juga pergi satu per satu. Jadi, lebih baik lo nggak usah datang lagi daripada lo menyesal kenal sama gue."


Gesna memutar badan dan pergi. Meninggalkan tanda tanya yang semakin besar di tempurung kepala Adit. Iya, dia memang sudah mengetahui semuanya. Tahu bagaimana keluarga Gesna, tahu bagaimana perasaan cewek itu kepada kedua orang tuanya, juga mengetahui siapa Meilan Lituhayu, seorang desainer kenamaan Indonesia yang karirnya melesat dalam kancah Internasional.


Namun, semua yang Adit tahu tentang Gesna membuatnya tidak kunjung ingin berhenti.


Adit juga tidak tahu kenapa.


***


"Kan, gue bilang juga apa?" bisik Bara mengomentari kejadian dramatis yang sedang mereka tonton.


"Jadi, mereka berdua itu sebenarnya gimana, sih? tanya Miko ingin tahu.


"Kok gue makin nggak yakin ya kalau ini cuma sekadar taruhan?" gumam Bara menyimpulkan. Aksi Adit dinilainya terlalu natural untuk sebuah akting.


"Gue malah senang kalau bukan taruhan."


Bara menyeringai. "Kalau gitu, lo bantuin bujuk Adit biar taruhannya batal."


Miko mengumpat sambil menoyor kepala Bara dengan keras. "Si anjír baru bilang gitu sekarang, karena lo bakal kalah, 'kan?"


Kepala Bara berdenyut karena pukulan Miko. Dia berdiri dari menunduk sedari tadi, kemudian membalas toyoran Miko bertubi-tubi. "Kan lo juga yang nggak setuju kami taruhan. Gimana sih, nyet?"


Bara punya alasan mengajak Adit taruhan. Selama menjadi anak buah Kepala Suku, dia terbiasa mengamati dalam diam. Itu ilmu yang dicontohkan Adit. Dia lalu menunduk lagi, ingin mengintip kelanjutan adegan pelukan yang kalau di televisi mendapat rating PG-13 alias hanya boleh ditonton umur 13 tahun ke atas.


"Lah, kok hilang?"


Miko yang mengusap toyoran Bara ikut mengintip. "Eh, iya ke mana tuh? Waduh, jangan sampai ada kejadian yang aneh-aneh."


Bara mendengkus geli. "Memang piktor lo!" ejeknya sambil mengedarkan matanya ke sekitar. "Ke mana sih mereka?"


Miko menaruh tangannya di punggung Bara yang menunduk. Ikut mencari Adit dan Gesna. "Iya, ya. Mana mereka?"


"Yang mana?"


Bara refleks berdesis meminta jangan berisik.


"Mereka siapa? Cari apaan sih lo pada?"


Bara mengibaskan tangan agar pertanyaan yang datang segera diam. "Gesna," jawabnya cepat.


Miko mengangguk sambil mengedarkan pandangan. "Iya, sama Adit."

__ADS_1


Tak lama, Miko dan Bara menegang. Dari tadi, hanya ada mereka berdua. Kenapa tiba-tiba hadir sebuah suara di antara mereka?


Miko dan Bara menoleh, terlihat Adit sedang berkacak pinggang dengan tegapnya. "Lagi ngintip siapa?" tanya Adit lagi.


Menyadari tertangkap basah sedang mencari tahu, Bara berlari dengan cepat, Miko terburu-buru menyusul. Mungkin kelas bisa menjadi benteng yang aman bagi mereka saat ini. Sayang, guru yang mengajar tidak masuk.


Adit menangkap kerah seragam mereka berdua sebelum sempat masuk ke kelas dan menarik menuju pojok koridor. "Bar, Mik. Ngapain kalian tadi?"


Bara berkilah. "Kagak, kagak ada apa-apa."


"Udah, jangan bokis. Lihat apa aja lo tadi?" Tatapan tajam Adit menyelisik, tahu kalau sedang dibohongi.


"Semua!" jawab Bara dan Miko bersamaan dan menuntut.


"Sekarang jujur deh. Udah sampai mana lo sama dia?" Miko benar-benar penasaran. "Dit, gue bilang, ya. Kalau memang ini cuma karena taruhan kemarin, lebih baik batalin. Gue nggak dukung."


"Sadis akting lo, Dit. Mantul! Tapi jangan sekaranglah. Lagi bokek gue, njay!" tambah Bara terkekeh.


Adit menggebrak jendela kelas dari luar. Beberapa mata melirik ke arah mereka. "Lo pikir, ini karena gitar?"


Adit mencengkram kemeja dan menonjok bahu Bara. Basis mereka itu terjatuh.


Bara bangkit dan mengumpat. Dia membalas pukulan Adit hingga badan Adit menabrak dinding. "Terus? Kalau bukan karena gitar, karena apa?"


Adit terdiam.


"Nggak bisa jawab 'kan, lo?" Bara menyeringai.


Situasi memanas. Miko menarik dua orang itu menjauh dari sekitar kelas, menuju tempat sepi yang tidak dilihat orang.


Bara menyentak lepas tangan Miko dan menunjuk Adit. "Lo pikir gue begö, Dit? Lo pikir gue nggak bisa beli gitar itu? Bukan! Bukan karena itu."


"Kalau cuma karena gitar, gampang! Gue bisa ajakin lo balapan motor atau apa, yang jelas bukan korbanin anak orang yang nggak bersalah dan nggak ada hubungan sama sekali sama kita," tutur Bara sembari menarik sebelah bibir ke atas.


Cowok itu bersedekap sambil menyapu pandangannya ke seluruh tubuh Adit. "Lo lihat diri lo sendiri. Udah lihat belum? Lo itu aneh."


Dengan tidak memberi Adit waktu untuk berbicara, Bara terus mencecarnya. "Mungkin Miko nggak tahu, tapi gue tahu, Dit. Ada yang lihat motor lo di Bandung waktu lo nggak masuk kemarin. Boncengan sama cewek. Cewek itu Gesna, 'kan?"


Miko terkesiap, menoleh ke Adit dengan secepat mungkin. "Lo ke Bandung sama Gesna?"


Adit mengangguk. "Adeknya sakit."


"Nah, lo lihat, Ko. Dia ngantar ke Bandung karena adeknya Gesna sakit. Terus tadi, dia peluk Gesna terus pakai bilang 'Trust me, I'm always behind you'. Apaan coba itu? Memang lo siapa? Bodyguard?"


Adit mengeram, maju ke arah Bara dan mencekal leher kemeja sahabatnya. "Nggak usah ikut campur urusan gue!"


"Kenapa? Lo mau tonjok gue lagi? Tonjok, Dit. Tonjok!" tantang Bara.


Adit melepas cengkeramannya dan berjalan mundur ke arah kelas.


"Dit, gue bukan mau ikut campur. Awalnya kan itu karena ide gue," seru Bara memanggil Adit.


Adit berhenti dan berbalik. Menatap Bara dengan raut muka tanpa ekspresi.


"Gue ajakin taruhan biar lo itu jujur sama diri sendiri. Gue tahu lo Kepala Suku, tapi bukan berarti lo nggak punya hati. Apa susahnya sih ngakuin perasaan sendiri? Lo nggak akan lemah dengan mengakui perasaan sendiri."


"Gue nggak pernah mengikrarkan diri jadi Kepala Suku. Itu bisa-bisaan lo aja. Lo yang selalu maju padahal gue nggak peduli mereka mau buat apa ke gue. Lo yang bikin seolah-olah gue hebat, gue kuat padahal lo lihat sendiri, 'kan?"


"Dit, gue kenal lo jauh sebelum lo dibilang Kepala Suku sama mereka. Gue tahu lo, Dit. Miko tahu lo. Dan lo tetap Kepala Suku buat kami, bukan karena lo patahin gigi anak orang, bukan juga karena orang-orang takut sama lo. Bukan itu," papar Bara. "Tapi karena di antara kami, lo yang mikirnya paling dalam, paling sistematis, paling rasional."


"Terus tiba-tiba lo jadi manusia paling konyol yang isengin anak orang. Apa coba alasan lo? Karena Gesna lucu? Kalau lucu mah diketawain, bukan digangguin."


Miko memilih melihat kejadian dalam diam. Adit menatap tajam Bara, menelaah kebenaran kata-kata yang didengarnya.


"Dit, sadar! Lo itu suka beneran sama Gesna!" imbuh Bara sembari mengguncang tubuh Adit.


Rahang Adit makin mengetat. Darahnya kembali memanas dan dia menepis tangan Bara. Apa benar yang Bara katakan? Apa semua yang belakangan ini memenuhi otaknya berangkat dari satu kesimpulan itu?

__ADS_1


Badan Adit kembali ditarik Bara. Cowok itu memandang Adit seolah sudah melihat kartu mati.


"Lo nggak pernah sepeduli ini sama cewek, Dit. Udah ngaku aja, kagak dosa. Atau lo mau ngeles juga? Nggak usah ketinggian gengsi. Gue ingetin aja sama lo, yang namanya penyesalan selalu belakangan, kalau di depan namanya preambule."


__ADS_2