Matahari Api

Matahari Api
Penasaran


__ADS_3


Guntur menoleh. "Apaan?"


"Lo tadi ngomong apa?" tanya Gesna dengan alis menaik. Cewek itu seperti mendengar jawaban Guntur di antara teriakan dari televisi.


"Nggak ada, ngigo!" jawab Guntur cepat. Dia lalu menuju ke kulkas untuk mengambil es krim yang tadi disimpan.


Mendengar pintu kulkas dibuka, Gesna berseru, "Gun, sekalian bawain sisa kentang goreng di atas meja."


Manut. Guntur memenuhi permintaannya. Meski tidak ada kata tolong atau terima kasih, ia tetap akan mengabulkan semua permintaan Gesna. Ketika melintas dekat jendela, Guntur tidak sengaja mendengar percakapan Pelangi dan Ghazi.


"Itu saudara kamu?" tanya Ghazi saat Pelangi menyajikan secangkir teh.


"Yang cowok, itu abang aku. Namanya Bang Guntur," jawab Pelangi.


Guntur menajamkan pendengarannya.


"Guntur dan Pelangi. What a wonderful name."


Guntur mendengar Ghazi memuji nama mereka. Dia berdengkus, boleh juga cara si Ghazi melakukan pendekatan.


"Kalau yang cewek? Siapa kamu?"


Guntur menunggu Pelangi menjawab. Dia sengaja bergerak lamban mengambil es krim di kulkas.


"Kak Gesna itu sahabatnya Abang, tetangga juga. Udah kuanggap kayak kakakku sendiri. Aku sih maunya dia jadi kakakku selama-lamanya."


"Kirain pacarnya Abang." Cowok itu bergumam pelan. Guntur terdiam mendengar pembicaraan kedua orang itu.


"Aku juga penginnya begitu."


Jawaban Pelangi dapat Guntur dengar dengan jelas. Pengakuan adiknya itu membuat dada Guntur berdetak lebih cepat. Dia tidak menyangka Pelangi memiliki keinginan yang sama dengannya. Baru saja Guntur akan menguping lagi, Gesna sudah memanggilnya dari depan televisi.


"Gun, lama amat dah! Lo ngambil es krim di Timur Tengah apa gimana?"


Guntur bergegas membawa es krim dan sepiring kentang, mengulurkan ke Gesna. "Sampai saat ini gue masih gagal paham. Apa motivasi hidup lo makan kentang goreng dicocol sama es krim?"


Gesna meraih kentang goreng dan mencocol kentang itu ke es krim sebelum memakannya. "Kentang goreng yang dimakan pakai es krim adalah penemuan paling mutahir setelah mi instan. You know? Ini kenikmatan tiada tara."


"Bebaslah, Ge." Guntur kembali duduk dan menyendok es krim perlahan.


"Ya, memang bebas. Gue kan makhluk merdeka."


Gesna mencecap kentang goreng bertoping es krim. Guntur pasti tidak tahu rasanya, kan tidak pernah mencoba. Bagaimana bisa tahu jika tidak dicoba? Memang sih nggak enaknya kalau mundur sebelum nyoba itu bikin penasaran. Kalimat Zella menerobos ingatannya tiba-tiba. "Lo nggak penasaran sama rasa kentang pakai es krim, Gun?" tanyanya mau tahu.


Tangan Guntur meraih remote, kecilkan volume. Cowok itu menggeleng. "Nggak semua yang bikin penasaran harus dicoba."


Gesna mengangguk paham, berarti Guntur tipe orang yang tidak mudah penasaran. Berbeda sekali dengannya. Dia penasaran bagaimana perasaan Guntur kepadanya. Tetapi bagaimana akan tahu jawabannya jika dia tidak mencoba memberitahu Guntur?


Jujur, Gesna senang mendengar Pelangi membahas antara dia dan Guntur. Apalagi gadis kecil itu memberikan sinyal positif. Rasanya seperti lagi ada di pertandingan yang disuporterin sama seribu orang. Dukungan dan pekikan mereka gegap gempita, membakar semangat. Rasanya mau terus menyerang lawan dan mencetakkan bola ke ring lawan.

__ADS_1


Bahu Gesna terguncang, khayalannya buyar.


"Orang gila. Lo kenapa diam sambil senyum-senyum sendiri? Mikirin apa?" Guntur menjulurkan tangan, menyeka es krim yang belepotan di ujung bibir Gesna pakai tisu.


"Ghazi itu ganteng, ya, Gun?" gumam Gesna asal. Dia tidak tahu harus bicara apa atas pertanyaan Guntur. Masa mau bilang kalau tadi mikirin Guntur? Dicengin tujuh turunan nanti.


"Gantengan juga gue. Lo sukanya sama daun muda? Dih!"


Gesna kembali mencolekkan kentang ke es krim. Kalau disuruh milih Guntur atau Ghazi juga Gesna pasti milih Guntur. "Ya, mendinganlah daripada daun tua kayak lo? Bagusan daun muda. Segar!"


"Najis!" Guntur menarik sedikit rambutnya. "Eh, Ge. Lo mau tahu nggak?"


Gesna menggeleng. "Ogah!"


"Gue belum selesai ngomong, pintar!" Guntur kembali menarik rambut Gesna.


"Lo tanya ya gue jawab, cerdas!" Gesna balik menjambak Guntur.


"Menurut pengamatan gue, si Renard kayaknya suka sama Nay. Soalnya sering banget tanyain tentang Nay ke gue." Guntur tertawa kecil.


"Kak Adji kan juga suka sama dia," sahut Gesna hati-hati. Anak basket yang dikenalnya kenapa banyak yang menyukai Naraya, ya? Jelas-jelas cewek itu galak setengah mati.


"Itu sih gue udah tahu. Keliatan bangetlah dari mata Adji. Lagian, nggak mungkin Adji jadi tim sukses terdepan buat Nay waktu pemilihan OSIS kalau nggak ada apa-apa," ulas Guntur sambil menonton adegan tembak-tembakan di televisi. "Lucu aja, kapten dan mantan kapten basket kita sekarang ngerebutin cewek. Bukan bola lagi."


"Lo sendiri. Gimana?" Gesna menggeser badan, menghadap Guntur.


"Kenapa dengan gue?" Cowok itu seperti tidak mengerti pertanyaan Gesna.


Guntur benar-benar sudah lupa kalau dia pernah bilang ke Gesna tentang Naraya. Aslinya kan dia hanya iseng untuk mengetes Gesna. Tidak ada perasaan apa pun. Guntur suka gaya Naraya. Ia selalu menyukai cewek yang terlihat mandiri. Namun, kekagumannya kepada Naraya hanya sebatas itu. Ia tentu lebih menyukai seseorang  yang bisa membuatnya tertawa lepas seperti Gesna. Dengan Gesna, dia bisa berbicara apa saja dan membahas apa saja.


"Nggak, gue udah nggak suka sama Naraya," balas Guntur. Lebih baik dia mengaku begitu daripada bilang tidak pernah ada rasa, akan ketahuan sekali kebohongannya.


"Oh..." Gesna menyahut panjang. "Terus sekarang sukanya sama siapa?"


Mulut cewek itu masih mengunyah kentang, dan matanya memperhatikan Guntur. Guntur menggeser badan, menghadap ke Gesna. Mereka menjadi bertatapan. Guntur memandang mata bulat yang dia sukai itu. "Sama lo aja, deh. Gimana?"


Gesna langsung terbatuk. Kentang bertoping es krim sepertinya berkhianat dan nyungsep di tengah tenggorokan. Guntur menyodorkan segelas air miliknya yang ada di meja. "Buset, Ge. Digituin aja keselek."


"Kentangnya durjana ini!" Gesna meneguk air mineral. Setelah kentang meluncur kembali ke jalur seharusnya, cewek itu berkata kembali, "Lagian lo isengnya nggak pakai aba-aba. Kaget gue, kayak di vlog gitu. Prank lo jahat, dih."


Guntur berdecak keras. Haruskah ia ulangi pernyataannya lagi? Tadi saja hasil kumpulan keberanian selama bertahun-tahun. Rasanya seperti narapidana yang dijatuhi hukuman mati, jantungnya berdentum tak berirama. Guntur coba mengulangi pernyataannya. "Siapa tahu lo suka sama gue gitu? Mau jadi pacar Boboiboy ini buat sama-sama menyelamatkan galaksi."


Gesna tersedak lagi. Air mineral bahkan menyembur sedikit dari bibirnya. Cewek itu tertawa sangat kencang dan meraih tisu, menyeka semburan yang terlontar.


Muka Guntur mengetat. Ini yang ia takutkan. Perasaannya ditertawakan, perasaannya ditampik dan direndahkan.


Gesna merengkuh bahu Guntur dan masih tertawa lepas sambil terbatuk-batuk. "Sumpah ya, Gun. Ini ketawa gue yang paling enak setelah Mama Papa cerai."


Tangan kanan Gesna yang bebas terlihat menghapus air mata yang keluar karena gelak membahana. "Lucu banget, Gun. Sumpah!"


Tak lama, kedua tangan cewek itu mengacak-acak mukanya. Sambil terkekeh dengan mata berbinar, Gesna mengacungkan jempol ke depan muka Guntur seperti gaya Boboiboy.

__ADS_1


"Lo memang ... terbaik!"


Untuk tawa yang menurut pengakuan Gesna paling lepas semenjak hari itu, Guntur rela perasaannya diempas dan dianggap lelucon begitu saja.


Gesna selalu jadi pengecualian dalam hidupnya. Cewek itu seperti punya penangkal dari semua yang tidak Guntur sukai dalam hidup ini. Dan Guntur bersumpah, akan selalu membuat tawa itu tetap pada tempatnya.


***


"Ge... Gege..."


Guntur berusaha membangunkan Gesna. Setelah tadi mereka tertawa-tawa, cewek itu merebahkan kepalanya ke sofa dan tertidur dengan lelap. Ia dapat menduga, Gesna pasti begadang bersama Asri dan Naraya.


"Woy, Ge..." Ia menggoyangkan tubuh Gesna lagi.


Mamah yang sudah pulang dan berganti dengan daster lalu berkomentar, "Kalau Gesna masih nyenyak, jangan diganggu atuh, Bang. Kenapa mau dibangunin?"


Guntur juga tidak tega mau membangunkan Gesna. Namun, Gustav sudah menelponnya dua kali. Kata abangnya Gesna, ada tamu yang mencari Gesna. "Dia dicariin Bang Gustav, Mah," jelas Guntur.


Mamah mendekat, membenarkan selimut yang tersibak di badan Gesna. "Bilang aja sama si Abang. Gesna masih tidur. Sini, biar Mamah yang bilang." Ponsel di tangan Guntur diambil Mamah. "Halo, Bang Gustav? Iya, ini Mamah. Gesna masih tidur, nih. Nyenyak pisan. Mamah teh nggak tega banguninnya. Tunggu bangun aja boleh?"


Mamah tersenyum mendengar jawaban Gustav di seberang. "Iya. Kasihan si Gesna kalau dibangunin sekarang. Kan capek atuh dari latihan basket? Iya, nanti kalau bangun Mamah kasih tahu."


Mamah menutup panggilan. Guntur menatap mamanya dalam diam, tidak ada perlakuan berbeda yang diberikan kepadanya atau Gesna. Ia lalu teringat pembicaraan Pelangi yang tidak sengaja didengarnya. Andai Gesna tahu bahwa mereka sangat menyayanginya. Tentu kesedihan sahabatnya ini tidak terlalu dalam.


Mamah mengusap rambut Gesna yang sedikit berantakan. "Abang kok nggak cerita sama Mamah kalau Gandhi udah nggak di rumah?" tanya wanita itu menoleh kepadanya.


Guntur tidak tahu harus menjawab apa. Ia memang sengaja sembunyikan fakta itu, menunggu sampai Gesna mulai terbiasa.


"Kasian anak Mamah ini. Masalah begini terlalu berat untuk dia." Mamah menatap prihatin ke Gesna. Cerai adalah pilihan terakhir yang tidak pernah direstui Tuhan.


"Mamah Papah sayang sama dia." Mamah menaruh tangan di depan dada. Seolah ikut merasakan sakit.


Guntur hanya bisa menjawab dalam hati. Abang juga, Mah.


"Kamu harus ingatin dia supaya hati-hati, bisa-bisa jaga diri."


Guntur mengangguk.


"Abang juga sayang kan sama Gesna?" Mamah  mengusap rambutnya. Sepertinya sang mama tahu kalau anaknya menyayangi Gesna lebih dari perasaan biasa antar sahabat.


Guntur tidak menjawab, hanya bisa mengangguk lagi.


"Apa Abang ada rencana——"


Badan Guntur merangsek maju, memeluk mamanya. Ia tahu maksud kalimat Mamah dan ingin menghentikan kalimat itu. Terbukti, Mamah terbungkam dan membalas pelukannya. Ia mengusap pelan punggung Mamah. "Jangan pernah pikirin itu, ya, Mah."


Pelukan Guntur mengendur. Dia menangkupkan kedua tangan di pipi sang mama. "Mamah adalah wanita nomor satu yang Abang paling sayang. Dan Abang janji nggak akan kecewain Mamah."


Untuk anak yang selalu berusaha berbakti kepada orang tua. Untuk cowok yang selalu berusaha memegang janjinya. Untuk sahabat kesayangan yang diam-diam dia titipkan rasa cinta. Gesna rela mundur dari segala penasaran dan menyembunyikan perasaannya.


Gesna sebenarnya sudah terbangun dari tadi tetapi enggan membuka mata. Dia hanya mendengar pembicaraan di dekatnya dengan tenggorokan tercekat dan rasa hangat yang berusaha dia tahan di kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2