Matahari Api

Matahari Api
Bukit Rahasia


__ADS_3


Hari semakin redup. Adit sudah berulang kali mengajak Gesna pulang tetapi cewek itu sangat keras kepala dan tidak mau pulang. Adit benar-benar bingung harus berbuat apa. Selepas minum yoghurt tadi, mereka duduk di taman depan.


"Ya kali, kita nginap di taman, Non. Digrebek Satpol PP nanti." 


Adit menghadap ke cewek yang sedari tadi duduk bersila di samping. Cewek itu masih menutup mata sambil menikmati angin dingin yang berembus ke arah mereka. "Nyokap lo juga pasti khawatir anak ceweknya nggak pulang-pulang."


"Bodo," gumam Gesna berdengkus kecil.


Adit mengamati sekeliling. Pengunjung taman berangsur-angsur pulang. Jam tangan menunjukan pukul setengah enam. "C'ta, Gesna. Jangan kayak anak kecil, deh. Bentar lagi magrib, Non." 


Adit beranjak dari tempat duduk dan berdiri. "Gini deh, lo ke Bandung ini niatnya apa?"


"Lihat Gandhi." Gesna membuka mata, memandang pepohonan hijau di sekitar yang mulai menggelap karena senja.


"Ya udah, balik ke niat aja. Lo mau lihat Gandhi. Apa pun yang terjadi," tekan Adit. "Mungkin sekarang dia udah bangun dan cari lo."


"Gandhi udah balik ke rumah." Gesna sudah tahu itu dari pesan yang dikirim pengasuh kepadanya. "Gue malas ke rumah mama."


"Terus?"


"Terserah, pokoknya gue nggak mau ke rumah mama!" sanggah Gesna. Rahangnya ketat, mukanya benar-benar serius. Tidak hari ini atau entah kapan. Pokoknya dia tidak akan menginjakkan kaki di rumah itu.


Adit menendang batu kecil. Kenapa dia berada di permasalahan ibu dan anak ini? Dengan menghela napas lelah, diajaknya Gesna pergi. "Terserah lo, deh. Cabs, yuk." 


"Ke mana?" Gesna ikut bangun dan membuntuti Adit. Bagaimanapun jika ditinggal Adit, dia akan sulit berpikir dan tidak tahu mau ke mana.


"Udah, lo santai di boncengan aja, Non." Adit bergegas memacu kendaraaan meninggalkan Jalan Cisangkuy. 


Di luar dugaan, Adit mengajaknya ke Alun Alun Bandung. Mereka tiba bersamaan dengan adzan magrib. "Ikut nggak?" tanya Adit sehabis memarkirkan motor.


"Ke mana?" 


"Toilet," ujar Adit jail dengan mata berkilat dan senyum yang berusaha menggoda.


Gesna mengacungkan kepalan tangan ke muka Adit. "Jangan berani-berani mesum sama gue. Gue benjutin!"


"Masih nyisa aja stok galaknya." 


Adit berjalan diikuti Gesna, menyusuri pinggir lapangan yang penuh rumput sintetis. Menara masjid itu tampak berwarna hijau dan menjulang indah. Lampu tembak menerangi lapangan, membuat tempat sebesar ini tidak menjadi seram di waktu malam. Malahan dengan lampu-lampu kuning yang berdiri di sekitar, tempat ini jadi terlihat romantis.


Mereka berhenti tepat di depan bangunan bertuliskan Masjid Raya Bandung. Adit bergegas membuka sepatunya. "Ikut nggak?"


"Nggak," tolak Gesna. 


Tanpa memaksa, Adit meninggalkannya. Gesna tertegun melihat bayang itu yang menjauh. Ia duduk dalam diam. Menyadari bahwa ada yang kosong. Entah karena apa.


***


"Adit!" pekik Gesna gemas. "Kan udah gue bilang gue nggak mau ke sini!" 


Adit tidak pedulikan tolakan Gesna. Dia tetap meminta satpam bukakan gerbang dan memasukkan motor ke rumah Meilan. Sehabis magrib tadi, Adit diam-diam menelpon Gustav dan meminta alamat rumah Meilan.


Gesna tetap tidak mau turun meski motor sudah dimatikan. Menyadari itu, Adit mengambil langkah lebih dahulu. Helm Gesna dibukanya dan tangan cewek itu digenggam dengan erat.  "Balik ke niat. Lihat Gandhi, 'kan?" tekan Adit sambil menatap tajam Gesna.


"Gue nggak mau nginap!" 


"Gue nggak sanggup kalau balik malam ini ke Jakarta, Gesna. Seharian kita udah jalan terus. Punggung gue butuh rebahan kali, Non." 


Adit menarik genggamannya ke arah teras. Tangan yang bebas menekan bel rumah. Tanpa perlu Adit tekan dua kali, pintu besar berukir itu terbuka. Seorang asisten langsung membungkuk begitu melihat Gesna. 


Gesna mendengkus. Meski dia jarang mengunjungi rumah ini, seisi rumah tetap mengenali. Foto keluarga mereka terpampang sebesar-besarnya di ruang tamu. Foto penuh kepalsuan. Kehangatan yang diada-adakan demi terlihat sempurna. Jika orang bodoh yang melihat, pasti menilai keluarga mereka adalah keluarga berada yang sempurna dan hangat. Sehangat taï kucing.


"Gandhi ada, Bu?" tanya Adit sopan.


Asisten mengangguk. "Ada di kamarnya, Den." 


Perempuan separuh baya itu lalu menunjuk kamar Gandhi memakai jempol. Kamar anak kecil itu berada di dekat tangga besar yang berputar. 


Perlahan Adit mengetuk dan membuka pintu kamar. Kamar dengan keseluruhan berwarna putih itu penuh dengan mainan. Ia menarik Gesna agar ikut masuk bersamanya. 


Di kasur yang berada di tengah ruangan terdapat Gandhi, Meilan dan Ardi. Kedua orang itu seperti sedang berbicara dengan Gandhi dan menyuruhnya tidur. 


Gesna melepaskan genggaman dan berjalan menuju Gandhi.


"Nah, itu Kakak datang," ujar Ardi hangat sembari menepuk pelan kaki Gandhi. 


Gesna memilih berseberangan dengan dua orang tersebut. Direntangkannya tangan dan memeluk Gandhi dengan erat. "Cepat sembuh ya, Dek. Baik-baik, jaga kesehatan. Kak Gesna nggak bisa lama-lama di sini."


Tangan Gesna mengusap kepala kecil yang berkeringat. Gandhi diam memandangi Gesna. "Kak Gesna pulang dulu, ya?"


"Kakak...." panggil Gandhi seraya mengetatkan pelukan. 


Gesna mencoba tersenyum. Dia tahu adiknya itu rindu, begitu pun dirinya tetapi situasi tidak mengizinkan Gesna berada lama di tempat ini. Dia muak berada bersama orang-orang penuh kepalsuan.


Sebisa mungkin dia lawan rasa yang mencekik tenggorokan. Untuk Gandhi dan untuk orang yang pernah membuatnya merasa hancur, dia tidak boleh terlihat kalah. Maka, semua sesak dan nyeri yang menyelinap di hati ditekannya kuat-kuat.


"Adek Kak Gesna pasti hebat. Ingat ya, Dek. Jangan cengeng. Jangan makan sembarangan. Jangan mau diajak-ajak orang pergi. Jangan mau diiming-imingi beli mainan. Banyak pembohong di dunia ini jadi Gandhi harus hati-hati."


Gandhi mengangguk. 


Jelas, Gesna sedang menyindir dua orang dewasa yang berada di dalam ruang. "Ingat ya, Dek. Jangan mudah percaya sama orang yang bilang sayang sama kita. Siapa pun itu."


"Jessica," desis Meilan mulai tidak tahan.


Gesna sempatkan melambai dan mengecup kepala Gandhi sebelum tangannya ditarik Meilan keluar kamar. Ardi dan Adit bergegas menyusul mereka berdua.

__ADS_1


"Jangan ajari adikmu hal yang tidak-tidak!" hardik Meilan tidak terima.


Gesna berontak dari kungkungan tangan Meilan. Diusap-usapnya bekas cengkeraman yang ada seolah-olah itu menjijikkan.


"Oh, ya?" tanya Gesna tersenyum miring. "Jadi yang benar itu gimana? Yang kayak kalian?!"


"Jessica!" teriak Meilan. Badan wanita itu kembali hendak maju menuju Gesna. Namun, lebih dahulu dihalangi Ardi.


"Jaga omonganmu!" Meilan menunjuk wajah Gesna dengan geram. "Apa mau kamu? Dari tadi, selalu bikin malu!"


"Mau saya? Apa Mama bisa mengabulkannya?" Gesna tertawa penuh ironi sambil mengucapkan kata 'Mama' dengan nada yang paling asing. 


"Mau saya, ini!" Cewek itu meraih vas kristal dari atas meja dan membanting sekuatnya ke lantai. Vas itu berdenting sesaat sebelum pecah berserakan. Merepih menjadi pecahan-pecahan kaca kecil yang tajam.


"Lihat! Apa vas yang udah hancur itu bisa utuh lagi? Nggak bisa, 'kan? Jadi, jangan paksa saya juga untuk menghormati Mama. Apalagi menghormati pengkhianat di samping Anda."


"Jessica! Anak kurang ajar!" Meilan mendorong tubuh Ardi agar menyingkir. Wajahnya sangat murka. Ardi masih bergeming. Tangannya memegang Meilan meski wanita itu meronta minta dilepaskan.


"Oh, memang! Saya memang kurang ajar. Sejak kapan Anda pernah mengajari saya?" ejeknya segera memutar langkah, berjalan meninggalkan rumah setelah membanting pintu depan.


Adit yang sedari tadi terpana melihat drama keluarga lalu tergagap kikuk. Pemandangan itu seharusnya tidak tersuguh di depan orang asing seperti dirinya. Mempertimbangkan Gesna yang bisa hilang ke mana cewek itu mau, dia berpamitan kepada Meilan dan Ardi lantas menyusul keluar.


Benar saja, Gesna sudah hilang. Cewek itu tidak menunggunya. Adit bergegas hidupkan motor dan menyusuri jalan di sekitar rumah. Hari sudah malam. Jalanan mulai sepi. Hanya satu dua kendaraan lewat. 


Sekitar jarak seratus meter, Adit menemukan Gesna sedang berjalan menuruni bukit perumahan dengan menunduk. Kakinya menendang-nendang kerikil.


"Gesna..."


Cewek itu masih tidak pedulikan panggilannya. Gesna terus saja berjalan. Adit menggeber motor dan menyilangkan kendaraan itu di depan Gesna. Sebelah tangannya menahan lengan Gesna sebelum Gesna kembali berjalan. "Gesna, lo nggak boleh kayak gitu."


Gesna menepis tangan Adit. "Nggak usah ceramah sama gue. Kalau mau ceramah ke masjid aja."


"Ya ampun, Gesna. Batu amat sih lo?"


Gesna tertawa lirih sembari menatap Adit dengan tatapan meremehkan. "Batu? Gue batu?"


Telunjuknya mulai naik dan mendorong dada Adit yang terbungkus jaket. "Lo nggak tahu apa-apa, Adit! Lo nggak tahu rasanya jadi gue!"


Cewek ini menengadah sesaat ke langit seraya tertawa. Tawa yang sangat memilukan. "Lo nggak tahu, Dit," ulangnya sambil bergeleng lalu kembali berjalan. 


"Ges..." Adit meraih tangan Gesna lagi. Mencengkeram hingga kukunya menusuk.


"Lo nggak tahu, Dit!" Gesna berontak dan mengeram, berusaha melepas pegangan. Didorongnya bahu Adit. "Tahu nggak, lo? Di saat lo dan orang-orang di sekolah diambilin rapor sama orang tuanya atau pakai wali atau pakai surat kuasa. Gue nggak semuanya! Orang tua gue bahkan nggak sempat bikin surat kuasa!"


Badan Gesna bergetar. Dadanya naik-turun. Telunjuk dan jari tengahnya naik ke udara. "Dua tahun. Dua tahun, Dit! Dua tahun Bang Gustav atau Mamah Guntur yang ambilin rapor gue dengan segudang alasan ke guru. Lo nggak tahu, Dit! Karena orang kayak lo nggak bakal pernah ngerasain jadi gue!"


Mata Gesna berkaca-kaca menahan amarah yang membuncah. Dia memijit pelipis yang terasa berat. "Lo nggak tahu gimana rasanya punya orang tua tapi kayak yatim piatu, 'kan?" bisiknya parau.


Adit turun dari motor yang diparkir asal. Digenggamnya kedua lengan Gesna, meminta cewek itu memandang dia. "Iya, gue memang nggak tahu. Gue nggak ngerti masalah kayak gini, tapi lo tetap harus balik ke rumah."


Gesna hendak berjalan lagi. Adit menarik tangan Gesna sampai badan cewek itu menabrak dadanya. Aura Adit menggelap. "Lo pergi sama gue, lo juga mesti balik sama gue. Bang Gustav tahunya lo sama gue, dan gue megang tanggung jawab itu. Gue laki-laki."


Adit kembali ke motor dan mendekat ke Gesna. "Naik! Pegangan. Gue nggak akan ngulangin permintaan gue dua kali."


Dia kemudian mengemudikan motor ke arah Jakarta. Meski penat terasa, Adit harus memulangkan Gesna. Udara malam kota Bandung terasa dingin dan Adit menekan gasnya lebih dalam.


Pukul setengah dua belas, mereka sampai di puncak. Adit berbelok ke salah satu jalan desa yang gelap. Menyusuri jalan berkerikil menanjak dan berkelok pada landasan yang lebarnya hanya seukuran motor tersebut. Bunyi motor itu terdengar memecah sepi. 


Gesna memandang sekeliling, tidak ada yang bisa dilihatnya kecuali gelap. Hingga tiba pada satu daerah datar, motor itu berhenti. Adit turun, berjalan menuju ujung dan duduk di tanah. Cowok itu melambai Gesna sambil menepuk tanah di sampingnya. 


Gesna beringsut turun. Dibukanya helm dan berjalan menuju tempat Adit. Tempat ini tinggi, entah di bagian mana. Namun, pemandangan di hadapan mereka sangat memukau. Cahaya kota berpendar dari bawah sedangkan di atas, langit yang tua dengan barisan bintang terlihat. "Kita di mana?"


"Bukit Rahasia," jawab Adit sambil mengeluarkan rokok, memantik api dan mengebulkan asap dalam diam.


Gesna juga ikut diam, menontoni lampu kota yang menyala.


"Lo tadi kenapa lost control lagi, sih?" gumam Adit mulai membuka pembicaraan. "Kan udah gue bilang itu nggak bagus."


Gesna menghela napas. Udara sangat dingin. Dia menggesek-gesekkan kedua tangan kemudian mengantonginya. "Bagi rokok, Dit."


Adit menggeleng. "Ini lagi. Kan gue bilang nggak bagus buat cewek."


Kotak rokok Adit ditarik paksa oleh Gesna. "Lo boleh ngerokok, gue nggak. Nggak bisa gitu, dong. Di mana letak keadilannya?"


Kekehan kecil keluar dari bibir Adit. "Mau ngerokok aja pakai ngomong keadilan. Nggak mempan! Sini punya gue."


Kotak rokok yang sudah Gesna pegang, dia  sembunyikan di balik punggung. "Please, Dit. Gue pengin banget ngerokok. Suntuk banget. Ya?"


Mata yang sudah berubah semenggemaskan anak kucing itu menatap Adit, meminta toleransi. "Boleh, ya?"


Adit mendengkus. Bagaimana dia bisa menolak? "Ya udah, jangan banyak-banyak nanti rokok gue habis."


Gesna kembali mengeluarkan kotak rokok yang tadi dia selipkan. "Elah, timbang gitu doang, Bang. Gue ganti nanti. Gue ganti," sahutnya sembari mengambil sebatang. "Pinjam korek."


"Enggak."


Bahu Adit dipukul Gesna. "Ya, gimana ceritanya gue bisa ngerokok kalau rokoknya nggak hidup? Pinjam korek."


"Lo korek-korek sendiri aja di tanah," desis Adit tertawa.


Gesna kembali memukul lengan Adit. "Ya ampun, lucu banget sih lo!" Dirogohnya kantong jaket Adit tanpa peduli dan menemukan korek api gas di sana. "Pinjam korek aja pelit. Gimana gue mau pinjam saham, pinjam rumah, pinjam deposito?"


"Ya, gila aja gue mau pinjamin begitu sama lo? Jadi istri juga nggak bakal gue pinjamin."


Gesna mulai tersenyum di balik rokok yang sudah dihidupkan. "Orang pelit. Kuburannya sempit."


Cewek itu terdiam lagi sambil menatap lampu-lampu di hadapan.

__ADS_1


"Tadi, gue kelepasan," aku Gesna setelah lama bungkam. "Gue kesal aja sama nyokap. Anaknya lagi sakit, tapi masih sempat nempel-nempel sama orang gila itu."


Adit melirik sekilas. Gesna terlihat menunduk, menatapi tanah.


"Kadang, gue berpikir. Kenapa sih gue punya orang tua kayak mereka? Kenapa mereka nggak sekalian aja pergi jauh-jauh? Nggak usah ketemu lagi."


"Hus," tegur Adit.


Gesna terkekeh, tapi Adit dapat melihat mata itu penuh luka. Gesna mengisap rokoknya lagi. "Gue kadang iri sama Naraya dan Riko. Orang tuanya jauh, suplai dana aman, kebebasan penuh. Enak banget hidup kayak gitu."


"Memang orang tua Naraya di mana?" Adit tahu di mana orang tua Riko dan Miko, sehingga dia penasaran tentang Naraya.


"Abu Dhabi," jawab Gesna.


"Oh, ya? Kerja di sana?"


Gesna mengedik. "Nggak tahu. Entah kerja, entah ngepet, entah jadi Sultan." Cewek itu tertawa lirih lagi. "Rumah Naraya kan gede banget. Kamarnya aja segede lapangan basket."


"Buat apa kamar gede-gede? Capek beresinnya."


Gesna kembali memukul bahu Adit. "Ya kali, kamar segede itu beresinnya sendiri. Buat apa punya banyak pembantu? Buat ngegosip?"


Adit meringis. Badannya sudah seperti samsak tinju.


"Ngomong-ngomong, lo tahu nggak sih Naraya yang mana?" Gesna seperti tersadar kalau Adit bukanlah tipe orang yang banyak mengenal isi penghuni sekolah.


"Tahu. Yang samaan dengan lo waktu damprat si Fiska, 'kan?" balas Adit. Dia masih ingat kejadian dua bulan yang lalu. Gesna, Naraya dan satu orang teman mereka datang ke kantin yang biasa dihuni senior kelas dua belas. Bukan hanya itu, mereka berdua juga menantang Fiska, pentolan kelas dua belas yang dulunya sekretaris OSIS dan kapten pemandu sorak.


Gesna tertawa dan mengisap rokok lagi.  "Nah, iya yang itu."


Adit tersenyum. Untuk ukuran anak kelas sebelas, kejadian itu benar-benar berani. Mungkin Gesna tidak tahu kalau dia sudah menjalin kerja sama dengan Naraya. Bagus juga si Naraya dalam memegang rahasia. "Hebat bener nyali lo berdua. Udah tahu itu kantin kelas dua belas, masih aja nyolot," decak Adit.


"Bodo amat." Gesna mendengkus. "Sama-sama makan nasi ini. Kalau dia tadi makan beling, baru gue takut."


"Kuda lumping, dong?"


Cewek itu tertawa lagi. "Kebagusan si Nenek Lampir itu disamain sama kuda lumping. Kasihan kuda lumpingnya."


"Nenek Lampir?" Adit terkekeh sambil menggeleng-geleng. Ada-ada saja perumpamaan Gesna.


Mereka lalu terdiam lagi. Hanya asap dari bibir masing-masing yang memenuhi udara. Gesna mematikan rokok dan mulai menaruh badan di tanah, memandangi langit tanpa suara.


"Kalau gue bilang hidup ini nggak adil. Lo setuju nggak?" tanya Gesna sambil menaruh tangan sendiri sebagai bantal. "Ada orang yang hidupnya mulus-mulus aja dari sisi mana pun, sedangkan ada orang yang setiap hari berdarah-darah untuk sekadar bertahan hidup."


"Everyone has their own battle." Adit ikut menaruh badan. Dia yang mengantuk, mulai memejamkan mata.


"Ya, udah. Kalau gitu, tukeran battle aja. Kan asyik."


"Belum tentu lo bisa kalau lo jadi mereka dan sebaliknya, belum tentu mereka bisa jadi lo."


"Ini lagi puji gue apa lagi ngejatuhin gue, sih?" Gesna berdengkus.


"Nggak dua-duanya."


"Lo percaya nggak kalau gue bilang gue pengin getok kepalanya Fiska pakai kursi kantin waktu itu? Seandainya Kak Adji sama Kak Adjam nggak misahin, beneran gue timpa kursi."


Adit hanya berkemam, menandakan dia mendengar ucapan Gesna.


"Tapi gue sadar aja. Kalau bikin pasal, nanti Bang Gustav bakal ngamuk. Soalnya cuma dia yang bisa gue andalin ngehadap sekolah untuk urusan beginian. Bonyok mah jangan diharap. Ambil rapor aja nggak bisa apalagi urus masalah berantem-berantem gitu."


Adit batuk dan sedikit tertawa. "Kurang expert juga lo masalah begituan. Bayar dong satpam komplek, suruh ngaku jadi wali lo."


"Masalahnya, guru-guru tahu nyokap gue. Kagak ada satpam yang pantas didandanin buat ngaku jadi lakinya Meilan Lituhayu," papar Gesna. "Makanya gue nggak bisa patahin gigi anak orang."


"Tadi pagi, lo bilangin gue nggak ada otak karena patahin gigi anak orang. Malam ini, lo bilang kalau lo pengin patahin gigi anak orang. Nggak konsisten banget lo ini." Adit merasa matanya semakin berat. Dia perlu beristirahat.


"Non," panggilnya. "Gue pejamin mata bentar, ya. Tiga puluh menit lagi, bangunin gue."


Gesna mengangguk. "Iya. Tidur sono. Palingan bangun-bangun, motor gede lo udah hilang."


Adit kembali tersenyum meski matanya sudah seperti dilem. Ucapan Gesna barusan terdengar mustahil. "Ambil aja. Ada GPS-nya, kok."


Gesna kembali memukul Adit. "Idih, ogeb. Yang kayak gitu jangan dikasih tahu. Kan bisa gue lepas GPS-nya."


"Kalau mau nyuri jangan motornya aja, hati gue juga." Adit menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan pelan. Meilan Lituhayu, nama yang terdengar tidak asing. Dia akan mencari informasi mengenai wanita itu.


"Najis. Najis. Udah tidur sana."


Adit tersenyum dan mulai mengosongkan pikiran. Tidak perlu waktu lama, kesadarannya semakin hilang.


Gesna membuka kembali kotak rokok dan menghidupkan api. Seandainya kemarin dia datang sendiri, bagaimana jadinya, ya? Mungkin skuternya akan dia tinggal dan meminta Gustav untuk mengurus pengembalian motor itu.


Gesna memandang langit sambil menerawang. Diliriknya Adit sekilas. Cowok itu sudah tertidur. Tarikan napasnya terdengar teratur.


Kalau Adit nggak ada, mungkin tadi, dia bisa lebih brutal. Akumulasi kekecewaannya sama mama sudah berada di level tertinggi dan siap menghancurkan apa saja. Ada untungnya juga ditemani Adit. Kalau tidak, mungkin dia dan sang mama sudah pukul-memukul kemudian dia dikutuk menjadi batu.


Gesna memainkan rokoknya, memandangi setitik bara di pangkal rokok. Apinya sewarna dengan lampu-lampu yang dilihatnya dari bukit ini.


Gesna tahu, orang asing sangat membahayakan. Akan tetapi, tidak semua orang paham kalau bercerita dengan orang asing kadang sangat menyenangkan.


Dia bisa bebas bercerita tanpa peduli apakah nanti Adit mau tetap menjadi temannya atau tidak. Dia tidak keberatan akan penilaian Adit tentang dia.


Adit bukan Guntur, bukan Kak Adji, bukan Naraya atau Asri dan dia tidak akan ambil pusing kalau Adit hilang respek setelah melihat bagaimana jeleknya dia selama ini. Baguslah kalau Adit memilih pergi, setidaknya dia tidak perlu mengeluarkan banyak energi untuk mengusir cowok itu.


Rokok, Bukit Rahasia dan Adit. Semuanya asing. Namun, entah mengapa terasa damai. Sedikit beban Gesna terasa berkurang.


Bagaimana bisa hal-hal yang asing justru memberikan rasa nyaman?

__ADS_1


__ADS_2