
Ruangan itu mendadak senyap ketika Bara datang bersama Adit. Di sana, sudah ada Miko, Riko, Adrian, Ilham dan Guntur. Memang Bara meminta Riko untuk mengumpulkan semua penghuni basecamp, sebab cowok itu yakin kalau kabar yang Gesna dapat bersumber dari penghuninya.
Bara duduk di sebuah sofa tunggal dan Adit duduk pada sandaran tangan sofa, yang Bara duduki.
"Gini, sekarang gue tanya. Siapa di antara kalian yang dengar omongan gue sama Adit waktu itu dan kasih tahu ke Gesna?" tanya Bara langsung kepada inti masalah. Ditatapnya para penghuni satu per satu.
Adrian dan Guntur melempar pandangan tidak paham. "Maksudnya, Bang?" tanya Adrian.
Bara mengembus napas, melirik ke Adit sesaat. "Ya, tentang taruhan itu. Taruhan gitar antara gue sama Adit. Gue yakin yang tahu cuma orang dalam, orang di sini juga. Dan pasti salah satu dari kalian yang kasih tahu ke Gesna."
"Gue, Bang." Ilham menaikkan dagu sembari menyuguhkan muka tidak suka. "Gue yang dengar semuanya. Gue dengar lo sama Bang Adit taruhan kasih gitar kalau Bang Adit berhasil pacaran sama Gesna dan gue kasih tahu ke Gege."
"Elo!" Bara sontak berdiri dan hendak meninju Ilham, tetapi tubuh cowok itu segera dihalangi Adit. "Lo kenapa nggak tanya dulu sama kami?!"
Ilham ikut berdiri menantang dengan tangan terkepal. Meski tahu siapa yang harus dihadapi kali ini, persahabatannya lebih penting. "Tanya gimana? Sahabat gue jadi taruhan lo berdua dan gue mesti tanyain baik-baik?! Jelas-jelas lo berdua lagi mainin Gege. Kayak nggak ada cewek lain aja yang bisa dimainin," sentaknya.
Dalam sekejap, dada Guntur terasa meledak di tempat. Dia refleks berdiri di samping Ilham. Untuk urusan seperti ini, Guntur tentu akan ikut campur. "Jadi ... lo pacarin Gege cuma buat taruhan, Bang?"
Guntur berdesis geram ke arah Adit, yang langsung dipegangi Adrian. Tuan rumah yaitu Miko dan Riko yang bertindak sebagai penengah dalam pertemuan ini lantas meminta yang lain jangan emosi.
"Tenang dulu, tenang. Lo mungkin nggak percaya sama Adit atau Bara, tapi lo semua percaya gue, 'kan?" Miko memandang yang lain. "Gue saksinya. Gue saksi Bara tantangin Adit dan gue juga saksinya kalau taruhan itu enggak benar-benar ada. Bara tantangin Adit supaya Adit ngakuin perasaannya aja. Taruhan itu enggak ada, gitar itu enggak ada."
"Tetap aja, Bang," potong Guntur tidak terima. Dia mendadak ingat bagaimana Gesna memaksa untuk membeli gitar dan bagaimana raut gelisah cewek itu. Ternyata Gesna tahu dirinya menjadi taruhan. Ya Tuhan, pantas Gesna terlihat aneh. "Berarti semua itu awalnya karena taruhan, 'kan? Bang, Gege salah apa sama kalian? Gue rasa Gege bukan orang yang suka ganggu orang lain kecuali kami-kami. Kenapa sampai mainin perasaan dia, sih?"
"Tur, tenang." Adrian menepuk bahu Guntur. Dia paham sekali kalau cowok itu yang paling tidak terima mendengar penjelasan yang ada.
Guntur berdengkus, menatap Bara dan Adit tanpa gentar. "Gue rasa wajar kalau Ilham kasih tahu Gege. Kalau gue yang dengar duluan, mungkin kita udah duel, Bang. Enggak peduli lo siapa."
Adit maju ke depan dan mengangguk. Menurunkan beribu ego untuk mengakui kesalahan. "Iya. Ini bukan salah Bara, bukan juga salah Ilham. Kasus ini jelas salah gue. Gue salah karena mengiakan taruhan itu, gue salah karena merasa penasaran, gue salah karena niat gue mungkin enggak murni. Tapi kalaupun akhirnya ada sesuatu di antara gue sama Gesna, itu bukan karena taruhan, Tur."
Adit membalas tatapan kemarahan Guntur. Cowok itu ataupun yang lain harus tahu kalau perasaan Adit tidak main-main. "Gue tahu kalian sahabat Gesna, gue terima kalau kalian marah sama gue. Gue benar-benar sayang sama dia, bukan karena taruhan, bukan karena gitar atau apa pun."
"Gue yang temenin Gege beli gitar dan gue yang lihat gimana muka dia waktu itu!" seru Guntur mengandung duka.
Ponselnya berbunyi, dering khusus yang dia setel khusus untuk Gesna. Dia beralih ke pojok ruangan, menarik napas dalam sekali lagi sebelum berusaha mengangkat telepon dengan nada santai. "Iya, Ge..."
Tahu siapa yang menelepon, semua hanya diam dan mendengarkan. "Ya udah, gue ke sana. Tunggu gue," ujar Guntur menutup telepon dan mengantongi ponsel.
__ADS_1
"Kenapa Gege, Tur?" tanya Ilham. Matanya mengamati Guntur yang langsung meraih tas.
"Nggak apa-apa. Gege minta temanin makan," jawab Guntur. Dia lalu pamit kepada yang lain lantas bersitatap beberapa detik dengan Adit. "Lo pasti ngerti, Bang. Enggak ada orang yang suka melihat sahabatnya sedih."
Anggukan Adit mengiringi kepergian Guntur. Adit paham sekali kebenaran ucapan Guntur. Seperti Bara yang ikut berang setelah tahu apa yang dialami Adit, begitu juga Ilham ataupun Guntur. Tidak ada seorang pun yang suka melihat sahabatnya sedih atau disakiti, kecuali pengkhianat.
Adit memijit pelipis dan menatap orang-orang yang masih tersisa. "Ko, Dri, Ham. Gue minta maaf sekali lagi. Gue nggak mainin Gesna," jelasnya berusaha meyakinkan yang lain. "Gue bakal buktiin kalau gue benar-benar sayang sama dia, bukan main-main."
Itu bukan sekadar janji omong kosong. Karena Adit tahu dan sadar sekali, semenjak peristiwa kemarin, dia harus memulai segala sesuatu dari nol kembali. Memulai mendekati Gesna lagi, memulai gencar dan tidak tahu diri lagi, memulai untuk bersabar saat dianggap tidak ada. Dia tidak peduli setiap seruan atau bentakan Gesna ketika dia tiba-tiba datang tanpa diundang.
"Kayaknya rumah ini perlu dipanggil ustaz! Ada jelangkung! Datang nggak dijemput, pulang nggak diantar!" dengkus Gesna sambil buru-buru menaruh piring di tempat cuci padahal isinya masih setengah.
Lain waktu, Gesna sering mendamprat dengan kalimat pedas. "Mau ngapain lo? Mau numpang makan?! Orang kaya kayak lo bisa beli makanan lain yang lebih mahal, pergi lo dari gubuk gue!"
"Mau balikin gitar. Gitar itu kan punya kamu." Adit menunjuk benda yang pernah ditaruh di sebelah sofa dan tidak bergeser posisinya sampai sekarang.
"Gitar itu udah di sono dari kapan tahun! Banyak alasan aja lo!"
"Gege! Adit ke sini mau ketemu gue," potong Gustav yang sedang di rumah. "Udah makan, Dit?"
Gesna membulatkan mata, berdengkus dan meninggalkan Adit dengan mengentak-entakkan langkah ke lantai.
Selanjutnya, Gesna seperti sudah dapat mengendus cara-cara Adit. Cewek itu mulai berubah. Alih-alih teriak atau mengusir, Gesna sekarang terlihat lebih tidak peduli. Seolah-olah kedatangan Adit setiap hari ke rumah itu untuk bertemu dengan Gustav, bukan bertemu dengan cewek itu.
"Gun, lo di mana?" tanya Gesna menuju pintu rumah. "Ya udah, gue ke rumah lo, ya. Mau numpang makan."
Adit belum mau menyerah. Dia ingat kalau Gesna tidak suka menjadi bulan-bulanan gosip. Sehingga Adit mulai mencoba cara lain, mengajak Gesna berbicara di depan banyak murid. Gesna tidak mungkin membentak atau berteriak, sebab ada akun yang akan menjadikannya bahan berita.
"Pinggir," desis Gesna gusar ketika Adit menghalangi langkah cewek itu di koridor dekat UKS.
Adit mengamati sekitar. Banyak mata yang terlihat memperhatikan mereka sembunyi-sembunyi. Gesna pasti sadar kalau dirinya sedang jadi pusat perhatian sehingga tidak mau bertindak kasar. Dengan bergeleng, Adit tersenyum dan mendekati Gesna. "Enggak mau. Mau ngomong sama pacar di sini. Kayak orang-orang yang pacaran di sekolah. Atau kita duduk di sana aja?" tunjuk Adit ke bangku-bangku semen di pinggir lapangan basket.
Cewek itu berdengkus, menunduk untuk menyembunyikan tawa menghina. "Mimpi di siang bolong. Miris amat gue sama generasi muda zaman sekarang, kebanyakan halu."
"Non, dengarin—"
"Diam enggak lo?!" Gesna meradang dan sudah meliriknya dengan tatapan buas. "Lo yang harusnya dengarin orang."
Cewek itu memutar badan menghadap Adit. Tersenyum manis dengan seringaian aneh, yang Adit tahu, itu dilakukan tidak dari hati. "Udahlah, udah. Lo enggak capek apa? Gue udah dengar ceritanya. Semua anak basecamp udah cerita sama gue."
__ADS_1
"Iya. Ak—"
Tangan Gesna naik, menaruh telunjuk di bibir Adit. Jika ada yang melihat, pasti mengira mereka berdua sedang bercanda mesra. "Mau apa lagi? Minta maaf?"
Adit mengangguk. Gesna kembali tersenyum. Cewek itu memajukan badan untuk berbisik. "Gue. Muak. Sama. Lo," ujar Gesna menekankan setiap suku kata. "Sebagai anak IPA yang pintar, gue yakin lo ngerti maksud gue."
Tangan Adit secepat mungkin menarik pergelangan tangan Gesna yang hendak pergi. Tidak mudah mengajak cewek itu berbicara dan dia tidak akan membuang-buang waktu berharga. "Non, aku masih mau usaha. Kasih aku waktu buat buktiin semuanya."
Beruntunglah mereka berada di lokasi publik, di mana Gesna tidak jadi menepis tangan Adit secara kasar. Cewek itu sadar akan dihujat massa. Dengan pelan, Gesna menurunkan tangan Adit sambil kembali tersenyum. Melihat senyum pura-pura seperti itu saja Adit rela.
"Gue bukan rakyat dan lo bukan Pemerintah. Lo enggak perlu buktiin apa-apa ke gue. Pembohong selamanya akan menjadi pembohong."
"Aku enggak bohong, Non." Adit menatap Gesna sungguh-sungguh. Perempuan batu yang sangat dia sayangi. Perempuan keras kepala dan keras hati yang susah sekali untuk diyakinkan. Dan dia sudah jatuh cinta kepada perempuan itu.
Gesna menepuk-nepuk bahu Adit seolah ikut merasakan perasaannya. "Nggak apa-apa. Semua juga waktu kampanye pasti bikin janji-janji palsu, kok. Paham gue, paham. Udah, ya. Gue sekolah buat menuntut ilmu bukan mau mendengar omongan manis nan berbisa."
Kaki Gesna yang baru hendak melangkah lantas berhenti. Cewek itu menoleh ke dirinya seperti teringat sesuatu. "Oh, iya. Ular memang ada pawangnya, tapi sekali ular tetap aja akan menjadi ular. Cari mangsa lain aja, Dit. Sayang energi lo jadi sia-sia. Mangsa yang ini enggak enak buat ditelan."
"Gesna," gumam Adit tidak percaya. Matanya masih memandangi kepergian cewek itu.
Gesna menoleh, kembali tersenyum kepada Adit. Senyum aneh yang menjadi senyum terakhir untuknya. Sebab setelah percakapan itu, dia hanya menjadi penikmat senyum Gesna, bukan pemilik apalagi penyebab. Adit hanya bisa mencuri pandang diam-diam dari jauh ketika Gesna latihan, dengan memanfaatkan waktu les yang dia abaikan.
Gesna tidak pernah lagi mau bicara atau melihatnya. Gesna tidak pernah membaca pesan dan kiriman videonya. Bahkan, di kemudian hari, Adit menyadari kalau Gesna sudah mengebloknya dari semua hal: dari Instagram, dari Line, dari WhatsApp, semua sosial media dan kehidupan nyata.
Cewek itu memilih membalik langkah dan cepat menghindar jika akan berpapasan. Cewek itu memilih mengunci diri di kamar tanpa makan daripada bertemu Adit. Cewek itu tidak pernah lagi datang ke basecamp.
Sesalah itu Adit di mata Gesna dan sebenci itu Gesna kepadanya. Adit paham, mungkin sakit hati yang dia berikan sangat besar. Akan tetapi, Adit ingin Gesna tahu kalau Adit tidak bohong.
Hampir dua minggu Adit melakukan segala upaya hingga kemudian Adit sadar. Memberi perhatian kepada orang yang tidak ingin diperhatikan itu kesalahan. Meminta dipercaya oleh orang yang tidak mau percaya itu percuma. Dia menjadi banyak merenung. Membenarkan perkataan Gesna, waktu itu, bahwa apa yang dibuatnya hanyalah sebuah kesia-siaan.
Posisinya sudah kalah. Untuk mencapai titik nol saja susah, sebab dia sudah minus. Untuk itu, Adit kemudian memilih diam di tempat. Lelahnya meminta Adit untuk mundur, tetapi hatinya masih ingin maju sehingga diam menjadi pilihan. Diam menjadi alternatif. Diam menjadi langkah terbaik.
"Jangan pergi dari cintaku. Biar saja tetap denganku, biar semua tahu adanya dirimu memang punyaku." Yang bisa Adit lakukan hanyalah melepas penat dengan memetik gitar, menyanyikan lagu cinta melalui syair yang tidak akan didengar sang tujuan. Seperti ini rasanya bertepuk sebelah tangan. Indah dan sakit datang bersamaan.
"Live IG, yuk?" ajak Bara yang tiba-tiba sudah ada di samping Adit. "Udah lama juga kita enggak cover lagu. Lagu tadi judulnya apa?"
"Menghitung Hari 2," timpal Adit sambil kembali memetik gitar. Dia tahu itu lagu lama, tetapi lirik yang ada sesuai perasaannya.
"Kuy lah, live IG. Cakep juga lagu itu." Bara ikut duduk pada sebuah kursi kosong di balkon kamar Miko. "Atau Iwan Fals?"
__ADS_1
"Terserah aja. Mau kapan?" Adit mengangguk. Mungkin dengan kesibukan, dia akan sedikit melupakan kecewa atas kegagalannya.
Bara tersenyum penuh makna. "Sekarang. Udah banyak yang tagih-tagih juga di IG."