Matahari Api

Matahari Api
Kurcaci


__ADS_3


Belakangan ini, panasnya siang sangat menyengat. Hal itu membuat Gesna enggan ke mana-mana. Dia memilih lekas pulang dan ngadem di kamar dengan setelan suhu terendah.


Dia hanya akan bermain basket ketika matahari tak lagi garang, sekitar pukul empat sore di lapangan komplek. Namun, hanya berlatih sendiri, tidak lagi main bersama Guntur. Cowok itu semakin sibuk dengan OSIS-nya. Terasa seperti menjauh. Bahkan, beberapa kali pesan Gesna cuma dibaca tanpa balasan. Sesibuk apakah Guntur?


Gesna menghela napas sambil berdecak. Melanjutkan oret-oret yang keluar secara spontan dari tangannya. Pena bertinta hitam itu membuat bulatan-bulatan dan garis-garis tegas. Membuat gambar orang yang sedang terpasung jerat halus.


Orang itu adalah dia. Pencinta yang terjebak status sahabat.


Memang benar kata Zella, memutuskan berhenti saat belum berusaha akan membuat orang jadi berandai. Gimana ya kalau ternyata perasaan mereka sama? Gimana kalau ternyata Guntur juga menyayanginya?


Dia belum mendengar jawaban Guntur ketika ditanya Mamah. Dia yang berpura-pura tidur, hanya mendengar Guntur menenangkan Mamah.



Gesna menarik napas kembali. Kata Naraya, OSIS akan membuat event besar yang menyatukan beberapa acara organisasi sekaligus. Naraya saja masih sempat untuk membalas pesan atau main ke kantin. Masa sih Guntur sesibuk pejabat?


Dia tahu banyak yang akan dikerjakan OSIS. Dia tahu kalau Naraya dan pengurus OSIS beberapa kali dispensasi untuk menjumpai sponsor. Gesna juga sempat melihat Guntur pergi bersama mereka dan berboncengan sama cewek yang pernah mendatangi mereka di kantin.


"Joceline," gumam Gesna tanpa sadar.


Cantik sih cewek itu. Putih, lembut, manis. Feminin sekali. Tipe-tipe bidadari yang sering Guntur dan anak-anak basecamp bilang.


Sudah sering Gesna diingatkan agar berperilaku seperti perempuan. Mungkin maksud mereka seperti si Joceline, ya? Dia sama Joceline? Blah, jelas berbeda. Bedanya antara langit ketujuh sama dasar bumi. Dengan kata lain: jauh nggak kira-kira.


Memangnya cewek hanya cantik kalau putih, manis dan lembut? Gesna menarik sebelah alis. Kenapa dia tidak setuju dengan kesimpulan barusan, ya? Kalau cuma itu definisi cantik, banci Thailand juga lebih cantik.


Dia lalu menatap cermin yang tingginya lebih dari dia. Mematut diri. Kulitnya cokelat, efek sering di lapangan. Rambutnya pendek, sebab rambut panjang akan membuat gerah. Apalagi kalau lagi main basket, sedikit saja panjang, rambut itu akan mengganggu. Dari keseluruhan yang dia lihat, manis dan lembut jelas tidak ada sama sekali di dirinya.


Gesna meringis. Lagi pula mana mungkin Guntur suka dengan cewek aneh seperti dirinya. Benar kata Guntur, dia sering mengigau.



Ponsel di sampingnya bersinar. Pemberitahuan pesan masuk terlihat. Adit masih belum menyerah. Cowok itu setiap hari selalu membanjiri notifikasi. Isi pesannya nggak ada yang penting. Semuanya sampah.


Gesna menekan kolom pesan Adit yang sedari pagi belum dibuka.


Mr. A: Selamat pagi, matahari. Mohon maaf, saya ucapkan ke matahari. Bukan kepada anda. jan geer ya. 🤧


Mr. A: Eh. Nggak jadi deh sama matahari. Cepet panasan anaknya. 😪


Mr. A: Sama Snow White aja ah, biar selalu adem. Boleh kan Snow?


Mr. A: Awas nanti jempolnya karatan. Kelamaan nggak dipake soalnya. 🤭


Gesna mendengkus. Dia heran bagaimana Adit bisa mengirim pesan saat jam pelajaran berlangsung. Waktu-waktunya sangat rapat. Beda paling lama hanya sekitar 30-40 menit saja. Meski dibiarkan tidak dibaca dan tidak dibalas, Adit tetap mengirimi pesan-pesan super garing.


Si Adit ini belajar apa enggak, sih? Atau memang tujuan datang ke sekolah cuma buat petantang-petenteng saja? Buat tebar pesona kalau dia Kepala Suku.


Mr. A: Lo tau nggak kenapa spion itu ada dua?


Mr. A: Pasti nggak tau..


Mr. A: Karena.....


Mr. A: kalo satu...


Mr. A: kesepion.


Mr. A: Danau.. danau apa yang nggak cocok buat anak-anak?


Mr. A: ???


Mr. A: Danau Toba.


Mr. A: Buat anak kok toba-toba.


Mr. A: Kalo mau senyum, senyum aja kali bacanya, nggak papa, jangan malu-malu. Malu-malu kan kerjaan tukang. Malu, maku, ngegergaji.


Mr. A: Tapi senyumnya sisain buat  gue ya. Oke, ya? Oke, dong.


Nasi kali disisa-sisain! Gesna menggeleng-geleng. Empat hari menahan diri untuk nggak membalas semua yang dibikin Adit membuat Gesna sudah nggak sabar. Dia sudah menyiapkan beberapa skenario untuk ajakan jalan Adit.


Kalau Adit mengajak nonton, dia akan mengajak nonton film thriller yang isi ceritanya memutilasi orang. Namun, jangan harap dia akan teriak-teriak seperti cewek lain lalu memeluk orang di sebelahnya. Gesna biasa menonton film sesadis apa pun dengan makan kentang atau burger.


Bila perlu nanti akan ditumpahkannya minuman ke baju atau celana cowok itu. Lalu Gesna juga akan mengambil dompet Adit saat cowok itu lengah dan menyembunyikannya. Dia sudah tidak sabar membayangkan betapa kikuk seorang cowok saat tahu kehilangan dompet saat akan membayar tagihan. Tidak lupa, motor atau mobilnya akan Gesna baret atau kempeskan.


Buat kenang-kenangan. Senyum Gesna mengembang sempurna.


Ponsel yang sedang ditatapnya bergetar. Panggilan dari pengasuh Gandhi.


"Iya, Mbak," sahut Gesna.


Tidak biasa-biasanya pengasuh Gandhi menelepon jam segini. Kabar tentang Gandhi akan dilaporkan setiap malam, setelah Gandhi tidur dan itu pun hanya melalui pesan.

__ADS_1


Suara bernada ketakutan masuk ke telinga Gesna. Jantungnya berhenti berdetak saat pengasuh Gandhi bilang adiknya di IGD dan mama sedang menghadiri fashion show di luar negeri.


Tanpa ba-bi-bu, Gesna melompat dari tempat tidur. Dengan cepat dia meraih kunci, dompet dan ponsel.


Dia harus ke Bandung, sekarang!


Gesna menyimpulkan tali sepatu buru-buru, memakai hoodie dan memasang helm. Dia yang tidak punya banyak waktu luang langsung berlari menuju skuter dan tidak menyadari kedatangan sebuah motor.


"Mau ke mana?" tanya Adit begitu melihat Gesna buru-buru.


Gesna tidak menggubris itu. Tangannya menyalakan mesin dan memundurkan skuter.


"Mau ke mana, sih? Lo mau kabur?" Cowok yang sudah turun dari motor itu kemudian menghalangi Gesna dengan berdiri di depan skuter.


"Pinggir." Gesna mengibaskan tangan dan coba memutar setang.


"Mau-ke-mana?" ulang Adit sambil memegang setang skuter Gesna. Genggaman kuat dari Adit membuat setang itu tidak bisa dibelokkan Gesna.


Gesna yang sedari tadi panik menjadi geram. Dipukulnya tangan besar yang menghalangi. "Diam nggak lo! Gue nggak banyak waktu! Pinggir!"


Adit menolak. "Enggak. Lo udah janji sama gue."


Gesna putar gas hingga suara mesin meninggi, seolah mengancam kalau dia tidak segan-segan melindas Adit sekarang juga jika cowok itu masih menghalangi. "Ini urgent, Dit! Gue batalin janjinya. Lain kali aja."


"Nggak bisa gitu, dong. Apa-apaan mendadak gini? Udah keren-keren gue ke sini."


Adit memutar kunci skuter Gesna dan mencabutnya. Memang, hari ini Adit terlihat lebih keren. Cowok berkaus hitam itu memakai jaket berwarna sama. Celananya juga hitam dengan aksen sedikit tersayat di bagian paha. Sepatu hitam bergaris putih tiga buah yang mempertegas gaya maskulin. Tapi itu semua tidak membuat Gesna melirik sedikit pun.


Gesna menaikkan kaca helm. Matanya menatap nyalang. "Adit! Adek gue di IGD! Gue harus ke Bandung sekarang. Paham lo?!"


Adit terdiam. Garis mukanya terlihat lebih tegas dari biasa. Cowok itu meneliti, mencoba mencari kebohongan.


"Balikin kunci gue buruan! Cepat! Gue nggak ada waktu!" Gesna mengarahkan telapak tangannya ke depan Adit. "Buruan!"


Cowok itu memperhatikan raut Gesna beberapa saat sebelum mengembalikan kunci. "Lo lagi kacau, jangan bawa kendaraan. Gue antar aja."


Adit bergegas menyalakan motor besarnya dan menuju keluar rumah. Gantian, Gesna yang terdiam saat ini.


"Buruan! Kok bengong?! Mau ke Bandung nggak lo?"


Gesna menaik-turunkan kepala. Skuter dia kembalikan ke tempat semula dan dia melompat naik ke boncengan motor Adit.


"Pegangan."


"Ogah, lo mau modus aja."


Motor Adit mulai melaju kencang. Angin terasa kuat mengempas. Gesna limbung dan segera mencengkeram jaket Adit. Badannya meliuk, ikuti gerak motor Adit yang sedari tadi berusaha memotong kanan dan kiri, mencari celah tercepat untuk sampai ke tujuan.


Gesna tidak peduli Adit memilih rute apa, belok ke mana, yang penting sampai Bandung sesegera mungkin. Bahkan ketika motor Adit melaju melalui jalan pedesaan, dia tidak sempat untuk berpikiran negatif. Otaknya benar-benar buntu saat ini.


Gandhi sakit apa? Sejak kapan? Kenapa Mamanya tidak tahu? Kenapa jadi sampai ke IGD? Semua pertanyaan itu menyerang dari segala penjuru.


Motor Adit memasuki sebuah SPBU. Setelah mengisi bensin, Adit berhenti dan mematikan motor. Cowok itu turun dan masuk miniswalayan yang ada. Gesna masih duduk bengong di jok motor. Pikirannya sudah melayang sampai ke Bandung.


Tak lama, Adit keluar membawa dua cangkir minuman hangat. Kepala Suku itu memanggil Gesna untuk bergabung.


"Turun dulu, Non. Lurusin kaki bentaran, boleh ya?" pinta Adit sambil duduk di satu bangku kosong depan miniswalayan. "Gesna," panggilnya lagi. "Sini..."


Gesna tersadar dari lamunan. Kakinya melangkah turun, duduk di samping Adit. Setelah melepas helm, dia menerima cangkir yang disodorkan. Isinya segelas cappuccino.


"Jadinya kita ngopi di sini, deh." Adit terkekeh sedang ia masih diam dan menyesap cappuccino.


Ditatapnya langit yang beranjak gelap, sore sudah menjadi senja. Kemilau emas berwarna kemerahan merebak dan merona. Sebuah senggolan datang. Gesna melirik penyikutnya. "Mikirin apa? Adek lo, ya?"


Tanpa menjawab, Gesna kembali menyesap minuman hangat dari cangkir kertasnya. Dia hanya memandang lurus ke cakrawala yang tampak indah tanpa berbicara.


"Jangan panik," ujar Adit sambil meneguk kopi. "Panik cuma akan bikin kita bertindak gegabah. Nantinya bakal nyesal sendiri. Santai aja, ada gue kok. Gue bakal temenin lo."


Jika saja yang bicara itu tadi Guntur, mungkin dia percaya. Namun, yang bicara barusan adalah Adit. Sosok yang terkenal buas di sekolah, sosok yang harusnya dia taklukan. Tentu saja, Gesna tidak akan mudah percaya.


"Yang manis-manis, biasanya datangnya sebentar." Adit menunjuk langit yang berpendar. "Kayak sunset, indah tapi cuma sesaat. Jadi, mesti dinikmatin. Kapan lagi coba lo bisa jalan sama cowok keren kayak gue?"


Untaian kalimat terakhir hampir membuat Gesna menyemburkan kembali cappuccino-nya. Kalau dia pikir tadi Adit sudah waras, ternyata belum. "Lo tahu nggak? Orang yang sering narsis itu termasuk sebagai orang yang memiliki gangguan kepribadian?" desisnya.


Adit menoleh. Seperti tidak menyangka Gesna akan bersuara.


"Orang yang selalu butuh pujian berlebihan, merasa dirinya penting dan merasa dirinya hebat terus itu udah gangguan kepribadian. Kayak lo gini," timpal Gesna sambil melirik Adit.


Langit sudah gelap seutuhnya. Lampu-lampu sudah menyala. Kesunyian menyergap mereka. Pelan, Gesna menelan minumannya lagi.


Adit meringis dan meneguk kopinya lagi. "Iya, gue tahu kok. Gue cuma bercanda. Biar lo ketawa, nggak kaku amat kayak penggaris kayu."


"Masa?" Gesna menandaskan minum. "Nanti beneran memang gitu?!"


Adit juga menghabiskan kopinya dan berdiri ke arah tong sampah tak jauh di dekat Gesna, membuang sampah. "Kenapa?" Cowok itu mengangkat kedua alisnya. "Lo takut jalan sama orang yang punya gangguan kayak gue?"

__ADS_1


Gesna ikut membuang gelas kosong dengan gaya tembakan tiga poin, tidak menggubris pertanyaan Adit.


"Kalau ditanya itu dijawab, Non. Takut nggak?" desak Adit. Cowok itu sudah naik ke atas motor.


Gesna mengantongi tangan di saku hoodie. Udara dingin khas puncak sudah menyerang.


"Takut?" tanya Adit lagi. "Gue tinggal aja kalau gitu ya? Kan lo takut sama gue."


Adit mundurkan motor, hendak pergi. Gawat! Harusnya tadi, dia jangan bilang begitu ke Adit. Kalau Adit marah gimana? Kalau dia ditinggal di sini gimana? Gesna tidak tahu ini di mana.


Gesna langsung menahan setang dan berdiri di depan motor.


Tanpa Gesna ketahui, di balik helm sudut bibir Adit terangkat. "Ngomong kali, Non. Bukan patung Pancoran, 'kan?"


"Nggak!" jawab Gesna cepat dan naik ke boncengan Adit sembari memakai helm.


"Nggak apanya?" Adit menolehkan muka ke belakang.


"Ya, nggak takut sama lo." Gesna memutarkan helm Adit agar cowok itu melihat ke depan karena motor sudah mulai berjalan.


"Gue mah nggak usah ditakutin, disayangin aja!" seru Adit bersamaan dengan dengungan knalpot yang semakin tinggi dan Gesna yang menggeplak helmnya dari belakang.



***


Pukul setengah delapan tepat, mereka sampai di rumah sakit tujuan. Tulisan Instalasi Gawat Darurat berwarna abu-abu terpampang besar dengan latar berwarna merah menyala.


Gesna langsung turun dan berlari ke dalam ruangan itu sementara Adit memarkirkan motor.


Dengan terburu-buru Gesna menuju meja perawat. Banyak ruangan kecil bersekat tirai untuk penanganan langsung dalam kondisi kritis.


Sayangnya, perawat jaga juga sedang sibuk. IGD saat itu kedatangan tamu dadakan, kecelakaan lalu lintas, laga kambing antar dua buah minibus.


Panik tidak ada yang bisa ditanya, Gesna berusaha mengintip bilik-bilik yang ada. Dengan cemas, dia menyingkap satu per satu. Namun, Gandhi tidak juga ditemukan.


"Dek, di mana sih?!" pekik Gesna frustasi.


Dia yakin tidak salah lokasi. Rumah Sakit langganan keluarganya di sini. Berulang kali Gesna menyibak tirai sampai tirai ke lima belas juga belum menemukan Gandhi. Ada banyak sekali tirai dan bilik di IGD ini. Wajar saja, ini salah satu rumah sakit terbaik di kota Bandung.


"Sus... Sus..." Gesna tidak peduli perawat sedang sibuk atau tidak. "Ada pasien anak kecil namanya Gandhi, nggak?"


Dia berusaha menarik tangan seorang perawat yang menutup tirai.


"Maaf, Teh. Tolong tunggu di luar. Ini kondisi urgent." Perawat meminta Gesna keluar dari bilik.


Gesna mendesah kesal. Sementara IGD semakin penuh orang lalu lalang. Korban minibus kedua sedang diturunkan dari ambulans. Perawat berhambur membantu korban, darah terlihat berceceran, rintihan banyak terdengar.


Mata Gesna mencoba melihat sekitar, menyapu pandangan dari kiri ke kanan agar tidak ada yang luput dari perhatian. Namun, Gandhi tidak juga ditemukan.


"Dek!" panggilnya. "Gandhi!" Dia memekik, berharap pengasuh atau Gandhi mendengar.


Nihil. Panggilannya tidak dipedulikan dan dijawab siapa-siapa. Gesna menjambak rambut gemas. Matanya mulai panas. Badannya sudah letih. Lima jam duduk di atas motor bukan sesuatu yang mudah.


"Gandhi!"


Badannya yang bersandar di dinding mulai merosot dan berjongkok. Buru-buru memikirkan alternatif lain, Gesna merogoh ponsel di saku celana. Ternyata ponselnya mati kehabisan daya dan Gesna lupa membawa charger. Habis sudah harapan, Gesna menutup kedua muka dengan telapak tangan.


Bagaimana dia bisa menemukan Gandhi?


Bagaimana kalau Gandhi memerlukan dia saat ini?


Bagaimana kalau pengasuh nggak pegang uang banyak untuk menjamin Gandhi?


Gesna menunduk kalah.


Dia sangat menyayangi Gandhi. Papa dan Mama boleh memisahkan mereka. Bagi Gesna tidak, Gandhi tetap bagian dari hidupnya.


Sial! Dunia kenapa sekejam ini sih sama mereka?


"Adik kenapa?" Suara berat khas bapak-bapak menegurnya. Gesna tidak sanggup menjawab, tenggorokannya tercekat. Suara itu berusaha bertanya-tanya lagi. Namun, Gesna sudah sangat pusing dengan suara di kepalanya sendiri.


Perlahan suara bapak itu hilang, bersamaan dengan sebuah tangan besar jatuh di kepalanya, menepuk sedikit, seolah menenangkan. "Gandhi udah pindah ke ruang rawat. Kan udah gue bilang, jangan panik."


Adit menarik lengannya agar ia berdiri. Seharusnya Gesna menolak karena itu bisa saja bagian dari modus. Hanya saja, kelelahan fisik dan wangi Adit yang setenang laut membuatnya pasrah saat cowok itu meraih ke dalam pelukan. Dia bahkan membalas pelukan dan menenggelamkan mukanya di dada itu. Saat ini, dia butuh sandaran. Dia butuh penyelamat, superhero, superhuman atau siapalah itu.


Adit menepuk bahu Gesna pelan, menenangkannya lagi. Berulang kali Adit menghirup dalam-dalam aroma segar dari kepala cewek yang sedang dipeluk. Ditaruh dagunya di atas kepala Gesna yang tingginya sedagu.


Saat ini, Adit tidak peduli sedang jalani peran sebagai siapa. Menjadi penjahat, menjadi ksatria atau sekadar kurcaci. Berperan sebagai Doc, Grumpy, Sleepy, atau siapa pun dari tujuh kurcaci yang ada, juga tidak apa. Menjadi mereka bersamaan pun akan dia sanggupi. Asal Putri Saljunya tersenyum lagi, dia rela.


"Don't worry, your dwarf is here," bisiknya di telinga Gesna sembari merapikan rambut pendek yang terlihat berantakan.


***


Jadi, kalian tim siapa sekarang? 😝

__ADS_1


Gesna - Guntur apa Gesna - Adit?


__ADS_2