
"Dit... Putri Salju lo, Dit!" canda Miko sambil terkekeh. Untuk seorang Adit yang hampir tidak pernah berinterasi dengan makhluk yang bernama perempuan, tentu saja kejadian di depan koperasi sampai ke telinga Miko dengan cepat.
Bara yang duduk di sebelah Miko memutar badan. Cowok yang menjadi bassis itu merasa heran dengan perilaku Adit belakangan. "Kok gue ngerasa aneh, ya?" ujarnya kepada Miko. "Tumben yang namanya Adit iseng sama cewek."
"Yoai. Ngeri nggak, sih? Biasanya dingin banget sama cewek. Sekalinya ngedeketin tipenya begini. Hati-hati, Dit! Salah-salah dibikin three point shoot nanti," sela Miko.
Adit hanya menanggapi ledekan itu dengan tersenyum santai.
"Woh! Lihat nggak lo, Bar? Ketua kita senyum, woy! Gilaaa. Gilaaa." Miko cengir-cengir penuh kode.
"Gaspol, Ketua! Gaspol, jangan injek rem lagi, ngeeeeng!" tambah Bara, Tak lama dua orang itu terbahak sambil balas menoyor kepala satu dengan yang lainnya.
Sosok yang dimaksud Miko mendekat dan Adit mulai memainkan gitarnya. Begitu Gesna berjarak dua meter dari mereka, Adit lalu bersenandung. "Sayangku..."
Bara dan Miko yang mengerti bahwa Kepala Suku mereka sedang memainkan lagu milik Iwan Fals lalu menjawab, "Wooo... Ooo...."
"Dengarkanlah isi hatiku. Cintaku..." gumam Adit menyanyikan lagu Izinkan Aku Menyayangimu yang kemudian dijawab kembali oleh Bara dan Miko sembari mengayunkan tangan di udara. Seperti sedang menonton konser.
"Wooo... Ooo...."
"Dengarkanlah isi hatiku...."
Adit menoleh ke arah tangga teras. Namun, Gesna cuek menapaki tangga dan lewat seolah tidak mendengar apa pun. Kode keras yang dibuat Adit dengan mudah dihalau cewek itu. Tanpa reaksi, Gesna mengeloyor masuk.
Bara yang menganga tidak menyangka, lebih dahulu berkomentar, "Dedemit kali kita, nggak dianggap gitu."
"Pahit, Bro. Baru ini gue dicuekin cewek," tandas Miko menyengir.
Adit kembali tersenyum kecil. Lagunya sudah berhenti dan jari Adit kembali menyetel senar gitar. Mereka baru kembali dari on air di sebuah stasiun radio anak muda. Karena malas naik ke atas, juga angin sore yang terasa sejuk, mereka bertiga memilih duduk di teras.
Semenjak peristiwa apel yang lalu, Gesna seperti berusaha menghindar. Kalau biasanya mereka berpapasan di basecamp dengan santai, sekarang terasa berbeda. Ada ekspresi terpaksa di wajah cewek itu. Seakan-akan kalau bisa menghilang, Gesna akan lebih memilih menghilang daripada berpapasan dengan dia.
"Ketua ...," panggilan Miko terhenti sesaat, memikirkan kalimat lanjutan. "Lo beneran suka atau iseng aja sama Gesna?"
"Lucu dia," jawab Adit datar. Pandangannya masih ke senar.
"Terus kalau lucu? Dia kan penghuni basecamp ini. Tega amat teman setongkrongan digibas juga."
"Memang gue mau ngapain?" Adit menatap lurus Bara atas pertanyaan cowok itu barusan.
Miko terkekeh. "Mati lo, Bara!"
Bara mengambil sebuah rokok lalu menyalakannya. Melirik sedikit ke arah Miko agar memperoleh dukungan. "Demi melihat Ketua gue jatuh cinta, gue rela mati, Ko! Pasukan berani mati gue! Siaga di garis terdepan buat Ketua."
"Bacot!" Adit tersimpul miring. Matanya berkilat. Dia juga tidak mengerti kenapa mengusili Gesna jadi hal yang menyenangkan untuknya belakangan. Adit sadar kok kalau ejekan Miko dan Bara itu benar sebab selama ini, dia tidak tertarik berinteraksi dengan perempuan. Apalagi yang menatapnya takut-takut atau yang melirik penuh kagum. Dan Gesna tidak masuk ke dalam dua kriteria tersebut.
__ADS_1
"Ya, terserah lo, sih. Dia galak lho. Lo nggak lihat anak-anak basket aja bisa kicep sama dia?" jelas Miko yang cukup mengetahui bagaimana Gesna dari cerita Riko. Gesna tipe cewek yang kuat, berani dan pantang menyerah. Karena itulah Gesna terpilih menjadi kapten tim basket putri di sekolah mereka, menggantikan Gita yang sudah kelas 12.
Deru sepeda motor mendekat. Dari teras yang mereka duduki, terlihat Guntur datang bersama Ilham. Dua orang itu berjalan menuju tangga lantas menegur mereka bertiga.
"Bang," sapa Guntur sebelum masuk.
Miko dan Bara melambai sebagai jawaban sedangkan Adit hanya mengangguk pelan. Jujur, Adit terusik oleh pertanyaan Miko dan Bara. Dia meraih rokok dan mematik api di ujung rokoknya, mengembuskan asap tinggi-tinggi. Angin yang bertiup pelan mulai memainkan rambut.
"Setiap ular punya pawangnya, Ko," sahut Adit dengan enteng. Sebuah metafora yang berusaha dia gambarkan dengan sangat simpel.
"Terus? Lo mau bilang kalau lo pawangnya Gesna?" sahut Bara tergelak.
Adit langsung memelotot saat Bara dengan lugas menyebut nama Gesna. Matanya mengintip celah pintu. Guntur dan Ilham baru saja masuk dan dia tidak mau percakapan itu terdengar mereka. Setelah Adit merasa aman, dilanjutkannya ucapan yang sempat terpotong tadi.
"Gue nggak bilang gitu. Gesna nggak butuh pawang. Putri Salju kan butuhnya Pangeran," jawab Adit sembari menyentil rokok. Puntung itu terlontar tinggi dan sukses terbang jauh.
"Iya, iya. Jadi lo menganggap diri lo Pangeran gitu maksudnya?" Bara kembali tertawa. "Petrus sihombing samyang jakandor!"
"Apaan, Bar?" Baik Adit, maupun Miko sama-sama menoleh. Meminta penjelasan dari kalimat Bara.
"Pepet terus, sampai hati terombang ambing, sampai sayang, jangan kasih kendor!" tambah Bara dengan tawa yang semakin kencang.
***
Adit menoleh ke jam dinding. Sudah pukul tiga pagi. Biasanya suasana dini hari di basecamp amat lengang, tetapi saat ini, Adit mendengar banyak suara dari luar.
Bara mematung dan melirik Miko. Sayang, Miko yang sedang membawa camilan ke atas bersamanya tidak kunjung menjawab.
Adit bangkit, menaruh gitar yang tadi dipangkunya ke samping.
"Ada maling?" tanyanya lagi, dibalas dengan gelengan Bara.
Mereka semalaman habis mengkover sebuah lagu dan baru selesai mendekati pukul setengah tiga. Setelah itu, Adit masih mengulik hasil mentahnya di laptop sampai ada suara-suara mengganggu.
Adit menaikkan alis. "Apaan, sih? Jawab aja susah."
Dia kemudian berjalan keluar studio, menuju ruang tengah. Langkahnya terhenti. Dari balik jendela di ruang tengah yang menghadap ke parkiran, matanya menangkap sebuah pemandangan ganjil.
Bukan tidak paham sedang terjadi apa, Adit cukup mengerti dari cara Gesna dibawa oleh mereka kalau cewek itu sedang tidak baik-baik saja. Namun yang Adit tidak mengerti, kenapa ada rasa kesal? Ada denyut tidak terima berdetak kuat di ulu hati, yang membuatnya mengepalkan jari dengan rapat tanpa disadari.
"Kesal, heh?"
Adit hanya diam mendengar pertanyaan Bara. Dia memilih tidak menjawab dan membuka pintu balkon lalu duduk di teras depan. Sembari menyalakan rokok, tatapannya memperhatikan kepergian mobil yang membawa Gesna hingga hilang di ujung tikungan.
Bara duduk di sebelah Adit dan ikut menyulut rokok. Sahabatnya itu tertawa kecil. "Yang gue lihat sih, kayak-kayaknya ini udah bukan sekadar iseng atau lucu aja, ya."
"Apaan, apaan?" Miko yang baru datang langsung menyusul pembahasan Bara.
__ADS_1
Bara memainkan alis ke arah Miko. "Kawan kita akhirnya mengenal cinta."
"Sotoy lo," balas Adit melempar puntung rokok ke asbak. Miko mengernyit sedang Bara masih mesem-mesem.
Langit subuh masih gelap, hanya beberapa bintang terlihat. Adit menatap hamparan gelap di hadapan dengan bungkam. Tidak ada penjelasan tambahan darinya.
Bara dengan cepat menyadari itu. Bagi Bara, mungkin Adit bisa tutupi perasaannya tapi tidak untuk sorot matanya. Hanya dari cara Adit melirik, Bara yakin Adit bukan hanya sekadar menjaili. Ada sesuatu yang beda di mata tajam Adit ketika melihat Gesna.
"Ya... Mata nggak bisa bohong sih, Ketua." Bara lalu bernyanyi sambil menggendang meja. "Lirikan matamu menarik hati. Oh, senyumanmu manis sekali. Ayey!"
Miko menambahi. "Sehingga membuat aku tergoda. Yihaaaa..."
"Taek!" maki Adit sambil meraih rokok lagi guna meredakan gelombang aneh yang sedari tadi tidak dimengertinya.
Dua sahabatnya malah terpingkal-pingkal. Suasana sepi pecah karena gelak dua orang itu. Ketukan di meja masih berlanjut.
"Sebenarnya aku ingin sekali, mendekatimu memadu kasih. Lanjut, Ko!"
"Namun, sayang-sayang malu rasanya. Biar kucari nanti caranya," lanjut Miko.
Adit hanya diam dan mengemam. Dia memutar-mutar rokoknya di sela jari. Dari pembicaraan di teras yang lalu, Adit semakin menyadari beberapa hal. Pertama, selama ini dia memang tidak pernah tertarik berurusan dengan perempuan. Kedua, sekalinya dia tertarik ingin mengenal seorang perempuan malah ditolak mentah-mentah. Ketiga, entah mengapa penolakan yang ada malah membuat Adit ingin terus mencoba. Jujur, Adit sedang bingung dengan dirinya sendiri.
"Gini deh," ujar Bara membuat Adit menoleh. "Kalau Gesna bisa jadi pacar lo. Gue kasih Yamaha Silent SLG200S."
Bara membuka taruhan dengan hadiah gitar yang bisa dimainkan memakai headphone agar tidak berisik atau mengganggu sekitar.
Adit refleks mencaci Bara. "Hanjeng."
Bara tertawa kecil dan mulai menaikkan alis. "Deal, nggak?"
Miko mendelik saat mendengar ajakan Bara. "Jangan gila ya, woy! Adek gue itu. Nggak, Dit. Nggak!" serunya mengibas tangan di udara agar kesepakatan taruhan tidak terjadi.
Bara tidak peduli, dan makin menggoda Adit. "Ayolah... Urusan gampang ini, mah. Masa seorang Kepala Suku lemah karena cewek, sih? Cemen, ah," ucap Bara masih mengompori.
Adit mengembus asap ke udara dan meneguk air mineral. Mungkin memang sudah waktunya dia untuk bertindak. Tidak ada salahnya juga untuk menyanggupi ajakan Bara. Yang namanya taruhan pasti akan ada menang atau kalah. Menang atau kalah, tidak masalah. Bukankah poin pentingnya adalah mencoba? Dia tidak akan tahu hasilnya jika dia tidak mencoba.
"Oke," angguk Adit setelah terdiam cukup lama.
Bara menepuk meja dengan semangat. Seperti menyadari kalau perangkapnya bekerja dengan baik. "Mantul, Ketua! Mantap betul. Deal ya deal? Jangan ngeles lo nanti kalau kalah, ya."
Adit melempar rokok ke arah Bara. "Lo sepelein gue?"
Bara mengelak ke samping, menghindar dari puntung menyala yang datang ke arahnya. Dia lantas tertawa riang. "Jangan senang dulu, waktu lo cuma sebulan, Bos."
"Bungkus," ujar Adit tersenyum miring.
Baik Adit dan Bara kemudian bersalaman, mengabaikan Miko yang sedari tadi mengumpat kesal karena kesepakatan mereka berdua.
__ADS_1