
Gesna mengerjapkan mata, sekitarnya terang sekali. Ia melihat sekeliling. Bias-bias matahari yang terhalang gorden masih berusaha masuk ke kamarnya. Rupanya matahari sudah tinggi pantas saja perutnya keroncongan dan tidurnya terganggu.
Dia menyibak selimut. Kepalanya terasa pusing dan berputar, sampai harus menyeret kaki ke kamar mandi untuk membasuh muka. Namun, hidungnya membau sesuatu. Gesna mengendus baju yang dikenakan. Ya ampun bau sekali, seperti bau sampah!
Setelah mandi, Gesna memaksakan diri turun ke dapur. Melewati anak-anak tangga yang susunannya tidak berubah, dan kelengangan yang menjadi kebiasaan. Dia membuka kulkas untuk mencari amunisi andalan saat lapar dan terjepit.
Yah! Mi instan habis. Gesna mendesah pelan lalu meraih telur, berniat membuat omelet yang ringkas dan mudah. Sampai ada suara langkah kaki di belakang, kepalanya menoleh.
"Ngapain?" tanya Guntur yang datang dengan membawa Tupperware.
"Bikin omelet," jawab Gesna mengembalikan pandangan ke kompor. Dia tahu siapa penolongnya semalam. Dalam ketidaksadaran dan selubung gelap, dia dapat merasakan kehadiran Guntur.
"Nggak usah, ini dari Mamah." Guntur mendekat ke arahnya, mengambil telur dan mengembalikan ke kulkas. Cowok itu bergegas mengambil piring dan menariknya duduk. Tupperware ungu itu dibuka. "Ayam bakar madu kesukaan lo. Makan, gih."
Gesna terdiam. Ini memang sudah saatnya makan siang. Jam dinding di dapur yang berhubungan dengan ruang makan menunjukan pukul dua siang. Gesna pun sudah lapar berat tapi perlakuan Guntur membuatnya kenyang.
"Kenapa?" Guntur mengedikkan dagu dan dijawab Gesna dengan gelengan. "Ya udah, makan buruan. Samaan sama gue."
Melihat dia tidak juga bergerak, Guntur kemudian bangkit menempatkan nasi di dua buah piring dan menaruh satu piring di hadapannya.
Ayam bakar madu. Di saat Gesna merindukan kehadiran seorang ibu, hanya Mamah yang sangat perhatian. Mamah sampai hafal makanan kesukaan Gesna, rutin memasak untuk mengiriminya saat weekend. Mamah bahkan tahu pekerja pulang hari yang bertugas di rumahnya tidak datang pada Sabtu-Minggu.
"Buruan, Gege. Nanti nasi lo dingin. Isi tenaga dulu lo sebelum gue ceramahin," ujar Guntur yang sudah mengunyah nasi dengan santai berikut lalapan.
Gesna hanya menunduk, memainkan butir nasi di piring. Dia tahu kalau Guntur akan menasehatinya lagi, hari ini.
"Doa dulu lo," seru Guntur bawel. "Oh, iya. Gandhi mana? Kok nggak kelihatan?"
Cowok itu menaruh sepotong dada ayam ke piring Gesna.
"Pergi."
Gesna menukar potongan dada ayam yang diberikan Guntur dengan potongan paha bawah. Dia sedang tidak selera makan.
"Ke mana?"
"Ikut Mama."
"Oh... Eh, tumben lo nggak ikut juga?" tanya Guntur lagi. Biasanya, Gandhi akan berkunjung ke rumah ini saat weekend dan Gesna selalu menemani Gandhi pergi ke wahana bermain. Yang tidak Guntur ketahui, Gandhi hampir sebulan tidak datang ke rumah ini.
Gesna menoleh sebentar ke Guntur lantas balik menatap piring. Menyuap segumpal kecil nasi ke mulut. Gumpalan itu terasa seperti kerikil. "Gandhi nggak akan ke sini. Kemarin keputusan sidang, hak asuhnya jatuh ke Mama. Dia selamanya sama Mama di Bandung," jelas Gesna datar.
Guntur tersedak. Niat untuk memarahi Gesna sirna. Dia buru-buru meraih minum lalu merapatkan kursinya ke samping Gesna. "Ge, sori. Gue nggak tahu."
Alis Gesna terangkat santai, seolah itu bukanlah hal besar. Tetapi jika itu bukan masalah, kenapa Gesna sampai tidak sadarkan diri semalam? Guntur mengusap pelan kepala Gesna. "Kenapa nggak cerita, sih?"
Gesna hanya diam dan memamerkan gigi seperti biasa. Senyum yang tidak pernah Guntur sukai. Gesna sering tersenyum atau tertawa dalam di kondisi yang tidak sewajarnya. Membuat Guntur tidak bisa paham, apa yang sebenarnya dirasa Gesna.
"Ya, nggak apa-apa."
"Benar?" tanya Guntur sangsi.
Mata Gesna berputar malas. "Ya, benarlah, kalau salah mah masuk neraka."
Guntur berusaha tersenyum meski bertanya-tanya di dalam hati. Apa Gesna tidak percaya kepadanya? Apa dia tidak pantas untuk diajak bercerita? Guntur selalu bercerita apa saja dengan Gesna sedangkan Gesna? Cewek itu akan cerita kalau didesak atau ketahuan.
Dia kembali menghadap nasi dan menghabiskan makanannya dengan cepat sedang Gesna tampak kesusahan menghabiskan bagiannya. Setelah selesai makan, mereka lantas duduk di ruang tengah, berhadapan dengan televisi.
Guntur mengenal Gesna di semester pertama masuk SMP. Berawal dari basket, mereka menjadi dekat. Awalnya, dia sering melihat Gesna dan Gustav bermain basket di lapangan samping rumah. Lama kelamaan Guntur tertarik belajar basket. Gesna dan Gustav tidak sungkan mengajari Guntur yang masih pemula. Apalagi Gesna, cewek itu selalu memotivasinya untuk mengenal basket.
Dulu, Guntur pernah heran dengan Gesna. Permainan basket Gesna sangat luwes untuk ukuran anak SMP. Namun, setelah dia tahu Gustav adalah kapten basket di SMA-nya. Guntur lantas merasa wajar kalau permainan Gesna bisa sekeren itu.
__ADS_1
Sebuah gitar berwarna kecokelatan tergeletak di sofa. Guntur meraih dan mulai memetik gitar milik Gustav tersebut. "Lo ada PR nggak, Ge?"
"PR? Apa itu PR? Sejenis makanan? Atau sejenis minuman ringan?" tanya Gesna seraya merebahkan diri di karpet tebal bulu-bulu.
Guntur berdecak lalu membuat-buat tawanya. "Lucu banget lo, Kebo! Gitu sih memang katanya anak IPS, pemalas."
Gesna diam.
"Nakal-nakal," tambah Guntur.
"Masih nyimak gue, masih nyimak. Belum gue sleding," balas Gesna menyandarkan kepala di pinggiran sofa. Pusing akibat mabuk tadi malam masih terasa.
"Buangan," lanjut Guntur yang kemudian digeplak Gesna. "Lo kenapa masuk IPS deh, Ge? Bukannya biologi lo bagus? Fisika juga lumayan gue lihat."
"Malas gue ketemu matem."
"Kan IPS juga ada matem?"
"Kan nggak ribet kayak matem di IPA! Gimana sih anak pinter? Gitu aja nggak tahu!" jawab Gesna sambil melempar bantal sofa ke arah cowok itu.
Guntur menepis bantal yang datang. "Jadi, cuma alesan itu aja lo jadi milih IPS?" decaknya. Karena Gesna memilih IPS jua lah akhirnya mereka tidak lagi satu kelas. Padahal dahulu saat SMP, Gesna dan Guntur selalu satu kelas. Absen mereka pun berdekatan.
"Anak IPA garing-garing. Sok serius, sok kepinteran semua. Nggak ada solid-solidnya, kelasnya nggak asik. Asal lo tahu aja ya, Bu Henny sampai manggil gue dan tanya kenapa gue milih IPS. Bukannya gue nggak bisa masuk IPA tapi memang gue nggak mau," bela Gesna dengan panjang.
"Lagian kenapa sih orang selalu memojokan kelas IPS seolah kelas buangan? Padahal sehebat-hebatnya anak IPA, negara juga dikuasai pebisnis, tokoh politik yang rata-rata lulusan IPS. Dan jangan lupa, negara dibilang maju kalau kuat perekonomiannya," tambah Gesna.
Guntur tersenyum tipis. Sedari tadi, Guntur memang berusaha membuat Gesna berbicara. Diamnya orang yang cerewet itu sangat mengerikan. Gesna selalu mengutarakan keberatan atau ketidaksukaan, tetapi Guntur tidak pernah mendengar Gesna bercerita tentang perasaannya.
Gesna memindahkan kepala ke paha kiri Guntur. Kakinya ia biarkan menjuntai ke sandaran sofa. "Hidup ini cuma sekali, Gugunku. Sayang buat dilewatin dengan hal-hal yang biasa. Sayanglah buat melewatkan yang namanya kelas IPS."
"Hidup ini cuma sekali. Hidup ini perlu dirayain. Gitu aja terus pembelaan lo. Memang apa enaknya kelas IPS?" pancing Guntur lagi. Tangannya masih memetik-metik gitar senandungkan instrumental.
"Beuh... Makanya main-main ke 11 IPS 1, Gun!" Pandangan Gesna lurus menatap langit-langit ruangan tersebut, warna putih seperti salju beku.
"Ya, kagak ada apa-apa. Orangnya aja pada cabut semua."
Gesna lalu tertawa. Tawa yang sengaja dibesarkan agar ruangan di rumah ini tidak terlalu sunyi.
Guntur tahu, tawa itu terdengar sumbang. Sejenak ia hentikan petikan gitarnya dan mengusap sekilas puncak kepala Gesna dengan lembut. Hampir lima tahun bersahabat dengan cewek ini, kondisi rumahnya masih sama. Selalu sunyi dengan penghuni yang sibuk sendiri-sendiri.
"Ngantuk gue anjay, lo usap begitu macam anak kucing." Gesna menepis tangan Guntur.
Guntur terkekeh. "Anak kebo lo, mah. Tidur kayak bangke!"
"Gue bilang Papa lho, lo ngatain dia kebo."
Gitar dipetik lagi oleh Guntur. Lantunannya syahdu. Dia ingin sekali bisa menenangkan Gesna, tapi dia tidak tahu apa isi hati Gesna. Apakah senang, apakah sedih ataukah malah lega dengan perceraian kedua orang tuanya?
"Hey, Jude... Don't make it bad. Take a sad song and make it better. Remember to let her into your heart, then you can start to make it better."
Petikan Guntur dihalangi Gesna seketika. "Gun, lo nape dah suka bat lagu lawas? Udah kayak kakek-kakek."
"Lo tahu nggak, Ge? Lagu zaman dulu itu bukan kayak lagu-lagu sekarang. Selain karena lagu lawas itu bakal dikenang sepanjang masa. Lagu lawas juga bikin kita belajar banyak hal, soalnya isi lagu bukan cuma cinta-cintaan alay aja," jelas Guntur. "Kayak lagu Hey Jude ini. Lagu ini diciptain McCartey untuk Julian, anaknya Lennon. Waktu perceraian Lennon dengan Cynthia, mamanya Julian. Lagu ini bilang kalau jangan terlalu pusing sama masalah tapi juga jangan terlalu santai. Masalah itu tantangan, harus dilewatin."
Gesna terdiam, Guntur melanjutkan nyanyiannya.
"Hey Jude, don't be afraid. You were made to go out and get her. The minute you let her under your skin. Then you begin to make it better. And anytime you feel the pain, hey jude, refrain. Don't carry the world upon your shoulders. For well you know that it's fool who plays it cool. By making his world a little colder."
"Jangan takut buat lewatin tantangan lo, Ge. Walaupun cara lo beda dari yang lain. Jangan ambil pusing cibiran orang selama lo benar dan nggak ganggu orang lain," lanjut Guntur menerangkan makna lagu yang dinyanyikan.
Gesna memejamkan mata, terlihat masa bodoh. Padahal penjelasan Guntur itu sangat kena di hati kecilnya.
Guntur melirik sedikit dan lanjutkan nyanyian dengan lirih.
__ADS_1
Lirik lagu itu makin membuat Gesna merasa berada di posisi Julian. Sebagai anak, dia lelah melihat jutaan keributan di rumahnya sendiri. Pekikan mamanya, bantingan barang dari papanya, tangisan Gandhi tidak sengaja melihat itu. Selalu seperti itu ketika berkumpul, bukannya malah melepas rindu. Jujur, rasa sedihnya bahkan sudah kronis.
Gesna mendesah. Mengapa mereka yang disebut orang tua tidak bersikap bijaksana? Untuk hal yang remeh saja, misalkan, menyelesaikan masalah berdua atau berdebat berdua tanpa didengar anak. Katanya sudah dewasa? Tapi umur toh tidak berarti menjadikan orang berpikir matang-matang. Apa bedanya sama dia yang berumur 17 tahun? Sama saja labilnya.
"Hey Ge, don't make it bad. Take a sad song and make it better. Remember to let her under your skin. Then you begin to make it better. Better, better, better, better, better, oh!"
Tangan Guntur mengusap kepala Gesna. Sedikit banyak Guntur tahu keadaan keluarga Gesna. Perpecahannya terlampau transparan, terlihat dengan kasatmata.
Gesna tidak mungkin bisa dugem jika saja pengawasan kepada cewek itu diperketat. Bukannya ketat, pengawasan ke Gesna semakin kendur. Sedang atas nama persahabatan, Guntur tidak mungkin mengadu. Guntur hanya bisa menemani dan menjaga Gesna.
"Udah ah, tambah jelek lo merengut gitu. Makin kayak kebo," hibur Guntur. "Kebo ireng."
Gesna hanya diam dan masih memejamkan mata.
Guntur memencet hidung Gesna dengan gemas. "Senyum dong. Nang ning, ning nang ning nung. Nang ning, ning nang ning nung," goda Guntur seolah-olah sedang membujuk anak bayi.
Bibir Gesna mengerucut karena itu.
"Ayo senyum anak manis. Anak capa cih ini? Nang ning, ning nang ning nung."
"Diam, badak gosong!" maki Gesna sambil memukul lengan Guntur.
Guntur tertawa keras melihat Gesna terbujuk. Dia tidak tersinggung. Melihat Gesna bisa memaki menjadi pertanda cewek itu tidak apa-apa.
"Mau ke mana lagi lo malam ini?" Guntur sudah tahu, Sabtu malam seorang Gesna pasti tidak akan betah di rumah. "Kalau lo nggak tahu mau ke mana, ke rumah aja, ya."
Setiap Jumat malam hingga Sabtu petang, keluarga Guntur selalu berkumpul lengkap di rumah. Keluarga itu menjadi contoh tauladan bagi Gesna, sebab perbedaan tidak membuat mereka pecah atau berpisah.
Mamah yang sabar dan Papah yang bijaksana adalah orang tua yang berhasil membesarkan kedua anak dengan kasih sayang. Anak yang cukup kasih sayang di rumah biasanya tidak akan mencari kasih sayang di luar. Kalaupun Guntur terlihat nakal di luar, hanya karena kebaikan yang berlebihan. Sahabatnya itu akan selalu menemani Gesna, ke mana pun Gesna mau pergi.
Gesna berhutang budi banyak sekali kepada Guntur dan keluarganya. Gesna sangat menyayangi mereka semua.
"Kak Gesna!" Sebuah suara melengking datang dari ruang tamu. Seorang gadis kecil berlari ke arah mereka, rambutnya bergerak-gerak lucu. "Kak Gesna sakit apa? Nanti kalau sembuh, main ke rumah, dong. Nggak kangen Pelangi sama Mamah?"
Pelangi, gadis kecil yang baru datang berujar manja kepada Gesna. Gadis berkuncir dua itu adiknya Guntur tapi juga dekat dengan Gesna. Pelangi sering cerita apa saja kepada Gesna, mulai dari ekskul yang harus diikuti sampai cowok yang digebet. Kata Pelangi, dia merasa lebih enak cerita sama Gesna daripada sama Guntur.
Gesna tersenyum melihat bibir Pelangi yang maju. Rupanya Guntur beralasan ke Mamah kalau dia sedang sakit. "Kak Gesna sakit banget kepalanya. Boleh, nanti kalau udah baikan kita maraton nonton, ya?"
Pelangi mengangguk antusias lantas berkata ke Guntur. "Bang, kata Mamah, kalau udah selesai makan langsung pulang. Jangan ganggu Kak Gesna. Biar Kak Gesnanya istirahat."
Gesna tertawa kecil. "Ya udah, balik gih kalian. Orang sakitnya ini udah sembuh dijengukin kalian."
Guntur mengangguk dan meletakkan gitar. "Nanti malam lo bisa ke rumah kok, Ge," ulang Guntur mengingatkan.
Gesna paham. Niat Guntur sangat baik. Hanya saja, dia tidak ingin merepotkan keluarga itu.
"Ya udah, kami balik dulu." Guntur bangkit sembari mengacak puncak kepala Gesna. "Cepat baikan ya, Ge."
"Dadah Kak Gesna. See you." Pelangi melambaikan tangan.
Kepergian kedua orang itu Gesna antar dengan senyuman. Hingga kedua punggung itu menjauh, senyuman Gesna kemudian luntur.
Seandainya dia bisa meminta, dia masih ingin ditemani Guntur. Nama itu yang dia panggil-panggil semalam. Meski dunia terasa berputar dan kepalanya berdentam, Gesna dapat merasa ada sesuatu yang menyeka muka, tangan dan kakinya. Dan itu Guntur.
Di saat semua sibuk sendiri-sendiri dan meninggalkan Gesna. Bolehkah Gesna meminta Guntur untuk tinggal?
Gesna tidak suka sepi.
Gesna bosan sendiri.
Gesna ingin diperhatikan.
Gesna juga butuh teman berbagi.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu, senyumnya selama ini palsu.