Matahari Api

Matahari Api
Sisi Lain


__ADS_3


Adit masuk kembali ke ruang rawat. Tadi, karena bosan diam-diaman di kamar sama Gesna, ia memilih keluar untuk membeli kopi sekaligus mencari angin.


Beruntung, di dekat rumah sakit ada kedai kopi yang buka dua puluh empat jam. Dia bisa duduk di sana dan mengisap sebatang dua batang rokok, juga mengabari Miko kalau besok tidak datang ke sekolah. Meminta sahabatnya itu buatkan surat izin sakit untuk dia.


Ketika masuk, Gesna sudah menelungkupkan kepala di samping Gandhi. Mukanya tenggelam di dalam lingkaran yang dibuat dari lengan sendiri. Rambut lurusnya jatuh ke depan, menutupi lengan.


Ruang rawat ini cukup luas, maklumlah kelas yang dipilih adalah kelas teratas. Selain ada ranjang pasien, terdapat satu sofa, satu tempat tidur penjaga, meja dan empat kursi makan, televisi, dan kulkas juga kamar mandi di dalam. Hampir menyerupai hotel. Sayang, di mana-mana bau rumah sakit tetap sama dan tidak bisa menipu hidung.


Adit menghampiri Gesna, mencoleknya. "Gesna. Lo tidur? Pindah sana ke kasur."


Cewek yang dicolek tidak bergerak. Dia tidur sambil duduk. Adit bimbang, antara ingin tetap membiarkan saja Gesna dalam posisi itu atau ...


Adit berdecak, tidak tahu mengapa merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Dia lalu meraih tengkuk Gesna. Kepala itu ditaruh di lengannya.


Kursi Gesna digeser Adit dengan kakinya. Menciptakan jarak antara Gesna dengan ranjang pasien. Setelah longgar, sebelah tangannya mengambil kaki Gesna. Kemudian memindahkan cewek itu ke kasur.


Gesna tetap tidur saat direbahkan ke kasur. Adit menilik muka itu. Ternyata wajah yang selalu garang bisa terlihat lembut saat tidur. Mungkin karena saat tidur, raut muka tidak bisa dibuat-buat.



Adit tersenyum. Cewek itu tadi kesal karena dibilang pesek. Memang hidungnya tidak semancung hidung Adit, tetapi sebenarnya juga tidak pesek. Hidung pas-pasan.


Meski terlihat lembut dan damai, tampak juga bahwa cewek itu kelelahan. Gimana nggak lelah, Gesna? Hobi lo marah aja.


Pandangan Adit turun ke bawah. Cewek itu masih memakai sepatu. Dia lalu membuka sepatu Gesna dan menyelimutinya.


Adit beranjak ke meja makan, hendak mengambil remote dan matikan televisi. Namun, matanya tertumbuk pada kertas selembar yang dicoret-coret asal di atas meja.



Tumben.


Setahu Adit, cewek itu selalu menggambar abstrak. Dari buku yang disitanya, Adit hafal kalau semua gambar Gesna berisi orang-orang berkepala bulat. Sebulat lingkaran di kartu domino dengan gurat-gurat kasar penuh penekanan.


Baru ini dia melihat gambar lain dari Gesna. Adit menggeser kertas itu. Gambar malaikat. Seorang perempuan bersayap. Iya, malaikat.


Alis Adit berkerut. Gambar perempuan ini seperti sedang ... jatuh?


Adit membalik kertas sehingga posisi bawah menjadi di atas. Tetap saja bukan menggambarkan posisi terbang.


Jatuh?


Dia lalu menoleh ke Gesna. Cewek itu sedang jatuh? Jatuh cinta atau jatuh sakit?


***


Gesna meraba-raba sekitar, mencari remote AC. Dingin terasa menusuk kulit. Tidak ketemu dengan yang dicari, ia berusaha menggelung dalam selimut tebalnya. Tangannya menarik selimut, matanya masih tertutup.


Tapi ... kenapa selimut di tangan nggak setebal selimutnya?


Merasa aneh, Gesna membuka sedikit mata. Segaris cahaya masuk dari sela tirai. Ia picingkan mata sembari menutup mulutnya yang menguap dengan tangan. Kantuk masih hinggap sehingga matanya susah sekali untuk dibuka.


"Selamat pagi, Putri Salju."


Sejak kapan Abang sok manis begitu? pikir Gesna sambil membalikkan badan. Biasanya Gustav akan mengguncang badannya agar ia bangun. Tak lupa sembari menyipratkan air ke muka.


"Capek, Non?" Gesna mendengar suara asing mendekat ke arahnya.


Non?


Putri Salju?


Kesadaran Gesna datang. Ia langsung membuka mata dan terduduk. Bergegas ia berbalik, melihat sekeliling. Napasnya tertahan.


Seorang cowok tampan yang habis mandi tersenyum hangat ke arahnya. Gesna mengerjap. Di sepanjang hidup, baru ini dia melihat pemandangan indah saat bangun pagi.


"Bengong banget nih, Non?" goda Adit saat melihat Gesna masih linglung.


Gesna kembali mengucek mata berusaha satukan kesadaran yang masih berpencar. Begitu kesadarannya benar-benar utuh, ia menutup muka dengan kedua tangan. Malu dengan muka sendiri. Pasti muka itu acak-acakan dan rambutnya tidak tentu arah seperti rambut singa. Ia bergegas menuju kamar mandi sambil berdoa semoga tidak ngences kali ini.


Sehabis mandi, Gesna duduk di samping Gandhi. Adiknya itu tampak fokus ke televisi. Pengasuh sudah datang dan sedang berusaha membujuk Gandhi supaya menelan makanan.


"Makan, Dek. Biar cepet sembuh," ujar Gesna mengusap tangan adiknya.


Gandhi mencebik. "Nggak enak."


"Makanya lo kalau dibilangin orang itu dengar. Udah tahu nggak bisa jajan. Malah jajan yang aneh-aneh." Gesna mulai marah.


"Gimana? Enak cimolnya? Noh, gegara cimol sebiji jadi masuk rumah sakit," tambah Gesna tidak berhenti. Ia benar-benar perlu mengingatkan Gandhi bahwa apa yang sudah dilarang orang tua pasti ada alasannya.

__ADS_1


Gandhi hanya diam. Sepertinya anak kecil itu tahu kalau dirinya bersalah.


"Makan yang banyak. Habisin makanannya biar...."


"Sarapan, yuk." Adit menarik lengan Gesna setengah memaksa. Menggeret cewek itu keluar kamar. Sepatu Gesna sampai berdecit di lantai.


Gesna menyentak tangan Adit saat mereka sampai di dekat lift. "Apaan sih lo maksa-maksa melulu?!"


Pintu lift terbuka, Adit mendorong punggung Gesna untuk masuk. "Kayak sendirinya tadi nggak maksa orang, Non."


"Gue nyuruh makan biar dia cepet sembuh. Kalau dia sembuh kan berarti—"


Kalimat itu terhenti karena Adit sudah menaruh telunjuknya di bibir Gesna.


"Cerewet-cerewet gue cium nanti," ancam Adit. "Gitu dong, kalau Raja ngomong Permaisuri dengerin."


"Raja? Raja apa lo? Raja Berantem?" Gesna meringis sinis.


"Bukan, dong. Raja hatinya Adek." Adit berkedip.


Gesna berdengkus kasar. "Gue heran, orang kok memuja lo banget sebagai Kepala Suku mereka. Yang bisa dicontoh juga nggak ada, selain bisanya pamer kekuatan."


Buku-buku jari Adit terkepal, Gesna sering sekali berbicara tanpa menyadari akibat dari ucapannya. "Omongan lo udah ngelantur ke mana-mana," tegurnya.


Gesna tidak bereaksi. Cewek itu melipat tangan sedari tadi. Saat lift sampai di lantai dasar, sosok itu jalan santai seolah tidak peduli. "Kan benar yang gue bilang. Apa coba di pikiran lo langsung pukul orang aja sampai giginya patah?! Nggak pakai otak, kan?"


Adit mendelik. Dia berjalan cepat mendahului Gesna, ke arah parkiran motor. Diraihnya helm Gesna dan dipakaikannya ke kepala cewek itu. "Lo pikir lo udah pakai otak untuk semua kelakuan lo?" bisiknya menaikkan sebelah alis. "Gimanapun alkohol itu masuk ke narkotika golongan tiga lho, Non."


"Kalau makan aja lo cari yang halal, tapi minum-minum jalan terus." Setelah mengancingkan klip helm, Adit membuka kacanya agar bisa melihat mata bundar Gesna. "Lagipula ... alkohol itu kunci segala kemaksiatan," desisnya beberapa senti di depan muka Gesna.


Cewek itu terdiam mematung. Ia lalu berbalik meraih helm dan memakai dengan cepat. Perutnya sudah meronta ingin diberi asupan.


***


Adit mengajak sarapan ketupat tahu. Lokasinya tidak begitu mencolok, kecil tetapi ramai. Cowok itu makan tanpa suara. Seolah-olah Gesna tidak ada di sana.


"Kerupuknya, A'." Seorang penjual asongan menawari Adit kerupuk. Ibu itu membawa seplastik besar kerupuk di tangan kiri sedangkan tangan kanannya menjajakan kerupuk.


Adit mengambil dua plastik kerupuk dan membayar ke sang ibu. Muka ibu itu semringah. Kerupuk di plastiknya masih sangat banyak, mungkin belum laku sedari pagi. "Sisanya buat Ibu aja."


"Duh, hatur nuhun, A'." Mata ibu itu berkaca-kaca. "Mudah-mudahan banyak rezeki, sehat selalu, langgeng sama si Tetehnya."


Ibu itu menatap lembut Gesna. "Geulis si Teteh, cocok sama Aa yang kasep."


Adit tersenyum. "Doain aja ya, Bu."


"Iya atuh. Aamiin Ya Allah. Ibu permisi ya, A', Teh."


Seusai mengangguk, ibu itu pergi dengan meninggalkan rasa terbakar di muka Gesna. Bagaimana tidak? Dia menjadi perhatian seisi warung. Ini bukan lagi prank YouTuber, 'kan?


"Apaan sih, lo?" cicit Gesna. Satu yang Gesna sadari selama bersama Adit, cowok itu punya semacam pesona yang membuat orang selalu ingin menoleh. Dan Gesna lelah menjadi perhatian selama dengan Adit.


Tidak peduli jadi bahan lirikan orang, Adit tertawa kecil dan meneguk teh manis. Dengan mengerling, dia berujar, "Ya, namanya doa. Masa ditolak."


Selesai sarapan, Adit tidak kembali ke rumah sakit. Motor diarahkan ke mal tersohor di Bandung, Paris Van Java.


"Ngapain ke sini?" tanya Gesna heran.


Adit memarkir motor dan membantu dia melepas helm. "Kan kemarin gue udah janji temenin lo beli charger? Bentar lagi toko buka kok."


Cowok itu menaruh kedua helm di motor lalu menggenggam tangannya. "Yuk."


Gesna berkelit melepas genggaman Adit. "Belum muhrim, jangan pegang-pegang lo."


Mereka berjalan melewati portal, menuju deretan ruko. Adit tergelak. "Nggak sabar mau dihalalin, Non?!"


Gesna meringis geli. Pembicaraan macam apa ini? Tangannya memukul pundak Adit. "Woy! Bahasa lo sok iya banget."


Tawa Adit semakin lepas. Cowok itu bahkan mengusap ujung matanya. "Dasar pesek!" ujar Adit sambil menjepit hidung Gesna.


Gesna kembali memukul tangan yang memencet hidungnya. Dengan cepat, tangannya ditangkap Adit dan digenggam lagi.


"Biar nggak hilang," kata Adit, "sekarang lagi ramai penculikan anak soalnya."


Bibir Gesna mulai mengerucut. "Lo pikir gue anak-anak, heh?!"


Adit tertawa lagi, membawa Gesna masuk ke sebuah toko ponsel yang baru buka.


"Lepas. Kayak kontainer aja lo." Gesna melepaskan tangan dan menuju pegawai toko yang tampak sedang bereskan barang.


Diam-diam, Adit mengamati Gesna. Heran sendiri kenapa sejak bersama cewek jutek itu dia menjadi receh, norak dan sok asyik pada saat bersamaan? Rasanya semua humor garing yang pernah dia dengar ingin selalu dikeluarkan jika berada di sebelah cewek itu.

__ADS_1


Jangan-jangan? Adit menggelengkan kepala. Ia berusaha mengenyahkan kemungkinan terburuk. Nggak mungkin! Ini nggak mungkin!


"Ngapa lo geleng-geleng kayak orang teler?" Cewek dengan mulut enteng itu ternyata sudah menyelesaikan transaksinya.


"Yeee... Suka-suka gue. Kenapa lo ngatur-ngatur?"


Gesna membelalak tidak terima, tangannya sudah akan melayangkan plastik yang dipegang ke kepala Adit.


"Eits! Nggak boleh KDRT!" Adit menangkap tangan Gesna. "Kan udah gue bilang, gue tuh disayangin aja. Jangan dikasarin. Nanti jatuh cinta, nyesel lo."


"Najiisss. Najisss." Gesna berjongkok demi mengetuk ubin sebanyak tiga kali.


Gerakan jadul itu membuat Adit terkekeh. Ternyata di zaman sekarang masih ada orang yang mengetuk sesuatu sebanyak tiga kali untuk menghindari hal yang tidak disuka. Sama sekali nggak mencerminkan kelakuan metropolitan.


Mereka berjalan ke arah dalam pertokoan. Mata Adit menangkap deretan toko baju dan masuk ke salah satunya.


"Ngapain?" Gesna ikut masuk ke dalam toko.


Adit memilih satu kaus, satu celana panjang, sandal jepit juga dalaman. "Mau ngegarong," jawabnya menahan tawa. "Beli ganti. Lo nggak suka ganti baju ya? Pantes apek."


Ejekan Adit membuat Gesna gemas. Ia mencubit lengan Adit dengan keras. "Mulut lo, ya ampun. Minta dicabe." Gesna mengendus badannya sendiri. "Masih wangi ya gue, anjay."


Langkah Adit makin ke dalam, memilih sebuah baju berlengan panjang yang gambar depannya sama dengan kaus yang diambilnya tadi. Ia lalu membalikkan badan Gesna dan mengepaskan baju melalui belakang badan cewek itu. "Ambil daleman gih. Atau lo biasa pakainya bolak-balik?" bisik Adit menista.


"Errrgghhh." Gesna benar-benar menonjok punggung Adit. "Ada ya orang yang ngeselinnya komplit kayak lo?"


"Ada, namanya Adit. Aditya Kesuma Hadinata." Adit menjulurkan tangan seolah meminta untuk berjabat. "Salaman dulu biar nggak selek."


Gesna tentu menolak ajakan itu. "Malas!"


"Sebentar aja, jangan sombong! Kena azab nanti. Seorang cewek tewas dengan tangan terlindas tronton karena sombong," ujar Adit dengan memanas-manasi sinetron azab yang sedang populer.


Dengan ogah-ogahan akhirnya Gesna mengulurkan tangan. Adit menggenggamnya sembari berujar yakin, "Saya terima nikahnya Gesna ... "


"Setan." Gesna langsung melepas tangannya.


Adit tertawa terbahak-bahak. Untunglah toko masih sepi, jadi kelakuan mereka tidak memancing perhatian orang lain. Cowok itu lalu berdiri di etalase aksesoris. Gesna mengernyit. Sejak kapan cowok kayak Adit pakai aksesoris?


Dengan mengintip, Gesna melihat Adit memilih sebuah gelang. Gelang biasa dari tali, namun ada lempengan kecil dengan grafir tulisan di tengahnya. "Eh, lo suka warna apa?" tanya Adit.


"Merah. Kenapa?"


Adit lalu mengambil gelang yang berwarna merah dan menunjukan Gesna. "Bagus nggak?" Gesna mengamati gelang itu lalu mengangguk kecil. "Buat kenang-kenangan," ujar Adit.


Kenang-kenangan? Gesna terhenyak. Ia ingat kembali misi rahasianya, dan merutuki diri kenapa bisa lupa dengan misi awal untuk Adit. Kan dia mau siram cowok itu, mau baretin motornya sama mau sembunyikan dompetnya. Misi itu harus berhasil. Harus berhasil.


Saat Adit berjalan menuju kasir, Gesna mengikuti dari belakang. Rencana yang terdekat adalah mengambil dompet Adit dan menyembunyikan. Tapi tidak mungkin ia menarik dompet panjang itu tanpa ketahuan. Gesna berpikir kembali lalu ia merasa perlu membuat suatu pergerakan.


Dengan lihai, Gesna menjegal langkah Adit. Meski terjatuh, Adit sigap berlutut dengan dua tangan di lantai. Cowok itu melirik ke dirinya, Gesna meringis memasang buka bersalah. Tubuhnya berjalan maju dan berpura-pura hendak membantu Adit.


Saat Adit bangkit, ia merasa itulah waktunya. Badan Adit ditepuk Gesna.


"Lo nggak apa-apa?" tanyanya basa-basi sambil menarik dompet Adit dengan cepat dan sembunyikan di belakang badan.


Adit menoleh dan tersenyum bergeleng. Gesna ikut tersenyum. Seisi pikiran Gesna mengumpat, Dasar ogeb, dompet lo barusan gue ambil!


Seluruh belanjaan mereka diserahkan Adit ke kasir. Gesna sebenarnya tidak heran dengan daya belanja Adit yang cukup banyak. Sekolahnya adalah sekolah negeri favorit yang diapit perumahan-perumahan elite. Termasuk perumahannya.


Setelah diberlakukan sistem zonasi, kemungkinan murid yang bersekolah di tempatnya ada tiga kriteria.


Satu, orang pintar.


Dua, orang kaya.


Tiga, perpaduan pintar dan kaya, yang banyak sekali di sekolahnya.


Kalau Gesna tebak, Adit kemungkinan nomor dua. Nggak mungkin cowok ini pintar, 'kan? Nyatanya saja berandalan.


"Punya gue biar gue bayar sendiri aja." Gesna memisahkan barangnya. Dompet Adit sudah ia masukkan ke kantong hoodie saat cowok itu menyerahkan belanjaan ke kasir.


Benar saja seperti dugaan Gesna, kalau belanjaan itu bukan masalah buat Adit. Cowok itu memberi instruksi kepada kasir, "Nggak usah, sekalian aja mbak."


Adit menggerakan kepala meminta kasir totalkan semua belanjaan. Kasir menyebutkan nominal belanjaan Adit untuk baju, celana, sandal jepit, dalaman dan gelang. Harga yang tidak sedikit untuk ukuran anak SMA sebenarnya.


Adit mengangguk dan menoleh ke Gesna. Cowok itu memajukan dagunya seolah menyuruh Gesna membayar tagihan. "Ges.."


Gesna melotot. "Kok gue? Katanya lo yang bayar."


Kasir jadi memperhatikan mereka berdua. Matanya siaga seolah siap menerkam anak labil yang mau mempermainkan posisinya.


Adit tertawa kecil sambil merangkul bahu Gesna. Cowok itu berkata kepada kasir, "Maaf, Mbak. Pacar saya ini suka iseng. Padahal setiap kencan, saya selalu titipin dompet saya ke dia. Supaya belajar mengatur pengeluaran."

__ADS_1


Sumpah demi apa pun Gesna tegang. Seingatnya ia sudah berusaha dengan baik. Pompaan dalam jantungnya makin memburu saat Adit menoleh lalu bilang, "Buruan bayar. Mbak kasirnya nunggu tuh."


__ADS_2