
Saat Adit mengajak ke kantin kelas dua belas, Gesna sudah tahu risiko kedatangannya. Bagaimanapun kakak-kakak kelas itu tentu masih ingat apa yang dia dan Naraya buat terakhir kali saat berkunjung ke sana. Adit saja ingat bagaimana dia menantang Fiska.
Iya. Gesna menantang mantan kapten pemandu sorak tersebut untuk threesomë karena menuduh dia dan Naraya sebagai pasangan lesbì. Sejak saat itu, Fiska tidak pernah muncul di lapangan basket lagi. Jikapun ada, cewek itu melihatnya dengan tatapan setajam katana. Menyerupai sorot mata Nenek Lampir yang penuh dendam.
Satu sisi, Gesna juga lagi malas ke kantin Pespel. Dia malas mesti berpura-pura tidak memiliki masalah dengan Naraya. Anak-anak kantin tersebut terbiasa akan keributan dia dan Naraya. Mereka bisa mengendus hal janggal jika Naraya mendiamkannya.
Gesna akhirnya memilih mengikuti langkah Adit, menuju kantin yang ada di sisi berbeda dari kantin-kantin lain. Ketika Adit datang bersama dia, banyak mata yang melirik. Pandangan ingin tahu sangat kentara dari para cewek. Mungkin mereka penasaran tetapi tidak berani mengganggu.
"Mau makan apa?" tanya Adit ketika duduk.
"Adanya apa aja?"
Adit mulai menyebutkan beberapa menu mulai dari makanan berat hingga camilan ringan. Gesna mengangguk. "Indomie rebus aja, deh. Tadi, nggak sempat sarapan," pilih Gesna.
Setelah memesan, Adit kembali duduk. "Kenapa nggak sarapan?"
Gesna mengangkat alis. Serba salah apakah harus jujur atau tidak. Sebab dia juga sulit tidur, tadi malam. Dadanya berdebar terus. Ketika bangun pun, Gesna buru-buru mandi dan bergegas. Tentu saja tidak sempat sarapan. "Hampir telat juga."
Cowok di sampingnya itu mengangguk-angguk. Tampak tidak peduli oleh perhatian sekitar yang mengarah ke mereka, sedang Gesna sudah merasa seperti terpidana kasus pembunuhan.
Pesanan sampai, Gesna terdiam melihat mangkuk di hadapan. "Lupa bilang nggak usah pakai sayur," keluhnya sambil memingkirkan sawi.
"Sawi doang, Non." Adit mengamati Gesna dan sayur yang dia sisihkan. "Nggak bakal mati kalau dimakan."
Gesna berdecak dan memulai makanannya. Sepintas, bisikan-bisikan tentang dia dan Adit semakin terdengar. Obrolan yang membicarakan orang memiliki frekuensi berbeda dari biasa, Gesna dengan mudah menangkap itu.
"Orang-orang ini," desis Adit tanpa menoleh, hanya fokus ke mangkuknya sendiri. "Melihat kita kayak apa aja. Nggak pernah lihat orang pacaran apa?"
Mau tak mau, Gesna meringis. Untung Adit hanya berdesis. Jadi ucapan itu hanya didengar olehnya. Jujur, Gesna belum siap jadi perhatian khalayak ramai karena berita dia berpacaran dengan Adit.
"Kamu maunya gimana, Non?" tanya Adit sambil mengode ke arah banyak mata yang memperhatikan mereka berdua. "Kita umumin ke publik aja?"
"Kayak artis aja." Gesna menolak. Dia merasa kabar yang seperti itu tidak perlu disebar terlalu cepat. "Jangan buru-buru. Bisa?" gumamnya.
Cowok itu hanya berdeham seraya meneguk minuman. "Ya, udah. Tapi kalau terganggu, bilang ya."
"Yang suka ganggu itu lo," ejek Gesna memasang muka malas.
Adit mulai terkekeh. Tawa yang membuat perhatian orang semakin intens. Muka-muka itu semakin tidak percaya. Seakan tawa dari Adit adalah sesuatu yang langka.
"Eh, eh, eh. Kayak ada yang beda nih, Ko. Mata gue buram apa gimana ini, ya?" ujar Bara yang baru saja memasuki kantin langsung mengambil tempat duduk di depan Adit. "Pantesan cepat amat hilang dari kelas, ternyata oh ternyata."
Adit melirik Bara beserta gelagat-gelagat tidak baik dari cowok itu. "Nggak ada yang nyuruh lo berdua duduk di sini," usirnya.
"Wow, wow. Gitu amat, Bang. Udah bawa Putri Salju jadi sombong sama kita-kita," canda Miko yang juga datang bersama dengan Bara. "Gue izin sama Gesna aja, deh. Ge, gue boleh duduk di sini nggak?"
Gesna mengangguk dan tersenyum kecil.
"Tuh, kata Gesna aja boleh. Ya, gue duduk." Miko lalu duduk, Bara menyusul.
"Gue juga, deh. Gue boleh duduk kan, Gesna?" tanya Bara. Lagi, Gesna mengangguk. "Asyik, boleh. Ngomong-ngomong, kok pada pesan Indomie?"
"Tumben amat lo mau perhatian sama menu gue," balas Adit menaikkan sebelah alis, menatap Bara curiga.
Bara menggeleng kalem. "Enggak, sih. Ngapain juga gue perhatiin menu lo? Gue kan perhatiin Gesna. Ya, nggak, Ges?"
"Enggak usah macam-macam, Bar." Tatapan Adit berubah, mengirimkan sinyal tidak main-main.
Miko tergelak, pancingan Bara kena langsung ke target. "Peringatan itu, Bar. Peringatan! Lo ingat itu."
Bara menyungging. Dia memanggil pelayan kantin dengan berteriak. "Bu, es teh manis satu, ya. Gulanya nggak usah banyak. Pemandangan di depan gue udah kemanisan soalnya."
"Si geblek!" Miko menoyor Bara sambil tertawa lebar.
__ADS_1
"Bar..." Adit melirik Bara dengan tatapan tidak suka. "Mingkem."
Yang diperingati malah asyik tertawa-tawa. Gesna tidak terlalu ambil pusing. Dia juga sering saling ejek dengan Naraya kalau lagi di kantin sehingga memilih mengedarkan pandangan ketika selesai makan. Ekor matanya melihat kedatangan Adji dan ternyata Adji juga melihatnya. Cowok itu sampai mengangkat kedua alis begitu melihat Gesna bersama Adit.
"Bentar, ya," pamit Gesna. Dia berdiri menghampiri Adji. Menarik cowok itu untuk duduk di kursi lain yang terpencil.
Bara mulai berdeham dan menatap Adit dengan serius. "Lo gimana sama dia?" tanyanya berbisik.
Mengerti apa yang dimaksud Bara, kepala Adit mengangguk. "Kami jadian," jelasnya pelan. "Tapi dia minta jangan banyak yang tahu dulu."
"Pesat juga perkembangan lo," ringis Bara.
Badan Adit menunduk, maju ke arah Bara dan Miko. "Bar, ini bukan yang kayak lo pikir. Ini memang bukan karena gitar. Gue jadian sama dia, karena memang gue mau dia jadi pacar gue."
Dia menarik napas sesaat untuk melanjutkan kalimat. "Bener kata lo. Gue suka sama dia. Sekali lagi, ini bukan karena taruhan. Taruhan itu udah gue anggap batal dari kemarin."
Miko yang menjadi pendengar, mulai tersenyum semringah. "Gitu, dong. Lega gue dengarnya."
Bara menyempatkan diri berbalik untuk sekilas melihat Gesna yang sedang berbicara dengan Adji. "Ya, baguslah kalau lo jadian. Sebenarnya gue tantangin lo waktu itu karena gue memang merasa lo suka beneran dengan dia."
Adit mengangguk, membenarkan perkiraan Bara. Dia memang menyukai Gesna lebih dahulu dari kesadarannya.
"Tapi ... gue kira dianya suka sama Guntur. Makanya gue pikir, gue yang bakal menang," bisik Bara tergelak ringan. "Selamat ya, Ketua. Makan-makan di mana nih kita?"
Ucapan pelan Bara tadi bergema di kepalanya. Adit menarik senyum datar. "Terserah. Pilih aja."
Dia lalu menoleh ke meja Gesna, menemukan Adji sedang memperhatikannya.
***
"Wuoh. Ada apa, nih?" sindir Adji mulai tersenyum ketika duduk berhadapan dengan Gesna di meja paling sudut. "Lo yakin masih nggak ada apa-apa sama Adit?"
Mulut Gesna menggembung. Bingung untuk memulai bercerita kepada Adji. "Iya, iya. Ada ... tapi ya gitu, deh."
"Jangan kasih tahu siapa-siapa dulu," pinta Gesna dengan muka memelas.
Adji mengernyit, menyesap jusnya sedikit. "Lo pikir seisi kantin ini bukan orang?"
Gesna berdecak. "Mereka sih nggak terpercaya. Lo jangan kasih tahu anak-anak dulu ya kalau gue udah jadian sama Adit."
"What?" Mata Adji membulat. Dia lalu melirik Adit yang sedang berbicara dengan Bara. Tatapan mereka bersirobok.
Adji tahu Adit mengamati mereka dari jauh. Dia menggaruk kepala sambil kembali menatap Gesna. "Lo yakin, Ge?"
Bahu Gesna mengedik. "Ya, gitu, deh. Jalanin ajalah. BTW, kok lo di kantin ini? Nggak ke kantin Pespel?"
Sekejap, Adji mengembus napas sambil menggeleng. Tatapannya turun ke gelas. "Lo tahulah kenapa."
"Separah itu?" desis Gesna sambil memajukan badan agar pembicaraan mereka tidak didengar siapa pun.
"Ge, dia bahkan nggak mau kenal gue lagi. Lo bayangin, Ge. Segitu dekatnya gue sama dia dulu, berakhirnya kayak gini, jadi orang asing," papar Adji dengan suara rendah. "Nggak ada yang lebih sakit daripada nggak dianggap, Ge. Gue bukan mau bahas gimana perjuangan buat bantu dia waktu pencalonan OSIS. Enggak. Gue tolong karena gue mau menolong. Tapi, dia tuh kayak nggak sadar kalau gue benar-benar sayang sama dia."
Gesna mengerjap memandangi muka Adji yang patah semangat. Cowok itu diam sambil menyesap minum kembali.
"Susah buat jelasinnya. Mungkin buat sebagian orang, sikap gue ini kayak sikap orang cemen. Gue udah usaha kali, Ge. Dia ataupun mereka nggak akan pernah tahu apa yang gue rasa sampai berada di posisi gue." Adji menatapnya dengan termenung. "Gue tuh suka sama Nay udah lama. Jauh sebelum gue ketemu lagi sama dia di sini, di sekolah ini."
"Sumpah lo, Kak?" Gesna membeliak. Dia makin mencondongkan badan. "Kok gue baru tahu, sih?"
"Gue memang nggak kasih tahu dia kalau gue kenal dia dari lama." Adji kembali mengembuskan napas berat, mengaduk-aduk jus kembali. "Sama orang lama, dia segitu asingnya. Sama Renard, orang baru, dia segitu akrabnya."
Gesna mengangguk dan menepuk punggung tangan Adji, turut prihatin. "Bener kata lo, kasus gue kayaknya belum apa-apa deh dibanding kasus lo. Keras percintaan Anda, Jenderal."
Adji mulai terkekeh sambil menepuk pelan kepala Gesna. "Begitulah kisah hidup Kakak, Dek. Udah bisa difilmin belum?"
Gesna mendengkus. "Yah, mulai deh sok oke. Ngemeng-ngemeng kenapa lo nggak terima aja cewek-cewek yang pepetin lo? Kan cakep-cakep, tuh. Siapa tahu bisa move on."
__ADS_1
"Memangnya gue itu lo? Bisa move on dengan jadian sama orang lain?" bisik Adji masih terkekeh. "Cie, gampang amat sih lo move on."
"Kak," desis Gesna menepuk tangan Adji di meja. "Jangan dibahas lagi si Gugun. Dia udah bahagia sama cewek barunya."
"Kalau kisah-kisah FTV judul cerita kita pasti: Kebahagiaanmu Adalah Kebahagiaanku Juga. Gitu, ya, Ge?"
Cowok itu tertawa lagi. Menertawai luka. Membuat betina-betina yang ada di sekitar semakin menatap Gesna dengan pandangan hendak mengoyak tubuhnya pakai taring dan kuku.
"Apaan yang FTV?"
Adit tiba-tiba datang tanpa bunyi dan duduk di sebelah Gesna.
Gesna tergagap dan Adji menyurutkan tawa. Cowok itu tersenyum kecil ke Adit.
"Selamat ya, Dit, Ge. Semoga kalian langgeng. Pesan gue cuma satu, Dit. Sabar-sabar, ya." Badan Adji kembali terguncang-guncang.
"Heh! Jangan ngadi-ngadi lo, Kak," protes Gesna sambil mencubit punggung tangan Adji. Dia mau memukul bahu Adji tetapi terhalang meja.
Adit balik tersenyum. Senyum tawar yang sulit dibahasakan. "Thanks. Oh, ya. Lo bukan termasuk barisan sakit hati karena mendengar berita itu, kan?"
Gesna melotot dan Adji langsung terbatuk.
"Gue?" Adji melirik geli ke arah Gesna. "Enggak, Dit. Tenang aja. Gue merestui kalian dunia akhirat."
Gesna menendang kaki Adji di bawah meja dan Adji kembali tergelak.
"Bagus, deh. Soalnya gue juga nggak suka kalau harus berurusan sama teman-teman sendiri," sahut Adit datar.
Gesna tergerak menengahi. Sikap Adit terlalu dingin kepada Adji, entah kenapa. "Apaan sih tanya kayak gitu? Enggak mungkin. Dia fansnya Nay garis keras."
"Ge..." Adji mengingatkan Gesna agar jangan kelepasan.
Giliran Gesna yang tertawa pelan penuh kemenangan. Masa bodoh dengan mata yang semakin banyak menuju ke meja mereka, seolah ingin membakarnya hidup-hidup. "Elah, Kak. Sama dia doang. Enggak mungkin juga dia kasih tahu ke Nay. Kenal aja kagak," balas Gesna enteng yang hanya bisa didengar mereka bertiga.
Sebuah suara memanggil Adji, mendekat ke meja. Gesna menoleh, mendapati cewek berambut panjang tergerai ikal dengan baju yang tidak lebih panjang dari perut dan rok ketat membungkus tubuh, mendatangi mereka.
"Udah makan?" tanya Fiska ramah.
Adji mengangguk, menunjuk sepiring kue cubit di meja.
"Oh, gitu. Nggak kelihatan tadi, ketutupan." Fiska tertawa dengan gerak yang dibuat-buat. "Tumben lo di sini. Gabung di meja gue, yuk?"
Gesna diam-diam memutar bola mata dengan malas. Bukan rahasia lagi kalau dari dulu Fiska selalu berusaha mendekati Adji. Apalagi saat di lapangan, cewek itu serasa paling kenal dan paling dekat dengan Adji.
Spesies cewek seperti Fiska ini yang membuat dia dan Naraya alergi. Keganjenan adalah racun seluruh umat manusia.
"Gue lagi bahas basket sama Gesna, duluan aja." Adji mengedik dan sedikit tersenyum guna menghargai tawaran yang datang.
Gesna melengos pelan, mendengarnya. Dia kadang kurang setuju sama tindakan yang diambil Adji. Untuk menghadapi Fiska, harusnya dikasari saja. Biar tahu diri.
"Oh, gitu. Ya udah, deh."
Fiska menatap Adji yang sedang mengambil sepotong kue. Namun, impian cewek itu langsung musnah begitu Gesna mencomot kue yang dipegang Adji, langsung dari tangan Adji. Tangan Gesna yang memegang tangan Adji dan mengarahkan ke mulutnya seolah-olah minta disuap. Badan Fiska kontan berbalik arah.
Adit berdeham, Adji membelalak, sedangkan Gesna tersungging. "Cewek kayak gitu lo ladenin. Pantesan Nay kadang kesal sama lo."
"Ya, namanya orang nawarin kita baik-baik. Masa gue jahatin, Ge?" Adji berdecak dan kembali mengambil sepotong kue.
Saat Gesna ingin menyabotase tangan Adji lagi, tangannya dihalangi Adit.
"Masih banyak kue di meja. Nggak perlu ambil yang udah di tangan orang."
Adit mendorong piring berisi kue cubit mendekat ke Gesna. Cowok itu melihat ke arahnya dengan tajam.
"Kalau masih kurang, bilang. Biar dipesanin lagi."
__ADS_1